Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
penyelidikan Adrian.


__ADS_3

       Di dalam ruangan terasa mencekam, meskipun Alya sudah ditemani ibu Lastri dan Rani, kehadiran  Adrian membuat canggung suasana. Alya yang belum sepenuhnya pulih itu, tidak dapat bergerak bebas karena tangannya masih terpasang infus.


 


          "Bu, ibu sebaiknya pulang dan beristirahat. Biarkan saya yang menjaga Alya." Ujar Adrian .


 


            Ibu Lastri menoleh ke arah Alya yang masih terbaring lemah. Ada rasa tak nyaman jika dia harus meninggalkan seorang diri tanpa ada yang menemani. Ibu Lastri tidak bisa percaya sepenuh nya dengan laki-laki yang kini berdiri di hadapannya. 


 


             "Tidak apa-apa, saya masih ingin disini menemani Alya." Jawab ibu Lastri.


 


             "Percayalah sama saya bu, nanti kalau ibu ikut sakit bagaimana.?" Ucap Adrian membujuk.


 


             Tidak ada alasan lagi untuk ibu Lastri tidak mengikuti perintah Adrian. Karena dia juga sudah waktunya masuk kerja. Ibu Lastri meminta izin pada kepala pelayan di rumah majikannya waktu seminggu , karena mendapat kabar Alya di rawat di rumah sakit. Waktu yang ditentukan pun sudah berakhir, tidak mungkin baginya untuk menambah waktu libur kerjanya, ibu Lastri khawatir kalau dia dipecat, sedangkan untuk mencari pekerjaan saat ini sangatlah sulit.


 


             "Alya ibu pulang ya, nanti ibu kesini lagi nengokin  kamu." Ibu kerja dulu, kasihan Rani sebentar lagi bayaran sekolah." Ucap ibu Lastri sendu.


 


             "Iya bu, tidak apa-apa , Alya sudah sehat kok." Ucap Alya lirih.


 


            Ibu Lastri dan Rani akhirnya pulang, setelah berpamitan pada Alya. Alya menatap perih kepergian mereka. Sebenarnya masih ingin didampingi oleh ibu Lastri , di saat seperti ini Alya merindukan sosok seorang ibu. Apalagi saat dia belum siuman, Alya bermimpi bertemu ibunya, walaupun hanya dalam mimpi tapi buat Alya seperti ada di dunia nyata.


 


            "Apa kamu membutuhkan sesuatu.?" Tanya Adrian 


 


           Adrian yang sejak tadi memperhatikan Alya sangat murung , setelah kepergian ibu Lastri dan Rani , ia mencoba menghampirinya. Ingin rasanya dia berbincang , tapi suasana mendadak canggung karena sifat dingin Adrian. Di dalam ruangan itu hanya menyisakan mereka berdua.


 


            Adrian memperhatikan Alya sangat gelisah ia paham dengan kehadirannya , membuat Alya tidak nyaman.


 


           "Bagaimana, apakah ada yang kamu rasakan sakit. Jika ada katakan saja.!" Tanya Adrian.


 


           Adrian menarik kursi dan duduk di sisi samping Alya.


 

__ADS_1


           "Sa..saya baik-baik saja tuan." Jawab Alya dengan bibir bergetar.


 


           Ingin rasanya Alya menjerit dan minta tolong, dan lari sejauh mungkin dari orang yang kini duduk di sisinya. Bagi Alya kehadiran Adrian adalah sosok tuan takur yang sangat ia takuti.


 


             "Oh ya, ada yang ingin kutanyakan. Bagaimana kamu bisa jatuh malam itu.?" Tanya Adrian menatap lekat wanita di hadapannya.


 


            Alya terdiam sejenak, ia mengingat bagaimana malam itu ia berjalan ingin cepat-cepat menghindari Adrian. Mau menjawab pertanyaan Adrian lidah Alya sangat kelu ia sangat takut dengan sosok Adrian.


 


             "Di waktu sa..saya berjalan seperti ada yang mendorong saya tuan." Jawab Alya terbata-bata. 


 


              "Kamu yakin.?" Kamu melihat orang yang mendorong mu.?" Tanya Adrian menatap intens Alya.


 


               "Saya yakin. Dan saya tidak  melihat orangnya." Jawab Alya gemetar.


 


            Kedua tangan Adrian mengepal, mendengar jawaban polos Alya. Adrian hanya ingin memastikan apakah Alya benar-benar tidak tahu siapa orang yang telah mencelakainya. Pikiran Adrian seketika melayang dengan rekaman cctv yang dikirimkan Bayu. Di rekaman itu terlihat jelas Puspa dengan seorang laki-laki berjubah baju hitam, mereka berdiri menunggu tak jauh dari tangga.  Setelah Alya berjalan sedang menuruni anak tangga di saat itulah lelaki itu beraksi, ia mendorong Alya dan Alya jatuh terjerembab dengan mendarat perut terlebih dahulu.


 


 


           Terlebih lagi Adrian sudah mengetahui bahwa bayi itu adalah benih nya yang dia tanam malam itu. Hasil tes DNA sudah keluar beberapa hari yang lalu. Dan terbukti bahwa memang benar bayi itu adalah anaknya. Ia tak dapat membayangkan jika terjadi yang tak diinginkan pada pewaris Dharmawangsa.


 


              "Katakan saja tidak usah sungkan, jika kamu butuh sesuatu." Tanya Adrian.


 


            Karena sejak tadi Adrian memperhatikan Alya begitu gelisah.


 


              "Saya ucapkan terimakasih tuan,karena anda sudah menolong saya, nanti saya akan bekerja keras untuk mengganti semua biaya rumah sakit ini." Ucap Alya.


 


           Adrian tidak menjawab . Ia tidak menanggapi ucapan Alya sekilas dia menatap datar ke arah Alya.


 


          "Bagaimana cara mu mengganti uang di dompetmu saja hanya lima belas ribu." Gumam Adrian dalam hati.

__ADS_1


 


        Mata Alya berotasi , ia memindai ruangan yang kini ia tempati tidak mirip dengan ruangan rumah sakit.  Ruangan itu sangat mewah lebih mirip dengan hotel berbintang, dari fasilitasnya saja, Alya sudah dapat menebak ruangan itu sangat mahal.


 


           "Oh ya, aku ingin bertanya , siapa ayah biologis bayi yang kamu lahirkan.?" Tanya Adrian menatap lekat pada Alya.


 


           Seketika jantung Alya terpompa cepat mendengar pertanyaan Adrian. Tubuhnya bergetar dan berkeringat dingin  sebisa mungkin ia menahan rasa sakit di dada. Bagaimana tidak pertanyaan itu kini benar-benar menghujamnya. Laki -laki yang sudah menanamkan benih padanya itu dulu pernah mengancamnya. Alya benar-benar takut atas keselamatan bayinya.


 


              Alya pun memberanikan diri sekilas menatap Adrian.


 


              "Saya hamil dengan laki-laki lain yang sudah menyewa saya tuan." Jawab Alya.


 


              Sakit memang dia harus memberikan jawaban itu. Ia tak ingin meneteskan air mata di depan laki-laki yang telah mengambil kesuciannya. Alya berpikir mana mungkin laki-laki terhormat seperti dia mau mengakui anak yang dilahirkan wanita seperti dia.


 


              Adrian hanya tersenyum kecut. Dia sudah menebak Alya akan memberikan jawaban itu.


             "Apakah ibu dan gadis kecil itu keluarga kandungmu.?" 


 


              "Bukan , mereka yang sudah menolong saya, saya hidup sendiri tidak punya keluarga tuan." 


 


              "Lalu , siapa yang sudah menjualmu malam itu.?" 


 


             Sontak saja Alya terkejut, mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari Adrian. Ruangan itu baginya kini seperti ruangan pengadilan dimana kini dia seperti terdakwa . Alya hanya terdiam dia tidak dapat menjawab pertanyaan Adrian untuk kali ini. Tak terasa butiran kristal kini membasahi kedua pipinya. Alya pun terisak dalam tangisnya.


 


              Adrian yang menyaksikan itu , hatinya terasa nyeri miris memikirkan nasib Alya yang yang sudah hidup di jadikan taruhan judi bapaknya, dan di dalam rekaman cctv itu Puspa ikut berperan dalam jatuhnya Alya.


             "Tidak perlu kamu jawab pertanyaanku, jika kamu tidak ingin menjawabnya." 


           Rahang Adrian kini benar -benar mengeras , giginya bergemeletuk menahan amarahnya. Tidak dapat ia bayangkan jika malam itu Alya bertemu dengan laki -laki bejat , yang menjadi pertanyaan Adrian kenapa seorang ayah tega telah menjadikan anaknya sendiri menjadi taruhan judi.


             Adrian berusaha meredam amarahnya , kini pikiranya sibuk memikirkan bagaimana ia membalas perbuatan Puspa dan laki-laki yang sudah bekerjasama dengannya. Melaporkan ke polisi hukuman terlalu ringan buat Puspa.


 


            Dan akhirnya bibir Adrian menyunggingkan senyum. Setelah lama ia berpikir bagaimana cara membalas perbuatan Puspa. Puspa yang sudah berusaha mencelakai Alya dan dia hampir saja membunuh pewaris Dharmawangsa.

__ADS_1


               *****


__ADS_2