
Hening. Adrian membolak-balikkan badannya ia tampak gelisah setelah pertemuannya dengan Alya. Pikirannya di selimuti penuh dengan tanda tanya. Alya yang kini hamil besar dan perkataan Puspa yang mengatakan bahwa Alya adalah wanita panggilan. Sedangkan ia tahu bahwa dia lah yang pertama menyentuh Alya.
"Iya, dia itu wanita panggilan tuan, karena aku dengar- dengar dia sering jalan dengan, om- om tuan." Ucap Puspa.
"Kenapa kamu berkata seyakin itu.?" Tanya Adrian.
" Ya , karena aku sering melihat dia masuk ke hotel ." Ucap Puspa menyakinkan.
Adrian terdiam mendengar perkataan Puspa. Ia sempat berpikir kalau anak yang ada di dalam kandungan Alya itu adalah anaknya. Kedua tangan Adrian terkepal geram. Tetapi jika benar perkataan Puspa bahwa Alya wanita panggilan bisa jadi benih yang dikandung benih lelaki lain.
"Tidak - tidak itu bukan anakku, itu pasti anak laki-laki lain." Adrian menyakinkan diri sendiri.
Adrian mengambil HP nya beberapa kali dia menggeser no Hp yang ia cari.
" Hallo, Jo aku ingin kamu mencari tahu wanita yang kau bawa malam itu.!" Ucap Adrian.
"Sekarang bos.?" Tanya jonathan di seberang telepon.
"Ya iya , sekarang nunggu lebaran.!" Ingat jangan sampai ada yang tahu.!" Ucap Adrian menekan.
Jonathan melirik jam yang melingkar di tangannya. Jam menunjukkan pukul dua tengah malam.
" Gak tanggung - tanggung bos kasih tugas, masa tengah malam gini.?" Jonathan ngedumel.
****
****
Di dalam ruangannya Adrian tampak gelisah. Karena menunggu kabar dari Jonathan. Beberapa kali Adrian menghela nafas panjang demi mengurai kegelisahannya.
Drrt drrt drttt
Entah sudah beberapa kali HP nya berbunyi panggilan masuk tapi Adrian tetap mengabaikannya. Hatinya kini benar- benar dilema.
Dok dok dok
" Masuk. !"
" Bro…sudah beberapa kali tante Vera menghubungiku. Tante Vera menanyakan keberadaanmu.?" Ucap Bayu
Adrian tidak menjawab perkataan Bayu .
" Sekarang aku harus ngomong apa sama tante bro.?"
" Bilang saja aku sibuk atau apalah.!"
Bayu tampak frustasi dengan jawaban Adrian. Jika tante Vera terus menghubunginya dan menanyakan keberadaan Adrian, Bayu lah orang pertama paling repot mencari jawaban dan alasannya.
__ADS_1
" Sebenarnya apa susahnya bro, menerima Raisa , ini wanita pilihan mama kamu loh, dia cantik dan berpendidikan tidak ada yang kurang dari Raisa bro.Tante Vera pasti memilihkan mu wanita baik-baik untukmu.!" Ucap Bayu menyakinkan Adrian.
"Aku belum siap menikah Bay.!" Jawab Adrian kesal.
"Terus kapan siap nya.?" Tanya Bayu.
Adrian berdecak kesal . Untuk saat ini hatinya benar- benar bimbang. Menikah bukanlah tujuan utama mengenal Raisa. Pikirannya kini masih melayang memikirkan Alya. Jika benar Alya hamil karena dia. Apakah keluarganya akan menerima. Sedangkan dengan Raisa tidak ada rasa cinta. Selain itu dia masih betah melajang.
"Aku belum menemukan wanita yang pas di hati ku Bay.!"
"Hah, apa kamu bilang." Bayu mengerutkan dahinya.
Bayu menatap heran sepupunya. Sebenarnya tidaklah sulit bagi Adrian untuk mencari calon istri. Berdasarkan materi dia mampu dan dikelilingi wanita-wanita cantik dari kalangan atas. Tetapi sejauh ini belum ada yang bisa merebut hati Adrian. Bayu heran wanita seperti apa yang dicari bos nya.
" Kalau begini terus kamu bisa- bisa jadi bujang lapuk alias tua dan gak laku- laku.!" Ucap Bayu kesal.
*****
*****
Puspa tiba di rumahnya setelah pertemuan dengan klien bersama Adrian di cafe di tempat Alya bekerja. Puspa sebenarnya masih penasaran dengan kehamilan Alya.Namun, karena sedang berada di tempat umum ia mencoba menahan diri.
Selain itu setelah memasuki dapur, Alya yang membawa pecahan kaca gelas dan mangkok Alya tidak muncul lagi. Atau mungkin dia sudah pergi meninggalkan cafe.
"Bu, tau gak hari ini aku ketemu siapa.?" Ucap Puspa sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Tangannya melepas sepatu dan menyandarkan tubuhnya di sofa.
Maria yang sedang berada di ruang makan tengah menyiapkan makanan berjalan menghampiri Puspa.
"Dimana kamu bertemu dengan kakakmu Alya, Puspa.?" Tanya Maria penasaran.
"Dia sekarang bekerja sebagai pelayan cafe bu."
Maria sangat terkejut mendengar perkataan Puspa. Memang Alya bisa bekerja apa saja karena dia bukan orang tipe pemalas. Terasa berdenyut nyeri seketika Maria mengingat kejadian waktu itu, bisakah Alya pulang kembali ke rumah ini atau sebaliknya mengingat Baron adalah orang sangat kejam. Sulit melupakan kejadian waktu itu menyisakan luka yang mendalam bagi Maria.
"Katakan dimana Alya bekerja, Puspa.?" Tanya Maria.
"Ibu pasti akan terkejut lagi, kalau aku kasih tahu sesuatu."
__ADS_1
Puspa dengan semangat berbicara membuat Maria penasaran.
"Katakan, sesuatu apa.?" Tanya Maria.
"Kak Alya , sekarang hamil.!"
"Apa kamu bilang ,hamil.!" Maria terperangah mendengar pernyataan Puspa.
Puspa menganggukkan kepala.Puspa tertawa geli mengingat pertemuannya dengan Alya.
" Aku penasaran kak Alya hamil anak siapa ya, bu.?" Karena kak Alya waktu itu kan dijadikan taruhan judi bapak. Kak Alya kan belum menikah.?"
"Wah…, bu jangan-jangan, kak Alya hamil sama banyak orang, kan di jual bapak di kelab malam.
Plak…
Tak tahan mendengar celotehan Puspa, tanpa sengaja Maria mendaratkan tamparan ke pipi Puspa.
"Jaga bicaramu Puspa, kenapa kamu tampak senang sekali tertawa diatas penderitaan kakak mu.!" Ucap ibu Maria menatap Puspa dengan mata berkaca-kaca.
Puspa yang merasakan panas atas tamparan ibunya tanganya mengelus pipi bekas tamparan itu.
"Kenapa sih bu, dari dulu ibu selalu mengutamakan kak Alya.?"
" Apa Puspa bukan anak ibu.?" Ucap Puspa menatap ibunya dengan mata berembun.
"Jangan pernah kamu berkata seperti itu Puspa. Kamu dengan Alya sama-sama anak ibu, tidak ada yang membedakan kalian." Ucap ibu Maria diiringi isak tangis.
"Tapi kenyataanya ibu lebih mementingkan kak Alya daripada Puspa."ucap Puspa menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca.
Hening. Maria hanya bisa bungkam mendengar protes dari Puspa. Tidaklah benar apa yang dikatakan Puspa.
"Seandainya kamu tahu..Puspa."
Maria tidak melanjutkan perkataannya ia menggantungkan perkataanya di awang-awang . Pikirannya seketika melayang beberapa tahun yang lalu, dimana kecelakaan itu merenggut nyawa kedua orang tua Alya. Di mana Maria jadi saksi bisu Anita dan Bram merenggang nyawa di depan matanya. Demi menyelamatkan nyawa Alya yang menjadi incaran penjahat karena keserakahan pamannya Oma Yana menitipkan Alya kepadanya.
"Apa yang harus aku katakan kepadamu, nyonya besar." Gumam Maria hampir tak terdengar.
Berurai air mata yang tak terbendungkan kesedihan yang amat dalam yang dirasakan Maria sekarang, memikirkan nasib Alya yang kini hidup tanpa dirinya. Apalagi setelah mendengar perkataan Puspa. Hamil.? Siapa yang telah menghamili Alya.Apakah Alya sudah berubah menjadi wanita tidak baik karena kejadian waktu itu.
Begitu banyak pertanyaan di kepala Maria. Ingin rasanya segera menemui Alya, tapi hal yang tak diinginkan jikalau sampai suaminya tahu keberadaan Alya.
*****
*****
__ADS_1