
Tangan Adrian masih menggenggam erat tangan Alya. Tatapan Adrian tak lepas dari wajah pucat Alya, meskipun rasa cinta belum tumbuh di hati Adrian , tapi perasaan ingin melindungi ibu dari anaknya begitu kuat. Adrian yakin kalau Alya adalah orang baik, ia mengingat ucapan Bayu tidak mungkin orang sedang hamil akan dengan sengaja menjual dirinya.
"Aku minta maaf, bangunlah anak kita butuh kamu." Ucap Adrian lirih.
Masih dalam keadaan sama tak ada perubahan. Tiba- tiba ponsel Adrian berdering. Adrian perlahan bangkit dari duduknya untuk menerima panggilan masuk.
"Ya , katakan ada berita apa jo.?" Ucap Adrian penasaran.
"Bos, apakah bos sudah mengetahui bahwa Puspa dan Alya adalah saudara bos,mereka bisa disebut saudara kakak dan beradik." Ujar Jonathan di seberang telepon.
"Apa.?" Kamu yakin apa yang kamu sampaikan.?" Terus , apa kamu tahu di mana mereka tinggal.?" Ucap Adrian kembali.
"Belum , bos tapi masih dalam penyelidikan."
"Iiihhh.., kamu ini kebiasaan , kalau kasih berita itu yang benar dan lengkap, kan aku sudah bilang jangan kasih berita sepotong-potong.!" Jawab Adrian kesal dengan ucapan Jonathan.
"Baik bos."
Panggilan pun terputus. Adrian mengusap kasar wajahnya. Ia mengingat kembali perkataan Puspa di waktu itu. Jika memang benar mereka bersaudara artinya mereka masih ada keluarga terutama ibu dan ayah. Tapi kenapa Alya yang menjadi korban taruhan judi bapaknya. Pikiran Adrian kini benar-benar dipenuhi banyak pertanyaan. Rasa ingin tahu tentang kehidupan Alya kini menggelitik hatinya.
"Hai…, bro gimana sudah ada perkembangan.?" Ucap Bayu yang sudah berdiri disamping Adrian.
Lamunan Adrian seketika buyar. Dia yang tadi tampak serius sedang berpikir kini terkejut dengan kehadiran Bayu.
"Kamu kebiasaan Bay, kamu selalu mengejutkan ku." Adrian mendengus kesal.
"Kamu terkejut.?" Ada yang lebih mengejutkan lagi.?" Mungkin kamu tak akan percaya berita apa yang aku bawa hari ini.?" Ucap Bayu serius.
"Apa.?" Awas saja kalau tidak penting.?" Ucap Adrian menatap Bayu.
"Kamu ingat.?" Di malam pesta yang diadakan Sudirja malam itu dan kamu menghilang. Lalu kamu bilang seperti ada yang memasukkan obat perangsang.?"
Adrian mengerutkan dahinya. Mencoba mengingat lagi kejadian malam itu. Memang benar setelah dia meminum yang diberikan pelayan malam itu dia seperti mabuk, dan nafsunya sangat menggelora tak tertahan lagi.
"Iya, terus ada apa.?"
"Ini lihat .!"
Bayu menunjukkan kepada Adrian sebuah rekaman cctv yang sudah disalin sebelumnya. Di situ terlihat jelas seorang wanita cantik tengah memberikan minuman kepada pelayan dan wanita cantik itu menyuruhnya untuk memberikan kepada Adrian. Alis Adrian bertautan setelah beberapa kali di zoom gambar wanita cantik itu.
__ADS_1
"Clara…?" Ucap Adrian.
" Mau apa dia datang di pesta itu. Bukankah dia berada di luar negeri .?"
"Iya dia, penyebab kamu membuat kecebong bersama Alya saat itu. Jika bukan dia tidak akan ada bayi di dalam sana.!" Ucap Bayu sembari tangannya menunjuk ke arah ruang perawatan.
"Dari mana kamu dapatkan rekaman ini.?" Tanya Adrian.
Bayu menceritakan semua dia mendatangi gedung ballroom itu. Dengan atas nama besar Dharmawangsa Bayu berhasil membujuk bagian pengendali ruang cctv . Berkat rekaman cctv itu Bayu bisa menarik benang merah yang kini tengah melilit sepupunya itu.
Adrian diam sejenak. Ia mengagumi kecerdasan Bayu. Sekarang pikirannya beralih dengan tujuan Clara . Kenapa Clara tiba- tiba muncul setelah kejadian lima tahun silam dia menghilang di saat hari pertunangan malam itu. Di saat itu Adrian benar-benar frustasi.
"Langkah kita sekarang bagaimana bro.?" Tanya Bayu.
"Biarkan saja dulu Bay, aku ingin tahu apa yang dia inginkan. Karena ada yang lebih penting dari ini , yang ingin ku bahas dengan mu."
"Apa.?
"Ini tentang Alya dan Puspa. Ternyata mereka bersaudara." Ucap Adrian.
"Apa.?" Kamu yakin , dari mana kamu tahu mereka bersaudara , terus ibu dan gadis kecil yang menemani Alya itu siapa.?" Tanya Bayu
******
"Bu kak Alya , kok bangunnya lama.?" Tanya Rani.
"Kita doakan saja kak Alya cepat bangun ya.?" Jawab ibu Lastri.
Mereka yang duduk menunggu di ruang tunggu pasien, terlihat jelas raut wajah kesedihan itu.
Adrian yang duduk berada di dalam ruangan itu, pikirannya gelisah menatap wajah Alya. Pikiran Adrian berkecamuk memikirkan Alya yang belum sadar dan ditambah lagi berita yang mengejutkan tentang Puspa dan Alya yang ternyata bersaudara.
"Ibu…"
Perlahan Alya membuka matanya.
Adrian yang mendengar ada suara. Seketika bangkit dan menghampiri Alya di ranjang pasien. Benar saja ia mendapati Alya tengah perlahan membuka mata dan berulang kali mengerjapkan matanya. Adrian segera menekan tombol yang berada tak jauh dari ranjang itu. Karena menunggu lama tak ada respon Adrian bergegas keluar mencari bantuan.
"Bay, tolong panggil dokter Alya siuman." Ujar Adrian yang berdiri di balik pintu ruang kamar Alya.
__ADS_1
"Bu kak Alya sadar." Ucap Rani.
"Alhamdulillah." Ucap ibu Lastri dan Rani serentak.
Segera ibu Lastri dan Rani menuju ruangan itu. Di mana Adrian tengah berdiri di sisi ranjang Alya.
Tak lama dokter datang bersama Bayu. Dokter itu pun memeriksa keadaan Alya. Ia memeriksa dari membuka mata dan mulut. Cukup lama dokter itu memeriksa keadaan Alya.
Hingga dokter itu menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan.
"Syukurlah pak, istri anda sudah bisa melewati masa kritisnya. Tapi ingat , dijaga pola pikirnya jangan sampai tertekan, dan untuk sekarang jangan banyak bergerak dulu,anda tahu kan bekas caesar dan operasi di kepala bisa berakibat fatal jika sampai terbentur dan banyak gerak." Ucap dokter itu memberi penjelasan pada Adrian.
Alya yang belum sadar sepenuhnya bisa menangkap jelas perkataan dokter. Tangannya meraba ke arah perut. Dan sontak saja dia terkejut mendapati perutnya yang tadinya buncit kini berubah rata.
"Istri,?" Sejak kapan aku menjadi istri tuan takur ini."?" Gumam Alya dalam hati.
"Bayiku , kemana bayiku.?" Tanya Alya lirih .
"Dia sedang tidur nak. Itu …kamu lihat." Ucap ibu Lastri sembari tangannya menunjuk ke arah sudut ruangan.
"Benarkah itu anakku. Aku ingin melihatnya." Ucap Alya.
Adrian yang sedang berbincang dengan dokter itu pun mengalihkan pandangannya ke arah Alya. Ia paham yang diinginkan Alya.
"Dokter , apakah boleh bayi nya didekatkan dengan ibunya. Sepertinya ibunya sangat menginginkan bayi nya.?" Ucap Adrian di tengah perbincangan itu.
"Kenapa tidak.?" Itu akan lebih baik pak, hubungan anak dan ibu tidak dapat dipisahkan , apalagi kalau sudah keluar asinya." Ucap dokter itu tersenyum.
Degh.
Bagaikan tertimpa batu besar ucapan dokter barusan. Rasa sesak di dada kini menyelimuti pikirannya. Bagaimana mungkin dia akan memisahkan Alya dan anaknya. Jika saja sumber kehidupan sang bayi ada pada ibunya. Adrian perlahan mendekati box berisi bayi mungil itu. Dan dia berjalan mendekati Alya. Alya yang melihat adegan itu sangat terkejut melihat Adrian tidak menolak kehadiran bayi itu justru dia menggendong bayi itu dan menyerahkannya pada Alya.
"Bayi nya laki-laki." Ucap Adrian sembari menyerahkan bayi mungil itu.
Alya menerima bayi itu , dia sangat terharu dan meneteskan air matanya. Tatapan Alya kini beralih ke bayi yang ada di dalam gendongannya. Dan, dia lebih terkejut lagi mendapati wajah anak nya mirip dengan laki-laki yang berdiri di sampingnya. Ibarat kata bagaikan pinang dibelah dua. Hati Alya sangat teriris dengan kejadian malam itu, kini menghadirkan kehidupan baru, dengan hadirnya seorang bayi laki-laki di dekapannya.
*****
__ADS_1