
Celine yang sedang duduk santai diruang keluarga pandangannya tak lepas dari ponselnya. Terkadang dia tersenyum sendiri dan mengerutkan dahinya.
"Hei.., anak papa kenapa senyum-senyum sendiri.?"
"Eh, papa bikin kaget saja, gak pa, nih.." Celine menunjukkan layar ponselnya ke Burhan
Burhan mengerutkan dahinya tipis, seolah mengingat photo dalam layar ponsel Celine.
"Iya, kenapa dengan dia kamu suka.?" Tanya Burhan menggoda Celine.
"Ih.., papa bukan itu , coba lihat judul beritanya dong pa..,sekarang ini lagi ramai jadi perbincangan di medsos." Ucap Celine.
"Wajarlah , dia orang terkenal di kalangan bisnis. Selain tampan dia cerdas dan berprestasi , papa kagum sama dia , masih muda dan dia itu pengusaha sukses." Jawab Burhan sangat antusias.
"Ih.., papa judul beritanya Adrian kabur dari pertunangan . Sekarang ini menjadi berita hangat karena dia selain kabur juga membatalkan pertunangannya." Ucap Celine.
"Iya, papa dengar- dengar begitu. Kok, sepi pada kemana oma dan mama.?" Tanya Burhan.
"Mama biasa pergi sama teman - teman sosialitanya arisan, kalau oma tadi ada tamu itu si paman jangkung." Jawab Celine sembari mulutnya mengerucut menunjuk ke arah ruang perpustakaan oma Yana.
"Anton , kenapa dia ke sini.?"
"Oh ya , sayang papa tinggal dulu ya , papa ada kerjaan." Ucap Burhan sembari tangannya mengelus kepala Celine.
"Ok pa." Jawab Celine.
Burhan sudah tahu bila kedatangan Anton untuk menemui oma Yana pasti ada hal penting yang akan disampaikan. Burhan berjalan dengan langkah terburu-buru menuju ke ruang pustaka. Dia ingin mengetahui berita apa yang disampaikan Anton. Tiba di ruang perpustakaan Burhan dengan pelan menghentikan langkahnya. Telinganya ia dekatkan ke pintu ingin mendengarkan perbincangan oma Yana dan Anton.
"Aku sangat merindukannya Anton, tolong jaga dia untukku, bila waktunya sudah tepat aku akan menemuinya." Ucap Oma Yana.
Terdengar samar di telinga Burhan, dapat disimpulkan bahwa benar dugaannya Anton membawa berita penting.
"Benar dugaanku, Anton benar- benar bisa diandalkan , ternyata aku kalah cepat darinya." Gumam Burhan.
Burhan segara meninggalkan ruang perpustakaan itu. Dia berjalan ke arah ruang kerja pribadinya. Ia mengeluarkan ponsel miliknya dan menghubungi nama yang tertera di ponsel itu.
Panggilan pun tersambung.
"Kalian sebenarnya bisa kerja gak sih.?" Giliran duit saja kalian nomor satu. Tapi kerjaan kalian nol.!" Ucap Burhan dalam kemarahannya.
__ADS_1
"Siap bos , ini juga lagi kerja bos sesuai perintah, kami ada berita penting bos tentang nona muda."
"Katakan.!"
"Nona muda bekerja sebagai sekretaris di perusahaan Dharmawangsa bos." Jawab suara di seberang telepon.
"Jika memang benar begitu, awasi dia jangan sampai ibuku mengetahui terlebih dahulu. Jika ada kesempatan culik dia." Ucap Burhan .
Burhan memutuskan sambungannya,amarahnya kini meledak-ledak mengetahui bahwa pewaris tunggal Sudirja masih hidup.
"Bisa kacau semua rencanaku , jika ibu mengetahui bahwa anaknya Bram masih hidup. Semua akan sia-sia apa yang aku kerjakan selama ini.
Pikiran Burhan kini sangat tertekan, ia tak ingin semua aset yang kini kelola akan jatuh di tangan yang tepat. Dia hanya menginginkan Celine yang harus mewarisi semua harta Sudirja corp.
*****
"Ini kopinya."
Maria meletakkan secangkir kopi di meja ruang keluarga. Di situ duduk Baron dengan santai isapan rokoknya mengepul ke udara memenuhi ruangan. Di saat Maria mau melangkahkan kaki meninggalkan Baron . Langkahnya terhenti dengan suara Baron yang memanggilnya.
"Maria tunggu. Jika kamu baik seperti ini kamu pasti menginginkan sesuatu dariku.?" Ucap Baron menatap Maria.
"Katakan jika aku berkenan akan ku kabulkan permintaanmu." Ucap Baron yang paham dengan sikap manis Maria.
"Benarkah.? Apakah kamu akan menyetujuinya.?" Ucap Maria cemas.
"Iya tergantung permintaan mu.?" Ucap Baron matanya memindai tubuh Maria.
"Aku ingin pergi ke rumah tuhan ku untuk mengadukan segala kegelisahanku. Kamu tahu kan aku anak yang tidak punya orang tua ataupun saudara, dengan kebaikan nyonya Anita dan Tuan Bram dia sudah menolongku tanpa memperdulikan aku ini siapa dan agama ku apa.?" Ucap Maria sendu.
Ingatan Maria menerawang beberapa puluh tahun yang lalu. Di mana Bram dan Anita sedang mengadakan amal di sebuah panti asuhan ""BUNDA MARIA." Di saat itu terjadi kebakaran rumah warga dan api pun menjalar ke panti asuhan. Panti asuhan pun habis tak tersisa dilalap si jago merah. Anak panti asuhan itu pun sebagian di pindahkan ke beberapa yayasan milik Sudirja dan sebagian di adopsi oleh seseorang. Maria yang saat itu tidak punya tempat tinggal hanya bisa pasrah meratapi puing -puing bekas bangunan yang sudah hangus itu.
Dan akhirnya Anita menawarkan pekerjaan untuk bekerja di rumahnya. Untuk menjaga Alya yang saat itu masih bayi. Di usianya yang tak lagi muda Baron datang melamarnya , saat itu Baron diberi kepercayaan Bram untuk mengawasi proyek-proyeknya yang di luar kota. Meskipun mereka berbeda keyakinan Baron tetap mempersunting Maria sebagai istrinya.
"Baiklah kamu boleh ke pergi. Tapi kamu ingat,! jangan pernah kamu datangi kediaman Sudirja, jika tidak kamu tahu sendiri akibatnya.!" Ucap Baron tegas.
"Aku mengerti, percayalah padaku." Ucap Maria.
__ADS_1
Hati Maria sedikit lega, dengan dia bisa keluar rumah untuk beribadah ke gereja ia bisa meminta bantuan temannya yang tinggal tak jauh dari gereja tersebut.
****
Satu minggu sudah berlalu Adrian harus bolak-balik ke apartemennya dan rumah sakit. Demi untuk merawat Alya dia harus memberikan alasan pada oma dan mamanya bahwa dia pergi ke luar kota untuk beberapa hari.
Tiba di ruang perawatan di sana tampak berbaring Alya yang sedang terbaring, belum juga ada tanda-tanda Alya akan siuman. Akibat benturan di kepala dan pendarahan yang hebat mengharuskan Alya menjalani operasi.
Adrian berdiri di sisi Alya. Tangannya meraih tangan Alya dan menggenggamnya.
Di bawah alam sadar Alya.
"Alya , kamu mau ke mana.?" Tanya seorang berjubah putih dengan wajah berseri dan bersinar itu.
"Kemarilah itu bukan jalan arah pulang.?"
Alya menoleh ke arah sumber suara di mana sekarang dia tidak mengenali tempat yang sangat asing baginya , tapi ada orang yang memanggilnya.
"Kamu siapa.? Dan aku di mana.? Kenapa kamu mengenalku.?" Tanya Alya heran.
"Aku adalah ibumu Alya." Jawab wanita itu tersenyum ke arah Alya.
"Ibu , benarkah?" Kenapa baru sekarang ibu menemuiku,Alya sangat rindu sama ibu."
Alya mendekati wanita yang menyebut dirinya adalah ibu Alya. Alya mengamati wajah wanita itu setiap incinya, wanita itu tampak cantik dan berseri tanpa sedikitpun ada cacat pada dirinya.
"Kemarilah nak."
Wanita itu merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Alya ke dalam pelukannya. Alya seperti terhipnotis berlari menghambur ke pelukan wanita itu.
"Ibu.., benarkah engkau ibuku. Alya rindu ibu , Alya mau ikut ibu." Ucap Alya di sela tangisnya.
"Hei.., jangan menangis, belum saat nya kamu mengikuti ibu sayang . Kamu harus pulang." Ucap wanita itu kedua tangannya menghapus pipi Alya yang di banjiri air mata.
"Jika memang engkau ibuku tolong izinkan aku ikut bersama mu." Ucap Alya dalam isak tangisnya.
"Tidak Alya , kamu harus pulang. Lihat kesana.!"
Wanita itu menunjuk ke arah pintu di sana sudah berdiri seorang laki-laki, yang sedang menggendong seorang bayi. Alya menoleh ke arah di mana wanita itu menunjukkan jarinya. Alya sangat terkejut, dengan pemandangan yang di hadapannya. Berdiri Adrian yang sedang menunggu dirinya dan menggendong seorang bayi.
__ADS_1
*******