
Di gedung kantornya, Adrian sedang sibuk dengan layar laptop yang sedang menyala, matanya memang menatap layar laptop akan tetapi pikirannya melayang jauh di udara memikirkan Alya, entah mengapa menurut Adrian semakin hari Alya semakin cantik dan mempesona. Pernikahan yang awalnya tidak dikehendaki , dan tanpa dasar cinta kini semakin hari rasa cinta tumbuh dengan sendirinya.
Adrian mempercepat mengerjakan pekerjaan kantornya agar bisa segera pulang ke rumah, kerinduan akan wajah Alya dan Arjuna memberi semangat bagi Adrian tersendiri.
Setelah menyelesaikan pekerjaanya, Adrian melangkahkan kaki meninggalkan ruangannya , langkah lebarnya menuju dimana mobilnya terparkir, mobil yang dikendarai Adrian memecah keramaian kota, keramaian kota yang di jam sibuk pulang kantor tidak sabar untuk Adrian segera sampai di rumahnya.
Tiba di parkiran halaman rumahnya Adrian mengerutkan dahinya, karena mendapati rumahnya gelap gulita sedang ada pemadaman lampu. Adrian menghampiri keamanan komplek tempat tinggalnya.
"Ada apa ini pak, kok padam lampunya." Tanya Adrian pada keamanan komplek.
"Ada korsleting listrik tuan, tapi ini juga dalam perbaikan ." Jawab keamanan komplek.
"Kenapa kita tidak menghidupkan genset.?" Tanya Adrian kembali
"Genset kita juga dalam perbaikan tuan, sabar ya sebentar lagi juga hidup kok."
Adrian melangkahkan kaki menuju rumahnya, dan benar saja Adrian mendapati Arjuna sedang menangis karena gelap akibat mati lampu. Cahaya lilin tidak dapat menenangkan Arjuna yang sedang rewel.
"Rima nyonya mana?" Tanya Adrian.
"Di kamarnya tuan." Jawab Rima yang sedang kewalahan menenangkan Arjuna yang rewel.
"Ya ampun dia kan takut gelap." Gumam Adrian.
Adrian yang menyadari Alya phobia gelap bergegas berlari menuju kamar Alya,Adrian ingat sewaktu masih di apartemen beberapa waktu lalu Alya pernah menangis di sudut kamar karena mati lampu sesaat.
"Alya…Alya…"Teriak Adrian membuka pintu kamar Alya dengan penerang senter di ponsel milik Adrian.
"Hu…hu…"
"Alya." Ucap Adrian setelah mendapati Alya duduk di sudut ruangan kamarnya dengan menggunakan jubah mandinya.
"Mas." Ucap Alya sembari menekukkan badannya karena takut.
"Kamu tidak apa-apa, ayo bangkit." Ucap Adrian lalu menggendong tubuh mungil Alya yang gemetar karena takut.
Adrian mengangkat tubuh Alya, lalu membawa ke tempat tidur untuk membaringkannya, di dalam gendongan Adrian, Alya membenamkan wajahnya di dada Adrian.
"Kamu tenang ya, ada aku disini gak usah takut." Ucap Adrian sembari membaringkan tubuh Alya.
Di saat membaringkan tubuh Alya, kaki Adrian terbelit dengan alas kaki yang terdapat di bawah ranjang tidur Alya, hingga akhirnya mereka berdua terjatuh di ranjang tidur milik Alya dengan posisi tubuh Adrian menindih tubuh Alya, di bawah sinar cahaya senter ponsel yang dipegang Adrian terlihat jelas bukit kembar milik Alya dan jubah di bawah pun terbuka, nafas mereka saling memburu, di saat bersamaan Alya merasakan ada yang mengganjal tepat di bagian goa putrinya.
"Aaaa…." Pekik Alya.
"Ada apa.?" Tanya Adrian panik.
"Mas, ada yang mengganjal di bawah sana.!" Ucap Alya .
"Di mana?" Tanya Adrian.
Di saat Adrian bangkit dari menindih tubuh Alya, lampu pun hidup. Adrian mendapati tonggak ampuhnya tengah berada di tegangan tinggi , Adrian mengusap kasar wajahnya. Alya yang masih terbaring dengan posisi jubah mandinya terbuka di bagian atas dan bawah menangkupkan badan untuk menutupinya, meskipun Adrian suami sah nya tapi kejadian itu benar -benar membuatnya malu.
"Kenapa sih kamu suka sekali berteriak, kalau aku jantungan gimana, untung semua ini buatan tuhan." Gerutu Adrian.
"Maaf mas, kan gak sengaja." Ucap Alya lirih.
Adrian memandangi tubuh Alya yang gemetar, raut wajahnya bersemu merah.
"Lampunya sudah hidup, kamu sudah mandi belum.?" Tanya Adrian.
Alya tidak menyahut, hanya menggelengkan kepala .
"Ya udah sana mandi.!" Ucap Adrian.
Adrian lalu melangkahkan kaki pergi meninggalkan kamar Alya, dalam kamarnya Adrian menarik nafasnya mengurai ketegangan di pikirannya.
"Apakah Alya tidak ada keinginan untuk memajukan hubungan pernikahan ini." Gumam Adrian di dalam kamarnya.
"Ini juga lampu bikin ribet, hidup disaat gak tepat, mati juga di saat gak tepat"Ucap Adrian.
Disaat Adrian akan melangkahkan kaki kamar mandi, untuk membersihkan diri , tiba -tiba lampu padam kembali.
"Aaa…, tolong." Teriak Alya.
__ADS_1
Adrian segera melangkahkan kaki menuju kamar Alya. Alya duduk berjongkok di depan pintu kamar mandi membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.
"Ya ampun Alya."
"Mas takut." Ucap Alya kedua bibirnya bergetar.
Adrian kembali membopong tubuh Alya ke tempat tidur. Adrian menggeser ponsel naik turun mengadakan panggilan.
"Pak Danu, kenapa lampunya padam lagi .?" Tanya Adrian
"Gak tau nih tuan, teknisi lagi memperbaikinya." Jawab pak Danu di seberang telepon.
"Oh ya sudah kalau gitu pak." Ucap Adrian mengakhiri panggilannya.
"Ada kerusakan , jadi gimana , aku ambilin lilin dulu ya." Ucap Adrian.
"Jangan tinggalin aku mas, aku takut , biarin aja pakai ponsel temani aku ya"Lirih Alya .
"Ya udah , aku temani."
Alya pasrah saja saat Adrian menarik tubuhnya ke dalam pelukan Adrian, dengan sengaja Adrian tidak menyuruh Alya untuk mengganti pakaiannya. Adrian berharap materi yang diajarkan mrs Saqueena akan di praktekkan saat Alya khilaf. Sebagai lelaki Adrian tidak ingin melanggar janjinya, dia tidak ingin meminta haknya jika Alya belum siap.
Adrian menarik selimut menutupi tubuh Alya, dengan erat Alya memeluk tubuh Adrian , hingga akhirnya Adrian ikut berbaring disamping Alya.
Adrian sangat sadar bagaimana Alya sangat trauma pada dirinya, terlebih dulu saat Adrian membeli Alya, Adrian yang saat itu di bawah kesadaran karena pengaruh obat perangsang , Adrian tidak pernah puas menghajar Alya sampai pagi.
Tanpa mereka sadari mereka saling berpelukan, Alya membenamkan wajahnya di dada Adrian. Tubuh Alya yang tadinya gemetar sekarang tidak lagi.
Untuk sesaat Adrian berpikir mungkin ini kesempatan untuk membicarakan tentang hubungan mereka, Adrian ingin memulainya lebih awal , karena dia tahu tidak mungkin wanita akan terlebih dahulu memulai.
Disaat di dalam pelukkan Adrian Alya merasakan kenyaman.
"Alya." Ucap Adrian.
"Ya.."Jawab Alya.
"Alya , bagaimana kalau kita mulai sekarang , memulainya dari awal." Ucap Adrian .
Senyap. Alya tidak menjawab pertanyaan Adrian.
"Alya , bagaimana kalau mulai sekarang kita mulai saling menerima, layaknya pasangan suami istri, hidup berumah tangga , aku tahu sulit bagimu untuk menerima ini , mungkin terlalu cepat, tapi kalau kita tidak memulainya kapan keadaan akan berubah ."
"Aku sangat mencintaimu Alya, apakah kamu bisa menerimaku sebagai suami mu." Ucap Adrian
Adrian membenamkan ciumannya di pucuk kepala Alya, tangan Adrian mengusap punggung belakang Alya.
"Bagaimana Alya.?" Tanya Adrian.
Hening. Alya tidak memberikan jawaban , Adrian pun diam untuk memberikan waktu untuk berpikir.Lama Adrian diam , hingga Adrian menyadari nafas Alya yang teratur naik turun, akhirnya Adrian menatap wajah Alya. Ia mendapati Alya yang tertidur dengan begitu lelapnya.
"Hah,tidur.?" Adrian menipiskan bibirnya tersenyum memandangi wajah Alya.
"Ya ampun , aku bicara panjang kali lebar dan sudah nyampai ke utara di tinggal tidur." Ucap Adrian gemas.
Adrian menarik nafasnya , lalu membenarkan selimut menutupi tubuh Alya, Adrian membaringkan tubuhnya di samping Alya dan memeluknya hingga pagi tiba.
*****
Di pagi hari Alya terbangun , akan tetapi Adrian sudah tidak ada di sampingnya, hanya ponsel milik Adrian yang tertinggal di tempat tidur.
Alya bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, karena semalam mati lampu Alya tidak jadi mandi akibatnya lengket di kulitnya.
Selesai membersihkan diri Alya menuju meja makan, Adrian yang terlebih dahulu bangun kini sudah rapi dengan pakaian kerjanya duduk sarapan dengan susu dan roti yang sudah dipanggang.
"Selamat pagi, mas ini ponselnya tertinggal di kamarku." Ucap Alya sembari meletakkan ponsel milik Adrian di dekatnya.
Adrian tidak menyahut, melirik ponselnya sekilas lalu meraih ponsel miliknya dan bangkit dari duduknya berlalu pergi meninggalkan Alya yang duduk di meja makan.
"Kok tumben, cuek banget." Gumam Alya.
******
__ADS_1
Saat di kantornya suasana hati Adrian sedang tidak baik-baik saja , Adrian sedikit agak sensi. Adrian sangat kesal beberapa kali membuat rencana tapi selalu gagal. Puspa yang pagi ini sudah berapa kali kena semprot hanya karena Puspa ingin meminta tanda tangan Adrian, Adrian marah -marah gak jelas.
Disaat Bayu berjalan menyusuri lorong kantor menuju ruangan Adrian berpapasan dengan Puspa yang berjalan menunduk sedih.
"Kamu kenapa Puspa, pagi-pagi kok nangis.?" Tanya Bayu.
"Bos, marah-marah gak jelas pak, hanya dimintai tanda tangan aja sudah marah." Ucap Puspa sendu.
"Oh…, ya sudah gak usah diambil hati, terus itu berkas apa.?" Tanya Bayu lagi.
"Berkas mau bertemu klien pak , sebentar lagi orangnya sampai, tapi takut mau mengetuk pintu tuan Adrian."
"Gak apa-apa, kalau penting gak bakalan marah beliau" Ucap Bayu.
Bayu yang dulu membenci Puspa , kini berubah menghormatinya karena pengorbanan Puspa pada waktu itu , Puspa pun kini sudah berubah dulunya yang arogan dan sombong kini berubah menjadi wanita yang anggun. Bayu berjalan menuju ruangannya mengurungkan niatnya menemui Adrian.
"Bisa kena semprot juga aku kalau ke sana." Ucap Bayu yang tiba di ruangannya.
Lama membeku Puspa di depan pintu Adrian,hingga ponselnya masuk berbunyi notifikasi pesan masuk pemberitahuan bahwa klien sudah menuju ruangan Adrian. Puspa mengumpulkan keberanian untuk mengetuk pintu Adrian.
Tok..tok…tok…
"Masuk.!" Sahut Adrian.
"Maaf tuan, klien Clara Ambarita mau bertemu."
"Suruh dia masuk.!"
Tak berapa lama Puspa sang sekretaris muncul bersama seorang wanita dibelakangnya, untuk sesaat Adrian terpaku menatap lekat wajah itu , ingatannya berputar lima tahun yang lalu. Dimana Adrian dulu sangat menggilai wanita itu yang kini dia datang tepat di hadapannya. Hingga akhirnya Adrian mengalami depresi berat karena di tinggal pergi di saat mereka akan bertunangan.
"Silahkan duduk.!" Ucap Adrian.
Clara duduk tepat di hadapan Adrian dengan senyumnya yang mengembang.Puspa pun pergi meninggalkan ruangan Adrian.
"Apa kabar Adrian.?" Ucap Clara.
"Seperti yang kamu lihat aku sangat baik." Jawab Adrian dingin.
Clara bangkit dari duduknya mendekati Adrian, Adrian yang sedang duduk di kursi kebesaran tak beraksi sedikitpun saat Clara menghampirinya.
"Aku dengar dari oma kamu sudah menikah dan mempunyai anak.?" Tanya Clara.
"Ya begitulah." Jawab Adrian singkat.
Sikap dingin Adrian membuat Clara semakin penasaran.
"Adrian , apakah kamu masih marah padaku, karena aku pergi tanpa pamit." Ucap Clara penuh percaya diri mendekati Adrian.
"Clara, apa maksud kedatanganmu kesini , mau membicarakan pekerjaan atau yang lain, jika kamu mau membuang waktuku untuk ini silahkan keluar dari ruanganku sekarang!" Ucap Adrian tegas
Clara terkesiap dia tidak menyangka sikap Adrian akan berubah padanya, Clara lalu membuka map nya dan menjelaskan maksud kedatangannya karena suatu pekerjaan, Adrian dengan profesional menanggapinya dia tidak memberikan celah sedikitpun untuk Clara merayunya.
******
Alya sangat tegang di dalam ruangan mrs Saqueena, untuk mengurangi ketegangannya Alya mencoret - coret kertas di bukunya tanpa sengaja Alya menggambar love di bukunya.
Mrs Saqueena pun datang dan memasuki ruangannya lalu duduk seperti biasanya di hadapan Alya .
"Bagaimana , apakah materi yang saya berikan sudah anda praktekkan nyonya Alya.?" Tanya mrs Saqueena
"Belum , miss semalam mati lampu , mau di coba takut salah." Jawab Alya asal.
Kedua alis mrs Saqueena bertautan memandangi wajah tegang Alya.
"Maksudnya.?"
"Ya , begitu nanti dicoba lagi kalau tidak mati lampu." Jawab Alya menarik nafasnya.
"Huh..ini sangat buruk sekali nyonya, anda tidak dapat nilai untuk itu." Ucap mrs Saqueena mendengus kesal.
"Anda tidak bisa begini terus nyonya Alya, ingat !, di luaran sana banyak pelakor yang dengan mudah menggoda iman suami anda, anda harus mencoba trik yang saya ajarkan."
"Anda tidak sadar anda menikah dengan siapa.? Artis dan orang-orang kaya yang hidupnya bergelimang harta istri dan suaminya tampan saja masih selingkuh , apalagi anda, jika anda begini terus tidak menjamin kalau suami anda akan setia , tuan Adrian selain tampan dia juga tajir bagaimana kalau dia tergoda dengan pelakor." Ucap mrs Saqueena memberi pencerahan berharap Alya akan terbuka pikirannya.
Sejenak Alya terdiam, membenarkan perkataan mrs Saqueena, apalagi akhir-akhir ini banyak pemberitaan di media pelakor lebih ganas dari istri sahnya, pikiran Alya seketika melayang memikirkan suaminya jika direbut wanita lain. Alya pun jadi gelisah ingin cepat pulang dan mempraktekkan materi yang diajarkan mrs Saqueena.
__ADS_1
*******