Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
Berbelanja.


__ADS_3

         Di dalam ruangannya Bayu sedang sibuk dengan pekerjaannya, mata nya serius menatap layar laptop. Tangannya meraih telepon di depannya. Menekan beberapa kali tombol telepon dan panggilan pun terhubung.


 


           "Puspa, tolong ke ruangan saya sekarang.!" Ucap Bayu.


 


           "Baik pak." Jawab Puspa di seberang telepon.


 


         Bayu yang  akan disibukkan beberapa hari ke depan karena menghandle pekerjaan Adrian. 


 


            Tak beberapa lama terdengar ketukan pintu dari luar.


 


            Tok…tok…tok..


            "Ya masuklah!" Ucap Bayu dari dalam.


 


             "Silahkan duduk , Puspa." Ucap Bayu sembari tangannya memberi isyarat.


 


             "Terima kasih pak." Jawab Puspa.


 


             "Kamu tahu , kenapa saya memanggil kamu ke ruangan saya" Tanya Bayu menatap tajam ke arah Puspa.


 


             "Tidak tahu, pak.?" Puspa menggelengkan kepala.


            Puspa pun tidak tahu kenapa tiba-tiba , Bayu memanggilnya ke ruangannya, setahunya dia tidak membuat kesalahan. Dengan hati berdebar Puspa menunggu perkataan Bayu selanjutnya, ia beranikan diri sedikit mendongakkan kepalanya, untuk menatap Bayu. Begitu banyak pertanyaan di kepala Puspa, karena Adrian pun tidak terlihat di ruangannya. 


 


           "Apakah saya akan dipecat pak.?" Tanya Puspa cemas.


 


           Bayu mengerutkan alisnya , ia menatap lekat ke arah Puspa , sesuai permintaan Adrian dia tidak boleh gegabah mengambil tindakan.


 


           "Bukan kewenangan saya memecat kamu Puspa, tapi ada  tugas penting permintaan tuan Adrian untuk kamu kerjakan,itu tergantung pilihan ada di kamu.?" Ucap Bayu datar.


 


           "Maksud bapak , saya tidak mengerti.?" Tanya Puspa menyelidik dengan alis yang bertautan.


 


           "Tuan Adrian , sebentar lagi akan menikah , dan tuan Adrian meminta kamu untuk menemani calon istrinya berbelanja, secara kamu lebih tahu banyak fashion." Ucap Bayu santai .


 


           Mata Puspa membulat sempurna mendengar perkataan Bayu, seketika jantungnya pun berdetak hebat karena sangat terkejut. 


 


            "Apa.?" Menikah .?" Ta..ta..tapi dengan siapa pak.?" Jawab Puspa dengan bibir bergetar.


 


            "Mana saya tahu siapa calonnya, itu urusan pribadi tuan Adrian." Jawab Bayu.


 


           "Tapi kenapa harus saya pak , menemani calon istri tuan Adrian, itu kan bukan tugas saya." Jawab Puspa kesal 


 


           Terasa runtuh jantung Puspa mendengar Adrian akan menikah, terlebih lagi dia diminta untuk menemani calon istrinya untuk berbelanja. Ingin rasanya dia menolak permintaan Adrian , tapi Puspa tidak kuasa menolak dan dia juga penasaran siapa wanita calon istrinya Adrian, bukankah dia sudah membatalkan pertunangannya dengan Raisa. 


 


        "Dipecat, atau menemani berbelanja, pilihan  itu ada di kamu Puspa." Ucap Bayu.


 


           Sekilas Bayu melirik ke arah Puspa. Tampak jelas raut wajah Puspa sangat bingung memutuskan permintaan Adrian.


 


          "Kamu lihat video ini , Puspa. "Tak ada alasan kamu menolak dan mengundurkan diri." Ucap Bayu menyodorkan layar laptopnya . 


 


            Terlihat jelas di layar laptop itu video yang menunjukkan detik-detik dimana Puspa tengah berbisik dengan seorang laki-laki , dan tak lama lelaki itu mendorong Alya hingga terjatuh berguling-guling, dan terjatuh terjungkal ke dasar lantai.


 


            Mata Puspa seketika terbelalak, beberapa kali dia menelan salivanya, jantungnya berdetak kencang , ia tak menyangka bahwa perbuatannya kini diketahui. Puspa pun menundukkan kepalanya, sejenak dia berpikir apakah Adrian sudah mengetahui semua perbuatannya. 


 


            "Bagaimana , mendekam di penjara atau masih ingin bekerja dan menghirup udara bebas.?" Ucap Bayu dingin.


 


           "Ba..baik pak." Saya masih ingin bekerja." Ucap Puspa terbata-bata.


 


           "Tapi mulai besok jabatan mu sudah bukan sekretaris lagi, melainkan sebagai office girl,.!" Ucap Bayu datar.


 


            Puspa membeku di tempat duduknya, tidak ada pilihan baginya sekarang , jika dia mengundurkan diri kemana dia akan mencari pekerjaan, menjadi sekretaris di perusahaan besar dan ternama menjadi impiannya.


 


            "Baik pak , kalau begitu saya permisi."  Ucap Puspa.


 


            "Ya , silahkan." Jawab Bayu.


 


       Bayu menatap punggung Puspa yang pergi dibalik pintu ruangannya. Kedua bibirnya terangkat menyunggingkan senyum. Ia paham bagaimana perasaan Puspa sekarang.


           Tiba di ruangannya Puspa meneteskan air mata , yang sejak tadi ia tahan di depan Bayu. Matanya berotasi menatap sekeliling ruangan itu, kini hancur sudah karir yang dirintis dari awal. Menjadi sekretaris di perusahaan besar dan ternama adalah impiannya, kini harus kandas.


          


              *****


       


           Pagi - pagi sekali Adrian dengan semangat sudah bangun. Setelah membersihkan diri dia ingin menyambangi bayi nya yang tidur di sebelah kamarnya.


 


              Tok… tok..tok..


 


              "Alya , apakah kamu sudah bangun.?" Tanya Adrian.


          


              Tidak ada sahutan dari dalam. Adrian memegang gagang pintu lalu memutarnya, pintu kamar  Alya tidak terkunci dengan perlahan Adrian membuka pintu seperti penyusup memasuki kamar Alya, sejenak Adrian mematung mendapati Alya yang tertidur pulas dengan posisi masih memberi sumber kehidupan pada bayinya.


 


            Adrian menelan salivanya beberapa kali , melihat pemandangan di depannya. Tangan Adrian mengusap kasar wajahnya untuk menghalau rasa gelisahnya. Sehingga bayi itu pun terbangun, ikut merasakan kehadiran seseorang.


 


           "Dasar , ceroboh sekali dia." Gumam Adrian.


 


            Adrian tidak ingin membangunkan Alya yang masih tertidur,  ia segera mengambil bayinya yang terbangun, tangannya mengambil selimut lalu menutupi bagian dada Alya yang terbuka.


           


           "Ganteng banget sih, anak papa,hem." Ucap Adrian . 


 


           Adrian menangkup wajah bayinya, lalu menciumi bayi itu. Ada rasa bahagia di hati Adrian yang tak terlukiskan .


 


          Alya terbangun mendapati bayinya tidak ada di hadapannya, ia mendengar suara Adrian yang sedang berbicara dengan seseorang , perlahan Alya membuka pintu kamarnya dan benar saja, Adrian tengah berbicara dengan bayinya. Melihat kelembutan Adrian, membuat hati Alya sedikit yakin bahwa Adrian tidak akan menyakiti dia dan anaknya.


 


           "Sudah bangun.?" Tanya Adrian.


 


           Mata Adrian sekilas melihat baju yang dikenakan Alya,  itu baju piyamanya terlihat kedodoran di tubuh mungil Alya. Adrian merasa geli melihat Alya, ingin sekali tertawa tapi takut menyinggung perasaan Alya.


 


           "Bersihkan dirimu." Sebentar lagi akan ada asisten yang datang untuk membantu di rumah ini , biar kamu tidak terlalu jenuh di rumah sendirian." 


 


          Tidak ada sahutan, Alya menganggukkan kepala lalu pergi ke kamarnya .


 


           Selesai membersihkan diri Alya berjalan menghampiri Adrian , yang sejak tadi tengah bermain dengan anaknya. Adrian yang menyadari kehadiran Alya, lalu memberikan bayinya pada Alya.

__ADS_1


 


         Adrian bangkit dari duduknya , ia berjalan memasuki kamarnya , tak lama ia keluar sudah berpakaian rapi dan bersiap akan pergi ke kantor. Adrian mengeluarkan dompetnya, lalu mengambil kartu unlimited edition nya dan meletakkan di atas meja, mata Adrian melirik ke arah Alya sekilas.


 


             "Gunakan kartu ini untuk berbelanja, beli baju mu dan keperluan lainnya, nanti akan ada yang menemani kamu berbelanja dan ingat.!"  Jangan kabur lagi. Nomor pin nya ada di balik kartu itu. "Ucap Adrian datar.


 


              Hening . Tak ada sahutan Alya hanya menatap benda yang diletakkan di atas meja, ia mengira Adrian akan memberikan dia uang cash tapi hanya meletakkan sebuah kartu yang mirip KTP.


 


            "Papa  pergi kerja ya sayang." Ucap Adrian sembari mencium pucuk kepala bayinya.


 


            Adrian melangkah pergi keluar, Alya hanya menatap  diam melihat punggung laki-laki itu menghilang di balik pintu. Alya bangkit dari duduknya meraih kartu yang diberikan oleh Adrian. Ia tak mengerti kenapa Adrian begitu baik padanya , apakah Adrian benar-benar akan menikahinya atau hanya akan memperalat dirinya. 


 


             Tok…tok..tok…


 


           Alya terperanjat karena ada yang mengetuk pintu rumahnya, rasa trauma yang menyelimuti dirinya sulit ia lupakan. Ia pun berjalan mendekati pintu itu, Alya pun mengintip dari dalam telah berdiri di depan pintu seseorang perempuan dan beberapa orang laki-laki berdiri di belakangnya. Alya pun membuka pintu.


 


              "Selamat pagi nyonya , kenalkan nama saya Rima, saya akan bekerja membantu pekerjaan rumah anda mulai hari ini." Ucap wanita itu membungkuk dan tersenyum dengan ramah.


 


            Tak berapa lama Bayu  berjalan menyusul di belakang wanita itu, ia berjalan dengan seorang wanita dibelakangnya, Alya mematung melihat wanita itu pikirannya bercampur aduk bahagia dan sedih karena dia begitu mengenal wanita itu.


 


              "Puspa adikku." Lirih Alya.


 


         Puspa hanya menunduk di depan Alya dia tak berani mendongakkan kepalanya.


 


              " Alya hari ini kamu akan berbelanja ditemani oleh Puspa, dan Jonathan akan mengawal mu ,Pedro yang akan jadi supir pribadimu dan beberapa orang ini yang akan mengawal mu pergi kemana saja." Ucap Bayu dengan lugas memberi penjelasan.


 


            Alya terdiam dia memandangi satu persatu orang di hadapannya , ia tampak bingung begitu banyak orang yang akan pergi menemani berbelanja.


 


               "Mari nyonya saya gendong bayinya, anda bisa mempersiapkan diri untuk bepergian." Ucap Rima meraih bayi dalam gendongan Alya.


 


              "Saya kan cuma berbelanja kenapa banyak sekali orang yang menemani." Ucap Alya polos.


 


            Bayu hampir saja meledak tawanya mendengar ucapan Alya yang terkesan lucu, karena Alya tidak tahu bahwa calon suaminya adalah seorang sultan, besar kemungkinan bahaya bisa mendekati dan mengancam jiwa dan anaknya.


 


            "Ayo , bersihkan dirimu dan bersiap lalu kita pergi berbelanja, hari ini aku ikut serta menemani mu." Ucap Bayu.


 


           "Aku sudah membersihkan diriku, aku sudah siap pergi berbelanja, begini saja boleh perginya." Jawab Alya.


 


             "Apa.?" Ucap Bayu seketika kedua bola matanya melotot melihat penampilan Alya yang hanya mengenakan baju piyama milik Adrian kedodoran pula.


 


           Bayu mengusap kasar wajahnya, lalu memandang anak buah nya satu persatu , terlihat jelas mereka menahan tawa. Tapi tak satupun dari mereka melepas tawanya.Bayu lalu menggeser ponselnya menekan tombol memanggil. Dia pergi agak menjauh dari sisi Alya.


 


          Panggilan pun terhubung.


 


            "Bro , memangnya Alya tidak punya baju, masa mau pergi berbelanja pakai baju piyama kamu , kedodoran pula." Ucap Bayu.


         


        


            Adrian yang berada di seberang telepon pun terdiam, memang benar yang dikatakan Bayu, di saat menjemput Alya kemarin tidak membawa semua barang milik  Alya, tapi tidak masalah bagi Adrian.


 


           "Bukan kah di situ ada Puspa.?" Aku ingin bicaranya dengannya." Ujar Adrian.


 


 


            "Nih , tuan Adrian mau bicara sama kamu.!" Ucap Bayu ketus.


 


            "Iya, tuan apakah anda butuh bantuan dari saya.?" Ucap Puspa.


 


             "Puspa , bukankah kamu lebih mengenal Alya , saya mau tanya ukuran baju Alya menurut kamu apa.?" Ucap Adrian di seberang telepon.


 


              Hati Puspa bagaikan teriris sembilu, mendengar ucapan orang yang selama ini  dikagumi , kenapa harus menanyakan ukuran baju kepadanya ,kenapa bukan dia yang saat ini di posisi Alya, entah sengaja atau tidak yang jelas Adrian sudah menorehkan luka di hatinya.


 


             Puspa pun diam sejenak, dia mencoba mengingat  ukuran baju kakak angkatnya yang sekarang berdiri di hadapannya.


 


             "Kalau tidak salah ukuran baju nyonya Alya M tuan." Jawab Puspa gemetar.


      


            "Kamu yakin, atau kamu sengaja memberikan ukuran yang salah, jika salah kamu akan tahu akibatnya." Ucap Adrian mengintimidasi.


 


            "Yakin tuan." Jawab Puspa mantap.


 


           Puspa pun lalu memberikan ponsel milik Bayu, tangannya gemetar rasa takut kini menyelubungi jiwanya.Alya yang sejak tadi memperhatikan tingkah Puspa sangat aneh, sebegitunya Adrian sangat disegani oleh orang bawahannya, entah apa yang dikatakan oleh Adrian hingga membuat Puspa sangat ketakutan.


 


          Alya pun berjalan mendekati Puspa. Ketika sudah mendekat , Jonathan berdiri menghalanginya.


 


            "Ada apa .?" Aku ingin memeluknya dia saudaraku." Ucap Alya bingung dengan tingkah orang tinggi besar dan sangat seram itu.


 


            "Maaf nyonya , anda tidak di perkenankan mendekati sembarang orang." Ucap Jonathan tegas.


 


            Alya pun terdiam , dia memperhatikan Puspa di balik tubuh Jonathan , terlihat jelas oleh Alya , Puspa sedang menghapus air matanya.


 


           "Tolong izinkan saya memeluknya , aku sangat merindukannya, dia adalah saudaraku." Ucap Alya memohon.


 


          Jonathan menatap ke arah Bayu , Bayu pun memberikan isyarat kepada Jonathan dengan kedipan mata, untuk memberikan ruang pada Alya dan Puspa. Alya pun perlahan mendekati Puspa , masih dengan kepala tertunduk Puspa tidak berani mendongakkan kepalanya.


 


           "Puspa, mendekatlah kakak sangat merindukanmu, bagaimana kabar bapak dan ibu.?" Ucap Alya dengan merentangkan kedua tangannya.


 


           Puspa masih membeku , ia masih ingat betapa jahatnya pada Alya, tapi kini Alya masih seperti yang dulu rendah hati dan tidak sombong, sebenarnya bisa saja Alya melakukan hal yang sama padanya , ia masih ingat waktu pertemuan di cafe , Puspa bahkan tidak mau mengakui bahwa dia mengenal Alya, justru sebalumnya dia menghasut Adrian, dengan mengatakan Alya bukan wanita baik-baik.


 


            "Apakah kamu tidak merindukan kakak Puspa.?" Ucap Alya dengan deraian air mata.


 


          Puspa memberanikan diri  menatap Alya yang sudah merentangkan kedua tangannya, dia melihat sorot mata Alya penuh kerinduan dan ketulusan.


 


            "Kakak."


 


           Puspa pun menghambur ke pelukan Alya, akhirnya tangis keduanya pecah, begitu sangat Alya merindukan saudaranya, dia mencoba berdamai dengan dirinya sendiri memaafkan kesalahan Puspa yang pernah menyakitinya.


 


           "Maafkan Puspa kak." Ucap Puspa dalam isak tangisnya.


 


           "Kakak sudah memaafkan mu dek. Sebelum kamu meminta maaf." Ucap Alya.


 


           Kedua tangan Alya membingkai wajah Puspa , yang kini dia tampil natural dengan memakai seragam OB. Berbeda dengan penampilan Puspa sebelumnya , yang biasa memakai riasan make up dan penampilan glamour.

__ADS_1


 


             


           Tak berapa lama datang dua orang wanita dengan berpakaian seragam, dengan membawa sebuah gaun yang masih terbungkus plastik.


 


              "Maaf , saya dari boutique Ratu, saya membawa pesanan tuan Adrian untuk nyonya Alya. Ucap  pegawai boutique membungkuk memberi hormat.


 


            Alya melepaskan pelukannya , lalu menoleh ke arah sumber suara. Puspa sangat  mengenal nama boutique itu . Tidak menyangka seorang Alya akan memakai baju boutique ternama.


 


            "Kak , itu baju pesanan tuan Adrian , ayo kita coba." Ucap Puspa.


 


          Alya dan Puspa, beserta pegawai boutique itu pun memasuki rumah yang kini dihuni Alya.


 


          Dengan jantung berdebar , Puspa menunggu di ruang tamu, dia berdoa semoga saja ukuran baju yang dia berikan tidak salah mengingat Alya kini sudah melahirkan , jika dia salah, tidak tahu hukuman apa yang akan Adrian berikan.


 


            Alya keluar kamarnya dengan diiringi dua orang wanita pegawai boutique, gaun hitam yang sangat mewah dan elegan dengan riasan natural, membuat Alya seketika berubah menjadi wanita berkelas.


 


          "Apakah berbelanja , harus pakai baju begini.?" Ucap Alya seperti kurang nyaman dengan pakaian barunya.


 


          "Maaf nyonya , apakah anda tidak menyukai bajunya.?" Tanya seorang pegawai boutique.


 


          "Ah.., tidak ..tidak, bukan begitu saya sangat suka." Ucap Alya tersenyum ramah.


 


          Alya sangat merinding setelah dia melihat bandrol baju yang ia kenakan,tapi dia tidak berani untuk protes karena takut Adrian akan marah.


 


           "Apakah semua sudah siap.?" Ayo berangkat.!" Ucap Bayu.


 


            "Mbak Rima, saya titip anak saya ya." Ucap Alya.


 


            "Baik nyonya, anda tidak usah khawatir, percayakan semua tugas sama saya." Ucap Rima.


 


           Setelah berpamitan dengan anaknya , Alya pun berjalan dengan beriringan pengawal. Alya sangat terkejut setelah tiba dilantai dasar , di sana dia sudah di sambut dengan mobil mewah dengan pengawalan ketat.


 


           "Saya mau berbelanja , kok di kawal seperti ini." 


 


           "Ini sudah perintah tuan Adrian nyonya, silahkan anda memasuki kendaraan anda." Ucap salah satu bodyguard.


 


          Alya memasuki mobil mewah itu , Puspa duduk berdampingan dengan sopir di sebelahnya. Mobil pun berjalan memecah keramaian kota, dengan beriringan pengawal mengikuti di belakangnya. Alya pun hanya diam, dia tidak tahu haruskah dia bahagia atau sedih dengan kehidupannya sekarang. Mengingat bagaimana ibu Adrian pernah mengancamnya menjadikan momok tersendiri bagi Alya.


 


           Mobil pun berhenti di sebuah gedung tinggi , dengan nama toko baju  dan sepatu sesuai permintaan Adrian.


  


             "Kita sudah sampai nyonya." Ucap sang sopir.


 


          Alya pun turun dari mobil ,  Puspa sudah menunggu di depan pintu mobil. Alya pun mendongakkan kepala, seumur hidup Alya yang tidak pernah memasuki toko baju itu pun agak kurang percaya diri untuk memasuki toko itu.


 


           "Mari nyonya." Ucap Puspa.


 


            "Puspa, tidak usah seperti itu." Jawab Alya.


 


           "Ini tugas saya menemani anda berbelanja nyonya." Ucap Puspa membungkukan badan memberi hormat.


 


          Bayu dan Jonathan terus mengawasi setiap pergerakkan Puspa. Alya pun berjalan, memasuki toko baju yang terlihat megah itu, dengan beriringan pengawalan ketat.


 


           "Selamat datang di toko kami." Ucap beberapa pegawai toko membungkukkan badan memberi salam dan hormat.


 


             Alya berkeliling dengan di temani Puspa  dan salah satu pegawai toko sebagai petunjuk fashion, dan berjalan di belakangnya Jonathan. Sedangkan Bayu duduk di lobi memainkan ponselnya.


          "Bagaimana nyonya, apakah anda menyukai model fashion ini.?" Tanya Puspa.


 


          Alya menggelengkan kepala , dia sangat merinding melihat bandrol baju di toko itu semua harganya sangat fantastis. Alya yang terbiasa memakai baju dengan harga tiga puluh lima ribu itu bingung untuk memilih.


 


            "Apakah di sini harga bajunya tidak ada yang tiga puluh lima ribu saja." Ucap Alya bingung.


 


          Hening . Tidak ada suara , semua bingung dengan perkataan Alya. Hingga Jonathan berinisiatif menelpon Adrian.Alya memasang pendengaran tajam.


 


           "Anda tidak usah menguping nyonya, saya akan pasang loudspeakearnya." Ucap Jonathan paham dengan pemikiran Alya.


 


           Alya terkesiap mendengar ucapan Jonathan.


 


           " Ada apa , Jo"Ucap Adrian dingin.


 


           "Maaf tuan , nyonya Alya bingung untuk memilih bajunya, dia meminta harga bajunya dengan harga tiga puluh lima ribu saja." Ucap Jonathan.


           


          "Apa.?" Ucap Adrian membentak.


 


         Hingga membuat siapa saja yang mendengarnya merinding.


 


          "Dia bingung dengan harganya atau baju ukurannya .?" Tanya Adrian.


 


           "Harganya tuan." 


 


           "Ya, sudah beli tokonya saja, biar dia tidak bingung memilih." Ucap Adrian dingin dan mengakhiri pembicaraan.


 


           "Anda sudah dengarkan , nyonya jadi bagaimana, apakah anda mau membeli tokonya atau bajunya.?" Ucap Jonathan.


 


            "Ba..baiklah saya akan berbelanja bajunya , ayo , Puspa temani kakak memilih baju buat kakak." Ucap Alya gugup.


 


           Mata Alya berotasi mengelilingi isi toko itu, dia tengah berpikir , mau ditaruh dimana baju satu toko jika Adrian membeli baju dan tokonya.


 


            Di dalam hati Alya berkata,"Mudah sekali marah tuan takur ini, beli baju seperti beli tempe di pasar saja.!" .


 


                 *******


 


       


              


 


             


 


 


  

__ADS_1


          


__ADS_2