Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
Adrian vs oma, mama.


__ADS_3

        Adrian yang baru saja memasuki rumahnya itu tampak begitu lega sudah menemui keluarga Raisa. Sekarang dia ingin menyelesaikan permasalahannya dengan oma dan mama Vera.


 


              "Adrian tunggu.!" 


 


              "Kita perlu bicara."


            Adrian yang baru mau melangkahkan kaki nya menaiki anak tangga menuju kamarnya langkahnya terhenti dengan suara mamanya yang muncul tiba -tiba dari arah ruang keluarga.


 


           Adrian berjalan menuju sofa dan duduk berhadapan dengan mamanya.


 


             "Adrian tolong jelaskan sama mama , kenapa kamu menghilang, dan baru kembali sekarang.?" Ucap mama Vera menatap tajam ke arah Adrian.


 


           Adrian hanya diam karena dia sudah menduga akibat perbuatannya pasti mama nya akan marah besar. Untuk sementara dia ingin diam dan mendengarkan semua kemarahan mamanya. 


 


            "Kamu benar- benar keterlaluan Adrian, kamu sudah buat malu keluarga Raisa dan mencoreng nama baik keluarga kita." 


 


           "Apa sih susahnya menerima perjodohan ini, toh keluarga Raisa keluarga terpandang dan terhormat tidak ada cacat sama sekali, tega kamu buat malu begini." 


 


           "Ma, Adrian mau tanya, apakah mama bahagia dengan perjodohan ini.?" Ucap Adrian.


 


           " Adrian , mama melakukan semua ini demi kamu , biar kamu bahagia , mama juga tidak sembarangan memilihkan jodoh untuk kamu." 


 


            Hal yang seperti inilah yang tak di inginkan Adrian . Mamanya selalu mementingkan kehidupannya yang sosialita itu . Pikiran Adrian kembali melayang memikirkan Alya yang tengah terbaring di rumah sakit. Bagaimana Adrian mau menjelaskan alasannya kemana dia menghilang di hari pertunangannya malam itu.


     


             Kejadian yang tak diinginkan yang tiba-tiba hadir, dan melibatkan dirinya harus menangani masalah itu. Dan masalah itu sendiri yang kini menjeratnya.


            


            "Ma, mama mau jawaban apa sih , dari Adrian. Bukankah Adrian sudah dari awal menolak permintaan mama. " ujar Adrian .


 


           "Terus , kamu mau sampai kapan begini terus.?"  Mau selamanya hidup sendiri, kamu tuh udah bukan anak kecil, gak semua keperluan kamu mama bisa penuhi." Ucap mama Vera mendengus kesal.


 


            Adrian paham ke mana arah pembicaraan mamanya itu. Adrian sadar tidak selamanya mamanya akan bisa mendampinginya. Ia butuh pendamping hidup yang bisa menyiapkan segala kebutuhannya.


 


             "Iya, Adrian apalagi oma sudah tua begini, mau sampai kapan oma menunggu kamu punya anak dan menimang cicit." Suara oma yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.


 


            Adrian memijat kepalanya yang mulai rasa berdenyut. Belum juga selesai di sidang dengan mamanya sudah datang lagi si ratu drama. Dihadapkan dengan dua wanita cantik dan menawan ini, membuat Adrian tidak bisa lagi berkata. Apalagi jika sudah oma nya turun gunung untuk menyelesaikan masalah semua jadi runyam.


 


             "Oma dan mama tolong dong ngertiin Adrian , untuk sementara ini Adrian belum bisa menikah.?" 


 


             "Apa.?


 


           Suara oma dan mama Vera hampir bersamaan ini membuat Adrian tersentak, seolah paduan suara yang mengharuskan dia melakukan sesuatu.


 


            "Terus siap nya kapan.?" Nunggu tumbuh uban di ketiak mu itu." Ucap mama Vera matanya melotot ke arah Adrian.

__ADS_1


 


           Adrian hanya diam tidak mungkin untuk jujur mengatakan yang sebenarnya terjadi. Ingin rasanya Adrian memberitahukan kepada kedua wanita cantik ini, bahwa sebenarnya dia sudah  menjadi seorang ayah. Kehadiran seorang bayi di luar pernikahan dalam keluarga Dharmawangsa akan menjadi sebuah aib, jika sampai semua orang mengetahui. 


     


             "Ma, sudah ya..ma Adrian capek banget." Ucap Adrian dengan muka nelangsa.


   


             "Nanti dulu enak banget kamu setelah membuat kekacauan mau lari begitu saja.!" 


 


             "Oma , bagaimana ini.?" Ucap mama Vera menatap oma Jayanti untuk minta pendapat.


 


            "Berikan dia ruang dulu untuk berpikir , siapa tahu nanti dia berubah pikiran." Ujar oma Jayanti .


          


            "Begini aja ya, oma , mama , tulis saja keinginan kalian di sebuah kertas, berapa bayi yang kalian inginkan, mau  cowok, cewek, atau kembar.?" Ujar Adrian.


 


            "Maksud kamu.?" 


 


            "Ya terserah oma dan mama , nanti Adrian bawakan sesuai request oma dan mama." Ucap Adrian mengusap kasar wajahnya.


 


           Ingin sekali ia lari dari perdebatan oma dan mama nya karena pikirannya sekarang sangat gelisah,beberapa kali Adrian mengusap layar ponselnya menunggu pesan dari Bayu ingin tahu keadaan Alya yang berada di rumah sakit.


 


 


             "Kamu pikir, oma dan mama anak kecil.?" Yang akan kamu belikan boneka di toko mainan sesuka kamu.!"  Ini soal pewaris Dharmawangsa Adrian." Ucap mama Vera menatap tajam ke arah Adrian.


 


 


            Mama Vera menarik nafas panjang. Dia sangat kesal dengan tingkah Adrian.


 


             "Mama gak usah khawatir, Adrian sudah temui Raisa dan keluarganya. Adrian sudah minta maaf dan membatalkan pertunangan." Adrian tidak bisa melanjutkan ini semuanya."


 


           


             "Apa.?


 


 


            Sontak saja oma dan mama Vera dibuat terkejut dengan pengakuan Adrian. Bagaimana tidak, pertunangan dan pernikahan yang telah disusun dengan rencana matang harus gagal.


 


            Adrian bangkit dari duduknya melangkah kan kakinya menaiki tangga menuju kamar tidurnya, dia sudah tidak memperdulikan lagi semua protes dari oma dan mamanya. Ia ingin segera merebahkan diri dan menenangkan pikirannya.


 


            Tiba di ruang kamarnya Adrian segara menutup pintu kamarnya dan dia tidak lupa untuk menguncinya. Tangannya merogoh ponsel di dalam saku celananya.


 


               "Hallo Bay, bagaimana apakah sudah ada perkembangan.?" Ucap Adrian setelah ponselnya terhubung dengan Bayu.


 


              "Kamu tenang aja ya , bro. Semua aman dan terkendali." Ujar Bayu di seberang telepon.


 


              "Oh ya, Bay  carikan jasa interior untuk mendesain kamar anak ku.? Aku mau membawa pulang Alya dan anakku ke apartemenku." Ucap Adrian.

__ADS_1


 


             "Apa, apa barusan kamu bilang.?" Bukankah kemarin kamu bilang mau mengambil anak nya saja, kenapa sekarang sama ibu nya juga, kamu yakin.?"


 


             "Iya , aku tak ingin mengulang perkataanku Bay." Kenapa kamu sekarang menjadi cerewet sekali seperti emak-emak yang kurang uang belanja.?" Jawab Adrian sangat kesal.


 


             Bayu yang berada di seberang telepon sangat terkejut dengan permintaan Adrian. Pikiran Adrian yang tidak bisa ditebak kapan pun bisa berubah-ubah sesuai keinginannya. Jika sudah seperti itu Bayu lah orang pertama yang repot menuruti kehendak majikannya.


 


               *****


 


         Di ruang perpustakaan dimana oma Yana sedang menunggu kedatangan Anton. Dia menatap bingkai photo di mana Anita dan Bram sedang menggendong bayinya. Lukisan senyum di mana mereka sangat bahagia dengan kehadiran seorang bayi yang lama ia impikan.


 


                  Tok… tok…tok…


 


            "Ya masuklah.!"


        Lamunan oma Yana seketika buyar seiring terdengarnya ketukan pintu dari luar.


 


                "Duduklah Anton,  bagaimana apakah sudah ada kabar baik sehingga kamu menemuiku.?" 


 


                 "Iya nyonya besar, saya mendapatkan kabar dari orang kepercayaan saya kemarin, bahwa Maria dan Baron tinggal di kota ini." 


 


                 "Apa kamu yakin.?" Tapi kenapa Maria tidak menemuiku.?" Ucap oma Yana mengerutkan dahinya.


 


                "Dan satu lagi nyonya, nona muda bekerja di sebuah perusahaan besar di kota ini." 


 


               "Ini."


 


            Anton menunjukkan beberapa lembar photo di hadapan oma Yana. Photo itu yang berhasil diambil oleh anak buah Anton beberapa  hari yang lalu. Terlihat jelas di sana seorang gadis dengan berpakaian rapi menuju sebuah gedung pencakar langit. Gadis yang sangat cantik dan masih muda sesuai dengan usianya. Jika dihitung beberapa waktu yang sudah berlalu, wajar jika dia sudah dewasa.


 


           "Benarkah dia Alya cucuku.?" Oma Yana menatap lekat photo itu. 


             Tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya. Rasa rindu yang teramat dalam selama ini ia pendam seolah berubah menjadi tangis bahagia.


 


            "Apakah kamu sudah mengetahui dimana dia tinggal. Pastikan dia baik-baik saja Anton, aku tidak ingin ada yang melukainya, rahasiakan semua ini jangan sampai Burhan mengetahuinya." 


           "Baik nyonya , saya pastikan semua baik-baik saja." Jawab Anton.


 


           "Nanti jika saat nya tiba aku ingin menemuinya Anton. Atur waktu yang tepat untuk ku bertemu dengannya , aku ingin memeluknya." Ucap oma Yana seiring isak tangisnya.


 


           Ada rasa bahagia yang membuncah di hati oma Yana saat ini. Pewaris tunggal Sudirja akhirnya ia temukan. Ingin rasanya ia segera menemui gadis di dalam photo itu dan memeluknya melepaskan rasa rindu.


 


          *****


 


         Assalamualaikum. Saya ucapkan ribuan terima kasih untuk para readers . Yang sudah sudi meluangkan waktu untuk membaca novel saya.Maaf jika ada kata dan penulisan yang salah. Author hanya manusia biasa, harap di maklumi..🙏🙏🙏


    

__ADS_1


          


__ADS_2