Doaku Berbeda Dengan Doamu

Doaku Berbeda Dengan Doamu
Bab. 65


__ADS_3

**BISMILAHIRAHMANIRAHIM 💪


***


Rial kembali ke kantornya dengan begitu bahagia, dia kini bisa bernapas lega ketika dia bertemu dengan Mitha.


Langkah kakinya berjalan menyusuri jalan masuk ke ruang kerjanya hingga langkah ya terhenti ketika mendengar suara di balik ruangan yang lain. Dia baru mengingat tentang Ari dan langsung saja dia masuk dan benar saja dugaannya.


Di dalam ibu Rita tampak emosi, dia berdebat dengan salah satu petugas polisi yang ada di ruangan itu. Dia tidak terima kalau anak satunya-satunya harus mendekam di penjara. Reputasinya sebagai seorang jaksa dipertaruhkan di sini dan dia tidak ingin itu terjadi.


"Bebaskan anak saya!" teriak ibu Rita sembari memukul meja yang ada di depannya.


"Maaf Bu. Kami tidak bisa, anak ibu harus dimintai keterangannya dulu setelah itu kami baru bisa mengambil keputusan." balas salah satu polisi yang ada di ruangan itu, dia berusaha menenangkan ibu Rita yang sudah terlanjur emosi.


Sementara Rial hanya memantau di balik pintu, dia tidak ingin menganggu rekannya yang lain. Dari balik pintu dia hanya terdiam sembari melihat ke arah ibu Rita.


"Saya akan telpon pengacara saya dulu!" ucap ibu Rita.


Semua hanya terdiam, mereka yang ada di ruangan berusaha menenangkan ibu Rita namun tak satupun dari mereka yang bisa menenangkan ibu Rita.


"Halo.... Saya tunggu di sini!" ucap ibu Rita mengakhiri panggilannya di telepon.


"Kalian tunggu saja. Saya pastikan akan membawa anak saya pulang ke rumah." lanjut ibu Rita.


"Tidak akan semudah itu." ucap Rial dari kejauhan, perlahan-lahan Rial melangkahkan kakinya menuju ke depan ibu Rita yang membuatnya kaget.


"Maksud kamu apa?" tanya ibu Rita.


"Saya akan pastikan anak ibu mendapat hukuman yang berat." lanjut Rial.


"Kamu siapa?" tanyanya kembali.


"Pokoknya saya ingin bertemu dengan keluarga korban. Saya akan bayar berapa pun agar anak saya bisa bebas." lanjut ibu Rita.


Rial tersenyum kecil hingga membuat ibu Rita marah, dia merasa tidak dihargai, diremehkan.


"Tunggu saja!"


Cukup lama ibu Rita menunggu, dia mulai terlihat gelisah. Hingga akhirnya orang yang di tunggunya muncul juga. Barulah wajahnya terlihat lega.


"Ini pengacara saya." ucap ibu Rita menatap Rial.


Pria itu tampak menyalami satu per satu polisi yang ada. "Begini pak, saya ingin bertemu dengan keluarga korban." ucapnya.


Salah satu polisi menatap ke arah Rial yang berdiri di pojok ruangan.

__ADS_1


"Kalian dengar kan. Berikan saya alamatnya cepat!" teriak ibu Rita kembali.


"Maaf Bu. Korban yang anak ibu tabrak masih berada di rumah sakit tapi kami bisa mempertemukan dengan anak korban." balas salah satu polisi.


"Kalau begitu cepat pertemukan kami. Saya yakin dia akan mencabut gugatannya, saya akan berikan berapa pun yang yang dia minta."' ucap ibu Rita antusias.


"Saya di sini!" Rial yang sudah tidak tahan mendengar apa yang dikatakan ibu Rita, kini dia yang terlihat begitu emosi. Baginya setiap kejahatan yang dilakukan orang siapa pun itu harus mendapatkan hukumannya. Itulah prinsip yang dia pegang selama ini.


"Kamu. Jangan bercanda." lanjut ibu Rita tersenyum.


"Benar Bu. Pak Rial adalah anak dari korban." ibu Rita sontak kaget, dia tidak menyangka berhadapan dengan anak yang punya pendirian.


"Sial." batin ibu Rita.


"Bagaimana ibu...pak..ada yang bisa saya bantu. Saya di sini bukan sebagai polisi tapi sebagai anak yang ingin melihat keadilan untuk ayahnya." Rial yang tegas membuat ibu Rita terdiam sejenak. Baru kali ini dia bertemu dengan anak yang punya pendirian.


Ingatannya kembali ke masa mudanya, ketika dia bertemu dengan sosok lelaki yang sama persis dengan Rial. Sosok yang tegas namun penyayang bagi semua orang.


"Anak ini mengingatkan ku tentang Arif." batin ibu Rita. Buru-buru dia sadar, prioritasnya sekarang adalah Ari.


"Arif. Di mana kamu sekarang!" batin ibu Rita kembali sembari menatap Rial.


"Apa ini tidak bisa dibicarakan baik-baik! lagi pula ayah anda kan selamat jadi tolonglah gugatannya dicabut saja." lanjut pengacara ibu Rita.


"Apa..."


"Tunggu." langkah kaki Rial terhenti tepat di depan pintu.


"Kalau begitu kita akan bertemu di pengadilan. Dan saya sarankan kamu cari pengacara yang hebat untuk melawan saya." ucap ibu Rita.


Tanpa berkata kata, Rial hanya tersenyum simpul meninggalkan yang lainnya.


⭐⭐⭐


Sementara itu Mitha yang sedang berada di kampus duduk manis di perpustakaan harus dibuat kaget ketika seorang wanita datang menghampirinya.


"Boleh saya duduk di sini!" ucap Erna.


"Oh silahkan!" ucap Mitha lembut.


Mitha kembali membuka halaman per halaman lembar buku yang di bacanya. Dia masih tidak sadar dengan apa yang akan dihadapinya kini.


"Jauhi Rial!" ancam Erna yang membuat Mitha mengangkat kepalanya.


"Oh saya lupa memperkenalkan diri. Saya Erna tunangan Rial." lanjutnya.

__ADS_1


"Erna. Jadi kamu yang dijodohkan dengan Rial." ucap Mitha.


"Bukan hanya di jodohkan tapi saya dengan Rial saling mencintai." ucap Erna.


Wajah Mitha langsung berubah, entah kenapa hatinya begitu sakit. Dia seperti tidak terima dengan perkataan Erna.


"Maaf ya! Saya tegaskan di sini Rial dengan saya tidak ada hubungan apa-apa." ucap Mitha.


"Baguslah kalau begitu. Tapi, kalau sampai saya lihat kamu dekat dengan Rial saya akan lakukan apa pun untuk melindungi milik saya." ancam kembali Erna.


Mitha hanya terdiam, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi selain mengiyakan ucapan Erna. Baginya hubungannya dengan Rial sudah berakhir, bagaimana pun dia menghindar tetap saja dia hidupnya selalu terkait dengan Rial.


"Saya harus bagaimana. Ya Allah kenapa Rial harus kembali ke dalam kehidupan saya." batin Mitha.


Kakinya terus saja berjalan, pikirannya kacau ketika dia mengingat pertemuannya dengan Erna. Dia yang sudah melupakan apa yang dikatakan pak Arif namun Erna kembali mengingatkannya yang membuat dadanya begitu sesak.


"Sayang." panggil Andra.


Mitha menghampiri Andra yang berdiri di depan pintu gerbang kampusnya.


"Kamu sudah selesai kuliahnya." ucap Andra.


Mitha hanya mengangguk lemah.


"Kamu kenapa? apa ada masalah." tanya Andra khawatir.


Mitha menggelengkan kepalanya tanda dia baik-baik saja walau dia masih saja memikirkan perkataan Erna.


"Ya sudah kalau begitu. Kita makan siang saja, kamu pasti lapar kan!" ucap Andra walau dia curiga dengan Mitha namun dia tidak bisa memaksa Mitha untuk cerita kepadanya.


"Iya. Saya lapar." rengek Mitha.


Dari kejauhan Erna masih saja memperhatikan Mitha dan juga Andra. Meskipun sedikit lega bisa mengancam Mitha namun tetap saja dia masih khawatir, Rial tidak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan Mitha kembali yang membuat Erna semakin tidak bisa tidur dengan tenang.


Lamunan Erna buyar ketika hp berdering, "Halo nak! kamu di mana?" tanya seorang wanita yang ternyata mamanya.


"Saya lagi di jalan. Mama kenapa kok panik begitu?" tanya kembali Erna.


"Apa kamu tau, kalau ayah Rial masuk rumah sakit karena kecelakaan."


"Apa."


"Kamu ke rumah sakit sekarang. Kita ketemu di sana!"


Erna langsung naik ke mobilnya dan berangkat menuju rumah sakit sesuai perintah mamanya.

__ADS_1


Bersambung.....


⭐👍💪**


__ADS_2