Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
pertengkaran berdarah.


__ADS_3

     Di kediaman Sudirja.


 


      Di ruangan keluarga yang luas  dan mewah kini suasana mencekam. Oma Yana yang duduk di dampingi oleh asisten pribadinya Anton, dan beberapa orang yang berpostur tubuh tinggi tegap tapi menyeramkan.


 


        Dengan tenang oma Yana duduk dengan setumpuk map di hadapannya. Ditatapnya Burhan yang duduk tepat di seberangnya, di samping sisi kiri dan kanan duduk Celine dan Miranti istri Burhan. 


      


        Ruangan itu persis seperti ruang persidangan. Hening , yang terdengar hanya helaan nafas berat.


 


         "Kalian tahu , kenapa aku mengumpulkan kalian di sini .?" Tanya oma dingin pertanyaan yang menusuk kalbu.


 


         Tidak ada sahutan , semua hanya diam karena mereka tidak tahu tujuan oma Yana yang sebenarnya.


 


           "Burhan , mau sampai kapan kamu lari dari tanggung jawab mu.?" Tanya oma Yana dengan tatapan menghunus .


 


       Burhan yang sejak tadi diam,  kini dia sedikit memberanikan diri untuk menatap wanita yang duduk tepat di hadapannya.


 


          "Mama, langsung saja sebenarnya ada apa ini.?" Tanya Burhan penasaran.


 


           "Kamu benar-benar tidak tahu.?" Atau berpura-pura tidak tahu.?" Tanya oma Yana lagi 


 


        Celine dan Miranti saling bertatap muka , mereka memang tidak tahu sebenarnya ada masalah apa.


 


           Burhan yang duduk di seberang oma Yana, yang tadi nya tenang kini berubah menjadi gelisah , karena dia mempunyai feeling tak enak dengan tatapan mata elang oma Yana.


 


         "Semua bukti kejahatanmu sudah ada di sini Burhan.?" Bisakah kamu jelaskan semua pada ku.?" Ucap oma Yana menahan amarah yang hampir meledak.


 


         "Bukti.?" Bukti kejahatan apa yang sudah kulakukan , aku tidak pernah melakukan apa-apa tanpa seizin mu ma.?" Ucap Burhan dengan enteng mengelak.


 


        "Cukup.!" Aku tidak ingin kamu bertele-tele , sebaiknya kamu menyerahkan diri ke polisi, mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu.!" Ucap oma Yana dengan mata yang sudah memerah.


 


       "Hah.., jika memang sudah cukup bukti kenapa aku tidak mama panggilkan polisi.?" Ucap Burhan kesal.


 


        "Jangan kau panggil aku ' mama' Burhan, karena kau tidak pantas menjadi anakku." Ucap oma Yana geram.


 


          Cih.


 


        "Orang sepertimu tidak tahu terima kasih, bahkan kau mengotori mulutmu dengan menyebutkan aku mama mu, karena keserakahan mu, kau tega melenyapkan nyawa anakku, karena kau ingin menguasai harta ku, bahkan bayi yang tak berdosa pun ingin kau lenyapkan." Ucap oma Yana dengan mata berkaca-kaca karena amarah yang meledak.


 

__ADS_1


         Burhan terkesiap mendengar perkataan oma Yana.


 


        "Oh , jadi ini tujuanmu mengumpul kan semua orang hanya untuk menghina ku.?" Ucap Burhan bangkit dari duduknya lalu berkacak pinggang hilang sudah rasa hormat Burhan pada oma Yana.


 


 


       "Mas, apa semua ini benar.?" Ucap Miranti dengan deraian air mata menghampiri Burhan yang tersulut emosi.


 


      "Papa , katakan pada Celine, ini semua bohong kan, papa bukan orang jahat kan.?" Ucap Celine dalam isak tangisnya.


 


      "Puas.?" Apa kamu sudah puas menghina ku di depan anak dan istri ku.?" Ucap Burhan berapi-api.


 


      "Aku selama ini sudah cukup menahan Burhan, aku menganggapmu sebagai anakku,tapi dengan tega kau lenyapkan Bram dan Anita, apakah tidak kau pikirkan akibatnya.?" Ucap oma Yana .


 


      "Ternyata aku salah,sudah memungut ular berbisa dan memeliharanya, lalu dengan mudahnya kau mematuk ku sebagai mangsa mu di saat kau lapar." Ucap oma Yana dengan deraian air mata.


 


      Semburat raut wajah Burhan seketika memerah padam mendengar Oma Yana bicara , ia tak dapat menerima penghinaan yang dilontarkan pada dirinya.


 


       "Bedebah , tutup mulutmu, masih untung kau tidak ku lenyapkan juga, karena aku selama ini masih menghormatimu." Ucap Burhan dalam kemarahannya.


 


        PLAKK…


 


          "Kau." Kau berani menamparku hanya untuk membela perempuan tua itu.!" Ucap Burhan mengusap pipinya yang terasa panas berkat tamparan Miranti.


 


         "Kamu sangat keterlaluan mas, apakah kamu tidak berpikir , bagaimana nasibmu jika tidak ditolong sama mama.?" Ucap Miranti menatap tajam ke arah suaminya.


 


         "Biarkan saja Miranti, aku bisa menilai bagaimana aku membesarkan ular yang sudah ku pelihara." Ucap oma Yana lagi.


 


         "Papa, katakan pada Celine sebenarnya ada apa ini.?" Tanya Celine penasaran.


 


       Burhan diam ia menatap lekat wajah putrinya, ia tak sanggup memberikan jawaban pada anaknya, hati Burhan bergemuruh kemarahan kini menguasai dirinya dengan kedua tangan mengepal, dan rahang nya pun mengeras, sorot matanya tajam.


 


        "Dasar tua bangka, akan kuhabisi kau." Ucap Burhan secepat kilat mencabut pistol yang terselip di pinggang belakang lalu mengarahkannya ke oma Yana.


 


       Miranti yang melihat itu ia berlari ke arah oma Yana.


 


           Dor…Dor…


        


           "Tidaaakkk…!!" Pekik Celine melihat ibunya yang tertembak di punggung belakangnya dua kali . 

__ADS_1


      


            "Cepat tangkap dia!" Teriak Anton melihat Burhan dengan tatapan tajam.


 


           Burhan yang melihat itu ia berlari ke arah pintu depan untuk melarikan diri , dengan secepat kilat ia mengambil langkah seribu untuk menyelamatkan dirinya dari orang-orang yang mengejarnya.


 


         Burhan yang panik menghentikan mobil asal,anak buah Anton tak kalah gesit selain ada yang mengejar,  di antara mereka pun ada yang mengendarai mobil , sehingga terjadilah aksi kejar -kejaran.


 


         "Mama." Lirih Celine.


 


          "Miranti." Teriak oma Yana.


 


          "Anton cepat hubungi ambulance.!" Pekik oma Yana. 


     


           "Ba-baik nyonya." 


 


         Anton menggeserkan ponselnya lalu mengadakan panggilan.


 


           Panggilan pun terhubung.


 


          "Halo, tolong secepatnya datang ke kediaman Sudirja , jln Mawar no 10, tolong cepat ya." Ucap Anton panik.


           Selang tiga puluh menit mobil polisi dan ambulan pun datang,  mendadak kediaman Sudirja menjadi ramai, Miranti yang tersungkur di lantai dan bersimbah darah , dengan beberapa petugas  dari rumah sakit mereka membawa tubuh Miranti dengan tandu  lalu di masukkan ke dalam mobil ambulan , setelah diadakan olah TKP dengan polisi.


 


            "Mama…, jangan tinggalkan Celine ma." Ratap Celine yang ikut ke dalam mobil ambulan.


 


          Mobil ambulan pun pergi meninggalkan kediaman Sudirja, dengan diiringi bunyi sirine yang berbunyi.


 


         Sedangkan polisi sedang mengadakan pemeriksaan di kediaman Sudirja. Oma Yana yang tampak syok duduk memandangi kepergian mobil ambulan yang membawa tubuh Miranti.


 


          "Maaf nyonya, tolong tunjukkan di mana kamar tuan Burhan.?" Ucap salah satu petugas polisi. 


   


          "Di sana pak." Jawab Anton sembari menunjuk ke arah ruangan di mana kamar Burhan terletak.


 


           "Anton , apakah Miranti baik-baik saja." Ucap oma Yana dengan deraian air mata .


 


         Oma Yana merasakan sesak di dadanya, ia tak menyangka jika anak yang ia pungut di lampu merah , dan ia besarkan akan menghabisinya.


 


         Matanya menerawang jauh, oma Yana mengingat bagaimana ia dulu sangat menginginkan Burhan, karena iba ia ingin Burhan menjadi anaknya , sebelum itu oma Yana memang belum dikarunia anak. 


 

__ADS_1


       Kehadiran Burhan kecil pun mampu mengobati rasa kesepiannya, jika suaminya pergi bekerja. Ia mencurahkan semua kasih sayang nya pada Burhan, meskipun pada saat itu Bram masih ada dalam kandungan. Kini ia tak percaya jika Burhan akan nekat menghabisinya juga.


__ADS_2