
Mitha senang sekali mendengar apa yang dikatakan Rial.Ada rasa tidak percaya tapi Mitha berusaha percaya atas apa yang dikatakan Rial.
"Tapi kamu mau kembali ke kota.Bagaimana dengan saya?"
"Heiii...kan masih ada telepon,kita bisa bicara lewat telepon." Ucap Rial.
"Pacaran kan tidak harus bertemu." Sambil mencubit pipi Mitha.
"Oh iya saya lupa." Sudah ada senyum di wajahnya,dia tidak lagi gelisah.
"Makanya saya bertanya apakah kamu masih menyimpan nomor telepon yang saya berikan waktu itu."
"Tenang saja,,nomor ini saya akan simpan sampai-sampai saya hafal lho nomornya.Di luar kepala malah."
Rial tersenyum mendengar apa yang dikatakan Mitha.Dalam hati Rial Mitha perempuan pertama yang membuatnya tertawa tanpa rasa canggung.
"Ya sudah saya pergi dulu ya,mungkin Tante sama om sudah menungguku di rumah."
"Jadi kamu langsung mau pergi."
"Iya, besok saya sudah harus masuk ke sekolah dengan membawa surat pindah ini. sambil memperlihatkan kepada Mitha.
"Kan hampir satu bulan saya tidak ke sekolah,apa kamu mau pacar kamu ini ketinggalan pelajaran."
__ADS_1
"Haaaaaaa." Mitha tertawa lepas..
Ketawa Mitha semakin membuat Rial merasa bersalah,entah kapan saya bisa berterus terang kepada Mitha tentang perasaan sebenarnya.Dan Rial berharap Mitha dapat memaafkannya suatu hari nanti.
"Sekarang kamu ke kelas.Itu bel sudah berbunyi."
"okeeeee...! Apapun yang kamu katakan saya pasti akan melaksanakannya."
"Mitha ke kelas dulu ya."
"iya, saya juga pulang dan kita bisa lanjutkan obrolan kita nanti.Itupun kalau kamu menelpon."
"Pasti,,kali ini saya pasti akan menelpon."
Ada rasa sedih di hati Mitha tapi ada juga rasa senang.Mitha serasa tidak percaya laki-laki yang selama ini yang tak pernah hilang dari ingatannya akhirnya memiliki perasaan yang sama.Dari kejauhan Mitha memandang Rial berjalan sampai hilang dari pelupuk matanya.
Hari itu Mitha rasanya punya energi lebih untuk belajar karena dia tau Rial orang yang sangat sempurna makanya Mitha berusaha menjadi sempurna agar pantas mendapampingi Rial sebagai pacarnya.Rial kan orangnya pintar jadi saya harus belajar supaya Rial tidak malu nantinya.
Selain di sekolah,Mitha pun bersemangat lagi di rumah itu membuat orang tua dan adiknya senang.Dalam hati Mitha,selain pintar saya juga harus pandai memasak.Iya supaya Rial senang dan saya bisa memasakkan makanan kesukaan Rial.
Mamanya sendiri merasa heran akan perubahan sikap putrinya.Yang sebulan lalu terlihat merenung di kamarnya.
Di dalam kamar,orang tua Mitha berbincang akan perubahan sikap putrinya itu.
__ADS_1
"Ma..ada yang aneh dengan Mitha.Dulu Mitha kan pemalas,sekarang dia jadi rajin ya."
"Bagus dong pah.Itu artinya dia sudah dewasa."
"Iya juga sih Ma."
"Pah...Ma....Ayo makan.Saya masak makanan kesukaan kalian."
"Itukan pah.Ada apa ya?" Mereka makin heran kepada Mitha.
"Sudah lah ma."
Selesai makan malam,Mitha membatu mamanya untuk membersihkan dapur sekaligus cuci piring.Pekerjaan yang selama ini dia tidak pernah lakukan.Mitha berubah karena Rial,pokoknya saya harus sesuai kriteria yang diinginkan Rial.
Rial kan wanita yang bersih,rapi dan juga pintar baik itu pelajaran ataupun pintar memasak.
Mitha masuk ke kamarnya sambil memikirkan apa yang terjadi tapi pagi di sekolahnya.Sambil melihat atap di kamarnya Mitha berpikir apakah ini mimpi.Semoga saja bukan mimpi sesaat.
Aminnn ucap Mitha sambil berdoa.
Bersambung....
Terima kasih
__ADS_1