Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
satu rasa.


__ADS_3

       Alya lama membeku di depan cermin, ia memperhatikan setiap lekuk tubuhnya. Dari sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis,setelah membersihkan dirinya kini dia meraih beberapa riasan yang terletak di atas meja riasnya. 


 


        Tangan Alya meraih foundation lalu mengoleskan ke wajah nya, kini ia ingin tampil berbeda setidaknya ia ingin merias diri , menyadari begitu banyak wanita cantik di sekeliling Adrian membuat Alya sadar akan penampilannya.


 


          Dari arah pintu kamar mandi muncul Adrian dengan tubuh berbalut handuk sepinggang, ia berjalan mendekati Alya yang masih berdiri di depan cermin.


 


        "Kamu cantik, tetaplah seperti ini jangan merubah dirimu hanya karena orang lain." Ucap Adrian sembari memeluk Alya dari belakang.


 


        Alya tidak menyahut, lewat pantulan cermin ia memandangi wajah suaminya, tak ada kata bosan untuk memuji ketampanan suaminya , dengan sempurna tuhan sudah menciptakan setiap lekuk wajah mulai dari mata yang tajam , hidung yang mancung wajah yang terukir sempurna milik Adrian , tak heran jika wanita ingin mendapatkannya.


 


          "Mas, apakah kamu akan cepat bosan padaku, karena aku selain pendek juga gak begitu cantik.?" Ucap Alya lirih 


 


         Adrian tidak menyahut, ia meresapi aroma tubuh istrinya, kata-kata Alya membuat Adrian semakin gemas. 


        "Sayang kita sudah menikah dan punya anak, apalagi yang membuatmu takut, kita harus saling percaya , jika kita tidak saling percaya bagaimana kita akan mempertahankan rumah tangga kita.?" Ucap Adrian penuh keyakinan.


 


         Adrian yang paham akan Alya yang kini mengalami krisis kepercayaan diri mencoba memberi pengertian , sejauh ini Alya tidak pernah meminta apapun darinya, kini Adrian menyadari begitu besar Alya mencintai dirinya. Disaat Adrian akan melangkah ke arah lemari pakaian tiba-tiba, darah segar keluar dari hidungnya, membuat Adrian  terburu- buru masuk kamar mandi.


          


 


          Tak berapa lama muncul Adrian dengan mendongakkan kepalanya keatas sebelah tangannya memencet hidung menahan agar darah tidak lagi keluar.


 


          "Mas , kamu kenapa kita pergi ke dokter yuk." Ucap Alya panik.


 


          "Gak apa-apa sayang, biasa aku kalau kecapean begini ." Jawab Adrian.


         Dalam diam Adrian untuk sementara akan menyembunyikan dulu tentang penyakitnya, karena jika menuruti dokter Aura untuk pergi ke luar negeri Adrian masih belum bisa berpisah terlalu lama meninggalkan Alya, apa lagi hubungan mereka baru saja menghangat.


 


         Alya dengan wajah khawatir membantu suaminya untuk berbaring ke ranjang tempat tidur, tangannya meraih bantal untuk menyandarkan kepala Adrian.


 


        Adrian meraih tubuh Alya yang duduk di samping tempat tidur, Alya hanya pasrah ketika Adrian membenamkannya ke dalam pelukannya. Kedamaian begitu terasa disaat mereka saling memeluk.


 


      "Aku antar pergi ke privat school ya.?" Ucap Adrian.


 


      "Kan kamu lagi sakit mas." Jawab Alya mendongakkan kepalanya.


 


       "Ini sudah baikan , mas mau siap-siap kerja, kalau gak kerja kamu mau dikasih makan apa.?" Ucap Adrian tersenyum tipis.


 


       Mereka pun bersiap untuk pergi, sebelum meninggalkan rumah Alya dan Adrian menemui Arjuna di tempat tidurnya. 


 


      "Anak papa udah gede, waduh..pipinya udah kayak bakpao." Ucap Adrian sembari menghujani Arjuna dengan ciuman.

__ADS_1


 


      Mobil yang dikendarai Adrian memecah keramaian kota, pagi itu terlihat jelas wajah yang terukir kebahagian. Alya duduk di samping Adrian, dengan menyandarkan kepalanya .


 


         "Alya kamu suka musik.?" Tanya Adrian .


 


          "He eh." Jawab Alya menganggukkan kepalanya.


 


         Tangan Adrian meraba dashboard yang terletak di sebelah kiri pengemudi, tangannya menekan beberapa menu di Mp3 musik hingga mengalun lagu milik Arief artis ternama yang sekarang lagi viral, lagu yang berjudul ' satu rasa' .


 


         "Alya , ku ungkapkan perasaan ini lewat lagu ini " Ucap Adrian sembari kedua bibirnya mengikuti lagu yang sedang mengalun.


 


  {Jangan tanya bagaimana esok…


   Ku tak ingin menerka perasaan ini         


   Yang kutahu hari ini ku mencintaimu..


    Yang ku tahu ku sangat menyayangimu.


        Biarlah semua berlalu..


        Jalani seperti apa adanya…


        Bunga kan mekar meski kemarau melanda….


        Bunga kan mekar meski kemarau melanda…..}


 


 


        "Terima kasih mrs Saqueena, berkat trik yang anda ajarkan suamiku begitu mencintaiku." Ucap Alya di dalam hati.


 


        Mobil yang mereka kendarai kini tiba di sebuah gedung, hingga Alya enggan untuk beranjak dari bahu Adrian. Sebelum meninggalkan Adrian, Alya mendaratkan ciumannya ke pipi Adrian.


 


        "Aku turun ya mas, awas kalau nakal, ku potong burungnya." Ucap Alya mengerucutkan bibirnya.


 


        "Kalau dipotong kamu juga yang rugi."Jawab Adrian berkelakar.


 


        "Iya, ya..hati -hati ya mas." Ucap Alya melambaikan tangannya.


 


 


          Jantung Alya berdebar hebat, memasuki ruangan gedung itu ,setelah beberapa hari dia tidak masuk untuk mengikuti kelas privatnya.


 


         Alya duduk seperti biasanya, ia berusaha mengatur nafasnya untuk mengurangi ketegangan dalam dirinya. Mrs Saqueena yang sejak tadi memperhatikan tingkah Alya hanya tersenyum.


 


        "Pagi nyonya, bagaimana kabar anda  hari ini.?" Ucap mrs Saqueena. 


 

__ADS_1


         "Pagi juga miss, kabar saya baik." Jawab Alya gugup.


 


         Ragu- ragu Alya mengeluarkan buku dalam tasnya, karena Adrian belum mau memberikan nilai seratus padanya , Adrian hanya memberi nila lima puluh, walaupun Alya sudah bekerja keras dan mempraktekkan semua materi yang diajarkan oleh mrs Saqueena.


 


         "Suami saya masih memberi nilai lima puluh miss." Ucap Alya ragu-ragu.


       


          "Apa.?" Lima puluh, ini buruk nyonya , anda harus mengulangi lagi materi yang saya ajarkan. Ucap mrs Saqueena dengan kedua bola mata membulat sempurna.


          Alya hanya dapat menundukkan kepalanya, wajah garang mrs Saqueena seketika membuat Alya takut.


 


        Mrs Saqueena meraih buku yang ada di hadapannya , saat mau membuka buku materi dan memulai pelajaran ponsel mrs Saqueena berbunyi notifikasi tanda pesan masuk. 


 


        Seketika mata mrs Saqueena terbelalak saat membaca pesan masuk miliknya , pesan masuk dari Adrian yang mentransferkan sejumlah uang bonus seperti yang  dijanjikan. Sekilas mata mrs Saqueena melirik Alya yang duduk di depannya, ternyata nilai lima puluh adalah akal-akalan Adrian saja. Senyum mengembang menghiasi kedua bibir mrs Saqueena.


 


         Dua jam berlalu mrs Saqueena hanya memberi wejangan agar suami tidak tergoda dengan pelakor, Alya menarik nafasnya lalu bangkit dari duduknya menandakan materi hari ini sudah usai. 


 


             *****


 


          Di kantor Adrian menyunggingkan senyumnya, sebuah pesan masuk dari Alya , bahwa Alya kini sudah keluar ruangan mrs Saqueena. Adrian meraih kunci mobil yang terletak di atas  meja kerjanya. 


         Dengan langkah kakinya yang pasti Adrian menuju parkiran mobil. Mobil pun berjalan dengan kecepatan sedang , di sepanjang jalan tak henti bernada ria mengikuti alunan musik. Tingkah Adrian bagaikan remaja yang sedang jatuh cinta.


 


         Tak menunggu lama Adrian sudah tiba di sebuah gedung , Alya yang sedang duduk lalu  bangkit mendapati mobil milik suaminya memasuki parkiran.


 


         "Lama nunggunya.?" Tanya Adrin.


 


         "Gak juga mas." Jawab Alya 


 


            Mobil pun kembali melaju memecah keramaian kota, Alya sekilas memandangi raut wajah suaminya. Terlihat jelas Adrian yang pertama kali ia kenal dengan Adrian yang kini duduk di sampingnya, kebahagian terpancar di wajah Adrian. 


 


          "Kita makan yuk." Tanya Adrian 


 


          Alya menggelengkan kepalanya.


 


          "Kenapa.?" 


 


           "Kita makan di rumah aja ya, kasihan Arjuna di tinggal terus." Jawab Alya.


 


         Dalam diam Adrian mengagumi sikap Alya, meskipun dia bisa saja mengikuti permintaan suaminya tapi Alya tetap tidak ingin lalai menjadi seorang ibu. 


 

__ADS_1


        Pikiran Adrian seketika melayang tentang status Alya, dengan perlahan jika sudah tiba saatnya dia ingin mengungkapkan siapa Alya sebenarnya. Adrian ingin menemui keluarga Sudirja secepatnya agar Alya tidak lagi mendapatkan hinaan dari siapapun.


__ADS_2