
Ada rasa yang membuncah di dalam dada sana , yang tak dapat ia gambarkan dengan kata-kata. Adrian menatap lekat bayi mungil itu, tidak ada alasan bagi Adrian untuk tidak mengakui bayi itu adalah benih yang ia tanam malam itu.
Adrian menciumi bayi mungil itu, tangannya mengelus pipi bayi itu dengan lembut, perasaan Adrian kini benar-benar bahagia melihat photo copy nya yang sekarang ada dalam dekapannya.
"Maaf pak , bayi anda benar-benar lemah karena fisiknya dan berat badannya yang kurang harus memerlukan penanganan khusus, mungkin bapak bisa melakukan metode skin to skin." Ucap dokter wanita itu yang menghampiri Adrian sedang menggendong bayi.
"Metode apa tadi dokter.?"
Adrian mengerutkan dahi nya karena tidak paham dengan ucapan dokter.
Dokter itu pun secara perlahan memberi penjelasan dengan Adrian tentang manfaat metode skin to skin, metode ini besar manfaatnya.
"Metode ini disebut metode kangguru.,"Memeluk bayi di dada ibu dan ayahnya dengan bersentuhan langsung dengan kulit selain membantu bayi yang lahir prematur , bisa juga membantu menstabilkan detak jantung dan meningkatkan berat badan bayi. " Dokter itu memberi penjelasan dan pengarahan kepada Adrian .
Adrian terdiam. Adrian juga tidak menolak saran yang diberikan dokter itu. Pikiran Adrian untuk saat ini ia ingin menyelamatkan bayi mungil itu.
Adrian kemudian duduk bersandar di sebuah kursi dengan mengenakan pakaian khusus . Kemejanya ia lepas , sehingga ia meletakkan bayi itu di atas dadanya bersentuhan langsung dengan kulitnya.
Dahulu kata orang tua. Setiap orang tua memiliki ikatan emosional yang kuat dengan anaknya. Adrian kini benar-benar membuktikannya.
Sepanjang Adrian mendekap bayi mungil itu , air mata Adrian tidak berhenti berderai. Ada rasa sakit menghujam di dadanya melihat kondisi bayi mungil itu.
Tangannya yang kecil meraba, dan suara tangisan yang lemah , serta tubuh bayi yang dingin, tampak kulit bayi itu membiru. Membuat Adrian benar-benar tersiksa. Bayi yang tak berdosa itu harus merasakan kerasnya hidup sebelum dia dilahirkan. Rasa bersalah pun menyelimuti Adrian, seandainya dia bisa meminta maaf, karena sudah membiarkannya tumbuh tanpa perhatiannya.
Tak terasa waktu sudah tiga puluh menit.Adrian duduk mendekap bayi mungil itu , ia meresapi kehangatan yang tercipta dari setiap sentuhan antara dia dan bayi mungil itu.
Tanpa berpikir panjang , Adrian sempat mengumandangkan adzan di telinga bayi itu. Seperti ada sebuah keajaiban bayi itu menunjukkan banyak perubahan. Bayi yang terlihat lemah tadi, kini menangis dengan suara kuat sekali. Gerakannya pun tidak selemah tadi.
Tanpa Adrian sadari sudah berdiri dokter wanita yang memberi penjelasan tadi.
"Kalau untuk sementara sudah dulu ya, pak. Sekarang bayinya harus dibawa ke ruang NICU. Untuk mendapat perawatan agar cepat tumbuh sehat." Ucap dokter itu.
Perlahan Adrian melepas dekapannya. Sebenarnya ia masih ingin berlama-lama dengan bayi itu. Sepertinya dia tidak rela untuk berpisah dengan bayi itu. Kebersamaan yang tercipta itu. Membuat perasaan kini bercampur aduk. Kini Adrian seperti memiliki benda yang berharga di dalam hidupnya.
Dokter yang menggendong bayi itu kini berjalan perlahan menuju ke box bayi itu. Dengan cekatan tangan dokter itu memeriksa detak jantung bayi itu. Dokter itu pun tersenyum.
"Syukurlah, detak jantung dedek bayinya mulai normal. Dan lihatlah kulitnya berangsur pulih tidak membiru lagi." Ucap dokter itu memberi penjelasan pada Adrian.
Adrian yang berdiri di sisi box itu hanya diam, dan tersenyum getir, jika detak jantung bayi sekarang sudah normal, kini giliran detak jantungnya yang tidak normal , bagaimana tidak membayangkan bayi itu akan tumbuh besar , kini pikiran Adrian tergelitik untuk mengadakan tes DNA. Tapi nanti menunggu waktu yang menurutnya tepat.
******
Bayu yang sejak tadi duduk dengan gelisah menunggu sang bos tidak keluar. Begitu banyak pertanyaan di kepalanya, yang ingin ditanyakan dengan Adrian.
Sudah beberapa puluh kali pula ponsel Bayu berdering ia abaikan. Jika dijawab sudah pasti akan menimbulkan masalah baru baginya. Bayu sudah bisa menebak ponselnya yang terus berdering itu tidak lain dari tante Vera, yang ingin tahu keberadaan Adrian.
"Kenapa lama sekali, apa dia ikut juga melahirkan." Gumam Bayu kesal pertanyaan konyol pun muncul di kepalanya.
Adrian yang sejak tadi berdiri menatap box bayi itu. Lamunanya seketika buyar ketika dia mendengar percakapan dua perawat yang berdiri tak jauh darinya.
"Iya , belum ada perlengkapan bayinya , itu semua dari rumah sakit." Suara seorang perawat menjawab pertanyaan temannya.
Adrian kini baru menyadari , setelah memandangi bayi dalam box itu tertidur lelap. Matanya berotasi di sekitar ruangan. Perlengkapan bayi.? Apa mungkin Alya tidak mempunyai perlengkapan bayi sama sekali. Adrian mengingat betapa sulitnya Alya waktu dia datang ke rumah kontrakannya . Pada waktu itu di rumah yang sangat sederhana isi perabot rumah pun tidak ada yang berharga.
Dan lagi. Rasa sesak di dada Adrian kini bertambah mendapati bayi mungil itu memakai perlengkapan rumah sakit. Bagaikan tertusuk- tusuk jarum, rasa sakit yang tak tergambarkan.
Perlahan Adrian melangkah keluar ruangan itu. Ia masih mendapati Bayu yang masih setia duduk menunggu di sana. Adrian tahu pasti Bayu ingin meminta penjelasan darinya. Dia pun menghampiri Bayu.
__ADS_1
"Bay, carikan toko perlengkapan bayi yang masih buka.!" Ucap Adrian.
Bayu yang mendengar itu menggaruk kepalanya dan menggosok telinganya yang tidak gatal. Sebenarnya Adrian ini kesambet di mana pikir Bayu.
"Bro, ini kan sudah malam , mana ada toko yang masih buka.?" Jawab Bayu kesal.
"Pokoknya usahakan malam ini ada perlengkapan bayi yang lengkap Bay, jika perlu kamu beli sekalian itu tokonya." Ucap Adrian.
Mendengar ucapan Adrian yang sangat tidak bisa ditolak itu. Bayu berpikir cepat dia memainkan ponselnya . Dia mencari toko di sekitaran yang mungkin masih buka.
Mata Bayu seketika membuka lebar dan tersenyum mengembang setelah mendapatkan toko seperti Adrian minta. Lalu ia berjalan mendekati Adrian.
"Ini ada bro, tapi sebentar lagi mau tutup." Ujar Bayu.
"Ada no telponnya gak.?" Tanya Adrian.
"Iya , ini juga lagi diusahakan di telpon. Tunggu sebentar.!"
Tidak menunggu lama , berbekal nama besar Dharmawangsa toko itu bersedia menunggu kedatangan Adrian dan Bayu.Adrian yang mendengar itu tidak ingin membuang waktunya.
Ketika mereka hendak pergi menuju arah parkiran mobil , langkah mereka terhenti, Bayu yang sedang memegang ponselnya tiba-tiba berdering tertera nama tante Vera. Bayu menatap Adrian bingung harus menjawab atau tidak. Panggilan pertama ia bisa abaikan tapi ponsel Bayu terus berdering. Adrian memberi isyarat untuk menjawab.
"Iya , hallo tante."
"Bay, gimana Adrian sudah ketemu, atau sudah menjawab telepon dari kamu .?" Suara tante Vera di seberang telepon.
"Belum tan, ini juga Bayu sedang di jalan lagi nyariin Adrian." Jawab Bayu berbohong dengan suara bergetar.
"Aduh…, kemana sih perginya anak itu bikin pusing saja." Ujar tante Vera.
"Ya sudah tante, nanti kalau ada kabar Bayu kabarin, ini sekarang Bayu sedang di jalan." Ucap Bayu memutus sambungan telepon.
*******
Mobil Adrian melaju sedang , membelah jalanan yang sunyi, Bayu yang sedang mengemudi itu pun sesekali matanya melirik ke arah Adrian . Tampak sekali lelah dan cemas di wajah Adrian.
Hening.Bayu yang sejak tadi menahan amarah di dada ia mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
"Emh..bro,perempuan yang kamu tolong tadi sebenarnya siapa.?"
Adrian tidak menjawab pertanyaan Bayu.Adrian menatap penuh keraguan pada Bayu. Bayu yang sudah memahami sifat sepupunya itu menepuk bahu Adrian.
"Tenang saja bro, aku paham, kamu jujur saja siapa tahu aku bisa membantumu. Aku berjanji , tidak akan memberitahukan pada siapapun juga." Ucap Bayu menyakinkan.
Terdengar berat nafas Adrain untuk memberikan penjelasan kepada Bayu. Ia percaya pada Bayu .
"Kamu ingat pada waktu kita menghadiri pesta milik Sudirja malam itu." Tanya Adrian .
Pikiran Bayu seketika langsung tertuju pada sebuah perusahaan itu dan ada kerjasama dengan perusahaan itu.
"Iya, aku ingat . Di malam itu kamu mengajak aku pulang, ketika acara belum selesai.?" Jawab Bayu.
"Ya semua bermula dari malam itu Bay!" Jawab Adrian tangannya sebelah memijat kepalanya yang kini berdenyut.
Sontak saja Bayu membelalakan matanya seolah tak percaya dengan ucapan sepupunya. Ia bahkan terlihat syok.
"Setelah aku minum yang diberikan oleh seorang pelayan, seperti ada yang memasukkan obat perangsang.
"Obat perangsang.?" Dahi Bayu berkerut.
"Tapi siapa yang sudah lancang melakukannya.?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu Bay." Adrian menggelengkan kepala.
"Apakah kamu sudah menyelidikinya. Apakah kamu punya musuh atau ada seseorang yang mau menjebakmu." Cecar Bayu.
"Aku belum punya waktu Bay. Pada saat itu , aku tidak tahu harus bagaimana?" Aku menghubungi Jonathan untuk mencarikan aku wanita dan wanita itu sekarang yang ada di rumah sakit itu Bay."
Percaya dan tak percaya Bayu mendengar perkataan Adrian. Jika memang benar perkataan Adrian , Adrian harus siap menghadapi keluarga besarnya. Hal yang tak bisa dibayangkan akan terjadi.
"Jadi maksud kamu wanita itu , wanita panggilan "
"Aku tidak segila itu Bay, mau tidur dengan sembarangan wanita."
"Oke..oke…"
Bayu mencerna semua penuturan Adrian dan menarik kesimpulan sendiri.
"Jadi wanita yang di rumah sakit itu melahirkan anak hasil hubunganmu malam itu.?" Ucap Bayu mengusap kasar wajahnya.
Adrian mengangguk pelan. Meskipun dia sendiri belum menanyakannya pada Alya langsung, siapa ayah biologis anak yang dia kandung . Teringat dengan perkataan Puspa waktu itu yang mengatakan bahwa Alya wanita panggilan . Sedikit keraguan bahwa anak yang lahir saat ini benih lelaki lain. Karena dia tahu bahwa dialah pemilik malam pertama itu. Tapi Adrian meyakini bahwa anak itu adalah benihnya.
"Kamu yakin itu adalah anakmu.?" Bisa saja dia hamil dengan laki-laki lain.?"
Bayu hanya ingin memastikan , biar bagaimana pun dia harus waspada dengan orang-orang di sekitar Adrian. Bisa saja wanita itu menjebaknya dan mencari keuntungan
Tak terasa mobil pun sudah ada di depan toko pembicaraan mereka pun terhenti. Kedatangan mereka pun disambut dengan ramah oleh yang punya toko, karena sudah malam jadi pelayan toko pun sudah pulang.
"Silahkan pak, dilihat-lihat , bapak mau mencari perlengkapan bayi yang seperti apa.?
"Popok bayi, baju atau celana bayi, bermacam -macam ukuran dan bahan kain yang bagus dan lembut."
Pemilik toko itu memberikan beberapa contoh barang dagangannya, dari mulai harga dan ukurannya.
Adrian hanya diam . Dia menatap Bayu meminta pendapat. Tapi Bayu yang tidak mempunyai pengalaman dengan semua yang di hadapannya , ia mengangkat kedua bahunya. Karena sama-sama belum mempunyai pengalaman dan takut salah membeli barang.
" Ya sudah, bungkus semua yang ada di dalam toko ini , tapi pilihkan bahannya yang bagus.!" Ucap Adrian .
"Hah..kamu yakin membeli isi semua toko ini?" Ucap Bayu.
Mata Bayu membulat sempurna mendengar ucapan Adrian. Seakan tak percaya sepupunya kini memborong semua isi toko itu.
"Kamu mau buka toko , bro ?"
"Dari pada salah Bay, beli saja semua , toh ini semua untuk Adrian Junior." Ucap Adrian dengan nada yakin.
"Tapi kamu yakin , itu anak mu.?
Tatapan menghunus Adrian mengarah ke Bayu. Bayu yang sadar dengan ucapannya tampak gelagapan. Adrian mendekati pemilik toko , pemilik toko itu tengah menghitung semua belanjaan Adrian. Dan memberikan kartu Atm nya. Setelah membayar semua Adrian mengangkat beberapa barang yang sudah dipisahkan untuk dibawa ke rumah sakit.
" Setelah ini cari tukang laundry , cuci ini semua aku tidak mau ada kuman yang menempel." Ujar Adrian.
"Apa.?"
Bayu malam ini benar-benar dibuat susah oleh Adrian , dari mulai menutupi kesalahan , mengantar pakaiannya, mencari perlengkapan bayi di tengah malam, dan sekarang mencari tukang laundry . Laundry , dimana malam begini.? Siapa yang jadi bapak-bapak , siapa juga yang repot.? Hadeh.
******
__ADS_1