
Dengan sangat terpaksa,Rial mengiyakan keinginan ayahnya itu.Dia tidak ingin ayahnya itu marah kepadanya lagi.
"Iya Ayah."
Ibu Nia tau kalau Rial berusaha menuruti permintaan ayahnya itu.
"Kamu bisa cari sekolah yang kamu inginkan nak." ibu Nia mengambil pembicaraan antara suaminya dengan Rial.
Tapi langsung saja dibantah oleh pak Arif.
"Tidak ada yang boleh membantah saya.Rial harus satu sekolah dengan Erna."
"Bukan begitu yah.tapi sekolah yang ayah maksud itu sekolah unggulan.untuk masuk di sekolah itu tesnya sangat ketat." ibu Nia berusaha menenangkan suaminya agar tidak salah paham kepadanya.
Rial,sari dan juga Dani hanya terdiam mendengar kedua orang tuanya berdebat.
"Rial kan pintar,nilai hasil ujiannya juga bagus.Ayah yakin Rial bisa masuk di sekolah itu." Pak Arif sekali lagi memaksakan kehendaknya itu
Dia begitu yakin kalau Rial bisa masuk di sekolah unggulan itu bersama dengan Erna.
Sedangkan Erna dipastikan akan lulus masuk di sekolah itu.karena orang tua Erna adalah tenaga pengajar di sekolah itu.
Itu yang membuat pak Arif memastikan anaknya akan masuk di sekolah yang sama.Orang tua Erna pasti akan membantunya.
Makanan di piring Rial,Dani dan juga sari dari tadi sudah habis.Tapi karena mereka tidak enak untuk meninggalkan orang tua yang sedang berdebat tentang Rial.
"Pa..ma..Rial masuk ke kamar dulu."Rial menyela pembicaraan ayah dan ibunya.
Diikuti juga oleh Dani dan juga sari.
"Iya ma..yah..sari juga sudah selesai makannya."Kalimat lembut keluar dari mulut kecil sari yang tidak paham dengan pembicaraan kedua orang tuanya itu.
Mereka bertiga pun meninggalkan kedua orang tuanya yang masih berdebat.
Ibu Nia pun mengalah kepada suaminya.dia tidak ingin membuat suaminya marah seperti tadi.
Sedangkan pak Arif masih menghabiskan makanan yang masih tersisa di piringnya.
Ibu Nia dengan setia menunggu suaminya makan.Dia berusaha diam saja.
"Kok diam saja?" tanya pak Arif kepada istrinya.
"Tidak kok yah..ibu sudah selesai makan."
"Ya sudah,ayah juga sudah selesai." seraya pak Arif berdiri dari meja makan dan ke ruang kerjanya.
__ADS_1
Di ruang kerja ini lah,pak Arif bisa berdi berjam-jam bahkan dia bisa tertidur di ruang kerjanya.
Di ruang kerjanya juga ini,dia menyimpan barang kenangna bersama istri pertama yang sudah lama meninggal.
Istri pertama pak Arif meninggal saat melahirkan Rial.Oleh sebab itu dia sangat menyayangi anaknya itu bahkan akan rela memberikan apa yang terbaik kepada anaknya itu.
Pak Arif duduk di ruang kerjanya.di laci meja,tangannya meraih sebuah kotak yang cukup besar.
Pak Arif membuka kotak tersebut.Dia mengambil foto yang sudah usang.
Itu adalah foto satu-satu penginggalan ibunya Rial.Dia sangat mencintai istrinya itu bahkan rasa cintanya kepada istrinya yang sekarang tidak sebanding dengan rasa cintanya kepada ibunya Rial.
Sambil memegang foto istrinya itu,pak Arif mengungkapkan permintaan maaf kepada istrinya itu.
"Ma...maaf karena menampar anak kita tadi.Kamu pasti sedih,kamu melihatnya tadi kan?"
pak Arif merasa bersalah karena menampar Rial tadi.Padahal dia sangat menyayangi anaknya itu.
Baginya Rial adalah jiwanya.Sebelum istrinya meninggal dia berjanji akan membesarkan Rial dengan penuh kasih sayang.
Pak Arif berpikir,istrinya pasti akan sedih karena dia tadi menampar anaknya itu.
Sementara di dalam kamar,Rial memikirkan cara bagaimana dia bisa menghindar dari Erna.
Dia pun menemukan cara-cara agar lulus dari sekolah itu.Dari semua persyaratan itu,dia pasti akan lulus karena nilai ujian nasional masuk dalam kategori itu.
Rial putus asa,dia tidak punya pilihan lagi.Pikirnya tidak ada cara lain.
Dalam keputusasanya,dia menemukan dalam persyaratan di sekolah itu kalau salah satu persyaratannya tidak boleh buta warna.
"Ini bisa dimanfaatkan,saya bisa berpura-pura buta warna saja."ini cara terbaik menurut Rial.
Akhirnya Rial bisa tersenyum dan tidur siang dengan nyenyak.
Sementara pak Arif masih di ruang kerjanya.Ibu Nia mengetuk pintu,dia tidak berani langsung masuk begitu saja.
Pak Arif akan marah besar kalau dia melakukan itu.makanya ibu Nia akan mengetuk pintu terlebih dahulu.
Pak Arif langsung memasukkan foto istrinya itu ke dalam kotak tersebut karena dia tau ibu Nia yang mengetuk pintu.
"Yah..yah..Boleh ibu masuk."Ibu Nia membawa 2 cangkir teh di tangannya.
Pak Arif langsung buru-buru menyimpan kotak kenangannya di dalam laci meja kerjanya.
__ADS_1
"Masuk Bu."
Ibu Nia langsung masuk karena sudah terdengar perintah dari suaminya itu.
Ibu Nia membuka pintu,di tangannya sudah ada teh.Walaupun ibu Nia bisa masuk kapan saja di ruang kerja suaminya tapi dia tidak berani untuk menyentuh barang-barang di ruang kerja itu.
"Ada apa Bu,apa ada yang penting?" tanya pak Arif kepada istrinya.
Karena biasanya,ibu Nia baru akan menghampiri suaminya di ruang kerjanya kalau ada hal penting yang akan dibicarakan.
"Ini tentang Rial yah." Pak Arif sudah bisa menebak tentang arah pembicaraan istrinya itu.
"Memangnya ada apa?" Pak Arif sudah tenang tampaknya tidak seperti tadi.
"Ayah jangan paksa Rial dong."
"Ini semua demi kebaikan Rial Bu." Pak Arif langsung beranjak dari tempat duduknya dan berdiri di jendela sambil melihat tanaman di depan rumahnya itu
"Bukan apa-apa Yah.bagaiman kalau Rial memberontak.Menjadi anak yang tidak penurut lagi " ibu Nia khawatir kepada Rial.
Tapi pernyataan ibu Nia masih tidak dihiraukan oleh pak Arif.Pak Arif masih saja teguh akan keinginannya.
"Ibu tidak usah khawatir.Ayah tau apa yang ayah lakukan.Jadi ibu tenang saja." Berjalan mendekati istrinya dan memegan tangan berusaha menenangkan istrinya itu yang dari tadi khawatir kepada Rial.
Ibu Nia tidak punya pilihan selain menuruti permintaan suaminya itu.
"Ya sudah Yah...Kita minum teh dulu ya.Ibu sudah buatkan spesial untuk ayah." Ibu Nia mengambil secangkir teh dan memberikan kepada pak Arif.
pak Arif meraih teh yang disodorkan oleh istrinya.
"Terima kasih Bu.." Pak Arif tersenyum.
Ibu Nia bersyukur karena melihat senyum pak Arif yang dari tadi marah-marah.
"Ibu minum juga dong." Pak Arif mempersilahkan istrinya untuk ikut minum teh bersamanya.
"Oh iya pak,Kak Dina akan datang besok dari kampung."
Dina adalah adik perempuan dari pak Arif.Dina tinggal di kampung bersama suami dan anak-anaknya.
Dina adalah seorang guru yang mengajar di kampung.
"Oh iya Bu.."Pak Arif senang karena adik satu-satunya akan ke kota.Dia sudah sangat rindu dengan adiknya itu.
__ADS_1
Bersambung