
Adrian dan Bayu menyisir setiap jalan kota, matanya tak henti memperhatikan setiap halte bus yang mereka lewati. Berharap Alya segera ditemukan. Adrian menarik nafasnya untuk mengurai kegelisahannya. Tak lama ponselnya berdering , sebuah panggilan masuk dari Jonathan.
Panggilan pun terhubung.
"Iya , Jo katakan ada informasi apa, yang akan kamu sampaikan.?" Tanya Adrian.
"Bos, menurut petunjuk yang didapat dari rekaman cctv, di sebuah toko roti yang berseberangan dengan rumah sakit , nona Alya menaiki sebuah mini bus."
"Bus , yang dinaiki nona Alya, pemberhentian terakhir halte no. 13 yang tak jauh dari kota ini, ada sebuah kampung kecil di situ bos." Ucap Jonathan mantap memberikan informasi.
"Kamu yakin , tidak salah memberi informasi, jika salah ku potong gaji kamu.!" Ucap Adrian dingin.
"Yakinlah bos, sekarang anak buah saya sedang menyisir daerah perkampungan itu." Jawab Jonathan.
"Saya kirim alamatnya bos , biar anda lebih percaya." Ucap Jonathan.
"Hem, sekarang saya tunggu." Jawab Adrian.
Panggilan pun berakhir. Pikiran Adrian masih gelisah menunggu pesan masuk dari Jonathan.
"Bagaimana, apakah Jonathan menemukan petunjuk.?" Tanya Bayu.
"Iya." Jawab Adrian singkat.
Tak berapa lama ponsel Adrian berbunyi notifikasi pesan masuk. Adrian segera membuka pesan masuk dari Jonathan,dahi nya mengkerut tipis,.
"Ada apa.?" Tanya Bayu.
"Bay, bukankah daerah ini tidak jauh dari tempat kita sekarang.?" Ujar Adrian sembari menyodorkan ponsel ke arah Bayu.
"Iya, jaraknya kurang lebih lima ratus meter dari sini." Jawab Bayu.
Bayu masih mengemudikan mobil dan memperlambat laju mobil, matanya memperhatikan setiap halte bus. Dan benar saja, tidak jauh dari mereka terpampang jelas nomor pemberhentian bus tersebut. Bayu memutar arah untuk mencari tempat parkir yang aman dari jangkauan jalan, agar tidak mengganggu lalu lintas.
Adrian dan Bayu turun dari mobilnya. Mata mereka berotasi di setiap sudut toko yang ada di depan mereka. Mereka mencari perkampungan yang disebutkan Jonathan.
"Di mana ya.?" Ucap Bayu tangannya menggaruk-garukkan kepala yang tidak gatal.
"Bro , ini alamat bener gak sih?" Ucap Bayu.
"Sejak kapan , Jonathan salah memberi informasi.?" Jawab Adrian mendengus kesal.
Tak lama mereka sedang menunggu, Jonathan datang dengan beberapa orang di belakangnya.
"Bos , ini rekaman yang saya salin dari toko itu, coba perhatikan gambar ini , apakah seorang wanita yang menggendong bayi itu adalah nona Alya yang di maksud.?" Tanya Jonathan.
Adrian meraih ponsel Jonathan, dahinya mengkerut dia memperhatikan dengan sangat serius setiap pergerakkan video di dalam layar ponsel itu.
"Bro , ini Alya sedang menggendong bayinya , lalu kemana lagi dia pergi.?"
"Aku rasa dia masih di sekitar sini Bay, dia tidak mempunyai cukup uang untuk bepergian jauh."
"Disini banyak lorong, kita akan menyusuri lorong ini satu-persatu." Ucap Adrian.
"Jika salah satu dari kita terlebih dahulu menemukan , ingat jangan gegabah mengambil tindakan , segera hubungi aku dan jangan membuat keributan.!" Ucap Adrian memberi penjelasan pada anak buahnya.
Tak terasa waktu berjalan dengan begitu cepat. Lima jam menyusuri lorong-lorong belum juga membuahkan hasil pencarian . Hingga mereka berkumpul di sebuah lorong yang tak jauh dari mereka ada mushola.
"Kita istirahat dulu bro, capek."Ucap Bayu dengan nafas tersengal.
Tak ada sahutan dari mereka, mereka pun berjalan dan menuju mushola, lalu duduk di teras mushola itu. Pencarian yang sudah menghabis waktu membuat mereka kelelahan.
"Bro , kayaknya cuma lorong ini yang belum kita telusuri.?" Ucap Bayu memecah keheningan.
Tak ada sahutan , Adrian hanya menganggukkan kepalanya. Tak lama keluar seorang ibu-ibu dari mushola itu. Ibu itu sangat terkejut dengan kehadiran Adrian dan anak buahnya. Adrian menghampiri ibu -ibu itu yang menatap mereka curiga. Adrian yang paham dengan pikiran ibu itu , Adrian mencoba menyapanya.
"Bu , maaf kami ini orang baik-baik, kedatangan kami kesini sedang mencari seseorang." Ucap Adrian.
Ibu yang terlihat tegang , kini pun berubah tersenyum.
"Maafkan saya, saya kira tadi preman-preman kampung sebelah ." Ucap ibu itu.
"Bu, apakah ibu pernah melihat wanita ini dan bayinya lewat di sekitar daerah sini.?" Ucap Adrian sembari menyodorkan ponselnya yang di situ terpampang foto Alya.
__ADS_1
Adrian sempat mengabadikan foto Alya dan bayinya, di saat Alya sedang menggendong bayinya di atas ranjang pasien , di saat itu Alya belum pulih, diam-diam Adrian mengambil foto itu tanpa sepengetahuan Alya.
Ibu yang melihat foto Alya itu pun mengerutkan dahinya.
"Maaf , kamu ada hubungan apa dengan wanita ini.?" Tanya ibu itu.
Adrian diam sejenak sedang memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab ibu itu. Ibu itu menatap curiga ke arah Adrian.
"Eee.. bu,dia sedang mencari istrinya kabur , karena dia selingkuh." Jawab Bayu asal.
Adrian dan ibu itu seketika terbelalak matanya , mendengar pernyataan Bayu. Terlebih Adrian matanya melotot sempurna , dengan ucapan Bayu yang konyol.
"Oalah..mas..mas.., istri sudah cantik begitu kok diselingkuhi, mau cari yang bagaimana lagi,ya…wajar kalau kabur , tampangnya saja tampan , kalau aku jadi istrimu sudah saya kasih racun kamu!" Ucap ibu dengan nada kesal.
Bayu, Jonathan dan anak buahnya mengatupkan bibirnya rapat-rapat menahan tawa yang hampir meledak , karena melihat raut wajah Adrian yang berubah semu merah karena kena omel ibu itu.
Adrian sebisa mungkin menahan amarahnya , karena ulah Bayu dia harus menelan pil pahit di semprot ibu-ibu itu tanpa mengetahui permasalahan yang sebenarnya.
"Kalau saya tidak salah lihat, saya pernah melihat wanita ini , dia tinggal di kontrakan bu Isma dari sini cuma sepuluh rumah belok kanan." Ucap ibu itu.
"Beneran bu, ?" Tanya Bayu semangat.
"Iya, bayinya laki-laki kan .?" Ucap ibu itu.
Adrian menarik nafas lega,setidaknya pencariannya kini tidak sia-sia , karena dia sangat merindukan bayinya.
"Terima kasih bu untuk informasinya." Ucap Adrian mengembakan senyum.
Setelah kepergian ibu -ibu itu, Adrian mengalihkan pandangannya ke arah Bayu, tatapan yang menghunus, Bayu yang merasa bersalah hanya menyeringai menanggapi Adrian.
"Maaf bro, bercanda." Ucap Bayu menyeringai.
"Kamu keterlaluan Bay, masa mau di kasih racun segala, aku kan tidak seperti Jonathan yang doyan ************." Ucap Adrian kesal.
"Kok saya bos.?" Ucap Jonathan protes.
"Saya kan mau insaf bos." Ucap Jonathan.
"Baru mau insaf, belum insaf kan, Jo..Jo.., kalau kamu kena penyakit kelamin baru tahu rasa.!" Ucap Adrian tegas.
"Ayo kita jalan, sebentar lagi sudah mau gelap." Ucap Adrian.
Setelah berjalan dari mushola beberapa meter mereka berhenti di sebuah persimpangan. Sesuai petunjuk yang diberikan oleh ibu itu, mereka pun berjalan belok kanan , mata mereka berotasi mengelilingi setiap sudut rumah yang disebutkan ibu tadi.
"Rumahnya yang mana.?" Disini padat penduduk .?" Ujar Bayu.
Disisi lain, tak jauh dari mereka berdiri terdengar sayup-sayup seseorang berteriak minta tolong.
"Tolong…tolong…"
"Jarot lepaskan dia , dia tidak ada urusannya denganmu, dia tidak bersalah." Ucap bu Isma dalam isak tangisnya.
Tangan Jarot sang preman kampung , mencengkeram tangan Alya dan tak berniat melepaskan itu semakin beringas melihat Alya yang ketakutan. Sorot matanya yang tajam , berubah ketika melihat baju Alya yang robek bagian dada, Alya yang ketakutan pun segera menutup dadanya dengan kedua tangannya.
"Jarot lepaskan dia ,!" Akan ku lunasi hutang - hutang suamiku tapi tolong jangan sakiti dia." Ucap bu Isma memohon.
"Diam.!" Aku tidak peduli lagi dengan hutang suamimu , kamu tidak berniat membayarnya." Ucap Jarot kesal.
"Sudah bos sikat saja.!" Kita yang akan berjaga - jaga di luar." Ucap salah satu anak buah Jarot yang sedang tangannya memegangi tangan bu Isma.
"Tidak , jangan ." Ucap Alya yang ketakutan
"Tolong…tolong…, jangan sakiti saya." Ucap Alya memohon dengan deraian air mata.
Adrian mempertajam pendengarannya , ia berlari ke arah sumber suara tak jauh dari Adrian berdiri dia melihat Alya sedang dibopong oleh seseorang, Adrian menyaksikan perlawanan Alya pada pria itu. Bayu dan Jonathan dan beserta anak buahnya yang mengikuti Adrian dari belakang pun menghentikan langkahnya.
"Itu kan Alya , bro."
Tanpa banyak basa-basi mereka melangkah ke rumah yang terbilang sederhana , melayangkan bogemnya ke arah dua orang yang sedang memegangi ibu Isma. Terjadi baku hantam yang hebat antara Jonathan dan anak buahnya. Sedangkan Bayu menolong ibu Isma menyingkir dari perkelahian itu.
Adrian berlari mendobrak pintu rumah yang terkunci dari dalam , suara tangisan bayi yang ada di dalam rumah itu pun membuat darah Adrian mendidih.
BRAKK
Pintu rumah itu pun terbuka , kemarahan Adrian memuncak menyaksikan Alya yang terbaring pingsan, dengan baju yang terbuka di bagian dadanya ,sedangkan kain rok yang dikenakan Alya pun sudah naik ke atas sebagian.
"Siapa kamu .?" Berani-beraninya mengganggu kesenangan orang."
__ADS_1
Pria itu menghentikan aksinya, menatap tajam ke arah Adrian.
"Bangsat.!" Berani kamu menyentuhnya."
Adrian berjalan dengan langkah lebarnya, tangannya menarik kerah baju pria itu melayangkan tinjunya beberapa kali ke wajah Jarot. Jarot yang tersungkur itu berusaha bangun , Adrian tidak memberi kesempatan kembali melayangkan tinjunya ke wajah Jarot untuk kesekian kalinya , keluar darah segar dari mulut Jarot.
Bugh… bugh…
"Ampun…ampun.." Rintih Jarot.
Beberapa kali dia mencoba bangun,tapi tak berdaya karena akibat pukulan yang membabi buta Adrian , Jarot pun kembali tersungkur.
"Sudah bro , hentikan bro." Teriak Bayu.
Bayu berusaha menghentikan pukulan yang akan dilayangkan Adrian. Dia dengan sigap meraih tubuh Adrian yang akan menindih tubuh lawannya.
"Sudah bro , hentikan.!" Bisa mati dia." Ucap Bayu.
"Dia pantas mendapatkannya.!" Ucap Adrian geram.
Ooeekk …ooeekk
Tangisan suara bayi mengurungkan niat Adrian yang akan kembali melayangkan tinjunya. Tatapannya beralih ke arah Alya yang kini tengah terkapar tak berdaya dengan keadaan yang sangat menyedihkan , hampir saja Alya mengalami pelecehan , membuat Adrian perih menyaksikan itu. Perlahan Adrian mendekati tubuh Alya yang pingsan. Beberapa kali menepuk pipi Alya berusaha membuatnya sadar.
"Bro, kamu urusi Alya dan anaknya, sebentar lagi polisi datang."
"Biarkan polisi yang menangani kasus ini , aku sudah membuat laporan ini." Ucap Bayu.
Adrian menganggukkan kepala. Hati Adrian kembali berdenyut nyeri menyaksikan rumah yang ditempati Alya, selain ruangan sempit dan pengap , juga sudah tak layak ditempati
"Bangun Alya, ayo kita pulang,aku tidak akan membiarkanmu menderita lagi." Adrian membenamkan wajah Alya kedalam pelukannya.
Uhuk…uhukk
Alya yang merasa sesak nafasnya, perlahan bangun matanya berkunang-kunang. Samar dia melihat sosok pria di depannya. Alya pun meronta-ronta ketakutan , berusaha melepaskan diri dari pelukan Adrian.
"Ini aku Alya."
Alya berhenti meronta setelah mengenali pemilik suara yang terdengar sangat familiar di telinganya. Beberapa kali mengerjapkan matanya berusaha mempertajam penglihatannya.
"Tuan Adrian?." Ucap Alya lirih.
"Anakku , jangan sakiti anakku." Rintih Alya dengan bercucuran air mata.
Bayu yang sedang menggendong bayi itu pun paham dan menyerahkan bayi itu ke Alya. Adrian yang sedang duduk berjongkok pun melepas jas yang dipakainya lalu memakaikan ke Alya karena baju yang dikenakan Alya sudah robek.
Tak lama polisi pun datang , dan menangkap Jarot beserta teman-temanya. Kampung itu pun seketika menjadi heboh , karena penangkapan Jarot dan temanya yang selama ini meresahkan masyarakat sekitar.
"Bro,mobil sudah siap di depan lorong." Ucap Bayu
"Alya…, Alya kamu tidak apa-apa."
Ibu Isma datang menghambur memeluk Alya dan bayinya. Terlihat jelas raut wajah bu Isma yang sangat khawatir.
"Alya , tidak apa-apa bu." Ucap Alya dalam isak tangisnya.
"Maafkan ibu." Ucap ibu Isma.
"Maaf bu, saya harus membawa Alya pergi dari sini." Ucap Adrian penuh penekanan.
Alya terdiam, mendengar ucapan Adrian. Alya perlahan memberanikan diri menatap Adrian yang ada di depannya. Dia ingin sekali menolak , tapi bibir Alya kelu sekedar untuk mengucapkan kata. Alya mencoba bangkit dari duduknya, karena nyeri di perutnya Alya pun hampir terjatuh ke lantai. Dengan sigap Adrian menangkap tubuh Alya.
Adrian pun akhirnya membopong tubuh mungil Alya dan bayi dalam gendongannya. Lalu membawanya keluar dari rumah itu. Di luar sudah ramai masyarakat yang berdatangan, mereka sangat senang atas penangkapan Jarot dan teman-temannya.
"Tuan turunkan saya , saya bisa jalan sendiri." Ucap Alya lirih
"Apakah kamu tidak bisa diam, kenapa kamu ini cerewet sekali." Ucap Adrian datar.
"Bro , sini aku gendong bayinya." Ucap Bayu yang sudah berdiri di samping Adrian.
"Tidak usah, biarkan saja aku masih kuat." Jawab Adrian.
Setelah berpamitan dengan pak RT dan warga setempat, dan juga tidak lupa mengucapkan terimakasih pada bu Isma. Adrian dan Bayu, serta Jonathan beserta anak buahnya mereka pun pergi berjalan menyusuri lorong sempit dan menuju mobil mereka.
__ADS_1