Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
Anak siapa?


__ADS_3

       Adrian berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi. Pikirannya sangat cemas, sudah hampir kurang lebih dua jam operasi berjalan, tapi belum ada tanda-tanda akan selesai.


 


           Adrian duduk di kursi , ia menyandarkan punggungnya, matanya menatap kemeja yang penuh noda darah.


 


           "Kenapa aku secemas ini, bukankah dia bukan siapa-siapa ku.?" Gumam Adrian.


 


           Adrian berpikir harus secepatnya mengabari keluarga Alya, atau paling tidak ayah dari anak yang dikandung Alya. Dia berpikir tidak mungkin terus berjaga di rumah sakit ini.Adrian bahkan lupa kalau dia sedang akan bertunangan dengan Raisa. Sementara dia dan Alya tidak memiliki hubungan apa-apa.


 


            Pikiran Adrian tergelitik dengan tas kecil yang berada di sampingnya, tas yang diberikan oleh perawat, karena mengira kalau Adrian adalah suami Alya.Adrian meraih tas kecil milik Alya. Dan membukanya mencoba mencari sesuatu berharap menemukan ponsel Alya, dan akan mengabari keluarganya. Lancang memang , tapi Adrian tidak tahu harus berbuat apa. Setelah membuka tas kecil itu, ia tidak dapat menemukan apa -apa kecuali dompet kecil.


 


         "Apakah dia tidak memiliki ponsel.?


 


        Dahi Adrian mengerut tipis karena heran, kembali pikirannya tergelitik ingin membuka dompet itu, tidak sopan memang pikirnya, tapi ia terpaksa melakukannya. Penasaran, siapa tahu dia menyimpan no ponsel kerabatnya di dompet itu, dan dia akan menghubunginya. Namun, Adrian tidak menemukan petunjuk apa pun. Ia membuka dompet lusuh itu,  hati Adrian pun benar -benar dibuat nyeri dengan melihat isinya.


             "Lima belas ribu.?  Apa dia hanya punya uang segini.?" 


 


          Angka lima belas ribu hanya receh bagi Adrian, tapi bagi Alya uang lima belas ribu itu sangat berharga. Dengan uang lima belas ribu Alya bisa mengisi perutnya.


 


            "Ya, ampun bisa makan apa dia dengan uang segini.?" Ucap Adrian lirih.


 


           Bahkan untuk membeli secangkir kopi di cafe  yang biasa dia minum dengan uang lima belas ribu bagi Adrian tidak cukup.


 


            Ada rasa nyeri di hati Adrian , Adrian menekan perasaan aneh yang tidak biasa , seolah memaksa mata Adrian berair. Baginya seorang pria pantang untuk menangis, dia berusaha tegar tidak boleh cengeng, kenapa dia harus menangis.


 


            Adrian mengeluarkan ponsel dari saku celananya, baru saja membuka ponsel sudag terlihat pemberitahuan panggilan tidak terjawab dan puluhan pesan masuk di ponselnya . Adrian tidak memperdulikannya.


       


            Adrian sudah dapat menebak, itu pasti dari oma, dan mama Vera juga Bayu. Karena ia telah meninggalkan acara pertunangannya.


 


            Adrian menekan no Bayu dan sambungan pun tersambung.


 


 


            "Ya ampun, Adrian kamu kemana saja.?" Tante dan Oma sekarang marah besar, karena kamu mengacaukan pertunangan mu malam ini , kamu benar-benar keterlaluan sudah membuat malu.!" 


 


         Sambutan dari Bayu omelan panjang, bagi Adrian sangat menyebalkan, tetapi bukan Adrian jika ia peduli dengan omelan panjan Bayu.


 


 


              "Ah…sudah-sudah kamu sudah kayak emak-emak aja Bay.


 


              "Cepat ke sini.!" Bawakan pakaian bersih untuk ku dan juga dompetku yang tertinggal di kamar.!" 


 


         Tanpa rasa bersalah dan dosa Adrian memberikan perintah seenaknya pada Bayu.


 


              "Kemana.?" Memang kamu sekarang kamu ada di mana.?" Tanya Bayu di seberang telepon.

__ADS_1


 


              "Aku ada di rumah sakit KASIH BUNDA ." Jawab Adrian.


 


              "Oh ya, jangan beritahukan keberadaan ku dengan oma dan mama, apalagi , Raisa."  Pinta Adrian.


 


              "Kamu kenapa ada disana.?" Memangnya siapa yang sakit.?"  Kenapa kamu tidak cepat kembali kesini.?" Apa kamu tidak sadar  kekacauan macam apa yang sudah kamu lakukan.!" Omel Bayu.


 


             "Sudah ya..Bay , nanti saja ceritanya, bawakan saja apa yang aku minta." Ucap Adrian tidak ingin berdebat panjang dengan Bayu.


            "Baiklah , di rumah sakit mana tadi.?" Tanya Bayu lagi.


 


             "Di rumah sakit KASIH BUNDA, di ruang bersalin." 


      


            "Tapi ingat.! Jangan kasih tahu siapapun Bay." Ucap Adrian memberi peringatan pada Bayu.


            Panggilan pun terputus, Adrian kembali menyandarkan punggungnya di kursi ruang tunggu.Adrian merasa bingung dengan diri nya sendiri , sebenarnya Adrian tidak perlu peduli dengan Alya. Tapi entah mengapa hati kecilnya tidak dapat mengabaikan wanita itu. Dia merasa ,biar bagaimanapun ia adalah orang pertama yang menyentuh Alya. Meskipun anak yang dilahirkannya bukan benihnya.


 


               Adrian masih duduk di ruang tunggu, ketika dia melihat dari kejauhan Bayu datang dengan sebuah paper bag di tangannya. Bayu sangat terkejut melihat kemeja Adrian penuh dengan noda darah.


 


             "Sebenarnya apa yang terjadi, Adrian.?" Suara Bayu memecahkan keheningan.


 


           "Tidak apa-apa , aku habis menolong orang Bay " Jawab Adrian.


 


            "Hah…apa.?" Menolong orang ?" 


 


 


             "Hah.., jadi kamu  pergi meninggalkan acara pertunangan hanya demi menolong orang." Siapa dia.? "  Pertanyaan sarkas membuat Adrian mendengus kesal.


 


            Adrian tidak mempedulikan Bayu yang lagi kesal.


 


              "Sudahlah mana pakain bersihnya.?" Pinta Adrian.


 


              "Ini, dompetmu ada di dalam situ juga." Ucap Bayu kesal 


            Bayu menyerahkan paper bag yang berisi pesanan Adrian . Tanpa banyak kata Adrian menerima paper bag itu ia bangkit dari duduk nya dan menuju toilet yang tak jauh dari ruang tunggu.


 


             Setelah mengganti pakaian , Adrian menghampiri Bayu yang masih duduk menunggu kedatangan Adrian , ia ingin minta penjelasan kepada sang empu pembuat masalah. Apa yang sebenarnya terjadi.


           "Kenapa kamu masih disini.?"  Tanya Adrian.


 


          Adrian pikir Bayu akan pergi setelah menyerahkan paper bag nya.


 


             Bayu mendongakkan kepala , menatap bos sekaligus sepupunya yang konyol itu, sejak tadi dia menahan marah, masih terlihat geram.


 


            "Kamu pikir , aku sundel bolong seenak nya saja kamu mengusir." Ucap Bayu mendengus kesal.


 

__ADS_1


          "Apa sih Bay , tidak lucu sama sekali." Jawab Adrian.


 


           Adrian laku duduk di samping Bayu, tatapan matanya nanar menatap ke arah pintu ruang operasi , yang sejak tadi tidak kunjung terbuka 


 


             Hening. Selang beberapa menit.


      


               "Suami pasien." 


 


             Suara seorang dokter membuyarkan lamunan Adrian.


 


                 "Iya."


 


        Adrian bangkit dari duduknya berjalan menghampiri dokter yang tengah berdiri di depan pintu ruang operasi. Membuat Bayu melongo keheranan . Kok bisa.? . Bisa- bisanya Adrian mengaku suami dari wanita yang sudah ia tolong tadi.


 


              "Bagaimana keadaan pasien dokter.?" Tanya Adrian menatap cemas ke arah dokter.


 


             Dokter itu tampak ragu mau memberi penjelasan. Dia menarik nafas dalam sebelum berbicara kepada Adrian.


 


             "Untuk saat ini, ibu Alya masih dalam pengaruh obat bius pak, bayinya lahir dengan selamat." 


 


              "Selamat ya pak.? Atas kelahiran anaknya, anak bapak laki-laki." Ucap dokter itu sembari tersenyum.


 


           Adrian hanya diam mematung mendengar ucapan dokter yang berada di depannya.


 


           Sedangkan Bayu yang tak jauh dari mereka bingung dengan ucapan dokter. Menikah saja belum kenapa sudah ada bayi. Suami, anak.? 


 


           "Tapi maaf sebelumnya pak , kami perlu menyampaikan kondisi anak bapak sangat lemah berat badannya kurang , dan perlu penanganan khusus." Ucap dokter itu lagi.


 


          Untuk kesekian kalinya, dada Adrian terasa sesak, sakit seperti ada jarum yang menancap di dadanya. Bayi Alya yang kurang berat badannya , ia dapat menebak bahwa Alya menjalani kehamilan pasti serba kekurangan.


 


                  "Baiklah dokter, lakukan saja yang terbaik." Ucap Adrian dengan suara gemetar.


             Dokter meminta Adrian untuk ikut memasuki ruangan operasi. Tiba di dalam ruangan Adrian menatap Alya terbaring lemah di ranjang pasien , tubuhnya Alya di balut dengan kain berwarna hijau. Sementara di sudut ruangan ada sebuah box bayi. Seorang perawat sedang membaringkan bayi.


 


            Perlahan Adrian memberanikan diri untuk mendekati box bayi itu. Hanya untuk melihat bayi itu.


 


              Dan. Waktu seolah berhenti berputar , Adrian menatap bayi mungil itu. Bagaimana tidak , bayi mungil itu yang lahir dari rahim Alya memiliki wajah yang sama dengan dirinya. Bagaikan pinang dibelah dua. Mulai dari bentuk wajah , hidung dan bibir.


 


             Jantung Adrian berpacu cepat. Adrian meraih bayi mungil itu yang masih lemah, lalu mendekap ke dadanya. Ada rasa hangat ketika ia memeluknya. Tak terasa air mata Adrian menetes yang sejak tadi dia tahan.


 


            Tangisan bayi itu yang terdengar lemah berhasil menjebol keangkuhan dan keras hatinya seorang Adrian Dharmawangsa.


 


                   *****

__ADS_1


     


__ADS_2