
Jonathan yang sedang duduk di sudut ruangan , pandanganya tak bisa lepas dari gadis yang kini tengah tertidur pulas. Ia memandangi gadis itu ada rasa kagum di hati Jonathan. Pipinya nya yang mulus dan bibir yang merona , membuat Jonathan harus bisa menahan nafsu yang kini sedang bergejolak.
Tubuh itu kini menggeliat, kedua tangan nya menggosok matanya. Berusaha untuk bagun dari tidurnya.
Ya. Raisa kini menyandarkan punggungnya di tempat tidur , matanya berotasi di ruangan memindai satu persatu ruangan itu. Tangannya memijat kepalanya yang kini terasa berdenyut sakit. Berusaha mengingat sekarang ia berada di mana.
"Sudah bangun.?" Sapa Jonathan.
Jonathan perlahan mendekati Raisa yang duduk di ranjang tempat tidur.
" Siapa kamu, dan mau apa.? Tanya Raisa mengerutkan dahinya.
"Aku.?"
" Kamu tidak perlu tahu siapa aku.?"
" Aku tidak tahu siapa kamu.?
"Semalam , kamu mabuk berat , aku tidak tahu dimana rumahmu. Makanya aku membawamu ke hotel ini.? Jawab Jonathan.
Tangan Raisa memijat kepalanya yang masih terasa sakit dan berdenyut, ia mencoba mengingat apa yang terjadi. Karena putus asa menunggu Adrian yang sudah larut malam tak kunjung kembali , dia memutuskan pergi ke club malam untuk melampiaskan kemarahannya. Saat itu dia benar- benar frustasi , dan menenggak minuman banyak hingga selanjutnya ia tak tahu apa yang telah terjadi pada dirinya.
"Kamu tidak ngapa-ngapain aku kan.?"
Tangan Raisa menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Memeriksa gaun yang ia kenakan berubah dari tempatnya atau tidak.
"Silahkan kamu periksa sendiri. Ada yang kurang gak di tubuh kamu.?" Jawab Jonathan santai.
Raisa mencoba bangkit dari tempat tidurnya, karena kepalanya masih berdenyut ia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
Aww..bugh…
Dengan sigap kedua tangan Jonathan menangkap tubuh Raisa yang akan jatuh ke lantai. Waktu seolah berhenti berputar, pandangan mereka pun beradu, detak jantung pun berpacu tidak karuan.
"Maaf kan aku, aku tidak bermaksud lancang."
Jonathan berusaha menetralkan dirinya , sebisa mungkin menahan gejolak yang menjalari tubuhnya.
Raisa yang belum bisa menyeimbangkan tubuhnya berusaha berdiri tegak dan mengatur nafasnya yang gugup. Perlahan dia berjalan ke kamar mandi . Tiba di dalam kamar mandi ia memutar kran , dengan menengadahkan kedua tangannya ia membasuh wajahnya dengan air. Ada perasaan aneh yang bergejolak saat matanya beradu pandang dengan lelaki itu. Tatapan mata yang teduh yang bisa membuatnya nyaman. Perasaan itu yang kini hadir tiba-tiba , bisa melupakan rasa sakit hati pada Adrian yang tidak datang di malam pertunangan.
Ceklek…
"Kamu masih di sini.? Tanya Raisa lirih.
__ADS_1
"Aku hanya memastikan dirimu baik-baik saja. Apa perlu aku antarkan pulang.? Tanya Jonathan.
Jonathan memandangi wajah cantik itu yang kini terlihat segar setelah dia kembali dari kamar mandi. Matanya yang sembab seperti habis menangis.
"Tidak perlu , aku bisa pulang sendiri." Jawab Raisa.
"Ya sudah , aku pergi dulu dan ini kunci mobilmu."
Jonathan meletakkan kunci mobil itu di atas meja. Dia pun perlahan berjalan menuju pintu keluar .
Raisa yang masih berdiri mematung itu hanya memandangi punggung lelaki itu yang telah menghilang di balik pintu.
Setelah Raisa merasa cukup tenang, dia ingin cepat -cepat pulang rasa khawatir kini menyelimuti pikirannya, ia mengkhawatirkan orang tuanya pasti mencemaskannya. Raisa berjalan tergesa- gesa menuju area parkiran , setelah melihat mobilnya ia pun berjalan menuju mobilnya.
Tiba di halaman rumah , ragu -ragu Raisa memasuki rumahnya.
Memasuki ruang tamu disana sudah menunggu ibu Laras dan suaminya.
"Raisa kamu kemana saja sayang. Kamu tidak apa-apakan.?" Tanya ibu Laras di sela isak tangisnya.
"Kamu tidak apa-apa nak, papa akan membuat perhitungan dengan laki-laki itu, berani-beraninya sudah mempermalukan keluarga kita.! Ucap pak Handoko geram. Ia memeluk tubuh Raisa yang terlihat lemah.
Raisa hanya diam mematung. Kembali kedua matanya meneteskan air mata. Rasa sakit kini menghujam dadanya. Ia kini benar -benar malu jika bertemu dengan teman- temannya.
" Raisa baik-baik saja ma, pa, . Raisa mau istirahat." Jawab Raisa.
Ibu Laras dan suaminya membiarkan Raisa pergi ke kamarnya. Ia paham bagaimana perasaan putrinya, rasa malu yang tengah ia rasakan dan rasa sakit karena tanpa ada alasan Adrian meninggalkannya tepat di mana mereka akan bertunangan.
Raisa menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, pikiran nya kini dipenuhi rasa marah yang tak terbendungkan. Karena frustasi ia pergi ke club malam. Seketika sontak pikirannya teralihkan pada sosok lelaki jangkung yang telah menolongnya, jika dia tidak ditolong lelaki itu entah apa yang akan terjadi pada dirinya. Seketika meremang tubuh Raisa membayangkan hal buruk terjadi pada dirinya.
"Oh ya, aku tadi lupa mengucapkan terimakasih." Lirih Raisa di sela tangisnya.
"Jika aku tidak diselamatkan dia, aku tidak dapat membayangkan apa yang terjadi pada diriku."
"Bisa saja diriku saat ini…" Raisa tidak dapat meneruskan kata-katanya.
*******
Adrian yang masih berada di rumah sakit kini ia tengah sibuk mempersiapkan diri seperti kemarin. Untuk melanjutkan metode skin to skin. Dengan sangat hati-hati Adrian meletakkan bayi mungil itu di atas dadanya. Setiap kali ia bersentuhan kulit dengan bayi mungil itu ia merasakan kehangatan yang tercipta di antara mereka.
__ADS_1
"Kamu harus kuat sayang dan tumbuh sehat. Papa tidak akan membiarkanmu hidup dalam kekurangan apapun." Ucap Adrian
Ia memandangi wajah bayi itu. Kembali rasa sakit menjalari pikirannya.karena ia selama ini ia tidak berusaha mencari tahu sepenuhnya. Kini pikirannya ia tekatkan untuk merawat bayi nya.
Kehangatan itu harus berakhir karena Bayu mendatanginya.
"Wah bro, kamu sudah kayak emak-emak bro." Ledek Bayu.
Tangan Bayu mengelus punggung bayi mungil itu , dengan secepat kilat tangan Bayu di tepis Adrian.
"Ih..jangan di pegang-pegang, nanti kulitnya gatel , bayiku kulitnya sensitif."
"Ya ampun bro, belum juga kamu diakui bapaknya, posesifnya udah level setan." Jawab Bayu mendengus kesal.
"Biarin. Kalau mau bikin sendiri sana.!" Jawab Adrian.
"Bikinnya gampang, tapi ada gak tempatnya, gak ngawur kayak kamu." Jawab Bayu menyeringai.
"Kenapa ke sini.?" Tanya Adrian mengerutkan dahi tipis.
"Rapat bro, kita hari ini ada rapat. Dan setelah ini , kamu harus temui tante Vera dan Raisa. Kamu harus bertanggung jawab atas kekacauan yang kamu buat." Ucap Bayu memberi penjelasan.
Adrian menyerahkan bayinya ke perawat rumah sakit yang khusus ia sewa untuk merawat bayinya. Kembali menatap matanya ke arah Alya. Baru ia sadari bahwa di muka Alya penuh dengan lebam biru akibat dari ia tersungkur. Wajah itu masih sama seperti kemarin pucat.
"Jam berapa rapat dimulai.?" Tanya Adrian.
"Sekitar satu jam lagi." Jawab Bayu.
Adrian tengah berdiri memainkan ponselnya.
"Jo, aku ada tugas untukmu selidiki, kerusuhan yang terjadi tadi malam di ballroom , kenapa ada wanita hamil sampai jatuh tersungkur ke lantai." Ucap Adrian tegas.
"Baik bos, ada lagi.?" Tanya Jonathan di seberang telepon.
"Aku mau informasinya sedetailnya Jo, tidak sepotong-sepotong." Suara Adrian kembali memberi perintah.
"Baik bos."
Adrian dan Bayu meninggalkan rumah sakit. Perasaannya kini mulai terganggu dengan wajah bayi mungil itu,apalagi setelah kelahirannya , yang penuh dengan drama. Tak pelak lagi ia kini memikirkan Alya ia ingin tahu tentang ibu dari anaknya. Apakah benar dia dijadikan taruhan judi atau memang dia sengaja menjual dirinya. Ia ingin tahu segalanya tentang Alya.
*******
__ADS_1