Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
Kamu masih Ori


__ADS_3

    


         Adrian perlahan membuka matanya, tubuhnya menggeliat ia merasa ada yang berbeda mendapati tubuhnya seperti bayi baru lahir tanpa sehelai benang pun yang menutupinya. Berusaha mengumpulkan ingatannya ia duduk bersandar di tempat tidurnya. Matanya berotasi memandangi sudut ruangan.


   


           Perlahan ia turun dari tempat tidurnya menyibak selimut yang menutupinya seketika matanya tertuju ke arah sprei ada yang di sana ada bercak noda darah yang kering. Ujung bibirnya pun terangkat menyunggingkan senyumannya.


   


              " Kemana dia.?" 


              "apakah sudah pergi.?" Adrian bergumam sendiri.


 


           Adrian meraih HP miliknya lalu menekan beberapa kali  no kontak  hingga tersambung.


 


              " Ya, hallo, kirimkan no rekeningnya."  Ucap Adrian berbicara dengan seseorang di seberang telepon.      


   


             Terdengar notifikasi masuk ke HPnya,  lalu Adrian tampak sibuk menggeser layar HP miliknya.Tangannya  sibuk mengetik mengirim pesan kepada seseorang.


         


        (Silahkan dicek saya sudah mengirimkan uang sesuai janji saya) 


    


            


               


        Selesai membersihkan diri Adrian bergegas pergi meninggalkan penthouse nya. Setelah memarkirkan mobil nya dengan santai dia berjalan menuju ke pintu lift ruangannya. Duduk di kursi kebesarannya sedikit membuka tirai jendela ia memandangi indahnya kota.


              


             Dok dok dok 


    


           " Ya, masuk!"


 


           Adrian menoleh ke arah pintu. 


   


         "Wah, parah kamu bro semalam kamu ngilang kemana.?" 


      


        Tanya Bayu yang baru masuk ruangan  memberondong pertanyaan kepada Adrian.


   


          Adrian menyunggingkan senyumannya menanggapi celotehan Bayu.


           


   


         "Bukan nya menjawab , eh…malah senyum." Bayu mendengus kesal menatap ke arah Adrian


    


          


          " Eit, tapi tunggu, apa yang membuatmu tersenyum di pagi hari ini.?"  Bayu mengerlingkan mata menggoda Adrian.


         Bayu  mengerutkan dahinya menatap heran ke arah sepupunya.


           


              "Bagaimana.?" 


  


              " Apakah kau mendapatkan kontraknya.?" Adrian menatap datar ke arah Bayu.


   


              "Tapi , jawab dulu pertanyaanku."


    


         Bayu berjalan mendekati meja kerja Adrian lalu menarik kursi duduk di depan Adrian.


   


                 "Apa penting aku menjawab pertanyaanmu.?" Ucap Adrian dingin.


   


         Bayu menjadi salah tingkah jika bos nya dalam mode serius , apalagi kalau sudah membahas pekerjaan.


 


                  "Ya, kita akan menandatangani kontrak kerjasama, jika kau menyetujui nya" Bayu meletakkan map di depan Adrian.


 


                 " Apakah perlu aku mempelajarinya.?"  Mata Adrian melirik sekilas map depannya.


 


                "Ya, sebaiknya kamu lihat dulu.!"


             Bayu membuka map di depannya membolak balik kertas di dalam map. Memeriksa menghindari jika terjadi kesalahan fatal.


    


             Adrian hanya menganggukkan kepala mendengarkan penjelasan Bayu.


 


           Bayangan demi bayangan menari indah di pikiran Adrian, untuk sejenak ia memikirkan kejadian semalam.Pikirannya dipenuhi wajah polos dan tatapan sendu memohon dari Alya.


         


             "Jadi bagaimana, bro .?" 


    


             " Apakah kamu menyetujuinya.?"


             


        Hening. Tak  ada respon dari Adrian.


         Tak mendengar jawaban dari Adrian, Bayu melambaikan tangan ke wajah Adrian. Masih tak bergeming dari lamunannya tatapannya jauh kedua kelopak bibir nya terangkat menyunggingkan senyum.


          


                " Kamu masih Ori." Bisik Adrian di dalam hati.


   


          

__ADS_1


                  "Bro..bro.."


   


                   " Ya ampun…bro." Suara bariton Bayu mendengus kesal.


    


                Adrian terperanjat ketika suara Bayu terdengar memanggil. Adrian menatap datar ke arah Bayu yang lagi kesal.


               


             "Iya, jadi bagaimana Bay.?"


Adrian menatap bingung ke arah Bayu.


                 


              "Ya ampun, bro…aduh..,aku capek ngejelasinnya, kamu bilang bagaimana.?"  Bayu menatap frustasi ke arah Adrian.


   


                 Adrian mengusap wajahnya berulang kali mencoba menghapus bayangan yang melintas di pikirannya. Bayu tampak frustasi persentase nya di depan bos nya tak mendapatkan respon.


    


                 ***


      


                 ***


   


              Drrrt drrrt drrrt 


    


             Berulang kali Hp milik Baron terdengar bunyi orang menelepon.  Tangan Baron meraba saku celana yang ia kenakan, tanpa melihat ke layar siapa yang menelepon Baron menekan geser jawab tombol hijau mendekatkan benda pipih ke telinganya.


  


               "Hallo.."  suara serak Baron menyapa orang di seberang telepon miliknya.


   


              


              Seketika mata Baron membulat sempurna mendengar suara lawan bicaranya. Lalu bangkit dari duduknya.


  


                "Baik, baik bos." Dengan tergagap Baron menjawab lawan bicaranya diseberang telepon.


 


               Selesai berbicara , tangan Baron sibuk menggeser layar HP milik nya. Seketika kedua bola mata nya terbelalak.


   


      


              "Ha..ha. wah..wah."  Suara Baron berdecak kagum menatap layar HP miliknya.


   


              "Wuih…ada apa sih, bro.?"   


          Tanya salah satu teman Baron heran melihat tingkah temannya itu.


   


            Mata Baron tak berkedip menatap layar HP miliknya berusaha menyakinkan penglihatannya ia menggosok-gosok kedua matanya.


   


            Tanpa berbasa basi Baron meninggalkan teman-teman minumnya.  


              


             "Hei, ini semua siapa yang bayar.?" Suara teman Baron yang memanggil.


               


           Sejenak langkah Baron berhenti mendengar perkataan temannya. Lalu menoleh ke belakang ke arah teman-temanya.


   


              "Nanti aku semua yang bayar.!" Suara Baron berteriak .


   


              "Sepertinya Baron dapat bonus besar dari bos Marco." Celetuk suara temanya.


 


       


               "Iya, dari roman wajahnya sih, keliatan" suara yang lain ikut menimpali.


 


      


                "Wah..parah Baron anak nya dijual  ke bos Marco." Suara yang lain pun ikut bersuara.


 


              Baron tidak memperdulikan teman-temannya.Ia melenggang pergi tanpa merasa bersalah.Pikiran nya yang terlalu gembira hanya ingin cepat sampai rumah.


 


     


                 ****


    


     


                 ****


 


     


            "Bu, ayo kita makan.?"


              Puspa membujuk ibunya agar mau makan.Sudah satu minggu Alya pergi dari rumah tidak ada kabar nya. Duduk di tepi ranjang tangannya memegang selembar foto Alya yang masih kecil.


 


               "Kakakmu Alya ,Puspa.?" 


     


             "Kemana ibu harus mencarinya.?"


 


          Tatapan mata Maria jauh menerawang, matanya sayup air matanya terus mengalir tiada henti . Pikirannya sangat kacau memikirkan bagaimana nasibnya Alya.


 

__ADS_1


            


            "Maria..Maria.."


 


            "Dimana kamu.?"  Suara Baron berteriak memanggil.


 


                Puspa yang mendengarkan suara bapaknya pulang bergegas keluar dari kamarnya Alya.


 


                "Puspa ,dimana ibumu.?" Baron bertanya dengan Puspa.


 


          


                 "Ada pak di dalam ." Jawab Puspa singkat lalu pergi meninggalkan Baron.


 


              Baron melangkah berjalan menuju kamar Alya . Disana duduk Maria yang sedang menangis.


 


                  "Maria sudahlah,tidak usah kamu menangis lagi,bikin pusing kepala ku saja.!" Ucap Baron kesal.


 


               "Apa mas,kamu bilang pusing.?"  


 


        Maria membalikkan badan menghapus air matanya , berjalan melangkah mendekati suaminya.


   


               "Dimana.., dimana Alya .?" Maria menatap Baron dengan mata berkaca.


 


             "Dia ,di tempat yang aman." Jawab Baron tak acuh.


 


                "Iya ,tapi dimana.?" 


 


                "Antarkan aku kesana.?"  Suara Maria memaksa Baron.


 


        


                  "Heh..,Maria apa kamu tidak ingin menikmati hidup.?" Suara Baron dengan nada sinis.


 


                "Apa maksud kamu mas.?" Maria menatap nyalang ke arah Baron.


 


          


                "Lihat ini.!"


 


           Baron menunjukkan sebuah pesan masuk di HP nya. Seketika mata Maria membelalak lebar terkejut dengan apa yang dilihatnya.


 


                 "Bagaimana kamu suka kan.?" Ucap Baron menggoda istrinya.


 


                 "Alya, dibeli seseorang yang sangat kaya dengan harga 2 milyar."


 


                 "Karena dia masih perawan." Jawab Baron enteng.


                  Plakk..


   


          Maria menampar Baron yang sedang memegang HP nya.


   


             "Apa -apaan kamu." Baron memegangi pipinya yang terasa panas.


 


            "Sudah berani kamu melawan suami, dasar perempuan songong." Baron menghardik Maria.


   


              "Apa kamu sudah gila mas.?" 


 


              "Kamu tahu siapa Alya.?" Maria menatap suaminya nanar.


               


                 "Aku akan menjual rumah ini, lalu kita pindah di kota." 


 


                 "Terserah,kamu mau ikut atau tidak itu bukan urusanku." Jawab Baron sangar.


   


                "Puspa.!"


 


             "Beresin semua barang kamu,kita akan pindah ke kota." Ujar suara Baron memerintah Puspa.


 


              Puspa yang sejak tadi mendengar pertengkaran kedua orang tuanya tidak dapat melakukan apa-apa,terlebih setelah mendengar Alya bukan anak mereka.


 


                 "Tidak mas,jangan lakukan ini ." 


    


                 "Kasihan Alya, bagaimana jika dia pulang." Maria merengek ke suaminya.


          


                "Ingat! Maria aku bisa melakukan lebih dari ini." 


 


               "Jika kau tidak menuruti aku." Suara Baron membentak.

__ADS_1


 


              Maria terdiam mendengar perkataan suaminya , ingat dengan semua kejahatan Baron dia bisa melakukan apa saja untuk melukai Alya.Semakin deras air mata Maria mengingat kekejaman Baron yang terlibat pembunuhan orang tua Alya.Sampai detik ini Maria belum bisa mengungkap semua karena hidup dibawah tekanan Baron.Demi keselamatan Alya,Maria rela menutupi kejahatan Baron.


__ADS_2