
Mobil pun melaju membelah keramaian kota, Pedro anak buah Jonathan yang mengambil alih kemudi, sedangkan Bayu tengah sibuk menerima telepon dari kantor polisi , memberi keterangan insiden yang terjadi.
Di dalam mobil Alya terlihat sangat tidak nyaman dan gelisah, raut wajah Alya terlihat jelas trauma dan takut sedang menyelimuti pikirannya. Bayi yang ada dalam gendongan Alya pun ikut gelisah , beberapa kali bayi itu menggeliatkan tubuhnya.
"Sini , aku gendong bayinya." Ucap Adrian mengulurkan kedua tangannya.
Alya membeku ia tidak berani menatap Adrian, Alya mendekap bayinya erat, Adrian yang paham jika rasa trauma dan takut masih menyelimuti Alya , dia mencoba menenangkan dan membujuk Alya.
"Kamu tidak perlu takut lagi Alya, aku tidak akan menyakitimu , jika kamu tidak percaya pada ku , kamu bisa gunakan ini untuk membela dirimu." Ucap Adrian sembari tangannya meletakkan sebuah pisau berkerangka di hadapan Alya.
Mata Alya sekilas melirik ke arah pisau di mana Adrian menaruhnya. Tangan Alya segera meraih pisau itu dan mengambilnya, setidaknya ia bisa bernafas lega karena ada senjata dalam genggamannya untuk berjaga-jaga , jika Adrian menyakitinya.
"Kamu sudah percaya kan, sekarang sini berikan bayinya biar aku gendong." Pinta Adrian.
"Tidak tuan , kamu jahat , kamu mau menyakiti aku dan bayiku, untuk apa kamu menginginkan bayi ini, kamu ingin membawanya pergi dari ku kan.?" Ucap Alya dengan bibir bergetar ia mendekap rapat bayinya.
Bayi dalam gendongan Alya pun menangis , terlihat jelas bayi itu tidak nyaman dengan keadaan sekitar.
"Jika aku membawanya pergi , untuk apa kamu ikut serta , kamu salah paham Alya , aku tidak berniat jahat sama kamu , percayalah." Ucap Adrian menyakinkan
Bayu dan Pedro hanya terdiam , mereka tak berani menoleh ke belakang. Bayu yakin Adrian dapat membujuk Alya.
Tidak ada pilihan bagi Alya , karena bayi di gendongannya semakin menjadi-jadi tangisnya, sebisa mungkin Alya membujuk bayinya tapi tak juga reda tangisannya, mata Alya melirik sekilas ke arah Adrian, akhirnya dia menyerahkan bayinya. Alya yakin , Adrian tidak akan menyakitinya karena sebuah pisau di genggaman menjadi senjatanya.
Alya pun mengulurkan tangannya, kedua tangan Adrian sangat hati-hati, memegang bayi mungil itu. Tak terasa kedua bola mata Adrian melelehkan kristal- kristal bening , begitu sangat dia merindukan anaknya.
"Uh..anak papa, kangen ya, sama papa , papa juga kangen sayang." Adrian menangkup wajah bayinya dan menciumi wajah bayi itu.
Bayu dan Pedro yang sejak tadi diam , mereka ikut merasakan kebahagian Adrian. Tak terasa sudut mata Bayu ikut menetes kan air mata. Bayi yang semula menangis kini perlahan tangisnya pun mereda , seolah tahu dia merasa nyaman dalam dekapan Adrian.
"Wah..bro, kamu pintar juga menjinakkan bayi sedang menangis." Ucap Bayu asal.
"Enak saja, kamu bilang menjinakkan emangnya anakku kucing." Jawab Adrian mendengus kesal.
Tak lama dalam gendongan Adrian bayi itu kembali menggeliatkan tubuhnya, mulutnya terbuka mencari sumber kehidupannya. Adrian yang paham bahwa bayinya sedang haus segera menyerahkan pada Alya.
Alya bingung , dia tidak segera membuka kancing bajunya, matanya menatap ke arah Adrian.
"Pedro , kamu fokus lihat ke jalan jangan menoleh kebelakang , kamu juga Bay, naikkan ke atas kaca spion itu.!" Ucap Adrian mengintimidasi.
__ADS_1
"Baik bos." Ucap Pedro sembari tangan kirinya meraih kaca spion dan menaikkan ke atas.
"Oke bro." Ucap Bayu tatapan matanya ia palingkan ke arah jendela mobil.
"Sudah aman, lakukanlah, kenapa.?" Malu juga sama aku.?" Aku kan sudah pernah …"
Adrian tidak melanjutkan ucapannya menggantungkan di udara menyadari ada Bayu dan Pedro. Dia pun segera memalingkan wajahnya ke arah jendela menatap keramaian mobil berjalan beriringan dengan mobilnya.
Dan benar saja bayi itu pun sangat kehausan setelah Alya memberikan sumber kehidupannya. Hening . Tak ada suara hanya terdengar bunyi decapan dari bibir bayi yang sedang menikmati sumber kehidupannya. Membuat jantung Adrian berdesir dan berpacu kencang, naluri kejantanannya terpancing bangkit.
Satu jam berlalu , mobil pun parkir di sebuah apartemen milik Adrian. Adrian menatap Alya yang tertidur lelap , dia tidak tega untuk membangunkannya. Hati Adrian bagai dihimpit bongkahan batu besar, melihat penampilan Alya yang sangat memprihatinkan jauh dari kata mewah. Baju putih berlengan pendek sangat kucel, dan kain rok panjang bagian samping sudah robek, semakin teriris hati Adrian menyaksikan itu.
Pedro yang sudah membukakan pintu untuk Adrian berdiri menunggu perintah.
"Bay ,tolong gendong bayinya, aku akan menggendong Alya." Ucap Adrian
"Aku..?" Mana bisa aku menggendong bayi bro.?" Ucap Bayu terperanjat karena seumur hidup pekerjaan ini yang belum pernah dilakukan.
Adrian menatap dingin ke arah Bayu.
"Baik bro." Jawab Bayu sembari menjulurkan kedua tangannya bersiap menggendong bayi mungil itu.
Adrian mengangkat tubuh mungil milik Alya, hatinya berdenyut kembali karena mendapati tubuh Alya yang kurus.Alya yang kelelahan tertidur lelap kini merasakan tubuhnya terasa melayang ke udara itu pun tiba-tiba bangun.
Alya mendongakkan kepalanya tatapan matanya beradu dengan mata Adrian.
"Diam.!" Tidak usah teriak - teriak bisa gak.?" Ucap Adrian dingin.
"Tapi aku , mau dibawa kemana tuan." Ucap Alya lirih.
"Terserah aku , mau dibawa kemana.?" Kamu mau tahu .?" Akan ku bawa ke KUA ngerti.!" Ucap Adrian dingin.
Cep. Alya tidak berani memberontak lagi, mendengar ucapan Adrian membuat tubuh Alya bikin merinding.
"Jangan berani kabur lagi dari ku, atau kalau tidak akan kupotong kedua kaki mu." Ucap Adrian.
Alya membenamkan wajahnya ke dada Adrian, dia tidak berani menatap lagi wajah Adrian yang tampan tapi sangat menyeramkan. Tangan Alya meraba kakinya membayangkan jika kedua kakinya dipotong, seketika dia bergidik ngeri. Adrian tersenyum rupanya kata-katanya mampu membuat Alya diam dalam gendongannya.
Bayu yang paham dengan sifat Adrian mengatupkan bibirnya rapat menahan tawanya yang hampir meledak. Hal yang tak mungkin dilakukan Adrian untuk memotong kaki Alya. Pedro yang mendengar hanya tersenyum kecut.
Tiba di depan pintu apartemen, Adrian menyuruh Pedro untuk menekan kata sandi yang disebutkan Adrian. Ketika memasuki ruangan itu tubuh Alya gemetar ketakutan ingatannya kembali beberapa bulan yang lalu , ketika dia diseret paksa masuk ke ruangan itu. Masih dalam gendongan Adrian membawa Alya memasuki kamarnya.
__ADS_1
"Awh..tidak …tidak ..aku tidak mau." Pekik Alya.
Alya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Alis Adrian bertautan menyaksikan tubuh Alya yang gemetar ketakutan , Adrian menyadari penyebab Alya yang ketakutan itu, karena di kamar ini lah dulu Adrian telah merenggut kesucian Alya. Adrian beralih ke kamar sebelahnya dan membaringkan tubuh Alya di tempat tidur.
Bayu yang berdiri di depan pintu kamar masih menggendong bayi itu bingung menyaksikan tingkah Alya.
"Bersihkan dirimu , lalu istirahatlah, kamu bisa pakai baju piyama ku dulu, itu di lemari kamu pilih yang pas buat kamu." Ucap Adrian.
Tidak ada sahutan , Alya hanya menganggukkan kepala. Adrian kemudian keluar dari kamar itu lalu menutup pintu, Adrian berjalan menghampiri Bayu dan Pedro yang duduk di ruang tamu.
"Sini."
Adrian meminta bayi dalam gendongan Bayu.
"Bos saya permisi." Ucap Pedro
"Hem, terimakasih Pedro." Jawab Adrian.
"Bro, sekarang rencanamu apa.?" Tanya Bayu.
Adrian terdiam sejenak , ia memandangi bayinya, tidak dapat ia bayangkan jika tidak cepat menemukan Alya dan anaknya. Rahang Adrian mengeras dengan gigi bergemeletuk darahnya kembali mendidih bila ia mengingat bagaimana tadi Alya akan dilecehkan.
"Aku akan tetap menikahinya Bay, tapi tetap jaga rahasia identitas Alya dari keluarga Sudirja, sebelum aku memastikan semua baik-baik saja." Ucap Adrian mantap.
"Bagaimana dengan oma dan tante Vera.?" Tanya Bayu .
"Itu terserah mereka , yang jelas aku tidak ingin kehilangan anakku dan Alya lagi." Jawab Adrian.
"Apakah kamu sudah mulai mencintai Alya.?"
"Aku tidak ingin memaksanya , aku ingin membesarkan anakku dengan kasih sayang yang lengkap dari kedua orangtuanya." Jawab adrian sendu.
Adrian mengingat kehadiran bayi yang tak dikehendaki yang kini dalam pelukannya telah memberinya semangat baru dalam hidupnya. Kini dia menyadari betapa pentingnya seorang ayah dalam hidup anaknya.
******
__ADS_1