Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
memilih cincin.


__ADS_3

            Alya yang sedang duduk di kamar menyandarkan punggungnya di tempat tidur. Ia menatap wajah bayinya yang sedang menghisap sumber kehidupannya. Terdengar ketukan pintu dari luar kamarnya.


 


             Tok…tok ..tok…


 


             "Ya, sebentar." Sahut Alya dari dalam kamar.


 


            Alya membaringkan bayinya di tempat tidur, lalu melangkah menuju pintu kamar .


 


             "Maaf nyonya , ada tamu yang sedang menunggu anda , sekarang dia menunggu anda di ruang tamu." Ucap Rima.


 


            "Tamu." Lirih Alya.


 


            Alya berjalan menuju ruang tamu, duduk seorang wanita dengan postur tubuh seperti atlet, kulit putih dengan potongan rambut pendek mirip polwan. Wanita itu berdiri membungkuk kan badannya memberi hormat.


 


           "Selamat siang nyonya, kenalkan nama saya Dona, kedatangan saya kemari ditugaskan tuan Adrian untuk memberikan ini." Ucap Dona.


 


          Dona memberikan sebuah paper bag pada Alya, Alya menatap paper bag berukuran kecil itu lalu membukanya, kedua bola mata Alya membulat sempurna, sebuah ponsel merek Apple dengan pengeluaran edisi terbatas itu kini dalam genggamannya. Tak lama ponsel itu berdering.


 


         Alya masih membeku , tertera nama panggilan masuk ' suamiku' ,. Alya terpaku memandangi ponselnya yang berdering.


 


             "Kenapa diam nyonya, itu panggilan masuk dari tuan Adrian." Ucap Dona.


 


             Lamunan Alya seketika buyar, mendengar perkataan Dona. Alya pun segera menggeser tombol hijau panggilan masuk.


 


              "Kenapa lama sekali mengangkat teleponnya, apa kamu sedang sibuk." Suara bariton Adrian di seberang telepon.


 


              "E..tidak .!" Jawab Alya .


 


              "Bersiaplah , Dona akan mengantarkanmu ke suatu tempat , dan bawa ponsel mu kemana saja kamu pergi , apakah kamu menyukai pemberianku." Ucap Adrian.


 


             Alya hanya diam , seumur hidup dia tidak pernah membayangkan jika dia akan menggenggam ponsel yang konon katanya harganya mencapai puluhan juta, untuk memiliki ponsel yang sekarang dalam genggamannya harus berapa tahun dia akan mengumpulkan uang.


 


           "Kenapa diam.?" Kalau tidak suka kamu pilih sendiri di counter , kamu pilih sesuai keinginan mu." Ucap Adrian di seberang telepon , mendapati Alya diam tidak mendapatkan jawaban dari Alya.


 


         "Suka , aku sangat menyukainya , terima kasih." Jawab Alya gugup.


 


         "Kalau kamu menyukainya sekarang bersiaplah.!" Ucap Adrian.


 


         "Baik." Jawab Alya sembari menyudahi perbincangan.


 


          "Mbak Dona, saya bersiap dulu ya." 


 


          "Baik nyonya."


 


       Alya pergi berjalan memasuki kamarnya, di dalam kamarnya Alya mematung berdiri di depan lemari pakaiannya. Alya sangat bingung , ia akan mengenakan baju yang mana. Di saat berbelanja kemarin Puspa yang ditugaskan Adrian untuk memilihkan pakaian untuknya semua bajunya berbandrol mahal, akhirnya Alya menjatuhkan pilihannya dengan dress yang berwarna ungu. 


 


           Setelah dia selesai menghias dirinya , Alya yang tidak suka memakai make up  itu, hanya merias dirinya memakai foundation menaburkan bedak tipis, lalu mengoleskan pelembab bibir.


 


           "Mbak Rima, saya titip anak saya ya mbak." Ucap Alya.


 


           "Baik nyonya." 


 


           "Mbak , gak usah panggil saya nyonya, panggil saya Alya saja." Ucap Alya.


 


          "Maaf nyonya, bagaimana bisa saya memanggil anda dengan sebutan nama, bisa-bisa , saya dipecat dengan tuan Adrian." Jawab Rima.


 


           Alya hanya diam , mengingat Adrian yang sangat sensitif suka marah , Alya hanya menganggukkan kepala , sebenarnya Alya sangat kurang nyaman dengan panggilan tersebut, mengingat dirinya bukan siapa-siapa, ia sadar hanya kebetulan saja dia melahirkan anak seorang Adrian.


 


 

__ADS_1


              "Ya sudah saya titip anak saya."


 


               Setelah berpamitan dengan pengasuh anaknya, Alya berjalan dengan diiringi Dona , orang yang disewa khusus oleh Adrian untuk mengawal Alya kemana pun pergi.


 


             


           Mobil pun berjalan memecah keramaian kota, dia tidak tahu kemana Dona yang diperintahkan oleh Adrian akan membawanya pergi. Alya hanya diam , dia tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah seperti sekarang. Apalagi mengingat dirinya hanyalah orang rendahan sekolah saja hanya lulusan SMA.


 


          Mobil berhenti di sebuah boutique mewah , di depan terpajang baju pengantin yang dikenakan sepasang manekin.


 


 


          "Kita sudah sampai nyonya, mari kita turun." Ucap Dona yang sudah membuka pintu mobil.


 


            Alya turun dari mobil, matanya tertuju di sebuah nama toko itu, tak ingin bertanya Alya berjalan mengikuti langkah Dona. Tiba didalam boutique itu , mereka disambut dengan ramah oleh pegawai boutique, dua orang pegawai boutique itu menunjukkan beberapa koleksi baju pengantin dari toko mereka. 


 


             "Bagaimana nyonya, apakah ada yang menarik perhatian anda.?" Tanya Pegawai boutique.


 


          


              Alya terdiam, dia memandangi baju yang diberikan oleh pegawai itu, semua harga mengarah ratusan juta membuat bulu kuduknya merinding. Dia yang tidak biasa membeli baju mahal itu hanya menatap baju yang ada di etalase.


 


              "Kenapa kamu menyukainya." Tanya Adrian.


 


              Alya terperanjat mendengar suara Adrian yang tiba-tiba berdiri di sampingnya. Entah sejak kapan Adrian memperhatikan Alya  yang sedang memandangi baju di dalam etalase itu.


             "Ah , tidak aku hanya mengaguminya saja." Jawab Alya gugup.


 


             "Mbak , tolong ambilkan baju yang itu." Ucap Adrian menunjuk ke arah etalase.


             "Baik tuan." Jawab pegawai boutique itu.


 


              "Tolong , tunjukkan baju yang bagus dan edisi terbatas mbak ." Pinta Adrian.


 


             Tak berapa lama keluar pegawai boutique dari arah dalam ruangan. Mereka membawa dua pasang baju pengantin, pembuatan baju yang kini sedang dipegang pegawai itu benar-benar unlimited edition , karena bahan kain yang yang untuk membuat baju itu diimpor dari luar negeri.


 


 


            Alya memandangi Adrian , yang menurut Alya membeli baju tidak pakai tawar menawar lagi. Dia tidak habis pikir , membeli baju seperti membeli kacang rebus saja. Sedangkan Alya yang terbiasa menawar itu, jiwanya seketika meronta-ronta tidak terima.


 


             Sekilas Adrian melirik Alya, Adrian memperhatikan Alya mengerucutkan bibirnya, memandangi baju yang sedang dikemas oleh pegawai boutique tersebut.


 


              "Kenapa , apakah kamu punya pilihan lain lagi.?" Tanya Adrian.


 


              "Tidak." Alya menggelengkan kepala.


 


               "Kenapa , kok tidak ditawar lagi." Ucap Alya ragu-ragu.


 


              Adrian mengusap wajahnya, ia menarik nafas dalam-dalam, lalu mendekati Alya yang sedang duduk.


 


              "Sayang…, kita kan di boutique, semua harga disini harga pas." Ucap Adrian sembari tersenyum. Adrian menoleh sekeliling takut pembicaraannya didengar seseorang.


 


             Seketika pegawai boutique pun menghentikan kegiatannya, mereka saling pandang dengan teman-temannya. Muncul dari dalam ruangan, seorang wanita berjalan mendekati Adrian dan Alya.


          "Maaf tuan, dan nyonya, saya manajer boutique ini , apakah ada yang bisa saya bantu." Tanya wanita itu.


 


          "Ah, tidak ada, calon istri saya sangat menyukai semua produk yang ada di boutique ini." Jawab Adrian.


 


 


          Wanita itu pun tersenyum. Lalu memberikan paper bag kecil pada Alya,.


 


            "Selamat ya nyonya, atas pernikahannya, semoga selalu bahagia, terimalah bingkisan dari boutique kami ini." Ucap wanita itu .


 


            Alya yang penasaran membuka paper bag yang diberikan oleh wanita tersebut.


 


            Mata Alya seketika terbelalak. Ia membaca dengan cermat setiap baris kata yang tertera. Sebuah voucher berbulan madu di Bali.

__ADS_1


 


             "Terima kasih." Ucap Alya sembari menatap wanita yang berdiri di hadapannya.


           Setelah Adrian menyelesaikan pembayaran , mereka pun melangkah pergi keluar boutique. Dona berjalan mengiringi langkah mereka dari belakang.


 


             Setelah mobil berjalan lebih dari dua puluh menit memutari kota,  kini berhenti di sebuah toko perhiasan. Adrian menggandeng Alya memasuki toko perhiasan tersebut. Alya nampak canggung dengan sikap Adrian, hatinya berdenyut nyeri mengingat ibu Adrian pernah mengancam Alya. Bagaimana mungkin mereka akan melangsungkan pernikahan tanpa restu dari keluarga Adrian.


 


              Setelah memasuki toko perhiasan, mereka pun disambut ramah oleh pegawai toko itu.


 


              "Silahkan nyonya ,  tuan , ini perhiasan kami dalam bulan ini , kami membuatnya dalam edisi terbatas." Ucap pegawai toko itu.


 


            Adrian menatap Alya yang sedang kebingungan . Alya terdiam mendengar perkataan pegawai toko itu, di dalam hati dia berkata ' kenapa semua harus edisi terbatas dan unlimited , bukankah semua barang sama saja' 


 


              Adrian sedang mencoba cincin di tangannya, lalu mengambil cincin pasangan dari cincin nya.


 


               "Coba masuk kan di jari , apakah pas ukuran cincin ini." Ucap Adrian memberikan sebuah cincin.


 


             Alya yang bingung menuruti saja permintaan Adrian. Ia mencoba cincin pemberian Adrian. Tapi sayang sekali cincin itu kebesaran  di jari Alya.


 


            Adrian menghela nafas.


 


             "Apakah ada yang lainnya." Tanya Adrian.


 


              "Ada tuan, ini koleksi kami yang terakhir." 


 


            Pegawai toko itu menyodorkan kotak perhiasan berukuran sedang.


 


          Adrian menatap lekat ke arah Alya. 


 


             "Jika kamu punya pilihan katakan saja , aku tidak akan melarangnya." Ucap Adrian menatap ke arah Alya.


 


            Alya terdiam , matanya berotasi ke semua perhiasan yang ada di etalase. Dia tahu Adrian tidak suka penolakan, walaupun Adrian mempunyai cukup banyak uang dia tidak ingin memanfaatkan itu.


        


              "Bagaimana kalau yang ini." Ucap Alya sembari tangannya menunjuk ke arah cincin yang di atasnya hanya bertahta permata kecil.


 


            Pegawai toko itu pun mengambil cincin yang ditunjuk Alya.


 


              "Wah …tuan , selera istri anda sangat tinggi , ini adalah cincin terakhir di toko kami, cincin ini memang kecil tapi bertahtakan berlian." Ucap pegawai toko itu.


 


              "Apa.?" 


           Bola mata Alya seketika melebar , terkejut dengan penjelasan pegawai toko itu , dari kadarnya emas dan berlian itu mencapai  ratusan juta, Alya menundukkan kepalanya takut Adrian marah.


 


              "Baiklah , tolong bungkus ini dan juga ini." Ucap Adrian .


               Adrian lalu memberikan kartu hitamnya yang bergariskan emas untuk menyelesaikan transaksinya,  Alya hanya diam memperhatikan Adrian , ia takut kalau Adrian akan memarahinya , karena menjatuhkan pilihan cincinnya dengan harga selangit.


 


              "Maafkan saya tuan." Ucap Alya setelah mereka di dalam mobil.


 


              "Kenapa kamu minta maaf ." Tanya Adrian menatap lekat ke arah Alya.


 


              Seketika Alya mengusap pipinya , air mata yang ditahan sejak tadi akhirnya jatuh juga. Seumur hidupnya dia tidak pernah menghabiskan uang sebanyak itu , tapi kali ini dia benar-benar terharu.


      


            "Kita akan menikah Alya, itu artinya hak kamu memilih cincin sebagai emas kawinnya. Aku tidak marah , kamu tidak perlu takut." Ucap Adrian .


 


 


              Setelah seharian menghabiskan waktu dengan keliling di boutique dan toko perhiasan, di dalam mobil Alya tidur dengan sangat pulas.  Tampak sekali wajah lelah Alya. Adrian memandangi wajah Alya. Adrian berharap dengan menikahi Alya adalah pilihan tepat. Dia tidak ingin disebut sebagai lelaki pecundang dan pengecut.


 


                 *******


 


   


 

__ADS_1


           


__ADS_2