Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
Kedatangan Alya.


__ADS_3

        Alya memasuki ruangan mrs Saqueena dengan langkah gontai , memasuki ruangan mrs Saqueena bagi Alya adalah sebuah penyiksaan batin. Bagaimana tidak , materi yang diberikan mrs Saqueena membuat Alya sangat tidak nyaman.


 


         Mrs Saqueena duduk dengan melipat kedua tangan di dadanya, sorot matanya tajam menatap lekat ke arah Alya. Pandangan yang sangat tidak bersahabat sama sekali.


 


         Alya pun meraih kursi lalu duduk seperti biasanya di hadapan mrs Saqueena. Sekilas ia beranikan diri untuk melirik mrs Saqueena 


 


         "Bagaimana nyonya , apakah materi yang saya ajarkan kemarin sudah anda praktekkan.?" Tanya mrs Saqueena menatap lekat ke arah Alya.


 


         Mrs Saqueena tidak ingin kehilangan bonus yang dijanjikan Adrian, begitu Alya memasuki ruangannya dia sudah tahu bahwa Alya belum sama sekali mempraktekkan materi yang di diajarkannya.


 


          "Be..belum sempat miss, karena saya kemarin kelelahan." Jawab Alya bergetar. 


 


          Mrs Saqueena berjalan mendekati Alya , terlihat sekali ketegangan di raut wajah Alya , Alya tidak berani menatap mrs Saqueena yang duduk tepat di depannya.


 


          "Nyonya saya tahu , di awal pernikahan yang tidak diinginkan, semua pasti menemui kendala dalam menempuh hidup rumah tangga, tapi perlu anda ketahui pasangan anda sejauh ini menginginkan anda atau tidak." 


 


         "Jawabannya ada di diri anda sendiri nyonya." Ucap mrs Saqueena.


 


         Alya terdiam mendengar perkataan mrs Saqueena, ia mencoba memikirkan perkataan mrs Saqueena.


 


          "Anda adalah seorang istri dan nyonya seorang perusahaan besar juga ternama, apakah anda tidak takut jika suami anda tergoda dengan seorang wanita di luaran sana, secara materi suami anda pengusaha dan bos besar , banyak wanita yang menginginkan tipe pria seperti suami anda, apakah anda tidak takut jika tergoda wanita lain." Ucap mrs Saqueena menatap lekat ke arah Alya.


 


            Degh…


         Seketika jantung Alya berdesir, apa yang dikatakan mrs Saqueena ada benarnya, sejauh ini Alya menyadari belum menjalankan kewajiban seorang istri, apalagi Adrian begitu sabar terhadap dirinya yang masih menutup diri, bisa jadi Adrian akan tergoda pada wanita lain, jika dirinya terus begini.


 


         "Saran saya nyonya , sebaiknya anda membuka diri, seorang lelaki normal tidak akan bisa menahan diri jika anda terus -terusan begini." 


 


          "Baik miss , sejauh ini saya tahu kalau saya salah , karena saya merasa tidak pantas untuk suami saya, saya tidak tahu , apakah suami saya mencintai saya atau tidak.?" Ucap Alya menerawang jauh.


 


         Alya ingat bagaimana awal pertemuan dirinya dengan Adrian, jika malam itu tidak dijadikan taruhan judi oleh Baron , mungkin cerita hidupnya tidak seperti ini, bahkan mungkin akan lebih buruk jika dia dibeli oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan berperilaku bejat ,apalagi dia sampai hamil dan menjalani hidup penuh hinaan,beruntung Alya bertemu Adrian jika tidak dia tidak dapat membayangkan bagaimana nasib dirinya.


 


        Dua jam lebih Alya diberikan pencerahan berpikir oleh mrs Saqueena, setelah pelajaran materi usai Alya melangkahkan kaki nya keluar ruangan itu, kini pikiran Alya benar -benar diselimuti kegalauan yang melanda.


 


         Di perjalanan menuju pulang , Alya melirik sekilas Jonathan yang sedang mengemudikan kendaraannya.


 


        "Om Jo, sudah lama bekerja dengan tuan Adria.?" Tanya Alya penasaran.


 


       Materi yang diberikan mrs Saqueena hari ini benar-benar menggelitik pikirannya, dia ingin tahu lebih banyak tentang Adrian.


 


         "Sudah nyonya, kenapa.?" Jawab Jonathan sekilas melirik Alya melalui kaca spion.


 


         "Emm…, tuan pernah punya pacar gak om Jo.?" Tanyanya lagi.


 


          "Pernah tapi dulu nyonya." Jawab Jonathan.


 


         Pikiran Alya kini sangat terusik, dengan kata -kata mrs Saqueena, sedikit ada rasa curiga dengan Adrian, kenapa Adrian tidak meminta haknya sebagai suami , walaupun Alya memang belum bisa membuka diri. 


 


        "Om Jo, tahu kantor tuan kan, tolong antarkan saya ke sana." Ucap Alya.


 


       Alya yang tadi nya mau pulang ke rumah kini merubah haluan ingin berkunjung ke kantor suaminya,  walaupun di kantor sudah ada Puspa sebagai sekretaris suaminya, besar kemungkinan wanita cantik itu pasti ada di kantor itu.

__ADS_1


 


        "Baik nyonya." Jawab Jonathan.


 


        Di sepanjang perjalanan menuju kantor Adrian , Alya tampak semangat ia ingin tahu bagaimana ekspresi Adrian dengan kedatangannya yang secara tiba-tiba.


        Selama menikah dengan Adrian , Alya baru pertama kalinya menginjakkan kaki di gedung pencakar langit milik suaminya, karena selama ini Alya tidak pernah tahu suaminya itu bekerja sebagai apa dan memiliki jabatan apa.


 


        Alya memasuki gedung itu dengan Jonathan mengikuti langkahnya di belakang, di resepsionis Alya tidak disambut dengan baik, bahkan sebagian pegawainya mengacuhkannya. Alya tetap melangkahkan kaki mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Jonathan,  tiba di depan ruangan Adrian , Alya membeku ragu-ragu mengetuk pintu itu.


 


           Tok..tok..tok..


 


           "Ya masuk.!" Sahut suara Adrian dari dalam .


 


           Alya membuka pintu ruangan Adrian, Adrian yang sedang duduk berseberangan dengan dokter Aura  dengan beberapa map di atas meja, terperanjat melihat Alya yang berdiri di depan pintunya, dokter Aura pun mengulas senyum tipis menatap Alya.


 


      Adrian bangkit dari duduknya , lalu menghampiri Alya yang masih berdiri mematung menatap ke arah mereka.


 


          "Aura , kenalkan dia istriku." Ucap Adrian menoleh ke arah Alya.


 


           Dokter Aura seketika bangkit dari duduknya dan menghampiri Alya.


 


         "Aura." Dokter Aura mengulurkan tangannya.


 


         "Alya." Ucap Alya menjabat tangan dokter Aura.


 


         "Ada apa kesini, kok gak kasih  tahu."Ucap Adrian dengan alis bertautan karena heran kenapa tiba-tiba , Alya datang ke kantornya.


 


 


          Adrian merasakan hawa yang panas dari Alya, terlihat jelas bagaimana cara Alya menatap dokter Aura.Adrian mengulum senyum di bibirnya terlihat jelas kalau Alya sedang cemburu.


 


          "Kenapa tidak, aku senang kok, sekarang aku lagi membahas hal penting dengan Aura, kamu duduk sini ya." Ucap Adrian menggandeng tubuh Alya dan mendudukkannya di sofa yang tidak jauh dari mereka.


 


       Dari kejauhan Alya memandangi dokter Aura dibalik layar ponselnya, untuk menghilangkan kejenuhan Alya memainkan ponsel pemberian Adrian.


 


        Alya memandangi Adrian yang tengah berbincang dengan dokter Aura, dari cara mereka bicara tampak membahas hal yang serius. 


 


 


        Waktu berlalu begitu cepat Alya mulai bosan, belum ada tanda-tanda mereka akan mengakhiri perbincangan. Alya pun bangkit dari duduknya menghampiri Adrian yang tengah membahas hal penting di lembaran kertas diatas meja bersama Aura. 


    


         "Mas , aku pulang ya , mas masih lama gak ." Tanya Alya.


 


          "Ini  sebentar lagi, pulang bareng sama mas atau di antar Jonathan." Jawab Adrian mendongakkan kepalanya.


 


         "Sama om Jo aja." Ucap Alya mendengus kesal.


 


         "Adrian , sebaiknya kita bahas lain kali aja, sebaiknya kalian pulang bersama,gak baik pulang masing-masing." Ucap dokter Aura mengemasi kertas-kertas yang berserakan di atas meja.


 


         "Baik Ra, lain kali kita bahas lagi."Jawab Adrian membantu mengemasi kertas yang berserakan.


 


        "Aku duluan ya." Ucap dokter Aura mengembangkan senyumnya.


 

__ADS_1


       Adrian bangkit dari duduknya lalu menghampiri Alya yang membeku memperhatikan tingkah Adrian dari cara mereka saling bicara dengan dokter Aura.


 


        "Ayo pulang." Ucap Adrian 


 


        Tidak ada sahutan Alya berjalan berdampingan dengan Adrian menyusuri koridor keluar ruangan kantor. Di saat di parkiran Jonathan masih menunggu kedatangan Alya .


 


          "Jo, kamu pulang aja nyonya sama saya."


 


          "Baik tuan."  


    


         Di dalam kendaraan menuju pulang, Alya hanya diam , sesekali matanya melirik ke arah Adrian , ia memandangi Adrian dari ekor matanya. Selain tampan Adrian seorang pria yang mapan , wajar jika wanita -wanita berusaha mendekati Adrian , apalagi wanita tadi yang duduk bersama suaminya sangat cantik terlihat dari penampilannya saja sangat berkelas, berbeda dengan dengan dirinya penampilannya hampir mirip dengan baby sitternya.


 


         "Kok diam , kita mampir makan ya." Tanya Adrian .


 


          "Gak usah kita makan di rumah aja, penghematan." Jawab Alya.


 


         Adrian menautkan kedua alisnya , terlihat jelas Alya sedang cemburu, Adrian kembali mengulum senyumnya ada kebahagian di hati Adrian.


 


         Sesampainya di rumah Alya menuju kamarnya , setelah membersihkan diri menuju dapur , asisten rumah tangganya memandangi heran tingkah Alya yang tidak seperti biasanya , Alya memasak menu masakannya sendiri, untuk makan malam. 


  


         "Mbok , tolong hidangkan ini semua ya, saya mau panggil tuan." Ucap Alya pada asisten rumah tangganya.


 


         "Iya nya." 


 


       Alya berlalu pergi dari dapur berjalan menuju kamar Adrian ,dengan jantung berdetak hebat dia memberanikan diri mengetuk pintu kamar Adrian.


 


        Tok..tok..tok…


 


         "Mas , makanannya sudah siap , makan yuk." Ucap Alya 


 


          "Sebentar." Sahut Adrian dari dalam kamar.


 


            Adrian berjalan menuju pintu kamarnya , lalu membukanya.


 


           "Ya." 


 


           "Mas , makanannya sudah siap, ayo makan." 


 


          Adrian mengikuti langkah Alya menuju meja makan,di meja makan terhidang begitu banyak makanan, dari mulai ikan bakar , ayam kecap dan sayuran.


 


          "Ini semua kamu yang masak.?" Tanya Adrian.


 


          "Iya mas, ayo di makan." Jawab Alya sembari mengambil nasi di piring lalu di berikan pada Adrian.


 


         Adrian memandangi masakan buatan Alya, sebenarnya Adrian memakan pantangan makanan yang berminyak dan mengandung MSG , Adrian terlihat lahap menyantap makanannya karena demi menghargai perjuangannya Alya , ia tak ingin Alya kecewa jika dia sebenarnya tidak boleh memakan makanan yang kini terhidang di hadapannya.


          *******


 


          


 


          

__ADS_1


 


__ADS_2