
Di Rumah yang sederhana tempat tinggal Puspa , kini mendadak ramai dengan kehadiran para tetangga yang ingin menyaksikan pernikahan Puspa, pernikahan yang digelar sederhana dikarenakan permintaan Puspa.
"Kamu cantik Puspa.?" Puji Alya saat memasuki kamar Puspa yang sedang meriasnya.
"Terima kasih kak, kakak masih terlihat cantik meskipun sudah mempunyai anak dua." Ucap Puspa balik memuji kakaknya.
Puspa yang mengenakan gaun muslimah putih, dan hijab yang senada dan bertahta mahkota , membuat penampilan Puspa semakin cantik dan menawan, Puspa yang tak ingin di hias make up tebal, penampilan naturalnya memancarkan kecantikannya dari dalam.
Alya dengan lekat menatap wajah Puspa, ia teringat akan sederet kisah kehidupannya , yang penuh dengan drama, kini terbayang seolah merasakan kehadiran sosok Maria, alangkah bahagianya jika dapat menyaksikan pernikahan putrinya, tak terasa mata Alya berembun.
"Apakah pengantin wanita sudah siap.?" Ucap salah satu tetangga wanita memasuki kamar Puspa.
"Sudah." Jawab MUA yang merias Puspa.
Alya keluar dari kamarnya Puspa, memberikan kode pada Adrian yang duduk di samping Bayu , bersiap menjadi saksi , Adrian bangkit dari duduknya lalu menghampiri Alya.
"Ada apa sayang.?" Tanya Adrian.
"Mas, mempelai wanitanya sudah siap, kasih tahu sama penghulunya." Ucap Alya pada suaminya.
Adrian menganggukan kepala , dan menghampiri penghulu yang sudah duduk berada diantara tamu yang hadir.
"Apakah masih ada yang ditunggu.?" Tanya penghulu itu pada Bayu yang duduk berhadapan dengan penghulu.
"Tidak ada pak." Jawab Bayu yakin.
Mengingat Puspa sudah tidak mempunyai orang tua ataupun keluarga , saudara pun hanya Alya, kini di dalam ruangan itu hening, penghulu membacakan doa sebelum ijab kabul dimulai, karena Puspa menikah dengan wali hakim maka penghulu itu pun segera memulainya.
"Saudara Bayu Prasetyo Megantara saya nikah dan kawinkan engkau dengan Puspa binti Baron dengan mas kawin uang sebesar seratus ribu dan seperangkat alat sholat dibayar TUNAI." Ucap penghulu itu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Puspa binti Baron dengan mas kawin tersebut dibayar TUNAI." Ucap Bayu dengan lantang .
"Bagaimana saksi.?" Saahh.?" Tanya Penghulu.
SAAAHHH
Semua yang hadir di ruangan itu menjawab dengan serempak. Setelah ijab kabul dengan fasih diucapkan Bayu, Puspa pun keluar dari kamarnya dengan diiringi Alya , Bayu yang melihat Puspa tercengang terpesona dengan kecantikan Puspa, Puspa pun menghampiri Bayu dan mencium punggung tangan laki-laki yang baru saja sah menjadi suaminya, Bayu pun dengan bahagia meletakan sebelah tangannya di pucuk kepala Puspa dan membacakan doa.
Bayu menyematkan cincin ke tangan Puspa, sebagai lambang kepemilikan hak atas dirinya, begitu pun sebaliknya Puspa juga menyematkan cincin pada jari Bayu, setelah menandatangani beberapa berkas, mereka berfoto dengan dua buah buku nikah di tangan mereka masing-masing.
__ADS_1
Puspa berjalan mendekati mama Linda, yang sejak tadi dengan wajahnya di tekuk , Puspa meraih tangan wanita yang menjadi mertuanya, meminta doa dan restu, dengan enggan mama Linda terpaksa mengulurkan tangannya.
Puspa dan Bayu lalu berjalan keliling ruangan itu, bersalaman dengan para tamu yang hadir, suasana menjadi haru karena selain digelar sederhana, sosok ketidakhadiran orang tua Puspa yang sudah meninggal, hanya Alya saudara yang Puspa saat ini punya .
"Selamat ya, semoga samawa sampai ke jannah." Ucap Alya dengan mata berembun memeluk Puspa .
"Insya Allah kak, terima kasih doanya." Jawab Puspa tak kalah terharunya dengan kehadiran Alya sedikit memberi kekuatan pada dirinya.
"Bay, titip Puspa , jika dia salah beri dia nasehat , dan jika kamu sudah bosan pada adik ku, katakan pada ku dia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi kecuali diriku." Ucap Alya pada Bayu saat sungkem .
"Insyaallah, aku akan menjaganya dan mencintainya kak, doakan kami agar langgeng sampai maut memisahkan ." Jawab Bayu.
"Menikah juga akhirnya, gak jadi bujang lapuk ." Ledek Adrian pada Bayu.
Acara makan pun dimulai dengan konsumsi catering, hidangan yang di pesan khusus oleh Adrian , para tamu kini sedang menikmatinya, di sudut ruangan mama Linda kini berjalan menghampiri Bayu yang sedang duduk dengan Puspa.
"Bay, mama pulang duluan ya, kamu tahu jalan pulang kan.?" Ucap mama Linda ketus .
"Mama gak makan dulu.?" Tanya Bayu berusaha melunakkan hati ibunya.
"Kamu yang sabar ya, aku yakin mama pasti menerima kamu." Ucap Bayu menatap wajah cantik Puspa.
Puspa hanya menganggukan kepala, walaupun perih dengan sikap mertuanya, Puspa bersyukur dengan kehadiran Bayu dalam hidupnya , dan menerima dia dengan segenap masa lalu yang buruk, bahkan Bayu memperjuangkannya hingga harus menentang ibu kandungnya agar dapat menerima Puspa menjadi menantunya.
********
Setelah selesai acara pernikahan di rumah Puspa, kini Bayu memboyong Puspa pulang ke rumahnya, Puspa yang membawa barang bawaan kopernya, memasuki rumah yang mewah dan besar itu.
"Sayang kamu gak usah canggung ya, untuk sementara kita tinggal di rumah mama, nanti kita pindah ke apartemen setelah kamu akrab dengan mama." Ucap Bayu mengusap kepala Puspa.
"Terserah kamu saja mas." Jawab Puspa dengan senyumnya yang teduh.
Untuk pertama kalinya Puspa memasuki kamar Bayu, kamar yang tertata rapi, dan bersih membuat betah siapapun tinggal di kamar itu. Puspa menyusun barang -barangnya di lemari yang sudah disiapkan Bayu.
Tok tok tok
__ADS_1
"Sebentar ." Sahut Puspa membuka pintu kamarnya.
"Nyonya , anda ditunggu di meja makan oleh nyonya besar" Ucap asisten rumah tangga Bayu.
"Iya, sebentar lagi kami ke sana, saya sedang menunggu suami saya lagi mandi." Jawab Puspa .
"Baik nyonya." Ucapnya asisten rumah tangga berlalu pergi.
"Siapa sayang." Tanya Bayu yang muncul dari arah dalam kamar mandi dengan mengenakan handuk melilit di pinggangnya.
"Astagfirullah mas, kok belum pakai baju sih." Pekik Puspa terkejut saat membalikan tubuhnya mendapati Bayu bertelanjang dada.
Meskipun mereka sudah resmi menjadi suami istri, Puspa masih canggung dan belum beradaptasi.
"Kita sudah ditunggu mama di meja makan ." Ucap Puspa .
"Oh, begitu ya sudah kamu mandi dulu sana.!"
Setelah membersihkan diri , Puspa yang mengenakan baju gamis berwarna cream dengan hijab senada , kini berjalan menuju meja makan bersama Bayu, di meja makan sudah menunggu mama Linda dengan raut wajah yang tidak bersahabat.
Di meja itu terhidang banyak makanan, dengan menu yang dipesan khusus oleh mama Linda, Puspa meraih piring diatas meja makan mengambil nasi untuk pertama kali melayani Bayu sebagai suaminya.
Mama Linda dengan cepat meraih piring yang ada di hadapannya, karena tak ingin dilayani oleh Puspa.
Di meja makan mereka sedang menikmati makanan, tiba-tiba mama Linda menyodorkan mangkuk berisi sup ayam pada Puspa.
"Puspa, ini sup ayam baik untuk pengantin baru, untuk menambah tenaga." Ucap mama Linda dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Iya ma, terima kasih." Jawab Puspa menerima mangkuk itu.
Bayu mengembangkan senyumnya karena bahagia, meskipun mamanya belum bisa menerima Puspa, tapi sedikit ada perhatian terhadap menantunya .
Setelah menerima mangkuk dari mama Linda, Puspa sejenak menghentikan suapanya di mulut , ia merasa aneh dengan sup yang diberikan oleh mama Linda.
"Kenapa.?" Kamu tidak suka supnya.?" Tanya Bayu pada Puspa.
"Tidak mas, sup nya enak kok, ini Puspa makan mas." Jawab Puspa sembari memakan sup yang sudah basi pemberian mama Linda.
Puspa yang berusaha tidak ingin mengecewakan suaminya , sebisa mungkin ia menikmati sup basi pemberian mertuanya, dengan hati yang perih Puspa terus berusaha tersenyum agar suaminya tidak tahu , akan tindakan mama Linda.
__ADS_1