Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
My baby.


__ADS_3

      Adrian dan Bayu berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Kedua tangan mereka begitu  banyak membawa bungkusan plastik yang berisi kotak-kotak perlengkapan bayi.


 


           Tiba di depan ruang pintu kaca, Adrian menghentikan langkahnya. Dan menoleh ke arah Bayu yang tengah kerepotan membawa barang bawaannya.


 


             "Ayo, ikut masuk.!" Ucap Adrian yang masih berdiri di depan pintu.


 


              "Ayo." 


 


            Bayu mengekori Adrian dari belakang, mereka memasuki ruangan dimana dua orang perawat sedang sibuk membersihkan peralatan medis dan membereskan beberapa barang lainnya.Adrian menghampiri seorang perawat yang tengah bekerja.


 


             "Sus, dimana pasien yang bernama Alya.?" Tanya Adrian.


 


             "Seperti permintaan bapak , pasien sudah di pindahkan di ruang VVIP. No.15 di ruang mawar." Jawab perawat itu.


 


              "Dan bayinya.?" Tanya Adrian lagi.


 


          Karena mata Adrian tidak mendapati bayi dalam box yang berada di sudut ruangan itu.


 


                "Mari ikut saya pak." 


 


      Adrian dan Bayu mengikuti langkah perawat itu yang tidak jauh dari ruangan mereka tadi. Setelah memasuki ruangan yang disebutkan perawat tadi. Alya yang sedang terbaring lemah di ranjang pasien, dan wajahnya tampak pucat. Di sudut ruangan box bayi itu berada dan beberapa alat medis tengah di pasangkan dengan seorang perawat.Perlahan Adrian mendekati box bayi mungil itu.


 


             Adrian yang berdiri di sisi box bayi itu menatap nanar, tatapan nya tak lepas dari bayi yang tengah tertidur lelap.


 


               "Wah …bro ini kecebong kapan membuatnya kok sudah jadi.?" 


 


                "Dan. Ini kan photocopy mu bro, pantesan waktu itu kamu kayak orang ngidam.?" 


 


              Tanpa dapat dihentikan lagi bibir Bayu berselancar ,  matanya menatap lekat bayi yang sedang tertidur lelap itu. Tak dapat dipungkiri memang dari bentuk wajah, hidung , dan bibir semua milik Adrian. Adrian yang mendengar celotehan Bayu hanya diam, dia tidak bisa marah karena benar adanya yang dikatakan Bayu.


 


           "Maaf suster, tolong gantikan baju dan semua perlengkapan bayi ini, saya mau dia lebih nyaman.!" Ucap Adrian.


 


             Tangan Adrian menyodorkan beberapa bungkusan plastik yang berisikan perlengkapan bayi. Perawat itu dibuatnya melongo karena banyak sekali, perlengkapan bayi yang melebihi kapasitas orang biasa. Adrian yang paham dengan tatapan bingung.


 


 


              "Maaf suster, saya tidak tahu ukurannya, makanya saya membeli semua.!" 


 


             "Oh , tidak apa -apa pak." Jawab suster itu tersenyum.


 


   


             Mata Adrian kembali menatap Alya yang sedang terlelap karena obat bius. Kini perasaan Adrian benar-benar diliputi rasa bersalah. Keadaan yang sangat menyedihkan.


 


              "Bro , bagaimana caramu menghadapi tante Vera.?" Tanya Bayu.


 


               "Itu kita pikirkan nanti Bay." Jawab Adrian.


 


              Adrian berjalan perlahan mendekati di mana Alya kini tengah terbaring di ranjang pasien. Dia kembali menatap lekat wajah Alya yang pucat. Tak terasa sebelah tangannya terangkat membelai kepala Alya.


 


            "Tolong maafkan aku , kamu harus kuat demi anak mu.!" Adrian bergumam lirih.


 


          Bayu yang sejak tadi memandangi bayi mungil itu, kini perlahan mendekati Adrian yang berdiri di sisi ranjang Alya.


 


             "Wah , bro tanpa tes DNA bayi itu bisa membuktikan kecebong siapa.?" Eh..maaf maksudku anak siapa.?" Karena potongan kamu banget bro.!" Ucap Bayu dengan nada meyakinkan.

__ADS_1


 


                 Untuk saat ini Adrian tidak ingin berdebat dengan siapa pun. Termasuk Bayu yang sejak tadi berusaha mengejeknya. Adrian hanya menganggukkan kepala pelan.


 


           "Kalau bayi itu benar-benar anakmu.?" Lalu bagaimana dengan ibunya bro, apa kamu akan bertanggung jawab dan menikahinya.?"  Atau mengambil anaknya saja.?" Tanya Bayu.


 


               Terasa sesak lagi dada Adrian mendengar pertanyaan Bayu. Pertanyaan Bayu membuat Adrian diam seribu bahasa. Kini dia tengah berpikir keras mencari solusi untuk menyelesaikan masalah yang dia timbulkan.


 


             " Aku akan bertanggung jawab untuk anak itu. Bagaimanapun dia adalah anakku, tidak mungkin ku biarkan terlantar begitu saja." Jawab Adrian.


 


               "Lalu ibunya bagaimana.?"


 


  


             "Aku akan memberikan tunjangan yang sangat besar, yang pantas untuknya dia tidak perlu khawatir dengan kehidupannya dan dia bisa melanjutkan kehidupannya setelah ini." 


 


            Bayu menggelengkan kepala, ingin sekali menggetok kepala Adrian. Bayu berdecak kesal . Ia sudah menduga itu pasti jawaban Adrian  mentang -mentang dia kaya jadi seenaknya. Terkadang lelaki sangat brengsek , egois , dan mau enak nya sendiri. Ya . Ini contohnya Adrian.


 


             "Enak banget kamu ambil anaknya saja,  dia tidak sebodoh itu. Mau memberikan anaknya kepadamu, walaupun kamu bapaknya." Ucap Bayu menatap lekat ke arah Adrian.


 


            Sebenarnya Adrian sadar akan hal itu. Karena Alya pernah bilang bahwa anak dalam kandungannya bukanlah benihnya. Tapi setelah merasakan ikatan batin dengan bayi itu tidak ada alasan baginya untuk meragukannya. Tidak perlu melakukan tes DNA bayi itu membuktikan siapa ayah biologisnya.


 


            "Tapi aku rasa dia tidak akan keberatan , lagi pula dia hidupnya susah , dan dia tidak akan mampu membesarkan anaknya sendirian.?" Ucap Adrian enteng tanpa beban rasa bersalah.


 


            "Kamu salah bro, buktinya dia bisa mempertahankan anakmu dalam kandungannya sampai lahir." Jawab Bayu sembari tangannya menepuk bahu Adrian.


 


           "Aku tahu bro, kamu banyak uang. Tapi namanya anak dia butuh kasih sayang dari kedua orang tuanya." Jawab Bay.


 


            "Tapi aku dan dia tidak mungkin bersama bay." 


 


 


            "Kalau kamu bisa membuatnya bersama-sama. Kenapa tidak bisa membesarkannya bersama-sama juga.!" 


 


            Kalimat yang mengandung mengejek meluncur bebas dari mulut Bayu. Membuat Adrian mendengus kesal. Sebenarnya hatinya masih diliputi kecewa, ketika Puspa memberitahukan bahwa Alya wanita panggilan.


 


             "Sudah -sudah aku tidak akan menikahinya, aku tidak mau punya istri bekas wanita panggilan." Adrian membentak marah pada Bayu.


 


             "Dari mana kamu tahu kalau dia wanita panggilan. Kamu sendiri bilang, kamu yang perawanin dia.?  Lagi pula coba kamu pikir bro, mana ada wanita lagi hamil menjual dirinya.!" Ucap Bayu kesal dengan Adrian  


 


              Ucapan Bayu berhasil membungkam Adrian. Tak pelak pula ucapan Bayu membuka pikirannya.


             Adrian menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Semua yang diucapkan Bayu benar adanya, tetapi untuk sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membahas perkara bertanggung jawab. Ada banyak hal yang harus Adrian pertimbangkan. Termasuk kehormatan keluarga Dharmawangsa.


 


            "Kamu memang benar Bay. Tapi bagaimana oma dan mama , mereka pasti akan marah jika tahu hal ini. Bisa jadi mereka menolak kehadiran Alya dan anaknya." Ucap Adrian sendu. 


 


              Bayu paham beban berat pikiran Adrian saat ini.Bayu sangat hafal sifat oma dan tante Vera . Hadirnya anak sebelum menikah sudah pasti membuat malu mereka dan mencoreng nama baik keluarga mereka.


 


                 "Jadi kamu akan menyembunyikan status bayi itu.? Mau sampai kapan.? Ujar Bayu 


                "Untuk sementara itu dulu yang terbaik. Apalagi mama dan oma bersikeras mau menikahkan aku dengan Raisa. Kamu tahu kan bagaimana keadaanku saat ini.?" Ucap Adrian.


 


             Bayu mengangguk paham , tapi beberapa detik kemudian tawa Bayu meledak tak tertahankan. Membuat Adrian bingung dengan tingkah Bayu 


 


             "Kamu menertawakan aku Bay.?  Tanya Adrian dengan alis yang bertautan.


 


            Bayu yang sadar tatapan Adrian ia menepuk bahu Adrian.


 

__ADS_1


               "Eh bro, tapi ngomong-ngomong anak kamu pintar juga loh, dia mengacaukan pertunangan bapaknya. Pas banget , bapaknya mau bertunangan dia brojol ha…ha…" Bayu terkekeh.


 


                "Hush diam ."Nanti bayinya bangun ." 


 


              Adrian tersenyum mendengar perkataan Bayu . Kalau dipikir- pikir benar juga yang dikatakannya.Adrian kini mulai sadar dengan keanehan beberapa bulan belakangan ini. Misalnya dia mengalami gejala seperti orang ngidam  seperti yang diucapkan Bayu beberapa bulan lalu. Adrian pun sering bermimpi ia sering menggendong bayi laki-laki.


 


               *****


 


          Malam pun sudah berlalu tanpa terasa pagi pun sudah tiba. Adrian yang tertidur di sisi Alya pun terbangun saat seorang perawat tengah memeriksa keadaan Alya.Alya yang masih belum siuman itu terbaring di ranjang seolah tertidur pulas.


 


             "Maaf pak , kami akan memeriksa pasien ." Ucap perawat itu.


 


              "Iya silahkan sus,." Adrian mundur beberapa langkah dari ranjang.


 


             "Bagaimana keadaanya sus.?" Tanya Adrian.


 


            "Kalau untuk sementara sudah stabil pak. Untuk lebih jelasnya nanti dokter yang akan menjelaskannya." 


 


            Perawat itu berjalan menghampiri box bayi yang sedang menggeliat. Ia tampak sekali tidak nyaman. Dengan cekatan perawat itu memeriksa. Dan benar ternyata ketidak nyaman itu karena  dia pup.setelah membersihkan diapers , perawat itu pun mengganti dengan diapers baru.


 


           "Maaf pak, ada yang ingin saya sampaikan, sebaiknya nanti bapak berkonsultasi dulu dengan dokter, dedek bayi nya sekarang sedang haus pak dia perlu minum asi." Ucap perawat itu.


 


            Adrian memandangi tubuh mungil itu yang mencari sumber kehidupannya, hati Adrian benar-benar tersentuh melihat pemandangan itu. Tangisan lemah itu kini terdengar memilukan.


 


        


           " Maaf sus, apakah untuk sementara boleh diminumkan susu formula dulu karena ibunya belum siuman." Ujar Adrian .


 


            "Maaf pak saya tidak bisa memutuskan hal itu,bapak bisa konsultasikan langsung dengan dokternya nanti." Jawab perawat .


 


         


           "Jam berapa nanti dokternya ke sini sus.?" Tanya Adrian kembali.


 


               


            "Sebentar lagi pak." 


 


             Selang tak berapa lama dokter wanita yang kemarin pun muncul. Adrian segera menghampirinya.


 


 


            "Maaf dok, apakah boleh untuk sementara bayi saya minum susu formula.?" Tanya Adrian 


 


             "Boleh pak , tapi ini bukan susu pengganti ya, susu yang baik itu asi dari ibunya langsung , saya paham kondisi saat ini karena ibunya belum siuman." Ucap dokter itu.


 


         


              Dokter wanita itu menuliskan resep khusus untuk bayi yang lahir prematur, dan memberikannya pada Adrian untuk membelinya di apotik.


 


            Adrian yang menerima resep itu tak ingin membuang waktu nya sia-sia, karena sangat iba melihat bayinya yang sedang mencari sumber kehidupannya. Dia pun pergi ke apotik rumah sakit. Setelah mendapatkan sesuai resep dokter.


      


              Dengan langkah tergesa-gesa ia pun menuju ruangan tempat di mana Alya dan bayinya sedang di rawat. Dia yang tak tahu cara membuat susu itu pun , diam-diam  Adrian memperhatikan setiap gerakkan perawat itu. Dan setelah selesai perawat itu memberikannya pada bayi mungil itu.


 


           Hati Adrian kini benar-benar tersentuh , bagaimana tidak dia kini memiliki benda yang berharga yang harus dirawat dan ia jaga. Tak terasa air mata Adrian meleleh menyaksikan bayi nya menghabiskan susu yang diberikan perawat.


 


             


             *****

__ADS_1


        


 


__ADS_2