
Bayu yang baru saja menyelesaikan makannya, ponselnya berdering tertera nama Adrian sang bos besar, dengan segera Bayu mengangkat teleponnya.
Puspa yang baru resmi menjadi menantu di rumah itu, membantu asisten rumah tangganya untuk membereskan meja makan, dengan wajah menyeringai menahan rasa sakit yang berpusat di perutnya, Puspa berusaha untuk tidak menunjukkannya.
Mama Linda yang memperhatikan Puspa , tersenyum puas dengan tindakan yang sudah ia lakukan.
"Puspa, sebaiknya kamu istirahat , biarkan mereka yang bereskan ini semua." Ucap mama Linda seolah mencoba memberikan perhatiannya.
"Sebentar lagi ma." Jawab Puspa menyeringai .
Dengan menyunggingkan senyumnya mama Linda berlalu pergi ke arah kamarnya, seolah mendapat kepuasan tersendiri karena sudah berhasil mengerjai Puspa.
"Rasakan itu , salah sendiri mencari masalah denganku, ini baru awal dan belum untuk selanjutnya, akan aku buat kamu pergi dari sini ." Ucap mama Linda setelah di dalam kamarnya.
Membayangkan mempunyai menantu seperti Puspa, jelas tidak masuk dalam daftar hidupnya, ia terpaksa menyetujui permintaan Bayu , karena dia mengancam tidak akan menikah seumur hidup , jika dia tidak dapat menikahi Puspa.
Bayu yang baru selesai berbincang dengan Adrian, kini berjalan melangkah menuju kamarnya, setelah membuka pintu kamarnya, ia mendapati Puspa sedang terbaring di tempat tidur dengan memegangi perutnya dan menyeringai kesakitan.
"Sayang kamu kenapa.?" Tanya Bayu panik lalu duduk di sisi ranjang tempat tidur itu.
"Gak apa-apa mas, mungkin karena kecapean saja jadi masuk angin." Ucap Puspa menahan rasa sakit yang bergejolak di perutnya akibat makan sup yang diberikan oleh mama Linda.
"Ya sudah mau aku kerokin atau kita kedokter saja bagaimana.?" Ucap Bayu bingung.
"Gak usah mas, ini sudah aku baluri minyak kayu putih , sebentar lagi mungkin enakan." Ucap Puspa berbohong dia tak ingin menimbulkan masalah baru .
"Ya sudah, kalau gitu malam pertama kita tunda dulu ya, besok kalau kamu sudah baikan baru kita mulai." Ucap Bayu membelai lembut pucuk kepala Puspa.
"Tapi mas, sebaiknya kita sholat dulu setelah itu baru kita istirahat." Ucap Puspa yang tak ingin meninggalkan sholatnya.
__ADS_1
"Kalau kamu merasa sudah lebih baik ayo."
Setelah bersuci dengan mengambil wudhu , Bayu mengambil barisan depan dengan menghadap ke kiblat sebagai imam, Puspa yang untuk pertama kalinya shalat, Bayu yang menjadi imamnya dan mendengarkan lantunan ayat suci al'quran yang merdu, seketika membuat jantung Puspa bergetar.
Ia tak menyangka jika Bayu sang suami mempunyai suara merdu, karena selama bekerja di kantor Dharmawangsa , Bayu sosok yang konyol dengan segala ucapan dan tingkah lakunya.
Puspa meraih tangan Bayu dan mencium punggung tangan suaminya.
"Sayang, buka dong hijabnya kita kan sudah sah menjadi suami istri." Ucap Bayu setelah di atas tempat tidur karena Puspa yang masih mengenakan hijab.
"Iya mas, maaf."
Puspa dengan perlahan membuka hijab yang menutupi kepalanya, hingga terlihat rambut panjang terurai Bayu sangat takjub dengan pemandangan yang kini di hadapannya.
"Aku mau , kamu terus seperti ini, menjaga aurat mu di hadapan orang lain, dan menampakkan kecantikanmu di depan ku saja." Ucap Bayu membelai rambut panjang milik istrinya.
"Insya allah mas, bantu aku terus memperbaiki diri , agar aku menjadi bidadari surgamu." Jawab Puspa menatap lekat wajah teduh Bayu.
********
Di kantor Dharmawangsa , pagi itu Bayu melangkah dengan wajah berseri , meskipun Adrian sudah memberi cuti libur, tapi Bayu tetap bekerja , ia merasa tak enak pada Adrian yang sudah memberikan hadiah pernikahan berupa apartemen dan paket bulan madu ke luar negeri, dengan langkah lebarnya ia melangkah ke ruangannya.
Adrian yang tahu jika Bayu masuk kerja , ia langsung menuju ke ruangan Bayu.
"Boleh masuk.?" Tanya Adrian melongokkan kepalanya ke dalam ruangan itu.
"Silahkan tuan Adrian Dharmawangsa, mau kamu usir semua isi kantor pun tak ada yang marah ." Jawab Bayu berkelakar.
Adrian yang paham sifat Bayu, kadang yang konyol tidak mengenal tempat dan waktu , tersenyum lebar menanggapi kelakar saudaranya.
"Pengantin baru kok kerja, kayak tidak punya waktu lain hari saja." Ucap Adrian berjalan duduk menuju sofa di sudut ruangan itu.
__ADS_1
"Aku mau menyusun masa depan yang cerah bro, agar bisa membahagiakan anak dan istri." Jawab Bayu yang duduk berhadapan dengan Adrian.
"Gayamu, perusahaan ini tidak akan bangkrut meskipun kamu cuti lama, kasihan istrimu , sudah kamu tinggal kerja, dan harus menghadapi mama kamu yang susah ditebak sifatnya." Ucap Adrian memberi saran.
Memperbincangkan soal mama Linda dan istri , Bayu seketika merindukan sosok Puspa sang istri yang belum disentuh, ia melewati malam dengan tidur pulas karena kecapean habis menggelar pernikahan walaupun itu sederhana.
"Bay, tetap waspada, perketat keamanan di kantor, karena aku takut kita lengah , dan musuh memanfaatkan kelengahan kita ." Ucap Adrian dingin.
"Iya bro aku tahu itu, aku sudah memasang cctv di setiap sudut ruangan, karena aku tahu, Burhan sosok berbahaya." Ucap Bayu serius.
"Menurut kabar penyidik, tim tidak menemukan mayat Burhan, licin sekali dia, seperti ikan belut susah ditangkap." Ucap Bayu .
"Bay, sebaiknya kamu pulang, Puspa orang baru di rumahmu, bukan aku meragukan tante Linda, sebaiknya kamu temani istrimu." Ucap Adrian sembari beranjak dari duduknya dan melangkah pergi.
Bayu menganggukan kepalanya, ia membenarkan kata-kata sepupunya, mengingat mamanya tidak menyukai Puspa, Bayu pun bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangannya.
Disaat Bayu melangkahkan kaki menyusuri lorong -lorong ruangan , semua pegawai kantor menatap aneh pada dirinya, bahkan ada yang berkumpul dan berbisik-bisik.
"Kalian kenapa menatap saya seperti itu.?" Apakah ada yang aneh dengan diri saya ini.?" Ucap Bayu sembari menyisiri tubuhnya sendiri dari sepatu yang ia kenakan hingga ke atas celana , jas dan baju tidak ada yang janggal dari penampilannya.
"Tidak ada pak, kami hanya …" Ucap salah satu pegawai tidak melanjutkan perkataannya tapi matanya fokus ke layar ponsel yang sedang hidup.
"Hanya apa.?" Jawab.!" Bentak Bayu tak sabar karena tatapan mata aneh membuat Bayu tak nyaman.
"Tidak pak, kami hanya menonton siaran langsung sepak bola, iya kan teman-teman." Ucap pegawai itu meminta dukungan teman sekantornya.
Bayu mengerutkan dahinya, Bayu tidak langsung menelan mentah -mentah , perkataan pegawainya, perlahan ia berjalan mendekati sekelompok orang yang kini ketakutan , karena Bayu berjalan mendekat ke arah dirinya.
"Sini pinjam saya mau lihat!" " Ucap Bayu mengulurkan tangan meminta ponsel itu.
Ragu -ragu pegawai itu memberikan ponselnya, ia takut akan tahu jika Bayu menonton video dalam ponsel yang kini posisi 'jeda' akan membuat Bayu marah.
__ADS_1
*****