Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
Di hari pertunangan


__ADS_3

               "Arrrggghhh…, sialan , kurang ajar…tidak tahu diri…!" 


   


        Puspa menghempaskan tas selempang nya ke sembarang tempat. Matanya memerah nyalang marah yang tak tertahankan 


 


                "Kamu ini ada apa, Puspa.?" Tanya ibu Maria mengerutkan dahinya.


 


            Puspa terdiam. Haruskah ia mengatakan kepada ibunya bahwa yang menghamili Alya adalah Adrian. Ya. Karena terobsesinya Puspa terhadap Adrian ia rela membayar orang untuk mengawasi setiap pergerakkan Adrian kemana pun pergi. Setelah mendapatkan telepon dari orang suruhannya tadi , Puspa meluncur ke arah alamat yang diberikan. Akan tetapi, begitu terkejutnya ia mendapati Adrian memasuki rumah itu, setelah yang membuka pintu adalah Alya.


           


                 " Ibu mau tahu aku kenapa.?"  Tanya Puspa melirik ibunya.


 


                 "Hari ini aku bertemu Alya, dan orang yang menghamilinya.!" Ucap Puspa dengan mata berkaca-kaca.


 


                   " Dan orang yang menghamilinya itu , dia kekasihku.!" Ucap Puspa diiringi isak tangis.


 


             Mata Maria membelalak , ketika mendengar penuturan Puspa. Apakah yang ia dengar saat ini benar atau tidaknya. Ia senang karena kehamilan Alya ada yang bertanggung jawab , tapi yang membuatnya terkejut sejak kapan Puspa mempunyai kekasih.


              "Apa yang kamu bilang Puspa. Benarkah Alya hamil ada yang bertanggung jawab ?" 


 


                "Ibu senang kan,anak kesayangan ibu hamil anak orang kaya, tapi kenapa Alya bu, kenapa bukan aku yang hamil anak Adrian, Huu…huu.."  


            Puspa luruh ke lantai meraung menangis , penampilan Puspa benar-benar kacau rambutnya acak-acakkan karena di saat ia marah tadi Puspa menjambaki rambutnya. Bahkan penampilan Puspa persis seperti orang gila, karena ia kini sangat frustasi keinginannya untuk mendapatkan Adrian kecil kemungkinan.


              


 


            ******


         


         Adrian menyandarkan punggungnya di tempat tidur, setelah membersihkan diri ia mencoba istirahat menenangkan diri. Kini pikiran Adrian berselancar memikirkan Alya. Tinggal di rumah kontrakan sangat sederhana, jauh dari kata kurang layak bagi Adrian, yang terbiasa hidup serba mewah. Tiba- tiba Adrian memikirkan bayi dalam kandungan Alya, bagaimana setiap hari makan, apakah Alya memakan makanan yang bergizi, jika saja bayi itu adalah anaknya ia akan memberikan yang terbaik.


 


     


              Seharusnya Adrian merasa senang dan lega , atas pengakuan Alya karena anak yang dikandung bukan lah anaknya. Tapi entah kenapa ia merasa hampa , nyeri mendengar penuturan Alya. Terasa sakit , dan sesak nafas Adrian.

__ADS_1


              Adrian mengambil ponselnya dan menekan no ponsel yang tertera nama Jonathan. Panggilan pun tersambung.


 


                "Jo, aku ada tugas untukmu lagi, lunasi uang kontrakan wanita itu untuk setahun, dan ya, jangan beritahukan pada siapa pun.!" Titah Adrian.


 


                " Sekarang bos.?" Jawab Jonathan.


 


                "Tidak Jo, tunggu sampai kamu aku sunat untuk kedua kali.!" Apa aku harus selalu mengulang perintah ku.!" Ucap Adrian geram .


                 "Siap bos. Apa hanya itu saja." Ujar Jonathan.


 


                 "Ada lagi, awasi terus wanita itu kemana pun pergi dan jangan sampai dia mengetahui." Ucap Adrian memberi perintah.


 


                   ******


 


     


           Alya yang mendapat pekerjaan baru , hari ini adalah hari pertamanya bekerja di catering. Meskipun sudah delapan bulan usia kandungannya Alya masih bekerja. Uang yang ditabung kemarin sudah dia berikan kepada ibu Yuli pemilik rumah kontrakan, tanpa sepengetahuan ibu Lastri.


 


 


 


              "Oh  ya, ntar malam jam berapa kita mengantar semua pesanan ini.?" Timpal salah seorang dari mereka.


 


              "Alya nanti kita bertugas menyusun menu dan ini semua. Apa kamu masih kuat untuk bekerja." Tanya teman Alya yang baru ia kenal.


 


            Alya terdiam . Sejujurnya Alya sangat lelah karena beban perutnya. Tapi apa hendak dikata ia butuh uang untuk keperluan biaya bersalin dan keperluan sehari-hari. Alya mengangguk pelan memberi jawaban bahwa ia menyetujui untuk ikut serta nanti malam.


 


              *****


 


              Tiba di sebuah gedung ballroom yang sangat mewah dan megah , tempat di mana acara yang akan digelar sebuah pesta. Alya dan rombongan memasuki gedung itu. Ia bekerja sesuai perintah atasannya. Alya dan teman-temanya menyiapkan dan menata rapi sebuah hidangan santap saji dan semua keperluan minum , dan juga snack.

__ADS_1


 


               "Wah, acaranya orang kaya sangat mewah , ya.?" Ucap teman Alya berdecak kagum.


             Alya hanya tersenyum mendengar perkataan temannya. Jika temannya masih bisa berharap mendapatkan laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, ia bahkan tak bisa memikirkan itu semua. Karena masa depan yang ia impikan sudah tidak mungkin untuk mewujudkannya.


            Di ruangan yang sama Adrian sedang berbincang dengan teman bisnisnya yang di temani Bayu. Sedangkan mama Vera dan oma Jayanti menyambut kerabat dan tamu yang datang.


 


             Di sisi lain Raisa yang malam ini tampil cantik dengan balutan gaun indah , ia yang sedang duduk ditemani mamanya dan kerabat yang datang  untuk menghadiri acara pertunangan Adrian dan Raisa.


 


             Entah mengapa pikiran Adrian di tengah keramaian , ia tiba-tiba memikirkan Alya. Hingga akhirnya , mata Adrian menangkap sosok yang tidak asing baginya yang tengah berdiri di antara  segerombolan orang yang tengah sibuk menata meja prasmanan.


 


          Untuk sesaat Adrian terpaku dengan pandangannya menatap ke arah Alya, diam-diam ia mengagumi sosok Alya yang polos , jika diperhatikan malam ini Alya tampak manis meskipun perutnya membesar.


 


            Untuk kesekian kalinya Adrian merasakan aneh  di hati dan pikirannya. Adrian melihat Alya cukup kerepotan dengan perutnya yang membesar. Pasti sangatlah sulit baginya mengerjakan semua pekerjaan.


              Di waktu yang bersamaan tatapan Adrian dan Alya beradu.Adrian  dan Alya sama-sama terkejut , Alya baru menyadari bahwa empunya acara adalah laki-laki yang telah menghancurkan masa depannya.


 


               Tiba-tiba Alya merasakan dadanya sesak. Ternyata ayah anak dalam kandungannya bersama wanita lain. Dan sebentar lagi menyandang status suami orang. Tak terasa air mata Alya menetes ke pipi.


 


              "Aku harus cepat-cepat pergi dari sini." Alya bergumam lirih.


 


           Alya melangkah dengan sedikit tergesa-gesa , ingin rasanya ia cepat berlari. Ia harus cepat meninggalkan gedung ini. Sebelum Adrian menangkap dan mengancamnya lagi. Sedikit tanda tanya di benak Alya orang yang ingin ia hindari tapi entah mengapa takdir selalu mempertemukannya.


 


           Ketika kakinya hendak melangkah turun menapaki tangga,Alya tiba-tiba merasakan dorongan kuat dari arah belakang dan membuatnya kehilangan keseimbangan. Hingga akhirnya  ia terjerembab di antara anak tangga dan kemudian jatuh berguling ke bawah dan terhempas dengan posisi perut mendarat terlebih dahulu.


 


               "Argh.."


 


        Alya mengerang kesakitan ia merasakan sensasi sakit yang luar biasa menjalari perutnya. Sakit yang jauh lebih hebat lagi ia merasakan seperti kontraksi mau melahirkan.


 


            Jeritan Alya yang mengudara , sakit yang ia rasakan berpusat di perutnya semakin menjadi-jadi. Dalam hitungan detik orang -orang sudah datang berkerumun. Suasana panik pun sudah mendominasi. Tak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


 


__ADS_2