Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
korban sinetron.


__ADS_3

    Dengan seiring waktu , waktu berjalan dengan begitu cepat, setelah beberapa bulan kepergian Baron untuk selamanya. Meskipun menyisakan duka untuk Alya, dan juga Puspa mereka dapat melewati bersama. 


     


           Adrian yang siang itu pulang cepat, karena pekerjaan kantornya sudah diwakilkan dengan Bayu. Adrian sangat gelisah karena siang ini dia kedatangan tamu dari pihak perusahaan Sudirja , Anton orang kepercayaan perusahaan itu ,membahas tentang saham yang dimiliki pewaris tunggal  Sudirja corporation , mengalami turun drastis karena sebuah permainan pihak dalam.


 


        Adrian ingin sekali memberitahukan tentang status Alya yang sebenarnya, tapi banyak pertimbangan yang harus dipikirkan terlebih Burhan , dia tidak ingin oma Yana tahu bahwa Alya masih hidup.


 


        Dengan langkah lebarnya Adrian menaiki tangga demi tangga untuk mencapai kamarnya. Adrian membuka pintu kamarnya perlahan , terdengar suara televisi sedang menyala menampilkan sinetron.


 


        "Alya.."Ucap Adrian memanggil Alya 


 


         Mata Adrian berotasi memindai ruangan, terdengar di sudut ruangan suara orang yang sedang menangis.


       


        "Hu..hu.." 


 


        "Alya.., kamu kenapa.?" Tanya Adrian panik.


 


        Alya tidak menyahut, ia duduk dengan kaki ditekuk dan membenamkan wajahnya.


 


        "Alya , bicaralah." Ucap Adrian.


 


         "Mas.., orang tuaku." Ucap Alya dalam isak tangisnya 


 


            Degh.


 


        Detak jantung Adrian seketika berdebar, sejauh ini Adrian belum bisa mengungkapkan siapa Alya sebenarnya, akan tetapi dari mana Alya tahu tentang orang tuanya.


 


         "Kenapa dengan orang tuamu.?" Ucap Adrian panik.


 


         "Mas , apakah orang tuaku sama seperti dia,kenapa orang tuaku membuangku , jika tidak ada ibu Maria bagaimana nasibku." Ucap Alya sembari tangannya menunjuk ke arah televisi yang sedang hidup.


 


        Adrian semakin tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Alya.


 


         "Maksud kamu.?" Ucap Adrian.


 


        Alya yang masih menangis dengan matanya yang sembab, bangkit dari duduknya lalu tangannya meraih tangan Adrian dan mengajaknya duduk di sofa .


 


        "Lihat.!"  Sinetron itu mas, tega sekali dia membuang anaknya masih kecil, kasihan mas, apakah orang tuaku seperti itu telah membuangku ,lalu aku di temukan oleh ibu di tong sampah mungkin." Ucap Alya dengan polosnya.


 


        "Apa.?" Jadi kamu menangis gara-gara sinetron.?" Ucap Adrian bengong lalu tangannya ia tepuk kan di dahinya.


 


       "He eh." Jawab Alya menganggukkan kepalanya.


 


        Adrian terkekeh geli melihat tingkah istrinya, Alya yang bawel ternyata bisa melow juga.


 


        "Mas, aku tidak tahu dari kecil dari mana asalku, hanya saja dulu ibu Maria begitu menyayangiku, katanya jika sudah waktunya aku akan dibawa ke tempat dimana aku dilahirkan." Ucap Alya sendu.


 

__ADS_1


        Adrian terdiam, ingin mengatakan yang sebenarnya akan tetapi besar resiko yang harus ditanggung , karena orang yang memusuhi Alya adalah Burhan , kakak angkat ayahnya.


 


         "Kamu sabar ya, jangan menangis lagi, kalau kamu nangis jadi jelek." Ucap Adrian.


 


         "Apa mas, aku jelek, mentang -mentang kamu tampan banyak yang menginginkan kamu, siapa wanita yang duduk dekat-dekat kamu waktu itu pas, aku datang ke kantor.?" Ucap Alya dengan mengerucutkan  bibirnya.


 


         Mata Adrian seketika terbelalak. Alya sangat lucu jika cemburu , ingatannya sangat tajam.


 


       "Wanita, siapa yang kamu maksud.?" Ucap Adrian bingung mengerutkan dahinya.


 


      Seingat Adrian dia tidak pernah mendekati wanita, apalagi semenjak dia jatuh cinta dengan Alya, dia tidak pernah memikirkan wanita lain selain istrinya.


 


        "Tidak usah berpura-pura amnesia deh mas." Ucap Alya mendengus kesal.


      


        "Aura, yang kamu maksud, dia temanku dan sekalian dokter pribadiku dia juga yang mengobati penyakit…"


 


          Adrian menghentikan ucapannya, dia tidak ingin Alya mengetahui penyakit yang sedang dideritanya.


 


       "Kok gak dilanjutkan, penyakit apa.?" Tanya Alya.


 


       "Penyakit oma." Jawab Adrian.


        "Oh.." 


 


       Mereka pun melanjutkan menonton sinetron, Adrian sangat bersyukur menemukan wanita seperti Alya, selain sederhana Alya berhati lembut.


 


 


       Alya terdiam wajahnya murung, terlihat sekali beban yang sedang dipikirkan.


 


        "Kok diam, kenapa , kita buat foto seperti kayak artis-artis terkenal ." 


 


         "Mas, bolehkah bertanya.?" Ucap Alya memandangi wajah Adrian.


 


         "Apakah suatu hari kamu akan mencampakkan aku, lalu pergi dengan wanita lain seperti kayak yang di film-film indosisri itu." Ucap Alya.


 


         "Ya ampun sayang, kamu tuh udah jadi korban sinetron, apa yang kamu lihat di sinetron itu semua gak bener, buktinya pelakor kalah sama istri sah kalau dilaporkan ke polisi." Ucap Adrian membingkai wajah Alya dengan kedua tangannya .


        Adrian jadi geli sendiri melihat tingkah Alya yang sensitif. Ia tak menyangka jika masalah sekecil itu bisa membuat pikirannya berhalusinasi.


 


           ******


 


       Lama Maria membeku di seberang jalan kediaman Sudirja. Sudah beberapa bulan setelah kepergian Baron , Maria mengumpulkan segenap keberanian untuk menemui sang nyonya besar.


 


       Dua puluh tahun lebih setelah kepergiannya meninggalkan rumah itu, tidak ada yang berubah dari bangunan yang masih terlihat kokoh dan megah itu. Kenangannya berputar, di mana pertama kali Anita yang membawa masuk ke rumah itu , memberinya tempat tinggal dan pekerjaan, jika tidak mungkin hidupnya kini tak dapat ia bayang kan. 


 


        Maria tak menyadari dari kejauhan sepasang mata tengah memperhatikan setiap pergerakannya. Maria menutupi kepalanya dengan kain , ia menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan bahwa tidak ada yang memperhatikannya. Ia membawa tas keranjang berisikan makanan seperti penjual kue keliling.


 


        Perlahan tapi pasti Maria berjalan menyebrang , siang itu kendaraan yang mendominasi jalanan begitu ramai, dari arah yang berlawanan terlihat kendaraan dengan kecepatan tinggi, seperti di sengaja ia berjalan mengarah ke arah Maria , hingga terdengar decitan suara ban yang mengerem.

__ADS_1


 


            Ciiiiittttt…..


 


          "Awas…"Teriak seorang penjual buah keliling.


 


         "Auw…"


 


          Bugh.


 


         Tubuh Maria terpental beberapa kali, hingga berhenti di trotoar dengan kepalanya yang sudah bercucuran darah segar.


 


          "Ada apa pak.?" Tanya Anton dengan satpam sedang di depan rumah.


 


        "Tabrak lari pak, itu mobilnya kabur." Jawab satpam tangannya menunjuk ke arah mobil berwarna hitam.


 


         Anton memperhatikan mobil yang sedang melaju kencang , ingatannya berputar ke berapa puluh tahun yang lewat. 


 


       "Mobil itu." Ucap Anton .


 


       Anton segera turun dari mobilnya. Ia berlari ke arah korban yang menjadi tabrak lari , di situ sudah banyak orang yang sedang berkerumun. 


 


        Di tengah keramaian orang , Anton dengan kedua tangannya berusaha menyibak. Anton mengerutkan dahinya samar seperti pernah mengenali sosok wanita yang sedang terkapar di pinggir jalan. Perlahan Anton mendekati wanita itu.


 


        "Maria." Ucap Anton lirih.


 


        Kedua mata Anton membulat sempurna setelah tahu wanita yang menjadi korban tabrak lari itu adalah sahabatnya Maria.


 


       "Tolong , bapak-bapak, angkat wanita ini ke dalam mobil saya di sana." Ucap Anton menunjuk mobilnya.


 


  


       "Anda mengenalnya pak.?" Tanya seseorang di tengah keramaian.


 


      "Iya, dia sahabat saya." Jawab Anton.


   


      Tubuh Maria diangkat , lalu di bawa ke dalam mobil Anton.


 


      "Pak, bilang sama nyonya saya ke rumah sakit." Ucap Anton dengan satpam yang bertugas.


 


      "Baik pak " 


 


     Dengan cepat Anton mengemudikan mobilnya, di sepanjang jalan menuju rumah sakit Anton tak berhenti berdoa. 


 


      "Maria, bertahanlah ." Ucap Anton.


 


      Rasa sesak menyelimuti pikiran Anton, berpuluh tahun tidak bertemu, tapi pertemuannya kali ini benar -benar membuatnya khawatir. Sesekali mata Anton menoleh ke belakang , untuk memastikan Maria masih bernafas.


 

__ADS_1


              ******


__ADS_2