Doaku Berbeda Dengan Doamu

Doaku Berbeda Dengan Doamu
Aneh


__ADS_3

Erna dan orang tuanya kini masih berada di sekolah.mereka masih tidak percaya dengan apa yang dialami tadi.Bagi Erna ini seperti mimpi baginya.


Pupus harapannya."Ma..Pah..Erna masih tidak percaya."


"Sabar ya nak!Nanti kita cari jalan keluarnya sama-sama."sambil menatap suaminya berharap agar suaminya bisa mencari jalan keluar yang terbaik.



"Ya sudah,lebih baik kita pulang dulu.nanti papa cari solusinya."Erna begitu berharap agar ada keajaiban untuk Rial.


sementara di rumah,Rial duduk di depan laptopnya.dia begitu senang,dia masih tidak percaya kalau rencananya berjalan dengan mulus.setidaknya untuk kali ini,dia bisa menghindar.


"Ma..makan siangnya sudah siap?"tanya sari kepada ibunya yang dari tadi melamun.


Ibu Nia kaget.dia tidak menyadari kalau anaknya yang lain sudah pulang dari sekolah.


Ibu Nia masih memikirkan rial.apalagi kalau Rial harus sekolah di kampung.dia tidak tega kepada Rial kalau harus berpisah dengan mereka.


"Mama kok melamun,sari sudah lapar.tali makanannya belum ada." sari heran karena belum ada makanan tersedia di meja.biasanya sebelum anak-anaknya pulang dari sekolah,makanan sudah tersedia.


Tante Dina dan suaminya pun ke ruang makan,mereka semua sudah tampak kelaparan.


"Ini sudah waktunya makan siang kak.kok belum ada makanan." kaki Tante Dina langsung diinjak oleh suaminya.


Tante Dina meringis kesakitan,Tante Dina langsung mengalihkan pembicaraan.


"Apa kak Nia masih memikirkan rial.sudahlah kak,Rial biar ikut kami ke kampung."



"Nanti kita bicara lagi." Ibu Nia menyiapkan makanan di atas meja,dia juga tidak ingin membahas Rial harus sekolah di mana.


Mereka pun langsung duduk,sedangkan ibu Nia memanggil Rial di kamarnya.


sedangkan Dani masih belum pulang dari sekolah.biasanya kalau hari Senin,Dani akan terlambat pulang dari sekolah.


Sama seperti Rial,Dani termasuk anak yang pintar.dani biasanya mengikuti extrakurikuler di sekolahnya.cuma bedanya Rial anak yang pendiam sedangkan Dani anak yang ceria dan mudah bergaul dengan siapa saja.


Ibu Nia mengetuk pintu kamar rial.tapi,tidak ada jawaban dari kamar rial.akhirnya ibu Nia langsung membuka pintu kamar rial.dia melihat kalau Rial sedang tertidur pulas.


Dengan perlahan,ibu Nia menutup pintu kamar rial.dia sangat hati-hati karena tidak ingin menganggu Rial.


Ibu Nia langsung menuju meja makan.di sana sudah ada Tante Dina,suaminya dan juga sari yang sedang lahap menikmati makanan.Sebenarnya ibu Nia tidak selera makan tapi dia tidak enak dengan adik iparnya itu.


"Rial mana kak,kok tidak ikut makan?"



"Rial sedang tidur.saya tidak tega membangunkannya." ibu Nia mengambil nasi dan lauk yang dimasaknya tadi.



"Mungkin masih capek kak."

__ADS_1


Ibu Nia hanya mengangguk tanda setuju dengan dina.dia seperti kehilangan tenaga.bahkan selama mereka mekan siang.suasana begitu hening.tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut ibu Nia.


Tante Dina juga paham akan keadaan yang terjadi,dia tidak ingin membuat kakak iparnya itu semakin bersedih.dia pun hanya terdiam sambil menikmati makanannya.


"Sari sudah selesai Bu." sari berdiri meninggalkan ibu dan tantenya yang masih terlihat menghabiskan makanannya.dia masih terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi.


Dan sekali lagi ibu Nia hanya mengangguk.


"Kak,dari tadi melamun saja.Makanannya saja tidak dihabiskan." ibu Nia melihat makanan dipiringnya yang ternyata masih banyak.mungkin cuma satu atau dua suap yang masuk di mulutnya.



"Maaf Din,saya masih kepikiran tentang Rial." Tante Dina membereskan piring yang ada di meja makan.sedangkan suaminya langsung ke ruang tamu.dia tidak ingin ikut campur dengan apa yang terjadi.



"Kak,tidak usah sedih.pasti ada jalan keluarnya dan maaf tadi kalau Dina seperti memaksa Rial untuk sekolah di kampung." Langsung memeluk ibu Nia.


Mereka pun berpelukan begitu lama."Saya cuma heran saja,seperti ada yang aneh.karena Rial tidak pernah menunjukkan gejala apapun kalau dia buta warna.


"Jadi gara-gara itu,Rial tidak lulus?" dari tadi Tante Dina tidak tau alasannya Rial tidak lulus karena buta warna.



"Ya sudah kak,nanti kita bicara dengan Rial." saling melepaskan pelukan dan ibu nia langsung menghapus air matanya.


Ibu Nia langsung membereskan meja makan.dia langsung menuju ke kamarnya.


sedangkan Erna sudah sampai di rumahnya,dia langsung menuju masuk ke kamarnya.sedangkan orang tuanya masih terlihat sedih melihat putrinya begitu sedih memikirkan Rial.


"Apa Rial sengaja,tapi tidak mungkin juga." memukul kepalanya sendiri dan langsung duduk di depan cermin.



"Saya harus ke rumah Rial sekarang dan menayakannya sendiri.saya harus tau apakah Rial sengaja atau tidak." berdiri mengambil tasnya kembali.


karena terburu-buru,Erna jatuh terpeleset di tangga.


"Itu suara apa pah?" Pak arka langsung berlari keluar dari kamarnya.diikuti oleh istrinya.mereka berdua kaget karena menemukan Erna sudah duduk di tangga,dia terlihat kesakitan sambil memegang kakinya.


pak arka bersama dengan istrinya langsung mengangkat Erna yang tidak bisa berdiri sendiri.dan langsung membawanya masuk ke kamarnya.


"Kamu kok bisa jatuh nak?" sambil membaringkan Erna di tempat tidurnya.



"Jawab nak.mama sama papa begitu khawatir."


Dengan terpaksa Erna menjawab pertanyaan kedua orang tuanya itu.


"Erna sebenarnya mau ke rumah Rial.tapi karena tidak hati-hati Erna jadi terpeleset di tangga."


__ADS_1


"Kamu mau apa ke rumah Rial segala?" pak arka masih penasaran,dia ingin tau tujuan anaknya itu yang sebenarnya.



"Erna masih heran pah,kenapa Rial tidak lulus.ada yang aneh?" Erna memegang kakinya yang sakit



"Aneh.. aneh kenapa nak?" tanya pak arka kembali.



"Karena selama ini,Rial tidak pernah menunjukkan tanda-tanda kalau dia buta warna pah..mah.."



"Kamu tau darimana nak?" mamanya ikut bertanya kepada Erna sambil memijit kaki putrinya itu.


selama ini Erna diam-diam memperhatikan rial.dia rela duduk di taman seharian hanya untuk memperhatikan rial.karena tempat favorit Rial di sekolah hanyalah taman yang ada di sekolahnya.


Tapi sayangnya Rial tidak pernah memperhatikan keberadaan Erna, sekalipun Erna ada di sampingnya.


"Mama tanya nak,kamu tau dari mana?"



"Cuma lihat saja di sekolah,Rial itu anak yang pintar dan juara kelas jadi tidak mungkin saja kalau ada kelainan." dia tidak ingin tau kalau selama ini,dia memperhatikan Rial secara diam-diam.


Mereka tertawa bersamaan....


"Kok tertawa,memangnya ada yang aneh?" Erna cemberut karena di tertawakan oleh orang tuanya.


pak arka langsung duduk di samping putrinya itu


"Begini nak,pintar ataupun tidak,tidak ada hubungannya dengan buta warna.bahkan kalau Rial juara kelas sekalipun karena buta warna adalah gangguan yang tidak bisa kita ketahui secara langsung."


pak arka memberikan pemahaman kepada Erna.Tapi,Erna masih merasa kalau ada yang aneh.


Tapi karena tidak ingin berdebat dengan ayahnya dan tidak ingin mereka ikut khawatir,Erna terpaksa mengiyakan apa yang dikatakan papahnya.


"Kita ke dokter saja ya nak." tanya mamanya



"Tidak usah ma..Erna baik-baik saja.sebentar sembuh juga kok." mamanya masih khawatir tapi dia tidak ingin memaksa putrinya itu.



"Ya sudah..kamu istirahat.mama sama papa keluar dulu ya."



"Iya ma..pah.." sambil tersenyum kepada kedua orang tuanya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2