Doaku Berbeda Dengan Doamu

Doaku Berbeda Dengan Doamu
Bab 34. Putus


__ADS_3

💔💔💔


Hubungan Mitha dan Rial kini bagai di ujung tanduk tinggal menunggu saja.


Rial seolah kehabisan akal, sekuat apapun dia berusaha membujuk ayahnya namun tetap saja semuanya sia-sia.


Mata hati pak Arif sudah tertutup, dia tidak ingin lagi anaknya itu menjalin hubungan dengan wanita lain. Baginya hanya Erna lah,perempuan tepat yang akan mendampinginya.


"Bukankah ayah terlalu keras kepada Rial." Ucap ibu Nia, dia seolah tau bagaimana perasaan anaknya berusaha membujuk suaminya itu.


"Ibu tidak usah ikut campur, ini urusan saya dengan anak saya." Ucapan pak Arif membuat ibu Nia sedih, dia menyadari kalau Rial bukanlah anak kandungnya. Namun tidak seharusnya suaminya itu mengatakan hal yang membuatnya sakit hati.


"Ibu tau kok Yah, saya tidak akan mencampuri urusan ayah dengan Rial lagi." Lanjut ibu Nia sembari berlalu meninggalkan pak Arif yang masih saja terlihat begitu marah.


"Bu..bukan seperti itu maksud ayah!" Pak Arif mengikuti istrinya itu ke kamar mereka, dia menyadari kalau tidak seharusnya dia bersikap seperti itu kepada wanita yang membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Ibu ngerti kok." Ucap Nia.


Keesokan harinya, Mitha sudah bersiap-siap untuk menelpon Rial. Dengan penuh semangat, dia berangkat dari rumahnya hingga tiba ke tempat dia biasa menelpon Rial.


Andra yang seolah tau,hanya memperhatikan Mitha dari jauh. Dia kini bisa lebih menahan emosinya.


"Pasti akan menelpon Rial lagi." Guman Andra dalam hatinya. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Rial pun seperti biasa akan menunggu di rumahnya, dia juga sudah terlihat tidak sabar bisa berbicara dengan Mitha.


Mitha pun memencet nomor rumah Rial..


Terdengar suara telepon berdering, Baru saja Rial ingin mengangkatnya tiba-tiba pak Arif langsung merebut telepon dari tangan Rial.


"Halo." Ucap Mitha.


pak Arif terdiam sejenak, terdengar suara lembut di ujung telepon. Rial berusaha merebut telepon dari tangan ayahnya itu tapi,tubuhnya di dorong dengan keras.


"Prakkk." Rial terlempar begitu saja. Namun, dia tetap berusaha tapi pak Arif dengan sigapnya mendorong tubuh Rial kembali hingga dia terjatuh.


"Halo.." Ucap Mitha kembali.


"Kamu Mitha ya!" Ucap pak Arif, Mitha pun kaget karena di ujung telepon bukan terdengar suara yang dia rindukan namun suara yang begitu asing di telinganya.


"Iya." Ucap Mitha singkat.

__ADS_1


"Saya langsung saja, jangan pernah menghubungi Rial lagi." Ucap pak Arif dan langsung menutup telepon dari Mitha.


Mitha hanya bisa diam, dia masih terlihat kaget.Dia sama sekali tidak memahami apa yang terjadi sebenarnya.


"Itu siapa? Dan bagaimana dia bisa tau nama saya?" Tanya Mitha dalam hati. Namun,dia kembali menelpon Rial dan berharap Rial lah yang akan mengangkat telepon darinya.


Terdengar kembali telepon berdering, Rial yang dari tadi menunggu telepon dari Mitha begitu gembira ketika suara telepon berdering kembali di telinganya.


"Halo." Ucap Rial namun tidak terdengar suara di ujung telepon. Pak Arif ternyata mencabut kabel telepon rumahnya. Dia begitu yakin kalau Mitha pasti akan menelpon lagi.


"Ayah, Rial mohon tolong jangan seperti ini!" Ucap Rial sembari memohon kepada ayahnya.


Pak Arif tidak menghiraukan anaknya yang sudah berlutut dihadapannya.


Mitha mencoba kembali namun gagal, Andra yang memperhatikan Mitha dari kejauhan pun begitu penasaran. Terlihat jelas wajah Mitha yang begitu sedih, rasanya dia ingin mendekat tapi, dia juga takut ketahuan kalau selama ini dia mengikuti Mitha.


Rial kini tidak bisa lagi mendengar suara Mitha yang selalu dia rindukan.


"Bangun nak!" Ucap ibu Nia lembut, dia memeluk putranya begitu erat seolah merasakan kesedihan dihati Rial.


"Tapi, Bu...Ayah tidak bisa bersikap seperti ini!" Rial kini memberontak, dia bukan lagi anak yang selalu menurut kepada ayahnya.


"Ibu tau nak, kamu yang sabar yah!" Ucap ibu Nia menenangkan hati putranya itu.


"Pik...pik...pik.." Sura klakson motor Andra yang membuat Mitha tersentak kaget.


"Kak Andra kok bisa di sini!" Tanyanya.


"Ya... seperti biasa saya akan ke warung Bu siti." Ucap Andra yang tidak ingin ketahuan oleh Mitha.


"Kamu kenapa kok cemberut?" Andra seolah meledek Mitha.


"Sudahlah, bukan urusan kamu juga." Ucap Mitha.


"Baiklah kalau begitu, kita makan saja dulu." Ucap Andra.


"Nggak mau ah, nanti saya lagi yang harus bayar." Lanjut Mitha, dia masih teringat kejadian tempo lalu.


Andra tertawa terbahak-bahak yang membuat Mitha semakin tidak mengerti dengan apa yang dialaminya sekarang.


"Kamu tenang saja, hari ini saya yang traktir." Andra pun langsung menarik Mitha bersamanya.

__ADS_1


"Kebetulan saya lapar juga sih!" Guman Mitha dalam hati.


Andra yang semakin penasaran dengan apa yang terjadi dengan Mitha dan Rial.


"Apa mereka berantem!" Pekik Andra senang namun dia tidak berani menanyakan langsung kepada Mitha. Dia ingin hubungannya dengan Mitha bisa berjalan apa adanya.


Di samping Andra seketika kesedihan Mitha terlupakan. Andra yang dulunya begitu dia benci kini menjadi sahabatnya yang menemaninya di kala dia sedih karena Rial.


******


Pak Arif masih memikirkan cara agar Mitha tidak bisa menghubunginya anaknya. Dia hanya ingin Erna lah nantinya yang akan menjadi menantunya.


"Prakkk." Suara pintu yang cukup keras mengagetkan pak Arif yang berdiri terdiam memikirkan segala cara.


"Ibu kenapa?" Tanya pak Arif.


Ibu Nia mendekati suaminya itu, begitu dekat dengan wajah yang begitu sangat marah.


"Saya hanya ingin kamu tidak memaksakan kehendakmu." Ucap ibu Nia singkat. Baru kali ini dia melihat istrinya itu semarah itu padanya.


Ibu Nia yang lembut akan melakukan apa saja ketika anaknya diperlakukan tidak adil walaupun itu oleh suaminya sendiri.


"Apa!" Ucap pak Arif singkat.


"Jangan lakukan apapun kepada Rial, apalagi sampai memaksanya seperti itu. Saya akan lakukan apapun agar anak-anak saya bisa bahagia." Ibu Nia lalu meninggalkan pak Arif di kamarnya.


Pak Arif masih saja terdiam sembari melihat Langkah kaki istrinya. Dia seolah tidak menyangka kalau istrinya itu akan membantahnya.


"Saya akan lakukan apapun agar Rial tidak berhubungan lagi dengan wanita itu." Guman pak Arif dalam hati.


Sesampainya di rumah Mitha terus berpikir tentang yang terjadi kepada Rial.


"Tidak biasanya Rial mematikan teleponnnya seperti itu. Besok sore saya coba lagi deh menelpon Rial." Pekik Mitha.


"Ayo makan siang nak!" Panggil ibu Mila. Mitha melihat jam ternyata jam baru menunjukkan pukul 12.00.


"Iya Mah!" Ucap Mitha.


Sudah menjadi kebiasaan Mitha bersama kedua orang tuanya akan makan dalam satu meja makan.Keluarga yang begitu bahagia dan sempurna dengan segala keterbatasan yang ada di desa.


**Maaf ya baru bisa di lanjut.

__ADS_1


Jangan lupa like...


Semangat❤️❤️**


__ADS_2