
Di gundukkan tanah yang masih basah dan merah bertaburkan bunga , diberi tanda salib di atas pusara sesuai keyakinan yang dianut oleh Maria, Puspa masih menangis dan memeluk tanah gundukkan itu.
Beberapa pelayat sudah pergi meninggalkan pemakaman, berdiri tak jauh Adrian dan Bayu.
"Puspa , sudah ya , jangan menangis kakak akan selalu ada untukmu. "Ucap Alya mengusap punggung Puspa.
Kepedihan hidup yang mendalam kini benar-benar ia rasakan, kedua orang yang sangat berarti dalam hidup Puspa sudah pergi untuk selama-lamanya.
Di pemakaman parkir sebuah mobil mewah turun Anton dengan seorang wanita paruh baya , wanita itu masih terlihat cantik di usia senjanya. Perlahan berjalan mendekati ke arah Puspa.
"Maaf , kedatangan saya terlambat, saya ikut belasungkawa atas meninggalnya ibu kamu." Ucap wanita itu.
Puspa dengan cucuran air mata mendongakkan kepalanya, ia memindai tubuh wanita itu yang didampingi Anton berdiri di sebelahnya.
"Terimakasih."
Oma Yana menatap lekat kedua wanita yang masih bersimpuh di atas tanah merah itu, ia memindai satu persatu wajah Puspa dan Alya.
"Kak , maafkan segala kesalahan ibu, ibu tidak pernah membuat hidup kakak bahagia." Ucap Puspa diiringi air matanya yang terus mengalir.
"Sudah Puspa, jangan katakan apapun lagi." Jawab Alya.
"Ayo , kita pulang tidak baik terus menangis." Ucap Alya lagi.
Mereka pun beranjak dari pemakaman itu, Puspa yang masih belum rela dengan kepergian ibunya , Puspa menoleh ke belakang memandangi tanah gundukan yang bertaburkan bunga.
"Maaf , saya ingin bertanya , siapa diantara kalian yang bernama Alya.?" Ucap oma Yana yang sudah tidak dapat lagi membendung rasa keingintahuannya.
Puspa dan Alya saling pandang, Adrian dan Bayu segera mendekatkan diri, Adrian segera merangkul tubuh Alya. Ia tak ingin sesuatu terjadi pada Alya, mengingat bahwa Alya dalam bahaya, karena kehadiran Alya tidak begitu diinginkan di keluarga Sudirja.
Adrian menggandeng tangan Alya, ia perlahan berjalan meninggalkan pemakaman itu.
"Tunggu, berhenti di situ.!" Ucap Puspa.
Adrian menghentikan langkahnya, Alya yang bingung menurut saja kemana Adrian membawanya pergi, langkahnya pun terhenti seiring suara Puspa menghentikannya.
"Mau sampai kapan, tuan akan menyembunyikan status kak Alya, ibu dan bapak sudah pergi, apalagi yang kalian takutkan.?" Ucap Puspa dalam isak tangis yang tak terbendung.
"Puspa." Ucap Bayu.
"Tidak.!" Jangan halangi aku mengatakan yang sebenarnya, dia adalah Alya Pitaloka yang anda maksud nyonya."
__ADS_1
"Bertahun -tahun ibuku, menyembunyikan status nya, demi untuk melindunginya, tidak untuk hari ini di depan pemakaman ibuku , aku ingin mengatakan sebenarnya dialah orang yang anda cari." Ucap Puspa dengan berlinangan air mata.
Oma Yana memandang ke arah Alya, dengan tubuh bergetar ia berjalan mendekati Alya, Alya yang masih dalam genggaman Adrian bingung tidak mengerti.
"Alya…" lirih Oma Yana.
Adrian melepas genggaman tangan Alya , ia tahu mungkin ini saatnya yang tepat untuk Alya tahu siapa dia sebenarnya.
"Mas, ada apa ini.?" Tanya Alya bingung.
"Alya, bukankah kamu pernah bertanya, kemana kedua orang tuamu , pergilah dia oma mu.?" Ucap Adrian.
"Alya.., benarkah kamu Alya ku." Ucap oma Yana.
"Maaf nona muda, mungkin anda belum siap dan belum tahu, sulit untuk dijelaskan , tapi nyonya besar ini adalah orang tua dari tuan Bram papa kandung anda." Ucap Anton.
"Papa, apakah orang tuaku masih hidup.?" Tanya Alya yang mulai berlinang air mata.
"Mas, apakah yang dikatakan mereka itu benar.?"
"Alya." Ucap oma Yana memeluk tubuh mungil itu.
"Oma." Ucap Alya dalam tangisnya.
Suasana di pemakaman menjadi haru, isak tangis keduanya yang terdengar, semua yang ada disitu ikut terhanyut dalam pertemuan Alya dan ona Yana.
"Kamu persis seperti mendiang ibu mu Alya." Ucap oma Yana membingkai wajah Alya.
"Ibu.." lirih Alya.
"Iya, mendiang ibumu seperti wajah mu nak."
"Maaf nyonya, apakah tidak sebaiknya kita mencari tempat yang aman.?" Ucap Anton.
Adrian yang sejak tadi diam, dia pun ikut larut dalam pertemuan itu, akhirnya tersadar akan sesuatu yang berbahaya sewaktu-waktu bisa membahayakan nyawa Alya.
"Bagaimana jika, kalian semua saya undang ke gubuk kami , di sana kita bisa berbincang lebih leluasa." Ucap Adrian memberikan saran.
"Maaf nyonya, perkenalkan saya Adrian Dharmawangsa suami dari Alya." Ucap Adrian mengulurkan tangan dan membungkukkan badannya memberi hormat.
__ADS_1
"Tuan Adrian , senang berjumpa dengan anda, sangat beruntung Alya mempunyai suami anda." Jawab Oma Yana.
Glek..
Adrian menelan salivanya, mengingat bagaimana Alya yang malam itu wanita yang ia beli untuk melepas hasratnya, hingga menjelma kecebong yang sekarang sudah umur beberapa bulan dan terkadang membuat repot baby sitter dan Alya.
Setelah melakukan perjalanan, Adrian beserta rombongan oma Yana tiba di kawasan elite milik Adrian . Sedangkan Bayu tidak ikut mengawal hanya ada Jonathan saja , Bayu pergi untuk menemani Puspa yang sedang berduka.
Oma Yana terkesima dengan bangunan yang disebut gubuk oleh Adrian, bagaimana mungkin seorang Adrian mempunyai gubuk sedangkan perusahaan miliknya berkembang pesat.
Mobil parkir di halaman yang luas, rumah yang sangat besar dan mewah menjadi suguhan utama. Mereka turun dari mobil dan berjalan menuju ke arah pintu utama masuk. Alya yang tidak tahu kedatangan tamu istimewa , dia segera menghampiri asisten rumah tangganya untuk membuatkan menu masakan untuk menjamu oma Yana dan Anton beserta rombongan.
Alya keluar dari arah ruang dalam dengan Arjuna di dalam gendongannya.
"Cicit, apakah dia cicit oma.?" Tanya oma Yana.
"Iya oma."
"Masyaallah, sudah gede ." Ucap oma Yana meraih tubuh gembil Arjuna.
Oma Yana dengan gemas mencium pipi Arjuna, ia menyeka air mata yang jatuh di pipinya. Pertemuan kali ini adalah sebuah anugerah baginya , selain bertemu dengan Alya , ia bertemu dengan penerus Sudirja berikutnya.
"Terima kasih ya tuhan, ini anugerah terbesar dalam hidupku ." Ucap oma Yana.
"Jika engkau ingin mengambilku , aku sudah ikhlas "Ucapnya kembali.
"Oma, tolong jangan katakan itu, aku tidak sanggup mendengarnya." Ucap Alya memeluk tubuh oma Yana.
"Alya, aku sangat bahagia sekali hari ini, di sisa hidupku , aku masih bisa menggendong cicitku."
"Oma …" Alya mengeratkan pelukannya.
Alya tidak menyangka jika masih ada keluarga dalam hidupnya, selama ini dia hanya tahu bahwa dia dibuang dengan keluarganya.
Sepanjang hari mereka bercengkrama, oma Yana menceritakan kisah kehidupan kedua orang tuanya.
"Ibumu wanita yang lembut dan sangat baik, tidak salah jika Bram memilih Anita menjadi istrinya, ku harap mereka kini tersenyum bahagia , menyaksikan aku sudah menemukan anaknya." Ucap oma Yana.
Alya yang tidak tahu pasti tentang kedua orang tuanya, ia sangat bahagia mendengar cerita dari oma nya. Sedangkan Adrian bersama Anton sedang asyik berbincang sesama lelaki. Rumah Adrian mendadak ramai dengan kedatangan keluarga Sudirja.
*****
__ADS_1