Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
Bertanggung jawab.


__ADS_3

              


              "Adrian , mama minta sekarang kamu pulang, ada hal penting yang ingin mama tanyakan pada mu." Ucap mama Vera di seberang telepon.


 


             "Adrian masih di luar kota ma." Jawab Adrian 


 


             "Oh, di luar kota, baik jika kamu tidak pulang mama yang akan susul kamu."


 


              Tuuut …tuuut


 


         Panggilan pun terputus, Adrian merasakan hawa panas kemarahan mamanya. Tidak tahu pasti Adrian sangat gelisah dengan sikap mamanya yang tiba-tiba memaksa dia pulang. Baru saja Adrian mau melangkahkan kaki memasuki ruangan kerjanya, langkah Adrian terhenti karena ponselnya berbunyi notifikasi pesan masuk.


 


          Mata Adrian membulat sempurna, ia menatap lekat gambar yang berada di dalam ponselnya.


 


              "Dari mana mama dapat foto ini.?" Gumam Adrian.


 


             Adrian memutar arah langkahnya. Dia pun berjalan terburu-buru menuju parkiran mobilnya.


 


              Braak..


 


          Puspa menghempaskan buku agenda kerjanya. Puspa yang sejak tadi memperhatikan Adrian akan memasuki ruangannya kini harus pergi lagi setelah menerima panggilan. 


 


             "Sudah satu minggu lebih gak nongol , eh pergi lagi." Ini semua gara-gara kak Alya , bagaimana pun caranya aku harus menyingkirkannya.


 


             "Puspa , apakah Adrian ada di ruangannya.?" Tanya Bayu yang tiba-tiba muncul 


 


             "Apa.?"  Tuan Adrian sudah datang tapi pergi lagi." Jawab Puspa gugup.


              


              Bayu mengernyitkan dahinya heran menatap Puspa. Seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.


 


               "Kamu kenapa.?" Melihat saya kok seperti melihat setan saja." Tanya Bayu.


 


             "Saya hanya terkejut saja pak." Jawab Puspa gemetar.


 


           Puspa memang sangat terkejut dengan kehadiran Bayu , yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya. Ia sangat takut kalau Bayu mendengar perkataannya.


 


            Bayu menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal karena tadi dia menerima telepon dari tante Vera untuk menyuruh Adrian pulang. Bayu segera pergi meninggalkan Puspa. Puspa merasa heran dengan tingkah bos, dan sepupunya hari ini.


 


              Adrian memarkirkan mobilnya, sejenak ia melirik pintu rumahnya. Dia menarik nafas panjang untuk mengurai kegugupannya. Adrian sudah dapat menebak untuk kali ini pasti ada perang yang sangat hebat , bahkan akan lebih hebat dari kemarin . Ia sadar kebohongannya sudah terbongkar , entah dari mana mamanya mendapatkan foto itu yang jelas ia kali ini dia harus siap menghadapinya.


 


                Adrian turun dari mobilnya, perlahan memasuki rumahnya, dan benar saja dua bidadari cantik sudah menunggu kedatangannya, sambutan muka yang sangat masam pertama yang dia dapatkan.


 


            "Adrian , coba jelaskan apa maksud ini semua.?"  Dan , dia siapa perempuan itu yang sedang berbaring.?Ucap mama Vera meledak - ledak.


     


             Adrian hanya diam , dia berusaha mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan mamanya. Ditatapnya mamanya , terlihat jelas kemarahan di sorot matanya.


            


            "Mama sudah tahu semuanya Adrian. Wanita ini yang sudah membuat kamu meninggalkan pertunangan mu malam itu kan.?"  


 


            Rupanya mama Vera setelah mendapat foto itu , dia langsung menyewa orang untuk menyelidiki keberadaan Adrian. Dan benar saja , setelah di selidiki Adrian yang bertanggung jawab atas semua biaya Alya. Adrian menyebutkan dirinya suami pasien.


 

__ADS_1


             "Sekarang apa.?" Apakah benar itu anak mu.?" Apakah kamu mau menikahinya.?" Ucap mama Vera dengan tatapan menghujam.


           


 


             Sontak saja Adrian terkejut mendengar perkataan mamanya. Adrian menarik nafas dalam -dalam untuk mengurai pikirannya, dia berpikir dari mana mama nya tahu semuanya. Dia membiarkan mamanya melampiaskan kemarahannya.


 


             "Kamu benar-benar keterlaluan Adrian, mama kecewa sama kamu. Bisa-bisanya kamu lakukan ini sama mama." 


 


 


           "Apakah kamu akan menikahi perempuan itu.?" Tanya mama Vera.


 


            Adrian menganggukan kepalanya mantap sebagai jawabannya. Seketika oma Jayanti dan mama Vera matanya terbelalak terkejut dengan jawaban Adrian.


 


           "Apa.?" Apakah kamu sudah gak waras." Apakah kamu sudah mempertimbangkan semuanya." Tanya oma Jayanti.


 


           "Kalau mama dan oma sudah tahu semua buat apa, Adrian jelaskan semua." Jawab Adrian.


 


          Kini Adrian bersikap santai seolah permasalahan yang dihadapi bukanlah masalah besar, dia berusaha menyembunyikan kegugupannya itu. 


 


           Mama Vera benar-benar di buat sakit kepala dengan tingkah anaknya itu. Sikap santai yang ditunjukkan Adrian membuatnya kehabisan akal untuk memarahinya.


 


           "Mama tidak akan pernah mengakuinya sebagai menantu Dharmawangsa sampai kapan pun.!" 


 


 


           "Ma , itu anak Adrian , biar bagaimana pun Adrian harus bertanggung jawab.!" Ucap Adrian 


 


           "Tapi , tidak perlu menikahinya. Cukup kamu beri kompensasi saja tiap bulan kan beres." 


 


 


            "Apakah kamu yakin itu anakmu.   Bukankah dia wanita malam yang sudah kamu sewa." 


      


                Degh..


 


           Detak jantung Adrian berpacu kencang. Dia sangat terkejut , ucapan mamanya benar-benar telak bagi Adrian dari mana mamanya tahu semua.


 


             "Dari mana mama tahu.?" Tanya Adrian.


 


              "Kenapa, kamu terkejut.?" 


 


              "Iya, mama tahu semua Adrian,Puspa menceritakan semua, perempuan itu dulu adalah tetangga Puspa, dia wanita murahan." 


 


             "Puspa kemarin datang ke rumah dia mengantarkan berkas-berkas penting, untuk kamu tanda tangani." Jawab mama Vera sembari tangannya meraih beberapa map  dari buffet dan menyerahkan pada Adrian.


 


            Adrian mengepalkan tangannya rahangnya mengeras menahan amarah yang kini bergejolak. Kini Adrian bisa mengambil kesimpulan kemarahan mamanya bukan tanpa sebab dari dirinya saja.


 


           "Tolong Adrian , pikirkan ini semua baik-baik , nama baik kita akan tercoreng jika kamu menikahi wanita itu." Ucap oma Jayanti diiringi isak tangisnya.


 


          "Tapi Alya tidak seperti itu, oma , mama,dia perempuan baik-baik." Ucap Adrian menatap silih berganti.


 


          "Jika dia perempuan baik-baik, dia tidak akan menjual dirinya,Adrian. Tolong untuk kali ini saja kamu berpikir jernih."  Ucap mama Vera sendu.

__ADS_1


 


           Kemarahan mama Vera kini mulai mereda, dia memikirkan Adrian jika sampai dia masih bersikap kasar, Adrian akan berbuat nekat.


 


           Hening. Hanya terdengar isak tangis oma dan mama Vera. Adrian mencoba berpikir ulang, apakah sudah benar dengan tindakannya , tapi hati kecilnya tak dapat mengabaikan Alya dan anaknya. Dia memikirkan anaknya , Adrian tak ingin anaknya tumbuh dengan kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya.


 


           "Oma , mama , beri waktu untuk Adrian berpikir, keputusan apa yang akan Adrian ambil." Ucap Adria mengusap kasar wajahnya.


 


           Tak ada jawaban. Oma beranjak dari duduknya dan pergi memasuki kamarnya. Mama Vera menatap lekat Adrian yang duduk berseberangan dengan dirinya. Tak dapat ia bayangkan jika dia harus mempunyai menantu seorang wanita malam , itulah kiranya jalan pemikiran mama Vera, dia tak akan rela jika Adrian harus menikah dengan wanita itu.


 


            ******


 


          Puspa memasuki rumahnya dengan segudang kesal yang ia rasakan saat ini. Niat hati nya mau mendekati Adrian , tapi Adrian bahkan tak sedikit pun memberikan peluang padanya. 


 


               Brugh


   


          Puspa melempar tas selempangnya ke sembarang tempat. Tampak sekali di wajahnya sedang marah.


       


       


         "Kamu ini kenapa Puspa.?" Tanya Maria.


 


           "Iya , baru datang kok marah-marah. " Timpal Baron.


 


           Tidak ada sahutan dari Puspa. Dia berjalan ke meja makan di mana  Maria dan Baron sedang duduk.


 


         "Katakan , sama bapak kamu ada masalah apa." Ucap Baron.


 


         "Semua ide, yang bapak berikan sudah Puspa jalankan , tapi apa tidak ada hasilnya.?" Ucap Puspa kesal.


 


        Baron yang paham akan suasana hati putrinya berjalan mendekati Puspa.


 


          "Kamu harus sabar, ibarat kamu memancing ikan ,umpan yang kamu berikan itu belum dimakan, jika sudah dimakan tidak mungkin ikan itu tidak kena mata kailnya." Ucap Baron sembari tangannya menepuk bahu Puspa.


 


          "Tapi mau sampai kapan , Adrian tahu kalau Puspa mencintainya pak.?" 


 


 


         "Ibu , ingatkan Puspa , jangan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu." Atau nanti kamu akan menyesalinya. Ucap Maria memberi penjelasan.


 


           "Ibu, kalau tidak bisa membantu sebaiknya diam." Puspa tidak suka dengan pendapat ibu." Ucap Puspa mendengus kesal.


 


 


         Maria hanya bisa diam dengan sikap Puspa, sifat Puspa dan Alya sangat jauh berbeda , jika Alya seorang wanita yang lembut , berbeda dengan Puspa semenjak ayahnya memanjakannya Puspa berubah menjadi arogan dan angkuh.


 


             "Kamu tidak usah  ikut campur Maria , lebih baik kamu diam." Baron membentak Maria 


 


          Maria menarik nafas dalam , hatinya benar-benar pilu menyaksikan anak dan suaminya tidak menghargainya. Ingin rasanya dia lari dan menemukan keberadaan Alya. Tapi kemana dia akan mencarinya.


    


           Maria beranjak dari duduknya, ia pergi memasuki kamarnya. Hatinya benar-benar nyeri , menyaksikan tingkah kedua orang yang sangat dia sayangi. Maria pergi menuju lemari pakaiannya, ia mengambil kalung salib dan menciumnya.


 


            "Ya tuhan" bapa kami yang di surga , tolong jagakan Alya di mana pun kini dia berada , aku sangat merindukannya. Aku tahu , dia tidak  lahir dari rahimku , tapi dia sudah seperti anakku." Ucap Maria sembari mencium kalung salibnya. Tak terasa sudah meleleh air mata membasahi pipinya.

__ADS_1


          


                 ******


__ADS_2