
Hari berlalu dengan begitu cepat,kini usia kandungan Alya memasuki delapan bulan, di dalam mobil Alya hanya diam , tangannya mengusap puncak kepala Arjuna yang tertidur lelap di sampingnya. Kerinduan pada sang suami , benar -benar menyiksa dirinya.
"Kita sudah sampai nyonya." Ucap Jonathan pada Alya.
"Mbak Rima tolong bantuin Arjuna bangun ya," Ucap Alya memerintahkan babysitternya.
"Arjuna kita sudah sampai , ayo bangun nak." Ucap Alya dengan lembut pada putranya.
Arjuna kini yang memasuki hampir dua tahun itu, mulai membuka matanya , bocah laki-laki dengan postur tubuh gembil itu perlahan turun dari jok mobilnya.
"Mama"Ucap Arjuna yang sudah mulai bisa berkomunikasi meskipun masih cadel dan belum jelas.
"Sayang , Arjuna mau jalan sendiri atau di gendong mbak Rima.?" Tanya Alya pada putranya.
Arjuna tidak menjawab, ia melesak turun dari mobil dan memulai jalan sendiri, Alya yang sudah turun duluan , kini matanya berotasi di sekeliling tanah yang luas terlihat bersih dan terjaga , pemakaman khusus orang -orang elite , terlihat tertata rapi semua batu nisan bertuliskan nama masing-masing umat manusia yang sudah menghadap illahnya.
Alya yang perutnya sudah membesar, mengalami kesulitan ketika berjalan menapaki jalan setapak , perlahan berjalan menuju batu nisan walau pergerakannya terbatas, tiba di batu nisan yang ia cari, Alya meletakkan buket bunga mawar merah , tak lupa ia berdoa di atas batu nisan itu.
"Arjuna , ayo kita berdoa nak, semoga mereka yang melihat kita di sana bahagia ." Ucap Alya membimbing doa dengan Arjuna.
Arjuna seolah mengerti dengan perkataan ibunya, ia menengadahkan kedua tangannya mengikuti ibunya. Jonathan dan Dona yang berjaga, memasang mata waspada ketika majikannya di luar , mata elang keduanya berotasi mengelilingi pemakaman, semenjak kepergian Adrian , penjagaan diperketat, menjaga kemungkinan hal-hal yang tak diinginkan.
Tangan Alya mengusap batu nisan setelah selesai berdoa, matanya berembun , ia sangat bersyukur hidupnya kini dikelilingi dengan orang-orang yang sangat mencintainya, dulu oma Jayanti dan mama Vera yang sangat membencinya, kini mereka perlahan bisa menerima kehadiran Alya, Alya yang dulu ia kira adalah bayi yang terbuang tanpa keluarga, tak terduga ia adalah pewaris tunggal Sudirja.
Apalagi yang ia inginkan saat ini, selain berkumpul dengan keluarga yang ia cintai, tak terasa air matanya meleleh menetes membasahi kedua pipinya yang terlihat chubby, di kehamilan kedua Alya sangat tersiksa , semenjak kepergian Adrian , ia hanya dapat menahan rindu dan berdoa .
Setelah selesai melepas rindu, Alya menatap lekat batu nisan yang dihadapannya, perlahan berjalan dengan Arjuna menuju mobil yang sudah disiapkan, dengan diiringi Jonathan dan Dona berjalan di samping Alya.
Setelah di dalam mobil mata Alya menatap lekat ke arah pemakaman.Pedih memang, di saat- saat ia membutuhkan kasih sayang , ia ditinggalkan orang -orang yang ia cintai, perlahan mobil berjalan meninggalkan pemakaman , hingga menghilang kembali di keramaian kota.
Arjuna yang tidak rewel kembali tertidur di pangkuan ibunya, meskipun di kehamilan kedua sangat menyiksa , Alya mencoba kuat demi anak yang ada di dalam kandungannya.
Mobil pun sampai di kediaman Adrian Dharmawangsa, Bayu yang sudah menunggu di rumah segera menghampiri ketika mobil sudah memasuki lahan luas itu.
"Hey.., jagoan om sudah sampai, kamu pasti habis tidur, lihat pipimu semakin tembem." Ucap Bayu menggendong Arjuna.
__ADS_1
"Om Bayu, aljuna lindu cama om." Ucap Arjuna yang masih cadel.
"Sama sayang, om juga rindu sama jagoan om ini, maafin om ya sayang , om sangat sibuk." Ucap Bayu sembari menggendong Arjuna membawa masuk ke dalam rumah.
"Mana Puspa, kok tidak ikut ke sini.?" Tanya Alya pada Bayu karena tidak mendapati adiknya bersama Bayu.
Bayu tidak langsung menjawab, ia masih sibuk dengan keponakannya yang super aktif itu, karena semenjak kepergian Adrian , Arjuna jika sudah bertemu Bayu ia tak mau lepas lagi, kerinduan sosok ayah membuat Arjuna melampiaskannya pada Bayu.
Puspa yang mengajukan syarat pada Bayu, dia dapat menerima Bayu jika ibunya merestui, itu yang membuat keduanya menjaga jarak, meskipun mereka saling mencintai.
Bayu menurunkan Arjuna perlahan dari gendongannya, Bayu yang belum sempat menjawab pertanyaan Alya kini menghampiri istri sepupunya.
"Puspa sedang tidak enak badan, makanya dia tidak ikut ke sini." Jawab Bayu.
Alya yang paham hanya menganggukkan kepalanya , lalu duduk di sofa untuk melepas rasa pegal di kakinya.
"Kalian sudah pulang.?" Cucu oma yang ganteng mana ya..?" Ucap mama Vera yang muncul dari arah belakang menghampiri Arjuna yang sedang bermain dengan Bayu.
Suasana rumah pun menjadi ramai, karena Arjuna dengan usianya yang sedang aktif-aktifnya, selain itu Arjuna jika sudah bermain kadang membuat Rima menjadi kewalahan menemaninya.
******
Di sepertiga malam, Puspa membentangkan sajadahnya, ia menunaikan shalat tahajud untuk meminta ketenangan batin, karena semenjak ibu dan bapaknya meninggal , Puspa memilih untuk hidup sendiri, meskipun Alya meminta untuk tinggal bersamanya, tapi Puspa selalu menolak dengan kata lain dia ingin hidup mandiri.
Setelah selesai menunaikan shalat, Puspa dengan kedua tangan menengadah ke atas.
"Ya Tuhan, ampuni segala dosa perbuatan kedua orang tuaku, jika memungkinkan masukan kedua orang tuaku ke dalam surgamu." Ucap Puspa dalam doa nya lama ia bersimpuh dengan deraian air matanya.
Kebimbangan Puspa disaat membutuhkan tempat untuk menumpahkan segalanya, dia hanya dapat menghadap sang ilahi. Setelah reda dengan tangisnya , Puspa yang kelelahan menangis, dengan sendirinya tertidur di atas sajadah yang masih membentang.
Tok…tok..tok…..
__ADS_1
Tak terasa pagi pun sudah tiba, Puspa yang masih tertidur diatas sajadah terbangun karena terdengar pintu diketuk dari luar , Puspa segera merapikan dirinya, pintu terus terdengar seolah tak sabar untuk berjumpa dengan penghuninya.
"Ya sebentar." Sahut Puspa dari dalam rumahnya.
Sekilas mata Puspa melirik ke arah jam yang tertempel di dinding, jam menunjukkan pukul 06.00 pagi.
Puspa pun membuka pintu utama rumahnya, berdiri seorang wanita cantik di depan pintu rumahnya.
Wanita itu pun menoleh ke arah Puspa dengan tatapan tidak suka, Puspa yang dikejutkan dengan kehadiran wanita itu menjadi serba salah.
"Mari silahkan masuk." Ucap Puspa dengan tersenyum ramah.
"Tidak usah!" Cukup di sini saja, apakah kamu punya waktu untuk ku bicara pada mu.?" Tanya mama Linda menatap tajam ke arah Puspa.
"Tentu nyonya." Jawab Puspa dengan menganggukkan kepalanya.
"Kedatangan ku kesini , bukan untuk meminangmu sesuai permintaan Bayu, aku hanya ingin memberikan peringatan pada mu, jauhi anak ku, cari laki-laki lain yang bisa kau jerat dengan kecantikanmu." Ucap mama Linda dingin.
"Berapa uang yang kau inginkan, agar kau bisa menjauhi Bayu anakku, jika dulu orang tuamu sangat menginginkan uang , hingga tega menjual Alya, lalu berapa yang kau inginkan.?" Ucap mama Linda dengan tatapan tajam.
Terasa sesak di dada Puspa saat ini, setiap kata yang terlontar terdengar begitu menyakitkan , dia tidak menyalahkan ibunya Bayu jika menilainya buruk terhadap dirinya , karena itu semua masa lalu yang sudah terjadi. Puspa mencoba tenang , walaupun perasaan nya kini hancur berkeping-keping bukan dari penolakan ibunya Bayu, terlebih masa lalu yang suram hingga membuat semua orang menilai buruk.
"Maaf nyonya, anda tidak perlu repot-repot membuang uang anda, saya sudah mengatakan pada mas Bayu, jika anda tidak menyetujui hubungan kami, saya pun tidak akan pernah mau menjadi kekasih ataupun istri mas Bayu." Ucap Puspa dengan jiwa tenang sekalipun jiwanya sangat hancur saat ini.
Cih.
"Saya tidak percaya dengan kata-katamu, wanita sepertimu hanya menggoda pria kaya , dan sebagai umpannya adalah kecantikanmu." Ucap mama Linda dengan nada sarkas.
Puspa sangat terpukul mendengar perkataan ibunya Bayu, dengan sangat jelas sudah merendahkannya, bahkan menghinanya , sebisa mungkin Puspa mencoba bertahan agar air mata yang sejak tadi ingin jatuh , jangan sampai jatuh di depan ibunya Bayu.
"Terserah anda nyonya, jika anda tidak percaya , tapi anda bisa pegang kata-kata saya." Ucap Puspa dengan sopan.
"Baiklah, sesama wanita seharusnya kamu tahu , semua orang tua pasti menginginkan anaknya menikahi orang yang baik, ingat.! Saya pegang kata-kata kamu, kalau begitu saya permisi." Ucap mama Linda berlalu pergi meninggalkan Puspa yang masih mematung di depan pintu.
__ADS_1
Puspa masuk kembali ke dalam rumahnya, setelah menutup pintu ia berjalan menuju kamarnya , Puspa menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Puspa menangis sejadi-jadinya, masa lalunya kini menghalangi cinta yang datang pada dirinya. Begitu sakit rasanya saat ini , rasa sakit dihina dan direndahkan , ia pun kini sadar, mungkin beginilah dulu yang Alya rasakan di saat dihina dan direndahkan. Semua itu tidak sebanding , dengan Alya yang kini hidup lebih baik dari dirinya.