
Adrian masih membeku di kamarnya, kini hatinya bimbang setelah mendapat telepon dari Anton. Anton memberikan kabar duka, bahwa keluarga Sudirja kini tengah mengalami masalah, terlebih Burhan kini telah melarikan diri, dan masuk daftar pencarian orang.
Adrian sangat cemas , oma Yana kini pun masuk rumah sakit karena syok , seiring usia oma Yana begitu mudah terserang penyakit , kini penyakit darah tinggi oma Yana pun kumat karena kejadian yang baru menimpanya, Adrian pun bimbang ingin memberitahukan pada Alya, akan tetapi mengingat Alya di kehamilan keduanya sangat sensitif dan rawan akan masalah, Adrian berpikir sejenak.
"Mas, ayo kita sarapan itu aku sudah siapin." Ucap Alya menepuk bahu suaminya.
"Haah.."
Adrian terkejut dengan kehadiran Alya yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Mas, kamu sedang melamun.?" Mikirin apa sih.?" Tanya Alya menyelidik.
"Gak sayang , aku lagi mikirin nama anak kita." Ucap Adrian terpaksa berbohong.
"Oh begitu , kamu sedang tidak berbohong kan mas.?" Tanya Alya lagi.
Raut wajah Adrian seketika berubah, sebisa mungkin menutupi wajah paniknya, seolah Alya bisa menebak jalan pikiran suaminya.
"Ya gak lah sayang, aku mana mungkin berbohong sama kamu." Ucap Adrian meraih tubuh Alya yang perutnya semakin buncit itu.
"Kirain." Ucap Alya sembari mengerucutkan bibirnya.
"Sayang , aku mau ke kantor sebentar, ada hal penting yang harus di tanda tangani." Ucap Adrian berbohong lagi tak mungkin memberitahukan pada Alya kebenarannya.
"Ok, tapi janji pulangnya gak boleh malam gimana.?" Ucap Alya memberi penawaran.
Adrian diam ,ia berpikir sejenak sebenarnya ia ingin memberitahukan tentang keadaan oma Yana, dan juga tentang Burhan yang kini jadi buronan polisi.
"Iya aku usahain nanti ya." Jawab Adrian sedikit bernafas lega karena Alya tidak terlalu mencurigainya.
Adrian pun masuk ke ruang ganti bajunya, dengan mengenakan kaos dan celana jeansnya , membuat penampilan Adrian tidak terlihat seperti orang yang sudah menikah. Alya memandangi tubuh suaminya yang baru keluar dari ruang ganti, Alya mengerutkan dahinya.
"Mas, katanya mau ke kantor, kok begitu penampilannya.?" Ucap Alya menatap curiga Adrian.
__ADS_1
Adrian memindai tubuhnya sendiri, tidak ada yang aneh dari penampilannya, sikap posesif Alya yang semakin hari membuatnya jatuh cinta dan selalu dirindukan.
"Begitu bagaimana , ini aku pakai kayak gini biar agar terlihat santai saja." Ucap Adrian .
"Tapi mas , kamu terlihat seperti masih single , nanti kalau ada yang suka sama kamu gimana .?" Ucap Alya mengerucutkan bibirnya.
"Ya ampun sayang, kamu sensitif bener, mana ada orang yang mau sama aku , aku gak akan tergoda wanita lain hanya kamu ratu dalam hatiku." Ucap Adrian menghampiri Alya yang duduk di sofa lalu mendaratkan ciuman lembut di keningnya.
"Tapi awas ya, jangan genit-genit di luar kupotong burungmu." Ucap Alya dengan mimik wajah merajuk.
"Waduh di potong.?" Janganlah nanti kamu juga yang rugi." Ucap Adrian semakin gemas dengan sikap istrinya yang akhir-akhir ini sangat manja.
"Ya sudah aku berangkat ya sayang." Ucap Adrian berlalu pergi setelah mencium pipi istrinya.
Adrian melangkahkan kakinya menuju ke arah parkiran mobilnya, di sana sudah menunggu Bayu dan Jonathan.
"Baik bos di mengerti." Jawab Jonathan mengangguk kan kepalanya.
"Kita langsung ke rumah sakit saja Bay." Ucap Adrian .
Adrian dan Bayu memasuki mobil mewahnya, Bayu yang mengemudikan mobil perlahan berjalan meninggalkan Jonathan yang kini menjaga rumah.
Di perjalanan rumah sakit , Adrian tampak gusar, bukan karena dia takut dengan Burhan, melainkan bagaimana mencari Burhan agar cepat ketemu, karena Burhan sangat licik dan pandai , semua bisnis haramnya hingga kini belum terendus oleh polisi.
*****
Tiba di rumah sakit , Adrian dan Bayu berjalan menyusuri lorong rumah sakit , dengan langkah lebarnya Adrian dan Bayu menghampiri Anton yang duduk dengan kedua tangannya menopang dagunya. Terlihat jelas diraut wajahnya kecemasan yang mendalam.
Disisi lain, duduk Celine dengan ditemani Sarinah sang asisten rumah tangga, matanya terus basah karena air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan oma.?" Tanya Adrian saat sudah tiba di sisi Anton.
Anton mendongakkan kepalanya, lalu bangkit dari duduknya.
"Nyonya besar terkena serangan jantung, selain riwayat darah tinggi , nyonya juga mempunyai penyakit gula darah , itu yang menyebabkan dia drop saat ini tuan." Ucap Anton dengan wajah paniknya.
"Bagaimana kabar tante Miranti.?" Tanya Adrian .
"Nyonya Miranti sekarang sedang ditangani dokter, dia ada di ruang operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di punggung belakangnya." Jawab Anton.
"Apakah sudah ada kabar tentang Burhan.?" Tanya Adrian lagi karena pikirannya kini sedang fokus pada Burhan.
"Belum, dalam aksi kejar-kejaran kemarin, tuan Burhan sengaja menceburkan diri ke sungai, hingga kini polisi sedang menyisir sungai itu." Ucap Anton memberi penjelasan.
Adrian dan Bayu menganggukkan kepalanya,kini tengah berpikir kemana Burhan melarikan diri .
Di depan ruang operasi, yang terdengar hanya isak tangis Celine, ia kini benar-benar terpukul dengan keadaan yang sedang terjadi, terlebih lagi ia sangat mengkhawatirkan keadaan ibunya, Sarinah yang menemani Celine mengusap lembut punggung gadis itu, mencoba menenangkan Celine yang kini sedang terguncang jiwanya.
"Bi, ini hanya mimpi buruk kan , gak beneran ." Ucap Celine seraya menghapus air matanya.
"Iya non, non Celine yang tenang ya, kita doakan nyonya agar semua baik-baik saja."
Celine yang masih menangis , kini tak percaya yang sedang terjadi, Burhan yang selama ini bersikap baik bahkan penyayang, Celine hampir tak mempercayai sisi buruk dari Burhan kini nyata ia saksikan di depan matanya.
Celine yang lama tinggal di luar negeri, bahkan yang sejak kecil ia tak begitu dekat dengan oma Yana, rasa sesal atas sikap papanya , membuat Celine benar-benar hancur, ia kini tak tahu harus bagaimana setelah mengetahui bahwa sosok Burhan bukan anak dari oma Yana, kini kenyataan pahit yang harus dihadapi, selain melukai ibunya, sikap papanya kini membuat orang yang telah membesarkannya harus ikut terbaring di rumah sakit.
"Jika terjadi sesuatu sama mama, aku tidak akan pernah memaafkan papa, lihat saja nanti , aku akan memberikan pelajaran yang setimpal padanya." Ucap Celine mengepalkan tangannya dengan tatapan penuh kebencian.
Hati Celine bagaikan disayat sembilu, ia harus menyaksikan ibunya bersimbah darah demi melindungi oma Yana, bahkan orang yang seharusnya bertanggung jawab atas keadaan yang sekarang ia alami , kini sedang dalam pengejaran polisi.
__ADS_1
Lama mereka membeku, terbawa suasana yang sangat menegangkan , kini oma Yana dan Miranti sama -sama berjuang di dalam ruang perawatan, hati mereka diselimuti duka yang mendalam akibat ulah Burhan.