
Bayu yang mendapat kabar dari Adrian bahwa Alya mengalami koma, segera meluncur ke rumah sakit. Sebisa mungkin Bayu untuk saat ini menyembunyikan keberadaan Adrian dari pertanyaan oma dan tante Vera. Bayu berjalan menghampiri Adrian. Terlihat jelas di wajah Adrian kecemasan yang menyelimuti dirinya.
"Bagaimana apakah sudah ada perkembangan."? Tanya Bayu.
Adrian tidak menyahut pertanyaan Bayu, ia hanya menggelengkan pelan kepalanya. Lidah nya terasa kelu untuk berbicara.
"Bu , apakah kak Alya akan baik-baik saja.?" Tanya Rani diiringi isak tangisnya.
Gadis kecil itu dan ibu Lastri yang sedang duduk di kursi ruang tunggu itu sangat terpukul mendapat kabar bahwa Alya sedang koma, hanya isak tangis mereka berdua yang terdengar. Bayu yang mendengar perbincangannya mengalihkan pandangannya ke arah Adrian.
"Mereka siapa.?" Tanya Bayu dengan alis yang bertautan.
"Mereka katanya keluarga Alya." Jawab Adrian lirih.
Hening . Tak ada yang berbicara mereka semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Menunggu di depan ruang operasi , khawatir dan cemas itulah yang mereka rasakan saat ini , waktu berjalan begitu lambat. Entah sudah beberapa kali Adrian melirik jam yang melingkar di tangannya. Ingin sekali rasanya saat ini ia mendobrak pintu ruang operasi itu.
Hingga tiga jam sudah berlalu, Adrian tampak begitu gelisah tak menentu. Pikirannya diselimuti rasa bersalah.Apakah masih ada waktu untuk dia bisa memperbaiki kesalahannya.
"Suami pasien.?"
Suara seorang dokter laki-laki membuyarkan lamunan Adrian yang sedang berselancar entah kemana. Dokter itu berdiri di depan pintu ruang operasi.
"Saya, dok bagaimana keadaannya.?" Tanya Adrian cemas.
"Maafkan saya ya , pak.operasi berjalan agak lambat dikarenakan pasien mengalami pendarahan. Mari kita sama-sama berdoa agar pasien dapat melewati masa kritisnya." Ucap dokter laki-laki itu.
"Apakah kita memerlukan rujukan ke luar negeri dok.?" Tanya Bayu yang berdiri di samping Adrian.
"Untuk sementara tidak perlu dulu pak. Karena pasien masih bisa kita tangani di rumah sakit ini. Kita lihat perkembangannya nanti ya , pak."
"Baiklah dok."
Tak berapa lama pintu ruang operasi terbuka , Alya yang terbaring di ranjang pasien itu akan dipindahkan ke ruang perawatan. Mata Adrian menatap wajah Alya yang terbaring lemah di ranjang pasien yang didorong oleh beberapa orang perawat.
"Kamu dengar sendiri kan, bro tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kita tunggu dia siuman." Ucap Bayu menepuk bahu Adrian.
"Oh, ya bro sebaiknya kamu pulang , kamu selesaikan dulu permasalahan mu , biar aku yang menunggu di sini , kalau ada apa-apa nanti ku hubungi." Ujar Bayu.
"Bagaimana aku bisa pergi Bay, sementara Alya dalam keadaan kritis, terus bayi ku.?" Ucap Adrian menatap sendu ke Bayu.
"Kamu tenang aja bro, ada aku disini, tuh..ada keluarganya juga. Aku ingin kamu menyelesaikan permasalahan mu dulu, selesaikan permasalahan mu satu per satu, ok." Ucap Bayu memberi semangat.
"Setidaknya lakukan ini untuk anakmu, mana Adrian yang ku kenal laki-laki tangguh. Kok loyo , ayo lah hem." Ucap Bayu sembari tangannya beberapa kali menepuk bahu Adrian.
"Baiklah."
Adrian perlahan berjalan mendekati ibu Lastri dan Rani . Ada sedikit kekuatan penyemangat yang tumbuh dari jiwanya.
__ADS_1
"Bu, maaf kan saya , saya harus pergi dulu sebentar , ada hal yang harus saya selesaikan, jika ibu memerlukan sesuatu ibu bisa hubungi teman saya ." Ucap Adrian yang berdiri di samping ibu Lastri sembari tangannya menunjuk ke arah Bayu.
"Saya tidak memerlukan apa-apa. Saya ingin Alya cepat sembuh." Ucap ibu Lastri dalam isak tangisnya.
Adrian perlahan berjalan meninggalkan ruangan itu. Tujuannya sekarang ingin menyelesaikan permasalahan yang ditimbulkan. Dia tidak ingin disebut lelaki pengecut. Setidaknya ia melakukan ini demi Adrian junior.
*****
Tiba di perumahan komplek yang mewah tanpa ragu-ragu Adrian membelokkan mobilnya ke rumah yang berpagar besi . Adrian pun turun dari mobilnya menghampiri satpam yang sedang berjaga.
"Maaf pak , apakah penghuni rumahnya ada di rumah.?" Tanya Adrian.
"Ada pak ,mereka ada di dalam , maaf dengan bapak siapa biar saya kasih tahu dengan tuan Handoko." Ujar satpam itu dengan sopan.
"Katakan saja dari Adrian , saya ingin bertemu dengannya."
"Baik pak , tunggu sebentar."
Satpam itu pun berlari kecil menuju rumah mewah itu. Tak berapa lama dia kembali dengan nafas tersengal.
"Bapak di tunggu di dalam, silahkan .!"
"Terimakasih."
Tok …. Tok… tok
"Permisi."
"Masuk.!"
Suara Handoko yang dingin terdengar menusuk. Dia duduk bersama istrinya yang duduk bersebelahan dengannya. Tatapan sinis menjadi menu utama Adrian.
"Masih ada nyali kamu datang ke sini.?" Ucap pak Handoko sinis
"Katakan mau apa kamu ke sini.?" Apakah belum puas kamu mempermalukan keluarga kami, kamu anggap apa keluarga kami ini ." Ucap ibu Laras dengan mata nyalang.
"Izinkan saya bicara dengan Raisa. Agar semua jelas dan tidak terjadi kesalahpahaman." Ucap Adrian
"Apa kamu bilang.?" Kesalahpahaman apa yang kamu maksud. Keluargaku sudah kamu buat malu,tanpa alasan kamu meninggalkan Raisa di tengah keramaian pesta pertunangan kalian. ?" Ucap ibu Laras dalam isak tangisnya.
Raisa yang sedang berada di dalam kamarnya, kini pikirannya sedang melayang tak dapat dipungkiri seperti orang sedang jatuh cinta , tatapan teduh itu masih melekat di ingatannya. Raisa berusaha menajamkan pendengarannya. Perlahan bangkit dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya. Dia pun berjalan keluar kamar nya menuruni anak tangga menuju arah sumber suara perbincangan. Langkah kaki Raisa terhenti seketika mendapati Adrian yang sedang duduk di ruang tamu bersama dengan kedua orang tuanya.
"Kamu, mau apa kamu ke sini.?" Tanya Raisa .
Adrian yang duduk berhadapan dengan pak Handoko pun menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Kamu ,apakah kedatanganmu kesini hanya untuk menunjukkan seberapa hebat dirimu ?" Cecar Raisa
"Kamu benar-benar tega. Aku tidak menyangka keluarga terhormat seperti dirimu mencoreng nama baik keluarga ku." Ucap Raisa dalam isak tangisnya.
Raisa menumpahkan semua kemarahan nya ke Adrian. Rasa sakit hati yang kini dirasakan benar-benar belum bisa ia lupakan. Kedatangan Adrian yang kini datang ke rumahnya membuka luka hatinya.
"Maaf kan aku Raisa , kedatanganku kesini hanya ingin menyelesaikan masalah diantara kita."
"Maaf , apakah dengan kata maaf , bisa mengembalikan keadaan seperti semula.?" Ucap Raisa dengan mata berkaca.
Air mata Raisa kini tumpah kembali. Mengingat malam itu ia dan keluarganya harus menanggung malu akibat perbuatan Adrian menghilang dan tak kembali.
"Itu akan lebih baik untuk kita. Karena sejak awal aku sudah mengatakan aku tidak bisa menikahimu.!" Ucap Adrian tegas.
"Lalu kenapa kamu datang ke sini. Apalagi yang ingin kamu jelaskan.?"
"Jelaskan padaku kenapa kamu lakukan ini padaku.?" Apa salahku padamu.?" Ucap Raisa.
"Kedatanganku kesini, aku hanya ingin mengatakan membatalkan pertunangan kita." Karena aku tidak bisa menikahimu."
" Apa.?"
Sontak saja terkejut pak Handoko dan ibu Laras mendengar pernyataan Adrian. Mereka mengira kalau kedatangan Adrian akan memperbaiki hubungan mereka tapi ternyata kedatangan Adrian justru di luar dugaan mereka.
"Katakan padaku Adrian . Apa kurangnya aku di matamu. Bahkan kamu tega membatalkan pertunangan kita."
Raisa berjalan mendekati Adrian yang masih duduk dengan tenang. Bahkan tidak ada keraguan di benak Adrian untuk mengatakan itu semua.
"Aku bukan laki - laki yang baik untuk mu. Dan aku tidak ingin menyakitimu. Perasaan itu tidak dapat dipaksakan Raisa. Kamu wanita baik, cantik, berpendidikan masih banyak lelaki yang menginginkanmu."
"Percayalah padaku tidak ada alasan bagi ku menyakiti mu." Ucap Adrian menatap sendu ke arah Raisa.
Raisa tergugu mendengar kejujuran Adrian. Pak Handoko dan ibu Laras yang sejak tadi diam mendengarnya hanya bisa pasrah . Jika diteruskan mungkin akan berakibat fatal nantinya.
"Lebih baik pikirkan masa depanmu yang lebih cerah bersama lelaki yang benar- benar mencintaimu."
Kembali suara Adrian memecah keheningan di dalam isak tangis Raisa. Raisa yang mendengar semua perkataan Adrian bagaikan ditusuk belati yang sangat tajam. Rasa cinta yang selama ini ia pendam untuk Adrian semua berubah menjadi rasa sakit yang tak terlihat.
"Baiklah, jika memang itu semua sudah menjadi keputusanmu. Kami sebagai orang tua tak dapat berbuat apa-apa." Ucap pak Handoko.
Ia berusaha menahan amarah. Tapi demi putrinya dia tak ingin mengambil tindakan gegabah yang kelak ia sesali. Rasa amarah yang sudah memuncak itu pun luluh mendengar pernyataan Adrian. Secara. Dia sebagai lelaki sudah datang dan mengakui jika dia tidak dapat melangsungkan pertunangan di karenakan Adrian tidak mencintai putrinya. Jika perasaan tidak dapat dipaksakan bagaimana putrinya akan menjalani hidupnya.
******
__ADS_1