Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
Nama ayah.


__ADS_3

           Bayu dan Jonathan yang disibukkan dengan pekerjaan kantor dan mempersiapkan pernikahan Adrian dan Alya , kini tampak kelelahan . Bayu menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya.


             "Jo, menurutmu,  apakah menikah itu enak ya." Tanya Bayu.


 


               Jonathan mengerutkan keningnya , kenapa tiba-tiba Bayu menanyakan hal konyol padanya.


 


               "Seharusnya kamu sudah punya calon , lalu menikah dan merasakannya sendiri." Jawab Jonathan.


 


                Bayu menoleh ke arah Jonathan, dia menatap lekat lawan bicaranya. Jangankan berpikir untuk menikah jatuh cinta saja Bayu belum pernah. 


 


            Berbeda dengan Jonathan ia tengah tampak berpikir, pikirannya melayang jauh teringat wajah cantik Raisa, yang sampai kini Jonathan belum tahu namanya, wajah cantik itu selalu membayangi kemanapun dia pergi.


 


             "Memangnya kamu sendiri sudah punya calon.?" Tanya Bayu.


 


             Hening . Tidak ada sahutan tatapan Jonathan menerawang jauh. Membayang wajah cantik Raisa , bahkan dia tidak mendengarkan Bayu sedang bertanya.


 


            "Woi.., bro kejauhan melamunnya, di tanya diam saja." Ucap Bayu.


 


            Jonathan seketika terperanjat lamunannya buyar mendengar perkataan Bayu.


 


              "Apa Bay.?" Tanya Jonathan terperanjat.


 


           Ponsel Bayu berdering panggilan masuk. Tertera nama Adrian disana, Bayu menggeser tombol hijau menjawab panggilan dari Adrian.


            "Halo Bay, apakah semua sudah siap, aku tidak ingin ada kekacauan di saat menggelar resepsi nanti." Ucap Adrian di seberang telepon.


 


            "Beres Bro, Jonathan dan rekan-rekan yang akan menghandle keamanan." Jawab Bayu.


 


             "Pastikan oma dan mama tidak datang , karena aku tidak ingin mereka mengacaukan segalanya." 


 


                "Oke siap." Jawab Bayu.


 


             Panggilan pun berakhir.


 


              Tok..tok..


    


           Terdengar ketukan pintu dari arah luar. 


 


                "Masuk.!" 


 


              Muncul dari balik pintu Puspa yang sedang membawa minuman di nampan. Perbincangan Bayu dan Jonathan terhenti karena kehadiran Puspa. Puspa yang dulu berpenampilan glamour berbeda dengan sekarang, kini dia hanya mengenakan seragam OB. 


 


              "Minumnya pak." Ucap Puspa.


 


              "Ya terima kasih." Jawab Bayu.


 


           Setelah berbincang cukup lama, Bayu dan Jonathan meninggalkan ruangannya. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran mobil . Mobil pun berjalan membelah keramaian kota, dimana jam sibuk membuat jalanan macet. Hingga mobil pun berhenti di sebuah gedung hotel berbintang, dimana Adrian akan menggelar resepsi pernikahannya bersama Alya.


 


           Untuk memastikan semua sudah siap , Bayu dan Jonathan memeriksa semua bagian cctv berfungsi dengan baik.  Ruangan hotel kini berubah menjadi altar yang sangat megah dan mewah.


 


          *****


 


          Mata Adrian berotasi di setiap sudut ruangan , dimana biasanya duduk Alya bersama bayinya  di ruang tengah, kini Adrian tidak mendapati  nya. 


 


           "Dona , di mana nyonya,.?"  Tanya Adrian dengan Dona yang sedang sibuk memainkan ponselnya.


 


            "Oh , nyonya bersama Rima di balkon tuan , mereka sedang berjemur." Jawab Dona.


 


           Adrian pun berjalan mengarah dimana Alya bersama bayinya di balkon.Adrian memandang dari jarak jauh Alya yang sangat bahagia bermain dengan bayinya.Adrian berjalan mendekat dimana mereka yang sedang duduk.


 


           "Eh tuan, silahkan tuan"Ucap Rima.

__ADS_1


 


            "Rima bisa tinggalkan kami berdua bersama nyonya." 


 


             "Baik tuan." Jawab Alya.


 


            Seketika tubuh Alya meremang di saat Adrian duduk disamping Alya. Adrian sekilas melirik ke arah Alya. Alya yang selalu takut bila Adrian berada di sisinya, dada Alya terasa sesak seolah udara disekitarnya tidak cukup untuk di hirup.


 


             "Alya , kedatangan ku kemari ada hal yang ingin ku katakan padamu." Ucap Adrian mengawali perbincangan.


 


              Alya hanya membeku tak berani sedikitpun untuk menatap ke arah Adrian.


             "Besok, kita akan menikah, dimana sebuah ikatan akan mengikat kita untuk hidup bersama, sebelum itu terjadi aku ingin minta maaf padamu, atas kejadian malam itu." 


 


              "Aku ingin mengawali semua dari awal, aku tidak akan memaksakan kehendakku, jika kamu tidak menginginkannya, aku tahu aku salah." 


 


              "Aku akan menunggumu , sampai kamu siap menerimaku." Ucap Adrian sembari menatap ke arah keramaian kota.


 


              Bibir Alya terasa kelu, ingin sekali dia mengatakan sesuatu tapi dia tidak sanggup untuk sekedar bicara. Hingga akhirnya Alya memberanikan diri menatap lekat ke raut wajah Adrian , terdapat ketulusan kata-kata yang baru saja di lontarkan. 


 


               "Bolehkah saya mengatakan sesuatu tuan." 


 


                "Katakan." 


 


                "Bagaimana dengan keluarga tuan." Ucap Alya ragu-ragu . 


            Mengingat betapa kejamnya ancaman yang pernah dikatakan oleh ibunya Adrian. Membuat Alya ragu untuk menjalani hidup bersama laki-laki yang kini berdiri tepat di hadapannya.


 


                "Kamu tidak perlu khawatir tentang keluargaku." Jawab Adrian santai.


 


               Alya hanya menganggukan kepala, kini dia hanya bisa pasrah dengan hidupnya. Karena yang terpenting bagi Alya adalah anaknya mempunyai sosok seorang ayah.


 


             "Sebaiknya kamu istirahat, persiapkan dirimu untuk besok." 


 


 


              Alya pun pergi meninggalkan Adrian seorang diri yang kini sedang menghisap cerutunya. Hati kecilnya ingin sekali mencegah Adrian untuk menghentikan kegiatannya. Sesekali mata Alya melirik ke arah Adrian. Alya pun memilih untuk mengabaikannya karena sadar posisi dirinya.


 


            "Alya tunggu.!" Ucap Adrian


 


            Alya yang akan menuruni tangga itu pun menghentikan langkahnya.


 


             "Iya tuan" 


 


             " Alya, ee.. , tentang orang tuamu bagaimana.?" Tanya Adrian.


 


            Adrian mencoba mencari tahu kejujuran Alya. Alya terdiam , lalu mendongakkan kepalanya.


 


            "Tuan saya sudah tidak mempunyai orang tua , sejak kecil saya sudah diasuh oleh ibu Maria." Jawab Alya sendu.


 


             Hati Adrian bagaikan dihujam belati mendengar penuturan Alya, benarkah Alya tidak mengetahui tentang dirinya. Ataukah memang ada hal di balik identitas yang disembunyikan.


 


             "Baiklah , maafkan pertanyaan saya, kamu boleh pergi." Ucap Adrian . 


 


          Adrian menatap kepergian Alya , terlihat sekali jika kesedihan kini tengah dirasakannya. Adrian bertekad akan menemui ibu Maria sebelum pernikahan besok, berbekal alamat yang diberikan Jonathan beberapa hari yang lalu, Adrian bergegas menuruni anak tangga , lalu pergi keluar rumahnya setelah memberikan pesan-pesan penting pada Dona. 


 


            Dengan tergesa-gesa Adrian memasuki mobilnya , lalu tancap gas pergi memecah keramaian kota. 


 


          Adrian memarkirkan  mobilnya di luar pagar rumah yang kini tampak sepi itu. Lalu berjalan mendekati pintu utama rumah yang kini masih tertutup. Adrian tahu jika di jam sore Puspa masih belum pulang dari kantornya.


 


                Tok…tok…tok….


 


               "Permisi." 

__ADS_1


 


             "Ya, sebentar "Sahutan dari dalam rumah.


 


             Muncul seorang  wanita paruh baya, dengan tampilan sederhana. Ia menatap lekat ke arah lelaki yang kini berdiri di depan pintu rumahnya.


 


               "Apakah ini benar kediaman ibu Maria.?" Tanya Adrian berbasa-basi.


 


              "Ya , saya sendiri." Jawab Maria.


 


          Maria mengerutkan alisnya , ia tampak bingung dengan kehadiran laki-laki di hadapannya , dari mana dia tahu namanya.


 


              "Kenalkan saya Adrian." Ucap Adrian mengulurkan tangannya.


 


              "Adrian.bukankah anda…"


 


            Ucapan Maria mengambang di udara seolah sedang mengingat sesuatu.


 


             "Bolehkah saya masuk." Ucap Adrian kembali.


 


             "Ah, iya..iya..silahkan masuk." 


 


            Lamunan Maria seketika buyar, lalu mempersilahkan masuk tamunya.


 


             Mereka pun duduk di ruang tamu.Adrian yang duduk di seberang Maria matanya berotasi ke semua dinding, matanya tertuju pada foto Puspa bersama Baron dan Maria saja , di sana tidak terpajang foto Alya.


 


                "Maaf jika kedatangan saya mengejutkan anda." 


 


                "Ya , katakan ada keperluan apa anda kemari, sedangkan saya tidak mengenal anda." Ucap Maria bingung.


 


                Adrian terdiam sesaat memikirkan kalimat untuk mengawali perbincangannya, karena dia sadar hal yang tak mudah untuk mengutarakan maksud kedatangannya. Apalagi dia pernah menyia-nyiakan Alya.


 


                "Kenapa diam ?" Tanya Maria.


 


                 "Begini bu, ini tentang Alya." Ucap Adrian ragu -ragu.


 


                     Degh.


 


              Jantung Maria seketika berpacu kencang. Mengingat Maria sudah lama tak bertemu dengan Alya, bayangan buruk pun menakuti pikirannya.


 


                   "Alya, kenapa dia.?" 


 


                   "Bu, saya butuh nama ayah Alya , karena besok saya akan menikahinya, bukankah anda mengetahui segalanya." Ucap Adrian penuh selidik.


 


             Maria terdiam , tidak terasa air matanya meleleh membasahi wajahnya yang mulai keriput itu.


 


                   "Apakah kamu benar-benar akan menikahinya , atau sekedar mempermainkannya, mengingat status siapa dirimu , apakah semudah itu kamu akan menikahi wanita rendahan seperti Alya." Ucap Maria dingin 


 


                  "Saya tidak memperdulikan status , tapi saya hanya ingin membesarkan anak dengan kasih sayang kedua orang tuanya." Ucap Adrian penuh penekanan.


 


             "Baiklah, tapi tolong jaga Alya baik-baik setelah ini, karena besar kemungkinan kamu akan menghadapi banyak rintangan." 


 


              Adrian menganggukan kepala sebagai jawaban, lalu Maria menceritakan semua tentang Alya, dari mulai dia sejak kecil , dari yang dia suka dan tidak disukai Alya. Hingga perusahaan yang kini dikelola oleh Burhan. 


 


           "Begitulah nak , ceritanya, jika kamu ingin mengetahui lebih banyak tentang Alya , kamu bisa menemui pengacaranya Paris hutapea." Ucap Maria.


 


         Maria memberikan secarik kertas berisikan kata-kata rahasia, lalu membubuhkan tanda tangannya, Maria kini bisa bernafas lega , karena sudah menemukan orang yang tepat untuk ia percaya . Adrian lalu berpamitan mengundurkan diri .


 


      *******


 

__ADS_1


__ADS_2