
Setelah beberapa hari kepergian Maria, Puspa dengan ditemani Bayu datang ke rumah Alya. Alya yang saat itu sedang disibukkan mengurus Arjuna di kamarnya , terpaksa menghentikan aktivitasnya, Rima yang datang ke kamar Arjuna memberitahukan perihal kedatangan Puspa.
Dengan ditemani Adrian, Alya menemui Puspa yang sedang duduk di ruang tamu.
"Puspa, maafkan kakak ya, kakak akhir-akhir ini sangat sibuk, karena Arjuna lagi aktif -aktif nya." Ucap Alya.
Puspa yang sejak tadi diam , hanya tersenyum , sekilas Puspa memperhatikan penampilan Alya, orang yang dulu tidak pernah memakai pakaian bagus dan branded, berbeda dengan Alya yang sekarang , Alya yang wajahnya terlihat lebih segar dan kulit yang lebih bersih dan terawat, karena Adrian sangat memanjakan Alya dengan mendatangkan SPA ke rumahnya, dengan begitu Alya tidak pernah repot bolak -balik ke salon.
Puspa yang dulu sangat terobsesi dengan seorang Adrian , hanya tersenyum getir , ketika ia mengingat dimana dia tidak mengakui Alya sebagai kakaknya, bahkan dengan tega memfitnah Alya sebagai wanita penghibur, seiring dengan kejahatan yang ia lakukan nyaris merenggut nyawa Alya dia dengan tega menyuruh bapaknya Baron untuk mendorong Alya , Alya yang saat itu sedang hamil besar bahkan belum waktunya melahirkan , karena keadaan darurat Alya harus melahirkan caesar.
"Kak, maafkan Puspa jika kedatangan Puspa mengganggu." Ucap Puspa sendu.
"Hey…kok kamu ngomongnya gitu sih, ada apa kok jadi melow.."Ucap Alya mengerutkan dahinya.
Puspa mengeluarkan kantong kresek berwarna hitam, lalu meletakkannya di atas meja.
"Kak, terimalah uang ini, uang ini dulu adalah hak kakak , tapi dengan keserakahan bapak , uang itu sebagian habis di hamburkan bapak untuk berjudi dan minum." Ucap Puspa dengan menyerahkan kantong kresek berwarna hitam.
"Uang.?" Uang apa ini Puspa kakak tidak mengerti.?" Ucap Alya menoleh ke arah Adrian yang duduk di sampingnya dengan memangku Arjuna.
Puspa yang saat itu dilema , hanya diam dan menghapus air matanya yang sejak tadi ingin jatuh di sudut matanya. Kini dia sadar, akibat keserakahan dengan kesenangan sesaat , perbuatan Baron bisa dibilang karma, telah menyia-nyiakan Alya, bahkan tega menjual Alya ke mucikari.
"Kak, tolong maafkan segala kesalahan orangtua Puspa, mereka sudah menerima karma dari perbuatannya, dan ini uang sisanya, terimalah , Puspa tidak ingin bapak dan ibu di sana disiksa terlebih lama." Ucap Puspa dengan air mata bercucuran.
Puspa yang menceritakan semua kejadian malam itu , setelah mendapat uang dua milyar hasil dari menjual Alya, Baron mengajak keluarganya pergi meninggalkan tempat tinggalnya yang lama, kemudian pindah ke kota, uang itu selain di belikan rumah, juga untuk membelikan mobil Puspa.
Kini Puspa bermaksud mengembalikan sisa uang itu, uang itu ia dapat dari menjual rumahnya dan aset lainnya.
__ADS_1
Adrian dan Bayu hanya terdiam, ketika Puspa menceritakan semuanya, Alya yang saat itu tidak tahu harus berbuat apa terdiam, tidak terasa butiran -butiran kristal membasahi pipinya, haruskah dia bahagia atau senang , yang jelas jauh di dasar lubuk hatinya dia sangat terluka, beruntung malam itu Adrian yang membelinya, jika tidak apalah jadinya hidup yang dijalani saat ini.
Keduanya terhanyut dalam tangis kepiluan, Alya sangat bersyukur dengan kehidupannya sekarang dia sudah mendapatkan suami yang baik, dan juga sudah menemukan keluarganya, apalagi yang dia inginkan , selain berkumpul dengan keluarga yang sangat ia rindukan.
"Puspa, kakak tidak butuh ini, kakak sudah punya segalanya, kakak sangat bahagia mempunyai kamu di dalam hidup kakak, terima kasih sudah menganggap aku ini kakakmu."
"Ambilah uang ini, kakak ikhlas dengan apapun yang terjadi pada kakak, kakak tidak pernah menganggap kedua orang tuamu musuh, mereka juga orang tuaku." Ucap Alya dalam isak tangisnya.
Puspa yang mendengar perkataan Alya semakin pecah tangisnya, ia sangat menyesal telah membiarkan Alya yang saat itu sangat membutuhkan bantuannya, bukannya membantu Puspa yang saat itu sudah bekerja, justru dengan tega tidak mengulurkan tangannya.
"Sebaiknya uang ini kamu gunakan untuk keperluan mu saja." Ucap Alya memberikan uang itu kembali pada Puspa.
"Tidak kak, Puspa masih ada uang kok, Puspa kan kerja dengan hasil Puspa sendiri Puspa akan hidup mandiri dan tidak akan merepotkan kakak lagi." Ucap Puspa menolak keras uang itu dikembalikan padanya.
"Baiklah , kakak terima uang ini, uang ini akan kakak gunakan untuk menyubang panti asuhan saja, gimana mas.?" Tanya Alya menoleh ke arah suaminya.
Adrian dan Bayu yang sejak tadi menyimak pembicaraan mereka, akhirnya Adrian menganggukkan kepalanya menyetujui usulan dari Alya. Setelah lama berbincang Puspa pun pamit dan pergi meninggalkan kediaman kakaknya, dengan perasaan lega Puspa menarik nafasnya dalam-dalam.
*****
"Maaf pak, sudah merepotkan terima kasih sudah menemani saya seharian ini." Ucap Puspa saat tiba di rumah kontrakannya.
"Iya tidak apa-apa, tidak usah sungkan begitu." Jawab Bayu.
Bayu yang belum mendapatkan jawaban dari Puspa, semakin kagum dengan sikap Puspa, di tempat tinggal yang baru di perumahan yang sederhana, kini Puspa tinggal sendiri. Puspa sengaja menjual rumahnya yang penuh kenangan itu karena tak ingin larut dengan kesedihan, jika harus mengingat kedua orang tuanya. Bayu sudah berulang kali meminta Puspa untuk tinggal di apartemennya saja, tapi dengan halus Puspa terus menolak.
__ADS_1
Bayu yang kini dengan gelisah ingin menanyakan tentang jawaban dari Puspa masih enggan untuk beranjak, mata Bayu sesekali mencuri pandang ke arah Puspa.
"Emm.., Puspa maaf jika pertanyaan saya tidak berkenan di hati kamu, saya ingin menanyakan tentang jawaban yang kemarin sempat tertunda." Ucap Bayu yang duduk tidak jauh dari Puspa.
Puspa untuk sesaat terdiam , matanya ia lemparkan ke arah jalanan yang ramai , mereka yang duduk di teras dengan angin semilir menikmati pemandangan yang sore itu , sudah banyak pedagang makanan keliling untuk mencari nafkah . Matanya yang sembab karena tadi habis menangis bersama Alya, kini mulai berkaca-kaca.
Pikirannya kini sibuk mencari jawaban yang tepat untuk Bayu, walaupun sebenarnya Puspa sendiri mempunyai perasaan yang sama, akan tetapi Puspa sadar, perbedaan di antara mereka sangatlah jauh seperti langit dan bumi.
"Apakah penting jawaban itu dari saya pak.?" Ucap Puspa tanpa menoleh ke arah Bayu.
Bayu yang sangat mengharapkan jawaban dari Puspa , kini sangat gelisah karena Puspa begitu tidak menginginkan kehadirannya.
"Iya, itu sangat penting untukku Puspa, apapun jawaban dari kamu , saya siap menerimanya."Jawab Bayu dengan bibirnya gemetar.
"Tapi , jika kamu belum siap sekarang, saya akan sabar menunggunya." Ucapnya lagi.
Puspa menarik nafasnya dalam-dalam , lalu menghembuskannya untuk mengurangi rasa sesak di dadanya.
" Bolehkah saya meminta waktu lagi, agar saya tidak salah memberikan jawaban." Ucap Puspa menatap ke arah Bayu.
"Baiklah , jika itu mau kamu, saya harap jawaban kamu tidak mengecewakan saya." Jawab Bayu
Karena hari semakin gelap, waktu pun memasuki maghrib , Bayu pun berpamitan untuk pulang, Puspa yang saat itu masih di teras melepaskan kepergian Bayu dengan kendaraannya , hingga menghilang di antara kendaraan lainya.
*****
__ADS_1