
Di pagi hari yang cerah, Adrian terbangun dengan sensasi perutnya yang mual. Ia segera berlari seperti biasa untuk memuntahkan isi perutnya.
Setelah keluar dari kamar mandi, Adrian merasakan tubuhnya terasa lemas. Ia membaringkan kembali tubuhnya ke tempat tidurnya.
Dok dok dok
"Adrian ,ayo turun sarapan."
Karena merasa penasaran Oma Jayanti masuk ke kamar , ia mendapati cucu nya tengah berbaring oma jayanti pun menghampiri Adrian.
"Kamu sakit Adrian,kenapa gak bilang sama oma.?" Tangan Oma meraba kening Adrian.
"Gak kok oma. Adrian hanya ingin muntah aja."
"Ayo sini Oma kerokin." Ujar oma Jayanti.
"Gak mau oma, sakit " ucap Adrian.
"Wah bro , sakit.?" Kalau gak begini gak libur oma." Ucap Bayu yang tiba-tiba sudah muncul di kamar Adrian.
Mama Vera yang sudah memberitahukan Bayu bahwa Adrian sedang bermasalah dengan kesehatannya. Bayu lah yang akan menghandle semua pekerjaan kantor.
"Bay, tolong ambilkan koin di kotak laci itu ." Pinta Oma Jayanti.
"Siap oma."
"Ayo , buka baju kamu sini oma kerokin."
"Aduh , oma sakit pelan - pelan dong." Keluh Adrian yang sedang tengkurap
"Ini sudah pelan Adrian. Masa begini saja sakit, kamu ini bawel banget." Ucap oma jayanti tangannya menekan koin ke punggung Adrian.
"Ini nama nya bukan dikerok oma, tapi di kuliti." Ucap Adrian menyeringai menahan rasa perih.
"Kamu ini bawel banget sih, mau sembuh apa gak.? Ucap oma Jayanti tangannya masih aktif mengerok di punggung Adrian.
"Iya oma , Adrian memang bawel kayak ibu -ibu lagi hamil, minta rujak, minta martabak, ujung - ujungnya gak dimakan juga." Sahut Bayu.
Adrian menatap tajam ke arah Bayu.
"Bicara sekali lagi, aku pecat kamu dari perusahaan Bay."
Bayu hanya tertawa kecil menanggapi ancaman sepupunya. Mana mungkin Adrian akan memecatnya, Adrian adalah tipe pemilih dan sulit mencari partner yang cocok seperti kriterianya.
__ADS_1
"Oh ya, Adrian kapan kamu mau menikah.?" Oma ini sudah tua loh, sudah waktunya menggendong cicit . Keluarga kita juga butuh pewaris , oma malu kalau ketemu teman- teman komplek , mereka semua sudah ada cicit." Ucap oma Jayanti penuh harap.
Perkataan bernada perintah ini dari oma , itupun sudah bisa di tebak Adrian pasti akal-akalan mama nya . Mamanya pasti meminta oma untuk membujuk dirinya. Oma dan mama nya benar-benar paket lengkap.
Adrian hanya terdiam, pikirannya kembali diselimuti bayangan Alya. Ia memikirkan hal -hal konyol yang tidak mungkin terjadi. Jika benar anak dalam kandungan Alya adalah kecebong yang ia titipkan malam itu. Ia tak dapat membayangkan hal yang akan terjadi kedepannya.
"Oh tuhan , jika saja oma tahu kalau aku sudah menghamili anak orang, bisa-bisa aku akan dilempar ke laut yang paling dalam." Adrian berdecak dalam hati.
****
Lama Adrian terpaku di depan pintu. Ragu-ragu tangannya mau mengetuk pintu. Mata Adrian berotasi mengelilingi di sekitar , memastikan alamat yang diberikan Jonathan benar adanya.
Tok tok tok
Tak berapa lama muncul Alya membuka pintu. Betapa terkejutnya Alya orang yang berdiri di hadapannya orang yang beberapa bulan lalu yang telah mengambil kesuciannya.
Tanpa disuruh masuk Adrian melangkahkan kaki memasuki rumah yang terbilang sangat sederhana.
"Kedatanganku kesini ingin menanyakan sesuatu kepadamu.?" Adrian menatap tajam ke arah Alya.
"Te..tentang apa tuan.?" Jawab Alya dengan suara bergetar.
Masih dengan kepala tertunduk , Alya tidak berani menatap laki-laki di depannya.Alya memikirkan jawaban yang tepat, masih terngiang di telinga Alya ancaman Adrian malam itu. Jika dia mengatakan yang sebenarnya , apakah orang di hadapannya akan menerima.
"Ini anak laki-laki lain,tuan .!" Jawab Alya tangannya meremas ujung baju.
Berbohong mungkin jalan satu-satunya yang bisa menyelamatkannya.jika Adrian sampai tahu, siapa ayah anak dalam kandungannya tidak menutup kemungkinan Adrian akan mencelakainya, dan anak dalam kandungannya.Alya akan melakukan apa pun demi untuk melindungi anaknya.
"Kamu yakin, apa yang kamu katakan.!" Ucapan Adrian mengintimidasi.
Alya terdiam .Ragu -ragu Alya menganggukkan kepala. Ia menundukkan kepalanya kembali, menyembunyikan air mata yang akan jatuh ke pipi.
"Lalu kemana laki-laki itu sekarang, dan siapa dia.?" Tanya Adrian lagi.
"Saya tidak tahu siapa dia dan dimana dia, saya tidak mengenalnya."
Adrian menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba mengingat perkataan Puspa pada waktu itu. Bahwa Alya sebenarnya bukanlah wanita baik-baik. Ia rela menjual diri hanya karena uang. Kebetulan saja Adrian yang mendapatkan yang pertama.
"Baiklah, kedatangan ku hanya ingin memastikan , tentunya kamu masih ingat peringatanku beberapa bulan lalu, kan.?" Tetaplah tutup mulutmu jangan sampai ada orang yang tahu apa yang telah terjadi diantara kita malam itu.!"
"Saya mengerti, tuan."
__ADS_1
Adrian hendak melangkahkan kaki keluar, tiba-tiba ada suara memanggil dari arah luar memanggil nama Alya.
"Siapa dia.?" Bisik lirih Adrian.
"Mungkin ibu sudah pulang kerja, jika tidak ibu yang punya rumah sewa ini, tuan."
"Bisakah anda berdiri di sana sebentar." Tangan Alya menunjuk ke arah pojok ruangan.
Adrian yang bingung mau sembunyi di mana, ia tampak takut kalau kehadirannya diketahui orang , akhirnya Adrian menurut saja bersembunyi di pojok ruangan di belakang pintu.
Alya yang berjalan pelan karena beban perutnya yang sudah membesar, sempat mencuri perhatian Adrian. Adrian hanya menatap diam tanpa suara berdiri di pojok ruangan.
Berdiri seorang wanita dengan tampang nya yang judes. Ya. Ibu Yuli, pemilik rumah yang ditinggali bersama Rani dan ibu Lastri. Alya sudah bisa menebak kedatangan ibu Yuli pasti menagih uang sewa yang sudah menunggak beberapa bulan.
"Iya bu Yuli." Alya mencoba tersenyum ramah.
" Alya , gak usah berpura-pura baik deh. Kedatangan saya kesini mau menagih uang sewa, saya minta uang nya sekarang.!"
Tanpa berbasa- basi ibu Yuli mengutarakan maksud kedatangannya.
" Tunggu sebentar ya bu."
Alya masuk ke dalam kamar nya mengambil uang tabungannya yang ia simpan untuk biaya persalinan nanti.
"Ini, baru ada segini bu. Gimana nanti kalau saya sudah ada uang saya lunasi bu." Jawab Alya.
"Iya sudah deh, gak apa-apa." Oh ya, kabarnya kamu sudah tidak kerja lagi ya?" Tanya ibu Yuli.
Alya hanya menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban dari ibu Yuli. Beruntung saat ini ibu Lastri dan Rani tidak ada di rumah . Jika ibu Lastri masih bekerja dan Rani masih belum pulang sekolah.
Ibu Yuli pun berpamitan setelah mendapatkan apa yang ia inginkan.Adrian menarik nafas lega ia pun keluar dari persembunyiannya.
" Apakah dia sudah pergi.?" Tanya Adrian matanya berotasi keliling memastikan tidak ada orang.
"Baiklah karena saya sudah tidak punya urusan dengan kamu. Saya akan pergi dari sini, dan ingat.! Apa ucapan saya tadi.!" Ucap Adrian menatap tajam ke arah Alya.
Masih dengan kepala menunduk Alya menganggukkan kepala.
Suasana hati Alya lebih tenang dengan kepergian Adrian, Alya meluruhkan tubuhnya ke lantai, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. Alya menangis sejadi-jadinya. Kedatangan Adrian mengoyak luka yang ia coba untuk sembuhkan.
"Maaf kan ibu , nak. Ibu tidak berdaya melawan ayah mu." Ucap Alya di sela tangisnya.
Alya membelai perutnya yang sejak tadi aktif terus bergerak sejak kedatangan Adrian , seolah mengerti si jabang bayi dalam kandungan bahwa itu ayahnya yang datang menjenguk. Isak tangis Alya pun pecah setelah kepergian Adrian.
*****
__ADS_1