
Puspa memasuki rumahnya masih dengan mata sembab, ia duduk dengan menyandarkan punggungnya di sofa, terlihat sekali raut wajah lelahnya, karena semenjak ia diturunkan jabatannya menjadi office girl, ia tak bisa santai seperti dulu main perintah, justru kini sebaliknya dia yang diperintah , harus mengerjakan semua pekerjaan , dari membuatkan minum untuk semua staf belum lagi dia dikerjai oleh staf lain untuk sekedar membeli makanan di luar kantor.
"Ada apa ,Puspa .?" Kenapa kamu seperti habis menangis.?" Tanya ibu Maria.
Tidak ada sahutan, Puspa hanya menggelengkan kepala lalu menghapus air mata yang akan jatuh di pipinya. Maria yang memperhatikan beberapa hari ini , Puspa sering pulang terlambat dengan wajah lelahnya, ia tak ingin menanyakan , tapi tidak kali ini nalurinya seorang ibu tidak akan tega jika melihat belahan jiwanya mengalami kesulitan.
"Katakan nak, apakah kamu punya masalah , siapa tahu ibu bisa membantumu.?" Tanya Maria lembut.
Puspa mendekati ibunya yang duduk di sampingnya, Puspa meletakkan kepalanya di pangkuan Maria,tangan Maria membelai lembut pucuk kepala Puspa, ia merasakan sesuatu telah terjadi pada anaknya, Puspa merasakan kedamaian dalam belaian ibunya.
"Apakah ibu tahu , sekarang kak Alya akan menikah.?" Ucap Puspa dalam isak tangisnya.
"Apa.?" Menikah.?" Ucap Maria dengan bibir bergetar.
"Ya, bu." Jawab Puspa mendongakkan kepalanya.
"Siapa yang akan menikahi Alya, apakah dia laki-laki baik."?" Tanyanya kembali.
Puspa lalu menceritakan semuanya pada ibunya, hingga dia sekarang diturunkan jabatannya.
BRAKK..
Muncul tiba- tiba Baron di balik pintu. Tangan Baron memukul pintu utama, raut wajahnya merah padam tampak sekali dia sedang menahan amarahnya.
"Apa.?" Apa yang kamu katakan Puspa, anak sialan itu akan menikah dengan bos kamu.?" Ucap Baron dengan rahang mengeras.
Hening . Tidak ada sahutan, Puspa dan Maria sangat terkejut dengan kedatangan Baron.
"Aku tidak akan membiarkan dia hidup dengan tenang." Ucap Baron .
"Puspa masuklah ke kamar mu.!" Ucap Maria .
Puspa bangkit dari duduknya , lalu memasuki kamarnya ia menyandarkan kepalanya di balik pintu, ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba ibunya memintanya pergi.
"Sudah cukup.!" Selama ini aku diam, bukan berarti aku membenarkan semua kesalahanmu. "Lihat.! Puspa menderita itu semua karena ego mu." Ucap Maria lantang.
Maria kini sudah tak ingin diam lagi , karena Baron selalu menuntut Puspa di luar keinginannya, apalagi setelah Puspa menceritakan semuanya, membuat hati Maria berdenyut nyeri , menyaksikan anaknya harus menderita.
"Oh , jadi sekarang kamu sudah berani melawanku , Maria.?" Ucap Baron menatap tajam ke arah Maria.
"Seharusnya itu ku lakukan sejak dulu , mas ." Kamu sudah salah melangkah." Ucap Maria dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu akan menyesali, perbuatanmu hari ini Maria." Jawab Baron penuh amarah.
"Tidak mas, kamu tidak boleh lagi melakukan kesalahan , apakah kamu tidak kasihan dengan putrimu.?" Ucap Maria.
"Selama ini aku diam , tapi biarkan Alya hidup bahagia , aku harus memberitahukan kepada keluarga Sudirja,bahwa pewaris Sudirja masih hidup." Ucap Maria
__ADS_1
"Tidak.!"
Baron berjalan mendekat ke arah Maria, tangan kirinya mencakup dagu Maria lalu menaikannya ke atas .
"Tidak akan aku biarkan kamu melakukan itu, sebelum aku mendapatkan harta yang aku mau, dimana kamu simpan berkas-berkas itu.!" Ucap Baron geram.
"Lepas, lepaskan aku , kamu tidak akan pernah mendapatkan apa yang bukan hak mu."
PLAK..PLAK..
Baron melayangkan tangannya menampar pipi Maria, Maria terhuyung hingga jatuh ke lantai. Maria meraba pipinya yang terasa panas menjalar akibat tamparan Baron.
Di balik pintu kamarnya Puspa membungkam mulutnya dengan tangannya, ia sangat terkejut mendengar perkataan ibunya, dulu dia sering berpihak pada bapaknya, tapi tidak kali ini ada rasa iba di hati Puspa, hingga hatinya tergerak untuk keluar kamarnya.
"Sudah , hentikan pak. Tolong jangan lagi melakukan kesalahan ." Ucap Puspa mendekati ibunya lalu membantunya bangkit dari lantai.
Setelah Puspa mendudukkan ibunya di sofa , ia berjalan mendekati Baron.
"Pak, tolong hentikan semua ini , aku tidak mau bapak masuk penjara karena perbuatan kita , perusahaan Dharmawangsa calon suami kak Alya, mempunyai bukti kuat untuk membuat kita masuk penjara." Ucap Puspa dalam isak tangisnya.
"Apa.?"
"Iya pak, karena kecerobohan kita, yang telah mendorong kak Alya waktu itu , terekam jelas di cctv, dan itu bukti kuat untuk kita mendekam di penjara." Ucap Puspa.
"Tuan Adrian , masih berbaik hati membiarkan Puspa bebas dan masih bekerja , walau pun Puspa menjadi OB."
Baron membeku, beberapa kali tangannya mengusap kasar wajahnya, ia tampak gelisah setelah mendegar penuturan anaknya, di sisi lain dia tidak bisa menerima kalau Puspa harus mengalami kesulitan , apalagi bekerja sebagai OB. Pikiran Baron kini benar-benar kalut.
"Katakan bu, siapa sebenarnya kak Alya, kenapa ibu tadi menyebut perusahaan Sudirja, bukan kah itu perusahaan besar dan ternama, lalu ada hubungan apa kak Alya dengan perusahaan itu ." Puspa mencecar ibunya dengan berbagai pertanyaan.
Maria sangat tersudut dengan pertanyaan Puspa , ia menarik nafas dalam - dalam lalu menghembuskannya kasar. Matanya menerawang kejadian beberapa puluh tahun yang lalu.
Maria lalu menceritakan kejadian beberapa puluh tahun yang lalu, dimana ia telah di tolong oleh kedua orang tua Alya saat kejadian kebakaran di panti asuhan, dan ibunya Alya yang telah menawarkan dia sebuah pekerjaan menjadi pengasuh Alya. Hingga suatu hari telah terjadi kecelakaan yang telah merenggut nyawa kedua orang tua Alya.
"Begitulah , Puspa sebenarnya , Alya bukanlah siapa-siapa di keluarga kita, tetapi kedua orang tuanya orang baik, berhati malaikat." Ucap Maria dengan bercucuran airmata.
"Bapak mu , menginginkan berkas itu, di situ tertulis sah pewaris Sudirja." Ucapnya.
"Lalu dimana berkas itu bu." Tanya Puspa khawatir.
"Di tangan yang aman." Jawan Maria.
__ADS_1
Baron yang mendengar itu mendengus kesal, dia menatap nyalang ke arah Maria dan Puspa. Hatinya kini diselimuti marah dan kebencian , keinginannya ingin menguasai harta milik Alya harus kandas karena pernyataan Maria.
*******
Di kediaman Dharmawangsa.
Oma Jayanti sangat geram dengan pemberitaan yang tersebar luas di media.Undangan pernikahan yang sudah di sebar melalui media digital kini menjadi perbincangan hangat di kalangan bisnis dan perusahaan.
"Apa-apaan ini, Adrian dia benar-benar nekat mau menikahi pelac*r itu "Ucap Oma Jayanti geram.
"Kenapa kamu diam saja Vera.?" Tanya oma Jayanti.
Tatapannya tajam mengarah ke mama Vera , pertengkaran hebat kemarin, telak membuat mama Vera tak ingin lagi menghalangi Adrian, Adrian sudah membuktikan kata-katanya, semenjak pertengkaran itu terjadi Adrian belum pulang ke rumah hingga kini, membuat mama Vera merasa kehilangan. Bahkan pernah mama Vera datang ke kantor Adrian , Adrian mengacuhkannya.
"Bukannya menjawab kok nangis.?" Tanya oma Jayanti.
"Vera bingung ma, sudah beberapa kali Vera bertemu Adrian tapi dia mengacuhkan Vera." Ucap mama Vera dengan suara tersendat.
Hatinya kini benar-benar sedih. Berbeda dengan oma Jayanti , dia tidak terpengaruh dengan sikap Adrian , menjaga nama baik Dharmawangsa adalah prioritas utama.
"Aku tidak akan pernah mengakui dia sebagai cucu menantu , sampai kapan pun.!" Ucap oma Jayanti dengan nafas tersengal dadanya naik turun.
"Sudahlah oma, biarkan Adrian bahagia , percuma kita menentangnya." Ujar mama Vera.
"Tidak.!" Aku tidak setuju mempunyai cucu menantu dari kalangan rendahan , apalagi perempuan penghibur, aku tidak percaya penjelasan Adrian." Ucap oma Jayanti penuh penekanan.
Mama Vera hanya terdiam mendengar perkataan oma Jayanti. Tidak ada pilihan baginya selain diam, dia ingin pergi di hari pernikahan Adrian tapi ia takut menimbulkan permasalahan baru.
"Kamu tidak perlu khawatir Vera, biarkan Adrian menikahi perempuan itu, tapi jangan berharap perempuan itu akan hidup dengan tenang." Ucap oma Jayanti.
Mata mama Vera seketika membulat sempurna , dia takut mertuanya itu melakukan hal yang tak di inginkan.
"Ma, mama sedang tidak merencanakan membunuh orang kan.?" Tanya mama Vera.
"Tidak.!" Tapi aku punya rencana sendiri." Ucap oma Jayanti sinis.
"Tolong ma, jangan usik lagi Adrian, biarkan dia bahagia."
"Kamu ini apa-apaan sih Vera, punya menantu seperti itu kamu suka.?" Ucap oma Jayanti.
Oma Jayanti berjalan menuju kamarnya, meninggalkan mama Vera sendiri di ruang keluarga.
Mama Vera terdiam , duduk merenungi setiap kata oma Jayanti. Bukan dia menyetujui pernikahan Adrian dan Alya. Tapi dia takut kehilangan putranya , jika Adrian bahagia hidup dengan pilihannya, apa lagi Adrian sudah menjelaskan padanya bahwa Alya tidak seburuk yang selama ini dia kira, mama Vera ingin membuktikan perkataan Adrian, hanya saja dia mencari waktu yang tepat untuk menemui Alya, apalagi bayu sudah menjelaskan Adrian sangat posesif dengan Alya setelah kejadian insiden Adrian menemukan Alya.
*******
__ADS_1