
Anton mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia menyalakan lampu untuk meminta jalan pada kendaraan lain. Ingin rasanya Anton segera terbang membawa Maria sesegera mungkin ke rumah sakit .
Tin…tiiinnn..
"Ku mohon Maria bertahanlah."lirih Anton sangat cemas.
Tiba di kawasan rumah sakit, Anton segera turun dan berlari kecil meminta bantuan pada petugas rumah sakit.
Tak berapa lama petugas rumah sakit membawa brankar dan mendorong ke arah mobil Anton. Setelah membaringkan tubuh Maria ke brankar, Anton mengikutinya dari arah belakang.
"Maaf pak , silahkan tunggu di luar tim kami akan segera menangani pasien." Ucap salah satu dokter rumah sakit.
Kegelisahan menyelimuti pikiran Anton, bertahun- tahun tidak pernah berjumpa karena suatu permasalahan kini dia harus dihadapkan dengan Maria yang sedang sekarat di ruang perawatan.
Rasa cinta Anton tidak pernah pudar pada Maria, cinta mereka tidak direstui karena perbedaan keyakinan, Maria memilih Baron karena saat itu orang tua Anton sangat membenci Maria , karena status Maria yang tidak jelas.
Satu jam berlalu, mata Anton tidak hentinya menatap lampu yang berada di ruang UGD.
"Keluarga pasien.?" Ucap seorang dokter yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Saya dok." Jawab Anton berjalan menghampiri dokter tersebut.
"Maaf pak, saya harus menyampaikan kabar yang mungkin tidak dikehendaki, pasien mengalami benturan di kepala cukup keras sehingga pasien tidak dapat bertahan." Ucap dokter itu sendu .
Degh.
Jantung Anton seketika berdegup kencang tak karuan, runtuh sudah pertahanannya selama ini, tak terasa air mata menetes mengalir di sudut matanya.
"Apa.?" Tidak mungkin dokter , tolong selamatkan dia, apa pun akan saya lakukan jika perlu harus ke luar negeri ." Ucap Anton frustasi.
"Maaf pak, takdir berkata lain anda yang sabar ya." Ucap dokter itu lagi.
"Maria..." Lirih Anton.
Anton menyandarkan punggungnya di dinding , ia memejamkan matanya menarik nafasnya dalam-dalam , rasa sesak di dadanya terasa menghimpit udara yang di sekitarnya tak cukup bagi Anton untuk bernafas.
"Maaf pak , apakah pihak keluarga sudah diberitahukan ." Ucap petugas rumah sakit tersebut yang berdiri tidak jauh dari Anton.
"Belum sus, sebentar saya akan periksa di tasnya mungkin ada pihak keluarga yang bisa di hubungi." Ucap Anton.
Anton berjalan ke arah mobilnya, di dalam mobil Anton , tas selempang milik Maria masih tergeletak di jok mobil belakang. Dengan tangan gemetar Anton membuka tas Maria, mencari ponsel yang mungkin dapat menghubungi pihak keluarganya.
Di ponsel Maria ada beberapa panggilan tak terjawab dari Puspa.
"Puspa.?"
Tangan Anton menggeser tombol memanggil.Setelah beberapa kali panggilan , panggilan pun terhubung.
__ADS_1
"Halo, ibu kemana saja dari tadi di telpon kok gak di angkat.?" Ucap Puspa di seberang telepon.
Anton tidak langsung menyahut , bibirnya kelu tak mampu berkata, haruskah dia menyampaikan berita duka ini atau dia akan diam saja.
"Halo bu, kok diam.?" Ucap Puspa
Dengan mengumpulkan segenap keberanian Anton akhirnya memberanikan diri untuk bicara.
"Iya halo." Jawab Anton serak.
"Loh anda siapa , kok suara laki-laki, dimana ibu saya.?" Ucap Puspa panik.
"Maaf , ibu anda sedang di rumah sakit, bisa gak kamu kesini saya share lokasinya." Ucap Anton.
"Apa.?" Di rumah sakit, anda menipu saya ya." Ucap Puspa tidak percaya.
Sebelum kejadian beberapa jam yang lalu Puspa menelpon ibunya, bahwa ibunya berpamitan akan mengunjungi teman lamanya.
"Buat apa saya menipu anda, saya lebih mengenal ibumu." Ucap Anton dengan suara parau.
"Baiklah, katakan di rumah sakit mana.?" Ucap Puspa berusaha mempercayai lawan bicaranya.
Setelah mengakhiri panggilannya, puspa bergegas meraih tas nya , ia berjalan melangkah keluar ruangannya.
"Puspa tunggu, mau kemana.?" Tanya Bayu yang juga keluar dari ruangannya.
"Iya pak , ada apa, saya sedang buru-buru." Ucap Puspa menoleh ke arah Bayu.
"Tidak, kamu mau kemana, saya antar ya." Ucap Bayu berbasa-basi.
"Maaf pak saya bisa sendiri , saya mau ke rumah sakit." Jawab Puspa panik.
"Rumah sakit, siapa yang sakit.?"
"Barusan ada yang telpon, ibu saya ada di rumah sakit."
"Ya sudah , saya antar ya." Ucap Bayu memaksa.
Dengan sangat terpaksa Puspa memenuhi permintaan Bayu, mereka berjalan beriringan menuju parkiran .
Puspa yang selama ini berusaha menolak ajakan Bayu , kini dia harus patuh karena suatu keadaan yang memaksanya. Di sepanjang jalan mereka hanya diam, mata Bayu hanya mampu mencuri pandang lewat kaca spion.Bayu yang sangat menantikan momen menunggu jawaban dari Puspa , terpaksa ia urungkan karena terlihat sekali raut wajah Puspa di selimuti kepanikan.
"Di rumah sakit mana.,?" Tanya Bayu memecah keheningan.
"Oh, ee ..ini pak ." Jawab Puspa menunjukkan layar ponselnya ke arah rumah sakit.
Sesuai petunjuk yang diberikan oleh Anton , akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit itu, Puspa membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa, diikuti Bayu yang berjalan di belakang Puspa mereka menyusuri lorong rumah sakit.
__ADS_1
Anton yang duduk di ruang tunggu mendongakkan kepalanya, ketika dua orang berjalan melangkah mendekatinya.
"Ibu saya ada dimana.?" Tanya Puspa.
Anton hanya diam , matanya yang sembab memandang ke arah ruangan di mana Maria yang sedang terbaring sudah tidak bernyawa.
Mata Puspa sekilas melirik ke arah Anton , dengan langkahnya yang gemetar Puspa mencoba membuka pintu ruangan itu.
"Ibuuu…" Teriak Puspa histeris
Tubuh Maria yang sudah terbujur dan ditutupi dengan kain , Puspa berlari menghambur ke arah jenazah ibunya, dengan deraian air mata dan mengguncangkan tubuh Maria , puspa terus memanggil ibunya.
"Ibu , bangun apa yang terjadi bu , kenapa ibu pergi meninggalkan Puspa sendiri bu." Rintih Puspa.
Bayu yang berdiri di belakang Puspa tak mampu menenangkan Puspa yang sedang terguncang jiwanya. Ia pun ikut sedih , Puspa yang belum lama ditinggalkan Baron bapaknya, kini harus ditinggalkan ibunya pergi untuk selama-lamanya.
"Puspa tenanglah , kamu sabar ya." Ucap Bayu menenangkan.
Puspa tak menghiraukan perkataan Bayu, ia terus menangis meraung memeluk jenazah ibunya.
Bayu berjalan keluar , ia mengeluarkan ponselnya, lalu menekan tombol memanggil tertera nama Adrian
"Halo bro, tolong sampaikan pada Alya , ibu Maria kini di rumah sakit dan sudah meninggal." Ucap Bayu.
"Apa.?" Alya.?" Gumam Anton lirih
Anton yang tidak sengaja mendengar percakapan Bayu, terpaksa mengunci mulutnya karena waktunya yang tidak tepat untuk menanyakan perihal nama yang barusan di sebut oleh Bayu.
Setelah mengakhiri panggilannya , Bayu berjalan menghampiri Anton yang sedang duduk diruang tunggu.
"Maaf pak Anton dimana anda menemukan ibu Maria.?" Tanya Bayu.
Anton mendongakkan kepalanya yang sejak tadi tertunduk menahan kesedihan. Anton lalu menceritakan kejadian yang menimpa Maria, sehingga mengakibatkan dia tewas tepat di kediaman Sudirja.
Degh.
Bayu menatap curiga ke arah Anton. Kejadian yang menimpa Maria bisa saja ada unsur kesengajaan. Bayu yang dipenuhi pertanyaan di kepalanya , mengurungkan niatnya untuk menanyakan perihal Alya. Dia akan memberitahukan terlebih dahulu pada Adrian tentang kecurigaannya.
******
__ADS_1