Doaku Berbeda Dengan Doamu

Doaku Berbeda Dengan Doamu
Bab 31


__ADS_3

Sepanjang perjalanan ibu Mila tak hentinya menangis, dia memeluk putrinya begitu erat.


"Bangun nak!" Ucap ibu Mila dalam hati, dia tidak tega melihat Mitha yang tidak berdaya ditambah lagi demamnya yang tidak turun-turun.


"Jangan nangis mah, sebentar lagi kita sampai." Pak Haris mencoba menenangkan istrinya yang sepanjang perjalanan menangis.


sesampainya di puskesmas, Mitha langsung ditangani oleh dokter dan di bawa ke ruang UGD untuk mendapatkan perawatan. Pak Haris dan ibu Mila hanya bisa menunggu di luar dan sesekali melihat ke dalam ruangan Mitha di rawat. Mitha yang tidak sadarkan diri membuat orang tuanya begitu khawatir.


"Pak..ibu..anak ibu setelah kami periksa ternyata terkena tipes. Jadi, harus dirawat insentif di puskesmas." Ibu Mila terkuli lemas mendengar kalau Mitha divonis terkena penyakit tipes.


"Bagaimana keadaan anak saya dok. Dia baik-baik saja kan?" Tanya pak Haris yang sama khawatirnya dengan istrinya.


"Alhamdulillah dia sudah sadar. Hanya saja kita harus menunggu hasil selanjutnya." Pak Haris dan ibu Mila bisa bernapas lega mendengar kalau keadaan Mitha baik-baik saja.


Sementara itu Andra terlihat berdiri di depan pintu gerbang. Dia seperti sedang menunggu seseorang.


"Mitha ke mana sih!" Ucapnya sembari melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 07.30 namun Mitha tidak terlihat dari anak-anak yang sudah berdatangan dari tadi.


"Kamu kok belum masuk." Ucap Dirga.


"Kamu duluan saja ke kelas. Saya ada urusan sedikit." Ucap Andra melihat ke kiri dan ke kanannya. Tapi, tetap saja Mitha tidak terlihat.


"Kring...kring..kring.." Bunyi bel sekolah, Andra pun semakin khawatir karena tidak biasanya Mitha akan telat datang ke sekolah.


"Ayo Andra, sebentar lagi kita ujian loh." Ucap Dirga sembari menarik tangan Andra. Dia pun tidak bisa berbuat apa-apa karena hari pertama ujian untuk kelulusannya di SMA.


Sesekali Andra melihat ke belakang berhrap Mitha akan muncul dari balik pintu gerbang. Pikirannya kacau, dia menjadi takut kalau terjadi sesuatu kepada Mitha. Andra kali ini tidak bisa berbuat apa-apa, seandainya saja bukan hari pertama ujian mungkin dia sudah bolos sekolah.


Selama ujian berlangsung Andra terlihat tidak fokus, walaupun dia berusaha keras menghilangkan Mitha dari pikirannya namun tetap saja pikirannya tertuju kepada Mitha. Andra hanya berharap kalau Mitha sudah berda di kelasnya.


****************


Rial pun sepertinya masih kepikiran dengan Mitha, semalaman dia memikirkan Mitha. Dia berharap semoga saja Mitha tidak diperlakukan buruk oleh Andra yang terkenal nakal di sekolahnya yang dulu.


"Rial kami sudah siap." Erna tiba-tiba saja muncul di balik pintu kamarnya. Erna tampaknya makin kencang mendekati Rial setelah Rial satu sekolah dengannya.

__ADS_1


"Kamu kenapa di sini?" Tanyanya dengan sini. walaupun Rial semakin menunjukkan ketidaksukaannya kepada Erna. Tapi, Erna tidak peduli sama sekali. Erna berharap kalau suatu saat Rial pasti akan bersikap baik padanya.


"Kami kenapa sih, selalu saja cuek. Salah saya apa?" Tanya Erna namun Rial tidak memperdulikan sama sekali. Dia berlalu begitu saja dari Erna dan segera berpamitan kepada kedua orang tuanya.


"Kalian sudah mau berangkat." Ucap ibu Nia sembari merapikan dasi Rial. Dia sangat senang ketika Rial sudah tinggal bersamanya sekarang.


"Iya Tante." Ucap Erna tersenyum manis. Senyuman Erna makin membuat Rial muak.


"Hati-hati di jalan. Kami berangkat bersama Rial kan?" Tanya ibu Nia. Ingin sekali rasanya Rial menolak namun niatnya terbendung ketika ayahnya berada di dekatnya. Rial begitu takut kepada pak Arif yang sangat teguh kepada pendiriannya.


"Kalian berangkat sekarang." Ucap pak Arif, dia yang paling bersemangat menjodohkan Rial dengan Erna.


Erna dan Rial pun berangkat bersama ke sekolah, Erna yang setiap hari menjemput Rial di rumahnya berharap kalau Rial akan luluh dengan perjuangannya. Sepanjang perjalanan ke sekolah Rial tak hentinya memikirkan Mitha, dia sama sekali tidak memperdulikan Erna yang duduk di sampingnya. Sikapnya yang dingin membuat Erna kesal.


Andra berlari keluar kelas ketika bel sudah berbunyi, dia buru-buru ke kelas Mitha. Dia ingin memastikan apakah Mitha ke sekolah tau tidak. Andra mencari sekeliling kelas namun dia tidak melihat sosok yang dicarinya


Andra berusaha bertanya kepada teman sekelas Mitha tapi, tidak ada satupun dari mereka yang tau keberadaan Mitha ataupun alasan mith tidak ke sekolah.


"Saya tidak tau kak. Tidak ada penyampaian dari Mitha." Andra semakin khawatir, ingin rasanya dia mencari Mitha namun masih tersisa ujian yang harus dia ikuti.


"Pah, besok saja ya ke sekolah Mitha. Sekalian sampaikan kepada gurunya tentang kondisi Mitha sekarang." Ucap ibu Mila. Kali ini pak Haris setuju dengan istrinya, dia juga tidak ingin meninggalkan ibu Mila berdua dengan Mitha saja.


"Ini pasti gara-gara kehujanan kemarin." Ucap ibu Mila yang juga kesal kepada Andra.


"Iya mah. Semoga saja Mitha tidak kenapa-kenapa." Ucap pak Haris dengan penuh harap. Dia sebenarnya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Andra namun dia harus tahan sejenak.


"Papah ke warung ibu Siti saja untuk mengambil motor Mitha." Ucap ibu Mila mengingatkan pak Haris yang dari tadi emosi


"Iya mah, kalau Mitha sudah sadar batu papah pergi. Lagi pula tidak jauh kok dari sini." Ucap pak Haris


Mitha berusaha membuka matanya, dia melihat kedua orang tuanya di sampingnya. Badannya masih sakit dan masih terasa panas, kepalanya pusing namun dia berusaha untuk bangun dari tempat tidur. Mitha tidak ingin membuat kedua orang tuanya semakin khawatir kepadanya.


"Kami sudah bangun nak!" Ucap ibu Mila tersenyum, dia sudah bisa tersenyum melihat Mitha membuka matanya.


"Iya mah. Kalian tidak usah khawatir begitu, Mitha baik-baik saja kok!" Sembari memegang kepalanya yang masih sakit.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu, kamu berbaring saja. Tidak boleh terlalu banyak gerak dulu." Sembari membantu Mitha untuk kembali berbaring.


"Papah keluar sebentar dulu ya nak!" Pak harus memegang tangan Mitha yang masih gemetaran dan mencium kening putrinya itu. Mitha yang terlihat lemas berusaha tersenyum kepada ayahnya.


"Saya ke warung ibu Siti saja, siapa tau ibu Siti tau apa yang terjadi kemari." Guman Andra dalam hati.


Andra pun segera ke warung ibu Siti begitu juga dengan pak Haris untuk mengambil motor Mitha yang dia gadaikan kemarin gara-gara harus membayar makanan Andra dan juga teman-temannya.


"Permisi Bu, saya mau tanya apakah kemarin ada motor yang digadaikan anak saya." Ucap pak haris mengahampiri ibu Siti yang terlihat sedang melayani pembeli.


ibu Siti segera mengambil kunci motor yang tergantung tiang dan memberikannya kepada pak Haris.


"Ini saya mau tebus." Ucap pak Haris sembari memberikan uang seratus ribu.


tiba-tiba Andra menghampiri ibu Siti, dia tidak tau kalau laki-laki yang di sampingnya adalah ayahnya Mitha.


"ada apa andra.kamu mau pesan apa?" Tanya ibu Siti. pak Haris yang sudah meninggalkan mereka terhenti ketika mendengar nam Andra di telinganya.


pak Haris lali menarik tangan Andra keluar dari warung ibu Siti.


"Bapak siapa?" Tanya Andra.


"Kamu Andra kan. Gara-gara kamu anak saya sakit dan harus di rawat di puskesmas." Ucap pak Haris yang membuat Andra kaget bukan main.


Dia tau kalau Mitha sakit gara-gara dia.


"Mitha sakit apa?" Tanya Andra yang begitu terlihat khawatir.


"Mitha demam tinggi dan ini semua gara-gara kamu. Dia harus menggadaikan motornya untuk membayar makanan kami kemarin sehingga dia harus jalan kaki pulang ke rumah dengan hujan-hujanan." Pak Haris pun meninggalkan Andra sendirian dan membawa motor Mitha.


Andra masih terdiam, dia tidak sadar kalau pak Haris sudah pergi dari tadi.


NANTIKAN SELANJUTNYA


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2