Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
Hospital Harapan Kasih.


__ADS_3

   Alya sangat gelisah , karena seharian ponsel milik suaminya tidak dapat dihubungi, mama Vera yang sejak tadi menemani juga merasakan hal yang sama. Bayu yang tadi nomor ponselnya masih aktif , sekarang pun juga tidak dapat dihubungi.


 


         "Alya tenanglah, mungkin Adrian susah sinyal, atau bisa juga lowbat baterainya." Ucap mama Vera mencoba menenangkan Alya.


 


        "Iya ma, tapi tidak seperti biasanya mas Adrian seperti ini.?" Jawab Alya cemas dengan menggigit kukunya.


 


        Alya yang merasa penasaran dengan penyakit suaminya, ia membuka google memulai pencariannya, setelah Alya lama menelusuri ponsel miliknya, ia pun bangkit dari tempatnya duduk.


 


         "Ma, Alya titip Arjuna sama mama dan mbak Rima ya.?" Ucap Alya kemudian.


 


       "Kamu mau kemana.?" Tanya mama Vera .


 


        "Alya mau menemui dokter Aura, Alya ingin tahu separah apa penyakit mas Adrian.?" Ucap Alya panik.


 


        "Siapa yang akan mengantarkanmu, apakah Jonathan ada di rumah.?" Tanya mama Vera kembali karena semenjak tadi mama Vera tidak melihat sang bodyguard Adrian.


 


         "Sama mbak Dona aja ma, ntar kalau mas Adrian pulang duluan , bilang saja kalau Alya belanja bulanan." Ucap Alya dengan raut wajah gelisah.


 


         Alya menuju arah ruangan belakang, rumah yang luas dan besar , dan di belakang terdapat ruang kamar khusus untuk asisten rumah tangganya, dan juga kamar khusus untuk istirahat jika pekerjanya tidak pulang ke rumah.


 


         "Mbak Rima….mbak.."Teriak Alya.


 


        Muncul dari arah dapur Rima dengan berlari kecil , menuju ke arah Alya yang sedang memanggilnya.


 


         "Iya nyonya.?" Tanya Rima.


 


          "Mbak Rima, apakah hari ini mbak Dona masuk kerja.?" Tanya Alya.


 


          "Ada nyonya , mbak Dona sedang beristirahat di kamar belakang." Jawab Rima.


 


           "Mbak tolong panggilkan mbak Dona, saya ada keperluan dengannya." Ucap Alya.


           "Baik nyonya." Jawab Rima berlalu pergi berjalan mengarah ke belakang.


 


       Alya kembali duduk di sofa , terlihat jelas kekhawatiran di wajah Alya. Kerinduan dengan sang suami kini menyelimuti dirinya, tak dapat dipungkiri seperti rasa candu dengan suaminya.


 


         "Ya nyonya , apakah anda memanggil saya.?" Tanya Dona yang sudah berdiri di samping Alya.


 


         Alya yang pikirannya sedang melayang memikirkan suaminya, sangat terkejut dengan suara Dona. Lamunannya seketika buyar .


 


       "I..iya mbak, tolong antarkan saya ke       'Hospital Harapan Kasih' ." Ucap Alya terbata.


 


         "Tapi nyonya…"Ucap Dona cemas karena Adrian pernah berpesan pada dirinya jika istrinya boleh pergi atas izinnya.

__ADS_1


        "Mbak, gak usah khawatir , nanti jika tuan marah saya yang bertanggung jawab." Ucap Alya menyakinkan.


 


        Alya berjalan ke arah kamarnya, tak berapa lama Alya keluar dengan tas kecil yang di jinjingnya, ia berjalan menghampiri mama Vera yang sedang duduk di sofa.


 


        "Ma, Alya pamit ya.?" Ucap Alya sembari mencium punggung tangan mertuanya.


 


       "Hati -hati ya." Jawab mama Vera.


 


      Mama Vera menatap punggung kepergian Alya, yang berjalan di ikuti Dona di belakangnya, ada rasa bersalah dan khawatir karena telah mengatakan tentang penyakit Adrian. Dia pun tidak mengerti harus berbuat apa, hingga harus menyetujui permintaan Alya berbohong , jika Adrian pulang terlebih dahulu.


         *******


 


        Di Hospital Harapan Kasih.


 


         Alya yang baru sampai di parkiran , hatinya berdebar hebat, ia sebenarnya tak ingin pergi ke rumah sakit tempat dokter Aura praktek, pertemuan pada waktu itu yang  masih menyisakan rasa cemburu , karena Adrian suaminya memilih mengabaikan dirinya karena membahas soal pekerjaan  yang Alya sendiri tak tahu.


 


         "Maaf nyonya, bukankah itu mobil tuan.?" Ucap Dona sembari menunjuk mobil  mewah berwarna hitam dengan plat nomor polisi yang sama persis kendaraan suaminya.


 


         Alya memicingkan matanya, rasa cemburu yang tadi ia abaikan , kini kembali panas membara membakar pikirannya, kini Alya tengah menerka-nerka, apakah Adrian suaminya , mempunyai hubungan istimewa dengan dokter pribadinya, sehingga ponsel milik Adrian susah di hubungi.


 


        Wajar jika Alya mempunyai rasa cemburu, karena dokter Aura sangat cantik berpendidikan , bahkan semua gelar yang ia raih dari lulusan luar negeri semua, jika dibandingkan dengan dirinya yang hanya lulusan sekolah menengah atas, itupun Adrian harus mengeluarkan lagi uang untuk dirinya agar dapat membentuk pribadi seorang Alya.


 


         "Kok melamun nyonya.?" Ucap Dona.


 


 


        Dona sang asisten sekaligus bodyguard Alya , melirik sekilas wajah majikannya, terlihat Alya sangat patah semangat.


 


        "Jangan menduga yang tidak baik nyonya, sebaiknya kita masuk untuk memastikannya." Ucap Dona memberi saran.


 


       "Iya mbak, ayo kita turun." Jawab Alya membuka pintu mobilnya.


 


      Alya dan Dona berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang mewah dan megah itu,  Alya tak ingin menggunakan lift karena ingin menjebak langsung suaminya jika benar dugaannya Adrian selingkuh.


 


       Disaat di persimpangan lorong , Alya yang melihat dokter Aura berjalan dengan diiringi beberapa orang petugas rumah sakit, ia memutuskan untuk mengikuti dokter Aura dari arah belakangnya dengan Dona.


 


        "Dok, kenapa pasien belum juga siuman, apakah ada pihak keluarga yang menjaganya?" Tanya salah satu seorang petugas rumah sakit .


 


        "Tenang saja, ada kok pihak kerabat yang menunggunya." Jawab dokter Aura.


 


        Mereka pun berjalan beriringan, hingga tiba di sebuah lorong berikutnya, dokter Aura yang berjalan paling depan mempercepat langkahnya.


 


         "Bayu, om Jonathan kenapa mereka ada disini.?" Lirih Alya yang melihat Bayu dan Jonathan sedang duduk diruang tunggu di sebuah kursi panjang.


 

__ADS_1


        "Bagaimana Bay, apakah Adrian sudah siuman.?" Tanya dokter Aura.


 


        "Adrian.?" Apakah yang dimaksud Adrian suamiku.?" Ucap Alya mempercepat jalannya.


        "Tunggu.!" Apa yang kalian Adrian suamiku.?" Ucap Alya yang sudah berdiri di belakang dokter Aura.


       Seketika Bayu, Jonathan dan dokter Aura terkejut menoleh secara bersamaan.


 


         "Alya , kok kamu ada di sini .?" Tanya Bayu panik.


 


         "Katakan.! Sebenarnya ada apa ini.?" Tanya Alya penasaran.


 


        Dokter Aura perlahan berjalan menghampiri Alya, terlihat jelas kepanikan di raut wajahnya.


           "Alya , tenang ya, saya akan beritahu , tapi kamu tenang ya.? 


 


           "Baik, sekarang katakan padaku dokter ada apa ini.?" 


 


        Dokter Aura menggandeng tangan Alya, lalu berjalan ke arah ruangan , perlahan membuka pintu ruangan  itu. 


 


           "Adrian kini sedang tidak sadarkan diri, karena lelah mungkin dia agak memaksakan diri." Ucap dokter Aura sembari memberi penjelasan.


 


           "Maaasss…., kenapa  kamu begini , bagun mas." Pekik  Alya berlari menghambur ke arah Adrian yang sedang terbaring di brankar .


 


          "Mas…ayo bangun mas." 


 


        Alya tak dapat membendung lagi air matanya, kini mengalir deras , dengan beruraian air mata Alya memeluk tubuh suaminya.


 


          "Alya kamu tenang ya." Ucap dokter Aura mencoba menenangkan Alya.


 


          "Tidak.!" Tolong selamatkan suamiku." Ucap Alya dalam tangisan pilunya.


          Alya terus mengguncang -guncang tubuh Adrian, Adrian tidak memberikan reaksi , Adrian terlihat seperti orang tidur dengan pulasnya, Alya yang selama ini tidak mengetahui penyakit suaminya , dia begitu menyesal dan menyalahkan diri nya sendiri.


 


          Huu…huu….


 


         "Mas.., bangunlah aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa sanggup hidup tanpa dirimu." Ucap Alya dalam isak tangisnya.


 


     Alya terus meraung menangis hingga untuk saat yang lama, mereka yang ada di situ tidak dapat mencegahnya, yang terdengar hanya tangisan pilu Alya.


 


        Bugh.


 


        Alya terjatuh ke lantai , tidak sadarkan diri, Bayu yang melihat istri sepupunya pingsan , segera berlari  mengangkat tubuh Alya ke sofa . Akibat terlalu tertekan pikiran Alya , hingga tak mampu menopang tubuhnya sendiri.


 


         ****** 


 

__ADS_1


__ADS_2