
Di kediaman Dharmawangsa bangunan yang mewah dan megah serta desain rumah yang elegan menunjukkan bukan sembarang orang pemilik bangunan rumah tersebut.
Adrian masih di kamarnya sepulang dari kantor ia membuka layar laptop nya. Begitulah Adrian yang gila dengan pekerjaannya, Adrian akan menghabiskan waktunya di kamar dengan melanjutkan pekerjaannya di rumah. Terdengar beberapa kali pintu kamarnya di ketuk.
" Ya masuk tidak di kunci.!" Ujar Adrian.
Dari arah pintu memunculkan seorang asisten rumah tangga. Mata Adrian hanya melirik sekilas lalu kembali ke layar laptopnya.
"Maaf den, makan malam sudah siap. Nyonya sudah menunggu di ruang makan." Ucap asisten rumah tangga tersebut.
"Bilang sama mama sebentar lagi ya bi, lagi nanggung nih." Ucap Adrian
Setelah kepergian asisten rumah tangga. Adrian mematikan layar laptop nya. Ia berjalan menuju ruang makan,di sana sudah menunggu mama Vera dan Raisa. Mereka tampak sedang ngobrol, entah apa yang mereka bicarakan. Tanpa menyapa Adrian bergabung di meja makan. Bahkan Adrian tak melirik Raisa meski sedikit pun.
"Hai..Adrian, selamat malam." Ujar Raisa sembari memberi senyum terbaiknya.
"Hemm."
Adrian hanya menjawab dengan deheman saja, tanpa menoleh ke arah Raisa.
Membuat mama Vera gemas dengan sikap putranya. Lalu mencubit pinggang Adrian.
"Ihh…mama sakit ." Adrian menyeringai kesakitan.
"Kok, cuma hem sih jawabnya."
" Yang bener dong.!" Ujar mama Vera.
"Iya mah, maaf Adrian lagi sakit gigi nih."
Mama Vera benar- benar dibuat kehilangan akal karena ulah Adrian.
Adrian sama sekali tak melirik ke arah Raisa. Malam ini Raisa benar- benar tampil semaksimal mungkin, semua benda yang melekat di tubuh Raisa barang branded dan mahal. Tentu saja makan malam ini Raisa ingin mencari perhatian dari Adrian . Raisa ingin membuat Adrian terpesona.
"Malam ini kamu cantik sekali, Raisa." Ucap mama Vera memuji.
"Terima kasih tante, tante juga cantik dan anggun." Ucap Raisa balik memuji.
Raisa memandangi menu makan yang terhidang di meja makan semua hidangan tampak enak dan lezat, memang beda kalau rumah orang kaya dan sultan.
Makan malam berlangsung dengan obrolan Raisa dan mama Vera.Adrian tampak tak peduli dengan obrolan kedua wanita di hadapannya.
"Oh ya , Adrian kapan kamu ajak Raisa fighting baju, dan mencari cincin tunangan kalian ." Ucap mama Vera.
Adrian tak langsung menjawab pertanyaan mama nya.Adrian yang sedang mengunyah makanan seketika tersedak mendengar perkataan mamanya.
__ADS_1
" uhuk…uhuk…, terserah mama aja." Ucap Adrian sembari minum.
" Loh kok terserah mama sih.? Kan yang mau menikah kan kamu." Jawab mama Vera mengernyitkan dahinya.
Adrian hanya diam mendengar protes dari mamanya. Karena separuh pikiran nya masih memikirkan kandungan Alya. Karena Adrian sekarang masih menunggu kabar dari Jonathan.Jika memang benar Alya yang mengandung anaknya bagaimana cara dia memberitahukan kepada keluarganya.
"Udah dulu mah.Adrian capek mau istirahat." Adrian bangkit dari duduknya.
"Eh, kita belum selesai bicaranya Adrian." Mama Vera mencoba mencegah putranya.
" Biarkan saja tante." Raisa ikut bicara.
"Wah, kamu benar-benar wanita idaman Raisa, kamu sangat pengertian sekali. Ucap mama Vera berdecak kagum.
*****
****
Setiba di kamarnya Adrian mengambil ponsel miliknya. Beberapa kali mengadakan panggilan tapi tak ada jawaban.
Dok dok dok
Terdengar pintu kamar Adrian di ketuk. Dengan malas Adrian bangkit dari tempat tidurnya membuka pintu.
"Adrian apakah kamu sudah tidur.?" Suara mama Vera yang sudah berdiri di depan pintu kamar.
"Mama mau tanya sesuatu yang serius dengan kamu."
"Soal apa ma.?"
Adrian berjalan menuju tempat tidurnya, di belakang mengekor mama Vera mengikuti langkah Adrian.
"Bagaimana keputusanmu tentang Raisa .?" Tanya mama Vera dengan mimik serius menunggu jawaban dari Adrian.
"Keputusan yang bagaimana ma.?" Ucap Adrian kesal.
Karena hati Adrian kini benar- benar kalut. Apalagi ditambah sikap mamanya menuntutnya untuk segera menikah. Karena sikap mamanya Adrian sampai pusing dibuatnya.
"Soal kapan kita menentukan tanggal pernikahan kamu, Adrian.?"
Hembusan nafas Adrian terdengar berat, Adrian tampak frustasi menghadapi sikap mamanya.
"Kan aku sudah bilang belum mau menikah ma."
"Hah, jadi kapan kamu siap menikah nya Adrian, kamu tahu gak Raisa itu cantik dan manis kurang apa lagi.?" Ucap mama kesal.
Adrian tidak habis pikir dengan sikap mamanya. Padahal Adrian sudah mengatakan kriteria pendamping hidupnya yang akan menemani hidupnya sampai tua. Sedangkan Raisa sama sekali tidak masuk daftar kriteria calon istrinya. Cantik memang, tapi Adrian tidak menyukai Raisa yang berpenampilan memakai baju yang kurang bahan dan glamour. Ia menyukai wanita yang sederhana dan penampilan natural.
"Kamu gimana sih,Adrian. " Susah loh, mendapatkan perempuan cantik seperti Raisa, di zaman sekarang perempuan banyak yang memandang harta. Sedangkan Raisa, orang tuanya punya bisnis, dan tambang emas, kurang apa lagi dia.?"
__ADS_1
"Berikan saja sama Bayu ma. Siapa tahu dia mau."
"Hah, apa kamu bilang.?" Mama Vera terperangah.
"Mama maunya kamu yang menikahi Raisa,bukan Bayu.!"
Baru saja mulut Adrian mau terbuka menjawab perkataan mamanya. Tiba- tiba perut nya mules seperti diaduk- aduk. Seperti ada yang mengguncang perutnya.
"Sebentar ma,Adrian mau muntah nih."
Lelaki yang berpostur tubuh tinggi jangkung itu segera berlari menuju kamar mandi.Adrian membenturkan tubuhnya di wastafel memuntahkan semua isi perutnya. Kejadian aneh ini sering dialami Adrian beberapa bulan terakhir ini. Ia kerap mengalami mual tanpa alasan. Adrian sudah pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya. Tetapi semua hasil menunjukkan baik- baik saja. Adrian sempat heran ada apa dengan tubuhnya. Bahkan akhir-akhir ini tubuhnya mendadak aneh
Adrian yang keluar dari kamar mandi mencari keberadaan HP nya.
"Hallo Bay, ke rumah sekarang.! Bawakan martabak manis yang banyak.!" Pinta Adrian.
Satu lagi yang aneh permintaan Adrian tiba-tiba muncul, dalam keadaan tak terduga.Bayu lah orang yang pertama dibuat repot dengan tingkah Adrian. Adrian bahkan pernah meminta di pesan kan rujak saat di kantor. Padahal selama ini Adrian tidak menyukai makanan asam. Entah apa yang salah pada dirinya. Yang jelas Adrian sangat tidak nyaman dengan keadaannya.
Mama Vera yang sejak tadi memperhatikan tingkah putranya sangat heran.
"Kamu mau mau makan martabak.?" Kok tumben.?" Mama Vera mengerutkan dahinya.
Kurang satu jam lebih Bayu sudah tiba di rumah Adrian.Bayu selain sepupu dia adalah asisten pribadi Adrian serba guna.Ya, seperti bumbu racik , Bayu layaknya malaikat yang turun dari langit, dia datang membawa banyak bungkusan plastik paket yang berisikan martabak semua varian rasa. Karena Adrian tidak menyebutkan rasa apa yang dia minta. Jadi Bayu membeli semua varian rasa martabak.
"Ini dia martabak nya, pak bos." Ujar Bayu sembari meletakkan semua bungkusan plastik.
"Ya ampun sebanyak ini Bay.?" Mata mama Vera seketika membulat sempurna melihat barang bawaan Bayu.
"Iya tante." Jawab Bayu tanpa bersalah.
Sejuknya udara Ac di ruangan kamar Adrian, membuat aroma martabak menguap seisi kamar. Membuat Adrian kini merasakan sensasi mual lagi.
"Ihh..kenapa aroma bau nya seperti ini sih.!" Adrian mengapit hidungnya dengan ibu jari tangannya.
"Memangnya kamu mengharapkan aroma martabak seperti apa.?" Seperti pengharum ruangan.?" Bayu berdecak kesal dengan tingkah Adrian.
Ingin sekali Adrian melempari Bayu dengan bom saat ini, asisten plus sepupunya memang super duper kurang ajar itu berhasil membuat emosi Adrian naik turun. Beruntung Bayu sepupunya jika tidak mungkin sudah dia pecat.
"Bawa keluar semuanya, aku tidak suka dengan aromanya !"
Mama Vera dan Bayu seketika menggelengkan kepala. Bayu berdecak kesal.Adrian tidak tahu untuk membeli martabak pesanannya tadi, Bayu harus mengalah dengan pembeli dengan suku ras terkuat di bumi yaitu emak-emak. Dan sekarang hasil perjuangannya di sia- siakan Adrian begitu saja.
" Repot memang kalau ngurusi bos jadi wanita hamil." Begini nih, bawaan orang ngidam gak jelas banget."
Bayu menggerutu pelan, sambil tangannya memunguti bungkusan plastik. Namun, tertangkap jelas di telinga Adrian.
Adrian seketika terdiam mendengar celotehan Bayu. Pikirannya seketika melayang memikirkan Alya yang sedang hamil. Pertemuan waktu itu yang sangat mengejutkan membuat Adrian jadi gelisah.
*******
__ADS_1