
Mitha yang masih sangat penasaran dengan apa yang terjadi berusaha kembali menghubungi Rial. Dia berharap kali ini dia bisa mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya.
Sementara itu, pak Arif yang masih marah kepada putranya berusaha tidak memperlihatkan kemarahannya di depan anak-anaknya yang lain.
"Ayo makan nak!" Ucap ibu Nia, suasana di pagi hari ini begitu canggung. Tanpa candaan dan gelak tawa.
"Terima kasih Bu!" Ucap Rial.
Di saat itu bunyi telepon berdering di ruang tamu yang membuat mereka terhenti sejenak. Dengan sigap Rial segera mengangkat telepon dan berharap Mitha lah yang menelpon dan ternyata dugaannya benar.
"Halo." Ucap Rial di ujung telepon, mendengar suara yang begitu dia rindukan membuat Mitha tersenyum bahagia.
"Halo..kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Mitha.
Rial tau kalau Mitha begitu mengkhawatirkannya, kini dia hanya ingin mendengar suara wanita yang mulai dia cintai.
"halo.." Teriak Mitha di ujung telepon namun masih tidak ada suara apapun. Dia mencoba kembali dan kembali namun tetap saja dia tidak mendengar suara Rial.
"Halo..." Ucap Rial kebingungan karena tidak mendengar suara Mitha.
"Percuma saja!" Ucap pak Arif yang curiga kalau Rial menerima telepon dari Mitha. Dia segera memutuskan kabel teleponnya.
"Ayah..saya mohon!" Lanjutnya.
Pak Arif seolah tidak peduli dengan Rial yang menangis memohon dihadapannya. Dia menarik Rial ke kamarnya dan menguncinya dari luar kamar.
"Jangan ayah, Rial mohon keluarkan saya dari sini!" Rial mencoba memberontak dan berusaha agar pintu kamarnya bisa terbuka.
Tubuh kecil Rial masih saja tidak mampu membuka pintu kamarnya yang terkunci.
"Ini akibatnya kamu melawan ayah. Sekarang kamu diam di sini dan tidak usah ke sekolah dulu sampai kamu menyadari kesalahanmu." Ucap pak Arif berlalu sembari membawa kunci kamar Rial.
Pak Arif tau kalau istrinya akan berusaha agar Rial bisa keluar dari kamarnya.
"Ibu jangan coba-coba membuka pintu kamar Rial karena percuma saja." Ucap pak Arif sembari mengacungkan kunci kamar.
"Tapi ayah." Ucapan ibu Nia terhenti ketika pak Arif berlalu dan tidak memperdulikan ucapan ibu Nia.
"Bagaimana ini, kasihan kamu nak!" Guman ibu Nia dalam hati. Dia tidak tega kepada Rial harus mendapatkan perlakuan buruk dari ayah kandungnya sendiri.
Di perjalanan menuju ke kantor pak Arif terus memikirkan apa yang harus dilakukannya agar putranya penurut kepadanya bisa kembali seperti dulu.
⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1
Mitha tidak bisa berhenti memikirkan Rial. Dia begitu yakin terjadi sesuatu kepadanya namun sekeras apapun dia berpikir dia tidak bisa menemukan jawabannya.
"Kami kenapa?" Entah dari mana datangnya Andra tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Kok bisa ke sini, bukankah kan Andra sedang menunggu pengumuman hasil ujiannya." Ucap Mitha.
"Saya hanya ingin menikmati suasana sekolah sebelum saya lulus. Makanya saya rajin ke sekolah ini." Ucap Andra sambil menikmati pemandangan di sekolahnya.
Andra mungkin akan merindukan suasana di sekolahnya ini. Dia yang masih belum menerima jawaban dari Mitha berharap akan mendapatkan jawaban segera.
"Bagaimana?" Tanya Andra.
"Bagaimana apanya." Mitha terlihat bingung.
"Jadi kamu lupa atau pura-pura lupa!" Ucap Andra.
Mitha semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Andra, pikirannya saat ini hanya tertuju kepada Rial
"Apa sih, jangan buat saya bingung!" Ucap Mitha dengan manja yang semakin membuat jantung Andra berdetak begitu kencang.
Andra mengengam erat tangan Mitha, hanya isyarat yang ingin dia sampaikan kalau selama ini dia menunggu jawaban dari wanita yang da di depannya sekarang.
Awalnya Mitha kaget ketika Andra mengengam tangannya, dia mulai menyadari kalau dia akan segera memberikan jawaban dari isi hatinya untuk Andra. Namun dia sendiri bingung dengan perasaan sebenarnya.
"Sampai kapan. Lusa saya akan pergi!" Ucap Andra.
"Pergi ke mana?" Tanyanya.
"Saya akan kuliah di Jakarta." Ucap Andra.
"Apa...Jakarta." Pekik Mitha kaget. Tiba-tiba dia merasa kesedihan dalam hatinya.
"Kenapa jauh sekali, di sini kan banyak universitas yang tak kalah terkenal dari universitas di Jakarta." Ucap Mitha yang terlihat tidak rela kalau Andra akan jauh darinya.
"Kamu ini kenapa?" Tanya Andra tersenyum.
"Kamu kenapa tersenyum, memangnya ada yang lucu." Mitha semakin kesal ketika Andra terlihat santai saja.
"Saya senang kalau kamu tidak mu jauh-jauh dari saya." Andra memandang Mitha begitu tajam yang membuat Mitha semakin grogi.
Andra terpaksa kuliah di luar kota karena ingin membuktikan kepada orang tuanya kalau dia bisa sukses. Perceraian orang tuanya tidak ingin membuatnya semakin terpuruk, pertemuannya dengan Mitha perlahan-lahan membuatnya sadar kalau hidup tidak harus kita tangisi.
Mereka terdiam sejenak, Mitha masih tidak rela kalau Andra akan kuliah di luar kota. Namun karena gengsi dia tidak ingin tahu lebih jauh tentang Andra.
__ADS_1
"Sebelum saya pergi, saya ingin mendengar jawaban itu. Apapun jawaban kamu nantinya saya tidak akan marah kok. Jadi, kamu jangang tertekan." Tangan Andra memeluk Mitha, kini Mitha tidak berusaha melepaskannya. Dia tampaknya nyaman dipeluk Andra.
⭐⭐⭐⭐
Karena kehabisan tenaga, Rial tertidur sampai terdengar suara seseorang sedang membuka pintu kamarnya.
"Ayah..saya mohon jangan paksa saya!" Ucap Rial namun pak Arif tidak bergemin sedetik pun.
"Kamu ini kenapa begitu bodoh. Ayah menyekolahkan kami di tempat yang terbaik tapi, kamu semakin bodoh saja." Ucap pak Arif yang membuat Rial semakin tidak mengerti.
"Maksud ayah apa?" Tanyanya.
"Kamu tau Erna kan, dia itu putri satu-satunya. Keluarganya juga terpandang. Kenapa kamu tidak mendekati Erna saja. Ini malah gadis kampung yang tidak jelas." Rial semakin murka kepada ayahnya itu, bagaimana mungkin ayahnya bisa berbuat serendah itu.
Di tengah perdebatan antara ayah dan anak itu, tiba-tiba Tante Dina yang tidak tau apa-apa langsung memeluk pak Arif.
"Kalian kenapa?" Tanya Tante Dina.
"Kamu kapan datang?" Pak Arif segera mengalihkan pembicaraannya, dan kini dia tau apa yang harus dilakukannya.
"Saya hanya mampir kok! Ini saya sudah mau pulang ke kampung." Ucap Dina.
Pak Arif segera mengambil secarik kertas dari meja belajar Rial. Dia terlihat serius menulis sesuatu di kertas tersebut. Rial yang tidak curiga hanya terdiam.
"Kami berikan ini kepada anak yang namanya Mitha." Pak Arif memberikan sepucuk surat itu kepada Dina tepat di depan mata Rial.
Rial yang tidak tau apa yang ditulis ayahnya itu berusaha merebut namun tubuhnya segera di dorong oleh ayahnya hingga dia terjatuh tepat di atas kasur.
"Ini surat apa kak?" Tanya Dina yang tidak tau apa yang terjadi sekarang.
"Kami hanya perlu memberikan surat ini kepada anak yang namanya Mitha. Dia mungkin bersekolah yang sama dengan Rial dulu." Ucap pak Arif, Rial berusaha bangkit namun pak Arif kembali mendorong tubuhnya.
Pak Arif dan Dina segera meninggalkan Rial kembali di kamarnya sendirian.
"Itu Rial kenapa? Terus kenapa kakak bisa sekadar itu." Lanjutnya.
"Jangan tanya lagi. Kamu hanya perlu melakukan apa yang saya perintahkan." Dina hanya mengangguk.
***Bagaimanakah kelanjutannya
Like dan komen ya
Terima kasih***
__ADS_1