Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
Di hari pertunangan 2.


__ADS_3

      Adrian yang sedang menenangkan diri di luar ruangan, pertemuannya dengan Alya untuk kesekian kalinya, benar - benar membuatnya kehilangan fokus.


 


          Akan tetapi entah mengapa pikiran Adrian selalu memikirkan Alya si wajah polos itu.


 


             Lamunan Adrian seketika buyar , tatkala dia mendengar suara keributan yang berasal dari kerumunan orang- orang yang tak jauh dari tempatnya dia duduk. Seolah ada kepanikan di sana.


              "Maaf pak, di sana ada apa ya, pak.?" Adrian bertanya dengan seorang petugas ballroom yang tampak berjalan terburu-buru.


 


                "Itu disana, ada wanita hamil jatuh dan pendarahan." Jawab pria itu.


 


 


           Dahi Adrian seketika mengerut tipis entah mengapa pikiran nya langsung tertuju pada Alya.


 


             


                Argh…


 


        Alya menjerit kesakitan ketika merasakan sakit yang sangat luar biasa menjalar semakin kuat di perut. Jiwa dan raganya rasa hendak tercabut, di saat rasa sakit itu datang beruntun. Bahkan sudah beberapa kali Alya mencoba menggerakkan tubuhnya  tapi terasa sulit.


 


           Mata Alya perlahan menutup dan terbuka secara perlahan. Tampak penglihatannya di sekeliling terasa buram, dalam pandangannya, dan waktu terasa seolah bergerak pelan. Nafas Alya terengah-engah.


 


           Antara sadar dan tidak Alya masih dapat mendengar, hiruk pikuknya orang yang berada di sekitarnya. Hingga tak berapa lama ia merasakan tubuhnya ada yang memeluknya erat,entah siapa akan tetapi Alya yang di antara sadar dan tidak masih dapat menghirup aroma parfum yang menguar dari tubuh yang sedang memeluknya.


         


 


              "Bangun Alya." 


 


         Alya merasakan ada seseorang yang sedang berusaha menyadarkannya . Kedua pipinya berkali-kali ada yang menepuk pelan, serta meneriakkan namanya dengan panik. Berteriak persis di telinganya.


 


              "Bertahanlah, Alya aku akan membawamu ke rumah sakit." 


 


            Alya merasakan seketika tubuhnya melayang seperti ada  seseorang yang sedang mengangkat tubuhnya. Entah akan dibawa kemana Alya hanya pasrah.


             Perlahan Alya mencoba membuka mata, namun semuanya tampak begitu gelap, yang terlihat hanya bayangan samar dan kesadarannya pun mulai menurun.


 


            


           Adrian berjalan mondar-mandir dengan gelisah di depan sebuah ruangan yang berpintu kaca. Sudah satu jam Alya berada di ruangan itu tetapi belum ada dokter yang keluar untuk memberitahu keadaan Alya.


 


               Adrian tampak frustasi , ia menghempaskan tubuhnya di kursi ruang tunggu , bahkan Adrian tidak menghiraukan ponselnya sudah beberapa kali berdering , seluruh pikirannya sekarang hanya tertuju pada Alya dan bayi dalam kandungannya.


     


           


            "Maaf pak, permisi apa anda suami pasien.?" Tanya seorang dokter wanita yang tiba-tiba muncul di balik pintu.


 


     


            Hening. Adrian terdiam, ia tidak tahu harus memberi jawaban apa, karena panik membuatnya tidak dapat berpikir jernih. Lidahnya terasa kaku.


                 "Kenapa,Dok.?" 


 

__ADS_1


                 "Kondisi pasien sangat lemah dan sekarang tidak sadarkan diri. Dan harus segera diadakan tindakan operasi. Jika tidak bisa membahayakan ibu dan anak yang berada di dalam kandungan."  Dengan lugas Dokter itu memberi penjelasan.


 


             Layaknya tersambar petir di siang bolong, Adrian tiba-tiba merasakan seluruh tubuhnya gemetar, dadanya terasa sesak, seolah udara yang berada di dalam ruangan itu tidak cukup baginya untuk bernafas. Perasaan aneh itu benar-benar menyiksa seolah yang berada di dalam sana adalah anak dan istrinya.


               


            "Tolong lakukan saja yang terbaik Dokter, tolong selamatkan dua-duanya." Ucap Adrian dengan suara bergetar.


 


           "Baiklah pak , mari ikut saya ke dalam.!" Ucap dokter itu.


 


          Tanpa berpikir panjang , Adrian mengikuti langkah Dokter itu masuk ke dalam. Di dalam ruangan itu , terlihat salah satu Dokter sedang menyiapkan peralatan medis, dan disana seorang suster yang tengah menyiapkan berkas-berkas. Sementara Alya sedang berbaring di ranjang pasien dalam keadaan tidak sadarkan diri. Di sisinya ada dua orang perawat yang tengah kesulitan melepaskan pakaian yang penuh noda darah.


 


           Entah dorongan dari mana , Adrian segera menghampiri kedua perawat itu dan membantu melepaskan pakaian Alya. Hingga menampakkan perut buncit itu.


 


            Sejenak Adrian menatap wajah pucat Alya.


 


           Tanpa Adrian sadari sebelah tangannya terangkat mengelus perut buncit itu, begitu telapak tangan Adrian bersentuhan dengan permukaan perut , ada perasaan aneh yang sulit ia gambarkan.Adria merasakan pergerakkan dari dalam sana seolah merespon sentuhan tangan Adrian.


         


 


                  *****


 


        Sementara itu di gedung ballroom.


 


           Raisa tengah gelisah di tengah keramaian. Sudah dua puluh menit ia mencari Adrian di antara kerumunan tamu. Karena sebentar lagi acara inti yaitu peresmian pertunangan dengan pertukaran cincin akan segera dimulai. Akan tetapi , calon tunangannya itu tak kunjung muncul. Entah kemana perginya Adrian.


 


 


           Wanita itu juga panik sama seperti Raisa.


 


          "Iya tante, aku sudah cari kemana-mana. Tapi Adrian tidak ada." 


 


            Raisa menjatuhkan tubuhnya di kursi. Matanya mulai melelehkan cairan kristal bening jatuh ke pipinya.


 


           "Tadi Adrian, tidak pamit sama kamu mau kemana.?" Tanya mama Vera lagi.


 


              Raisa tidak menyahut , ia hanya menggelengkan kepala. Sejak tadi ibunya yang duduk di samping Raisa mencoba menenangkan putrinya.


 


               "Kita tunggu saja dulu ya, siapa tahu Adrian ada keperluan mendadak. Tidak mungkin Adrian meninggalkan pertunangannya sendiri, dia pasti kembali." Ucap mama Vera membujuk Raisa. Tangannya mengusap bahu Raisa.


 


               "Kamu sudah mencoba telepon dia belum .?" 


 


                 "Sudah tante, tapi tidak ada jawaban." 


 


              Raisa mulai terisak-isak hingga make up nya yang memoles wajahnya mulai luntur.


 


             Melihat keadaan seperti akan kacau gara-gara kepergian Adrian tanpa pamit, mama Vera tidak dapat menyembunyikan lagi rasa kekhawatirannya. Bisa malu keluarga mereka jika sampai Adrian tidak kembali. Sedangkan acara sebentar lagi akan dimulai.

__ADS_1


     


            Sedangkan dari arah pintu terlihat Bayu sedang berjalan ke arah mereka dengan langkah tergesa-gesa.


 


                 "Tidak ada." 


 


        Informasi yang disampaikan Bayu membuat Raisa seketika lemas. Pikirannya kacau tidak karuan, Raisa menebak Adrian sengaja pergi karena ingin mempermalukannya. Tega sekali dia.


 


             "Kamu yakin Bay, sudah mencari Adrian kemana-mana. Di taman, di belakang , atau mungkin ke toilet." Mama Vera mencecar untuk memastikan.


 


              "Aku sudah keliling tante, tapi memang Adrian tidak ada.!  Mobilnya juga tidak ada di parkiran.


 


              "Ya ampun, lalu kemana Adrian pergi.?" 


 


              Mama Vera membuang nafas kasarnya. Tak tahu harus berbuat apa lagi. Marah dan geram atas ulah putranya. Ia iba melihat Raisa yang kini menangis terisak- isak.


 


             "Tadi ada petugas keamanan bilang , ada karyawati catering jatuh di tangga dan mengalami pendarahan, Adrian membawa pergi ke rumah sakit." Ucap Bayu panik.


 


             "Kerumah sakit mana.?" Tanya mama Vera mengerutkan dahinya.


 


              "Tidak tahu tante, katanya Adrian yang menggendong wanita itu ke mobilnya dan langsung pergi. "


          


        Raisa dan mama Vera tersentak mendengar penuturan Bayu.


 


         "Jadi bagaimana ini jeng.?" Bisa-bisanya anak jeng Vera meninggalkan acara penting begini, hanya demi seorang karyawati catering, memangnya ada hubungan apa anak jeng Vera dengan orang itu.?" Tanya ibu Laras memprotes.


 


            "Maafkan saya , jeng Laras saya benar- benar tidak tahu,bisa saja niat Adrian hanya membantu orang itu karena panik kan .?" 


 


           Mama Vera melirik ke arah Bayu.


 


             "Kamu sudah hubungi Adrian Bay.?" Tanya mama Vera mencoba menyakinkan.


 


             "Sudah tante, tapi tidak ada jawaban.chat  ku pun tidak di baca dan tidak di balas." Jawab Adrian


 


           Suasana pun semakin mencekam, mama Vera tidak habis pikir dengan tindakan Adrian yang sangat gegabah. Semakin frustasi saja mama Vera dibuatnya.


 


              "Raisa sayang, bagaimana kita tunggu dulu Adrian sampai datang, siapa tahu dia di jalan perjalanan kembali mau ke sini."  Ucap mama Vera menyakinkan.


 


            Tidak ada jawaban dari Raisa , pikirannya benar-benar kacau, dia sangat kalut dan takut. Bagaimana jika Adrian tidak kembali.


 


                   *****


            


 


   

__ADS_1


__ADS_2