
Alya perlahan membuka matanya, ia memijat kepala yang terasa berdenyut. Ia teringat akan suaminya, terakhir kali mendapati suaminya terbaring di brankar.
"Sudah bangun.?" Ucap suara lembut Adrian.
"Mas, beneran ini kamu mas." Ucap Alya mengusap kedua pipi suaminya.
Alya yang tidak percaya akan sebuah kenyataan, ia mencoba mencubit tangannya sendiri.
"Kamu istirahat ya, jangan banyak gerak." Ucap Adrian yang duduk di sisi Alya.
Bahagia bercampur sedih menyelimuti dirinya, ia langsung memeluk suaminya. Adrian membenamkan wajah istrinya ke dalam pelukannya.
"Maafin aku ya mas, aku benar-benar istri tak tahu diuntung, suami sendiri sakit tapi tidak mau tahu." Ucap Alya menyalahkan dirinya.
"Seharusnya Mas minta maaf , telah membuatmu khawatir , kenapa kamu tidak cerita jika kamu hamil." Ucap Adrian .
"Apa.?" Hamil.?" Ucap Alya.
"Iya." Jawab Adrian
Alya mengerutkan kedua alisnya, ia mencoba mengingat kapan terakhir kali dia datang bulan, begitu banyak rentetan kejadian dalam hidupnya ia tak bisa mengingatnya.
"Tapi mas, Arjuna masih kecil belum genap satu tahun , kok hamil lagi.?" Ucap Alya panik mengingat Arjuna baru berusia sebelas bulan dan masih membutuhkan dirinya.
"Tidak apa-apa sayang , aku sangat bahagia." Ucap Adrian mencium kening Alya dengan lembut.
Aura dan Bayu yang berada di dalam ruangan itu mengalihkan pandangannya, terutama Aura ia merasa sangat iri pada Alya , Alya sangat beruntung karena dinikahi oleh Adrian, hatinya benar-benar perih menyaksikan kemesraan yang ada di depan matanya.
"Mas , tolong katakan padaku, apakah penyakitmu akan sembuh jika berobat ke luar negeri, jika iya, tolong sembuhlah demi aku dan anak yang ada di dalam kandunganku, ku mohon." Ucap Alya dengan kedua matanya yang basah.
Adrian termangu dengan permintaan istrinya, jika memungkinkan dia akan pergi membawa ikut serta istrinya , tapi karena kehamilan Alya yang kedua rawan akan keguguran terutama jika Alya stres , Adrian hanya dapat menganggukkan kepalanya.
Jujur Adrian sangat bahagia dengan kehamilan Alya yang kedua, itu artinya dia bisa menambah keturunan, dan itu pula yang mendorong Adrian bertekad untuk menyembuhkan dirinya. Akan tetapi sanggupkah Adrian harus berpisah dengan Alya dan Arjuna , itu pula yang membuat Adrian bimbang.
"Bagaimana mas.?" Tanya Alya.
__ADS_1
"Kita pikirkan nanti ya, sebaiknya kita pulang dan beristirahat." Ucap Adrian mencoba kuat.
Tiba di rumah .
Alya dan Adrian disambut dengan kedatangan keluarga Sudirja , yaitu oma Yana, dan tak ketinggalan oma Jayanti. Mereka sangat antusias menyambut kedatangan Alya karena kehamilannya ke dua. Kebahagian menyatu karena keluarga besar ngumpul , tetapi tidak dengan Alya, raut wajah sedih tak dapat ia sembunyikan karena penyakit suaminya.
"Alya kemarilah duduk, oma mau bicara pada mu." Ucap oma Yana setelah semua berkumpul duduk di ruang keluarga.
"Ada apa oma.?" Tanya Alya mendekati oma Yana.
"Aku rasa , mungkin sudah saat nya aku mengatakan hal penting tentang dirimu."
Suasana menjadi hening, menunggu oma Yana melanjutkan bicaranya.
"Alya , ini adalah hak mu, sebagai pewaris tunggal Sudirja , kamu generasi penerus dari Bram anakku, aku serahkan perusahaan ini untuk kamu kelola." Ucap oma Yana menyerahkan map yang diberikan Anton.
"Oma untuk apa semua ini, Alya hanya tamatan sekolah SMA, Alya tak mengerti tentang ini." Ucap Alya .
"Sayang, ini perusahaan papa mu, dan kamu yang harus menjalankannya, jika kamu belum siap, terserah kapan kamu ingin mengelolanya, sementara ini Anton yang menjalankannya." Ucap oma Yana lagi.
"Mas, bagaimana ini.?" Ucap Alya bingung menatap suaminya.
"Mas , apakah mrs Saqueena bisa ngajarin aku tentang bisnis, gak harus tema tentang menyenangkan suami terus." Ucap Alya polos.
Di ruangan itu semua mata tertuju pada Adrian, mereka semua mengerutkan dahinya tak mengerti arah pembicaraan Alya, terkecuali mama Vera. Mama Vera menahan tawanya ia hanya tersenyum menanggapi perkataan Alya.
Adrian menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, apalagi semua mata tertuju padanya, ia tak menyangka istrinya akan mengatakan itu.
"Mrs Saqueena.?" Siapa dia.?" Tanya oma Yana.
"Itu loh oma, dia…"
__ADS_1
"Iya sayang, nanti aku akan bilang sama mrs Saqueena untuk mengajarimu berbisnis." Potong Adrian dia tak mau Alya melanjutkan bicaranya.
"Oh , begitu." Ucap mereka hampir bersamaan.
"Mati aku, kenapa juga Alya harus bahas mrs Saquena, yang ada aku bisa malu dibuatnya." Ucap Adrian dalam hati.
*******
"Apa.?" Kamu mencintai Puspa.?" Dengar ya, Bay mama tidak akan pernah merestui kamu dengan gadis itu." Ucap mama Linda lantang ia menatap lekat wajah Bayu.
"Ma , Puspa itu gadis baik, dia sudah berubah tidak seperti Puspa yang dulu." Ucap Bayu membela Puspa dengan wajah memohon.
"Sekali ular, tetap ular tidak akan berubah menjadi burung, sekalipun berubah itu ular siluman yang bisa menjadi pembawa malapetaka dalam hidupmu."
"Apa kamu lupa, siapa dia , kedua orang tuanya yang telah menjual Alya ke Adrian , beruntung Adrian orang yang baik , jika tidak apa kamu bisa bayangkan apa yang akan terjadi pada Alya ." Ucap mama Linda lagi dengan tatapan menghunus.
Tak dapat dielakkan sebuah kenyataan pahit memang Puspa mempunyai masa lalu yang buruk. Tapi Puspa yang sekarang berbeda dengan Puspa yang dulu.
"Bukankah dulu kamu sangat mencintai Aura, kenapa tidak kamu perjuangkan dia, yang jelas asal usulnya, pendidikannya, bahkan dia tak kalah cantik dengan gadis murahan itu." Ucap mama Linda dengan nada sarkas.
"Ma." Pekik Bayu tak terima orang yang ia cintai di hina oleh ibunya.
"Kenapa ?" Kamu tidak suka.?" Ucap mama Linda mendengus kesal.
Bayu terdiam , ia tampak frustasi mendapati penolakan dari ibu kandungnya. Ia kini baru mengerti di saat Adrian memperjuangkan Alya mati-matian.
"Ma itu dulu, Bayu memang mencintai Aura, tapi sekarang perasaan itu sudah hilang seiring waktu berjalan, dan kini Bayu sangat mencintai Puspa, perasaan itu datang tiba-tiba." Ucap Bayu.
"Cinta.?" Hah.., bedebah dengan kata cinta, dia akan meninggalkanmu jika dia sudah bosan." Ucap mama Linda sinis.
Bayu tidak dapat berbuat apa-apa lagi, sekuat apapun Bayu berusaha , ibunya tidak mau menerima kehadiran Puspa, kemana lagi Bayu akan meminta bantuan , ibunya sangat keras kepala .
Bayu memasuki kamarnya , dengan langkahnya yang gontai ia perlahan membuka pintu kamarnya, ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur, ia pandangi langit-langit kamarnya berharap dia bisa terlelap tidur, dan bangun mamanya bisa berubah pikiran dan dapat menerima hubungannya dengan Puspa. Lama ia mencoba memejamkan matanya, justru yang hadir raut wajah Puspa yang menari-nari di matanya.
__ADS_1