Dijadikan Taruhan Judi

Dijadikan Taruhan Judi
ARJUNA PUTRA DHARMAWANGSA


__ADS_3

           Di ruang kerjanya sesekali Adrian mengusap kasar wajahnya. Pekerjaan yang ia tinggalkan kini benar-benar menguras tenaga dan pikirannya.Adrian menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya , ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


 


           Tangan Adrian meraih ponsel yang terletak di atas meja. Ia  menggeser ponselnya beberapa kali dan membuka galeri di ponsel itu terlihat jelas foto bayi mungil yang sedang tidur dalam keadaan tersenyum.


 


            "Arjuna Putra Dharmawangsa."


             


            "Ya, itu lah nama yang tepat untuk anakku." Dia sangat menggemaskan sekali." Gumam Adrian.


 


           Entah sudah beberapa kali Adrian menggeser ponselnya dan memandangi foto bayi yang ada di dalam ponsel itu, sesekali tersungging senyum di sudut bibirnya. Ia tak merasa bosan memandangi foto bayi mungil itu.


 


           Adrian teringat dengan insiden bagaimana jatuhnya Alya, di mana di situ Puspa ikut berperan sebagai dalang jatuhnya Alya. Ingin sekali Adrian membalas perbuatan Puspa, terlebih kedatangannya Puspa, yang telah berani datang ke rumahnya. Membuat darah Adrian mendidih jika mengingat perbuatan  Puspa, melaporkan ke kantor polisi hukuman yang paling ringan bagi Adrian. 


 


            "Kamu akan merasakan , bagaimana jadi orang jika direndahkan dan tak di hargai." Adrian tersenyum tipis.


 


             Tok…tok…tok…


 


             "Ya , masuk.!" 


 


             "Bro , bagaimana , aku sudah mempersiapkan semua yang kamu minta." 


 


             Bayu yang muncul di balik pintu dengan semangat memberikan laporannya, tanpa basa-basi ia mengambil kursi dan duduk di depan Adrian. Adrian hanya tersenyum tipis melihat tingkah konyol sepupunya itu.


          "Apakah sudah seratus persen.?" Tanya Adrian.


 


            "Iya dong , nih lihat.!"


 


          Bayu menyodorkan ponsel ke arah Adrian dan memperlihatkan beberapa foto kamar bayi yang telah selesai di desain.


 


             "Jadi , kapan kita akan membawa pulang Alya dan anak nya.? Tanya Bayu 


 


             "Kita tunggu dari pemeriksaan akhir dokter, karena Alya kemarin sempat mengalami pendarahan di bagian perutnya." Jawab Adrian.


            


             "Bay , aku ingin kamu awasi setiap pergerakkan Puspa." Ucap Adrian.


 


             "Tunggu…tunggu, kamu tidak sedang merencanakan membunuh orang kan.?" Tanya Bayu yang terdengar konyol.


 


              "Maksud kamu.?" Buat apa aku membunuhnya." Nanti kamu akan tahu sendiri." Jawab Adrian.


  


              "Oke, sekarang apa rencana mu.?" Ucap Bayu.


 


            "Apakah oma dan tante sudah tahu 


 tentang Alya dan anaknya. Apakah mereka setuju jika kamu membawanya pulang.?" Tanya Bayu.


 


              Perkataan Bayu membuat Adrian bungkam. Perdebatan kemarin sudah membuktikan bahwa kehadiran Alya dan anaknya tidak diinginkan. Tapi hati Adrian bertekad untuk tetap merawat bayinya. Masalah Alya dia tidak ingin memaksakan kehendaknya.


 


               "Itu juga yang sedang aku pikirkan Bay." Jawab Adrian.


                  


 


             "Aku mendukung , apa yang kamu lakukan bro, apakah Puspa sudah tahu tentang Alya.?" 


 


           Adrian tidak menyahut . Ia hanya menggelengkan kepalanya pelan. Pikiran Adrian kini benar-benar dilema dimana oma dan mamanya menentang dia menikahi Alya, hati kecilnya tak dapat mengabaikan Alya dan juga anaknya.


 


             ****


 


            Puspa yang di balik pintu mendengar pembicaraan Adrian dan Bayu, dia mengepalkan tangannya. Dia tidak bisa menerima kenyataan kalau Adrian akan menikahi Alya. Kenyataan pahit baginya jika itu terjadi. Karena selama ini Puspa mengincar Adrian untuk menjadi suaminya.


 


              "Tidak akan kubiarkan kamu menikahi Alya." Ucap Puspa mengepalkan kedua tangannya.


 

__ADS_1


             Puspa memperhatikan setiap pergerakan Adrian dan Bayu. Dia ingin tahu di rumah sakit mana Adrian membawa Alya.


 


              Ketika Bayu dan Adrian keluar dari ruangan,Puspa mempercepat langkahnya dia mengikuti Adrian dan Bayu. Setelah memasuki mobil Adrian dan Bayu meluncurkan kendaraanya. Puspa dengan cepat memasuki mobilnya dan dengan sangat cepat dia sudah berada di belakang mobil yang dikendarai Bayu dan dan Adrian.


 


             Tak berapa lama mobil itu parkir di halaman rumah sakit. Adrian dan Bayu memasuki rumah sakit itu.


 


              "Baik kita lihat siapa yang akan memenangkan pertarungan ini." Ucap Puspa tersenyum licik.


            


 


               Puspa memutar arah mobilnya. Terlihat jelas di wajahnya memendam kebencian yang teramat dalam. Sesekali dia menyunggingkan senyumnya.


 


             Tiba di halaman rumah mewah itu dia memarkirkan mobilnya. Dengan tidak sabar ia turun dari mobilnya ingin menemui  tuan rumah yang kini di hadapannya.


 


             "Apakah setelah ini , kamu masih bisa tersenyum Adrian.?" Gumam Puspa.


 


              Tak berapa lama Puspa menekan tombol bel rumah itu, hingga muncul mama Vera yang membuka pintu rumah.


 


               "Siang tante." Ucap Puspa tersenyum ramah.


 


               "Kamu.?" Ada apa kamu kemari.?" Tanya mama Vera mengerutkan dahinya heran dengan kehadiran Puspa.


 


               "Maaf tante mengganggu, boleh saya masuk tante, ada hal penting yang ingin saya katakan." Ucap Puspa berbasa-basi.


 


               "Oh ya, mari masuk.!" 


 


                Puspa pun masuk dan duduk berseberangan dengan mama Vera.


 


                "Katakan , ada apa kamu ke sini.?" Tanya mama Vera.


 


                "Begini tante ini soal tuan Adrian, tentu tante sudah tahu tentang Alya yang saya ceritakan kemarin, bahwa Alya itu bukan wanita baik-baik. "Ucap Puspa antusias.


 


 


              "Kalau sampai tuan Adrian menikahi Alya , apa tante tidak malu." Sebaiknya tante datangi saja Alya yang ada di rumah sakit, beri dia peringatan agar tidak mendekati lagi tuan Adrian." Ucap Puspa.


 


            Mama Vera terdiam sejenak , dia memikirkan perkataan Puspa , ada benarnya juga perkataan Puspa. Jika dia menemui Alya langsung dan berbicara padanya untuk menjauhi Adrian itu akan lebih aman baginya jika dia harus berdebat lagi dengan Adrian.


 


             "Bagaimana tante.?" Beri Alya sejumlah uang dan suruh dia pergi dari kota ini." Sekalian tuh,bawa anaknya biar tuan Adrian tidak lagi harus menikahinya." Ucap Puspa.


 


             "Benar juga apa yang kamu katakan, aku tidak akan pernah mengakui dia sebagai menantu rumah ini, ini benar-benar memalukan." Ucap mama Vera geram.


 


          Ingin rasanya Puspa berteriak , memberitahukan pada dunia bahwa kali ini dia benar-benar menang melawan Alya. Senyum licik tersungging di sudut bibirnya. Ibarat orang bermain kartu , dia sudah memegang kartu As nya. Tanpa dia harus bersusah payah , ibunya Adrian sudah menentang hubungan Adrian dan Alya.


 


              "Terimakasih , kamu benar-benar baik, sudah memperhatikan Adrian." 


 


              "Kenapa tidak kamu saja ya.., yang menjadi menantu saya, selain cantik kamu juga cerdas." Ucap mama Vera memuji.


 


                Degh.


 


             Wajah Puspa seketika berubah bersemu merah, ia terkejut dengan perkataan ibunya Adrian. Hatinya kini berubah berbunga-bunga , dia tidak menyangka kalau ibunya Adrian menginginkannya.


 


             "Ah tante, saya jadi malu. Mana mau tuan Adrian sama saya.?" Ucap Puspa tersipu malu.


 


            "Kenapa tidak , kamu selain cantik cerdas dan berkelas sepertinya cocok deh." Ucap mama Vera memindai Puspa dari ujun rambut sampai ke ujung kaki.


 


           Puspa yang merasa di perhatikan itu menjadi salah tingkah.


 


   

__ADS_1


            "Oh ya ngomong-ngomong, orang tua kamu bekerja apa.?" Tanya mama Vera.


 


             "Oh , orang tua saya mengurus perusahaannya di luar negeri." Jawab Puspa asal.


   


             "Perusahaan apa." Tanya mama Vera.


 


              "Tambang batubara , tante." Jawab Puspa berbohong.


 


              "Wah..hebat sekali , tapi kenapa kamu bekerja di perusahaan saya." Tanya mama Vera.


 


              "Saya hanya ingin mencari pengalaman tante." Jawab Puspa gugup.


 


               Hati Puspa kini sangat gugup sekali menghadapi pertanyaan-pertanyaan ibunya Adrian. Demi untuk mendapatkan Adrian dia rela melakukan kebohongan itu. Dia tidak ingin ikan yang ia susah payah di jaring akan lepas begitu saja.


 


                *****


 


             Setelah pertemuan dengan Puspa kini mama  Vera tengah memikirkan kata-kata puspa. Ada benarnya jika dia menemui Alya dan memintanya pergi. Ia tak ingin permasalahan keluarganya  di ekspos lagi di media. Terlebih kalau sampai semua orang tahu tentang Alya, bahwa wanita panggilan.


 


             Mama Vera mendekati mobilnya, dan meminta supir memeriksa mobilnya terlebih dahulu. 


 


              "Kita berangkat sekarang nyonya.?" Tanya supir itu.


 


             "Iya kita jalan sekarang." Jawab mama Vera.


 


             "Antarkan saya ke rumah sakit KASIH BUNDA." Pinta mama Vera.


 


             Setelah menempuh waktu kurang lebih tiga puluh menit . Mobil mama Vera memasuki halaman rumah sakit. Dia pun turun dari mobilnya , matanya berotasi memindai satu persatu mobil di parkiran , memastikan mobil Bayu dan Adrian tidak ada.


 


             Mama Vera perlahan berjalan memasuki rumah sakit itu. Dia pun menemui bagian Administrasi, setelah mendapatkan apa yang di mau , dia pun bergegas berjalan menuju ruangan perawatan. Memastikan tidak ada yang melihatnya mama Vera memasuki ruangan perawatan di mana Alya sedang menyusui bayinya.


 


             Alya yang sedang menyusui bayinya dan mengajak anaknya berbicara tidak menyadari kehadiran orang.


 


              "Katakan.!" Berapa uang yang kamu inginkan." Ucap mama Vera dingin tanpa ekspresi.


 


              Alya yang sedang asyik menyusui anaknya terkejut dengan kehadiran wanita yang kini berdiri  di hadapannya. Wanita itu sangat elegan dengan penampilannya.


 


               "Maaf nyonya , anda siapa.?" Tanya Alya.


 


               "Tidak usah berbasa-basi, tentunya kamu tahu siapa saya.?" Ucap mama Vera dengan tatapan dingin.


 


             Alya hanya menerka di dalam hati. Terlihat dari cara berpakaiannya tentu bukan orang sembarangan.


 


              "Apakah ini ibunya tuan Adrian.?"  Gumam Alya di dalam hati.


 


              "Kenapa kamu diam, tulis berapa yang kamu mau dan lalu pergi dari kehidupan anak saya." Ucap mama Vera sembari tangannya menyodorkan selembar cek dan pena.


 


             "Saya tidak sudi mempunyai menantu wanita murahan, dan bawa pergi jauh-jauh anak haram kamu itu!"  Belum tentu itu anak hasil hubungan kamu dan Adrian ." Ucap mama Vera dengan tatapan menghujam.


 


             Hati Alya terasa diremas mendengar perkataan yang dilontarkan ibunya Adrian. Terlebih lagi dia menyebut anak haram, bagaikan ditusuk belati di dadanya perkataan yang begitu menyakitkan. Sebisa mungkin Alya menahan beningan kristal yang akan jatuh di sudut matanya. Ia tak ingin terlihat lemah dihadapan ibunya Adrian.


 


            Alya terdiam memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab ibunya Adrian.


 


             "Maafkan saya nyonya, simpan saja uang anda, anda tidak perlu repot-repot meminta saya pergi dan mencaci saya. Saya akan pergi sejauh mungkin dari hidup tuan Adrian." Jawab Alya sendu.


 


         "Hidup susah saja sombong, baik, pegang kata-kata kamu. Jika kamu masih mendekati anak saya, saya pastikan kamu tidak akan melihat matahari terbit.!" Ucap mama Vera sembari pergi meninggalkan Alya.


 


            Terasa runtuh jantung Alya mendengar perkataan mama Vera. Akhirnya jatuh juga air mata yang ditahan sejak tadi. Inilah yang dia takutkan dari kebaikan Adrian selama ini.Alya tak ingin lagi mendengar kata-kata yang menghina dirinya , apalagi anaknya. Dia mengemasi beberapa barang bayi yang diperlukan. Setelah memastikan keadaan aman , menunggu satpam penjaga lengah, dengan langkah tertatih Alya pergi meninggalkan rumah sakit itu.

__ADS_1


               *****


      


__ADS_2