
BISMILAHIRAHMANIRAHIM💪
Dua orang lelaki melewati malam yang berbeda, ada yang senang dan ada yang sedih.
Air jatuh bercucuran ke lantai yang sedang membasahi tubuh Andra, tubuh yang begitu sempurna untuk ukuran seorang lelaki. Dia memandangi wajahnya di cermin yang berada tepat dihadapannya, Andra seolah tidak terima ketika wajah tampannya mendapat pukulan yang begitu keras dari Rial.
Matanya memerah mengingat dia dipermalukan di depan orang banyak. Air masih saja berjatuhan seiring dendam yang membara.
"Saya bersumpah kamu akan merasakan sakit lebih dari ini." guman Andra dalam hati.
⭐⭐⭐
Rial kembali ke rumahnya dengan keadaan senang. Tidak ada lagi keraguan dihatinya kini, dengan senyum diwajahnya yang begitu merekah memancar begitu indah.
Tubuhnya direbahkan pun begitu bersemangat, kini dia bisa tertidur nyenyak sembari memikirkan cara bagaimana Mitha bisa terlepas dari Andra. Di mana Andra tidak akan begitu saja melepaskan Mitha.
🌺🌺🌺
Sudah menjadi kebiasaan Mitha yang bangun lebih awal dibandingkan dengan penghuni rumah yang lain. Pagi yang tenang dan damai menyelimuti hatinya.
Dengan penuh semangat Mitha membuka kaca jendela kamarnya. Jam masih menunjukkan pukul 06.00 pagi namun udara masih begitu sejuk. Alangkah terkejutnya dia ketika dibalik jendela kamarnya melihat sosok lelaki berpakaian olahraga berwarna hitam berdiri tak jauh dari jendela kamarnya.
Mitha yang masih tidak percaya dengan sosok yang lihatnya kembali melihat dengan jelas dan benar tidak ada yang berubah dari penglihatannya.
"Itukan Rial, kenapa dia sudah ada di sini dan apa yang dilakukannya." pekik Mitha.
Rial melambaikan tangannya dengan penuh mesra sembari memberikan kode kepada Mitha agar segera menghampirinya.
Karena rasa penasaran yang tinggi, Mitha berlari menghampiri Rial yang entah kapan sudah berdiri di sana.
"Apa yang kamu lakukan di sini pagi-pagu buta begini." ucap Mitha dengan nafas yang tak teratur.
Rial tersenyum bahagia melihat tingkah Mitha yang kadang terlihat lucu di matanya.
"Kamu tenang dulu, ambil nafas yang panjang." ucap Rial menggoda.
"Kamu belum jawab pertanyaan saya. Apa yang kamu lakukan di sini terus pakaian olahraga lagi. Kamu mau olahraga!" ucapnya kembali tanpa jeda di mulutnya.
"Kamu ganti baju!"
Mitha terdiam sejenak, dia masih tidak tau tujuan Rial kepadanya.
"Kita olahraga, minimal lari-lari pagi kek!" ucapnya kembali.
Mitha tertawa lepas. "Olahraga di hari senin!"
"Memangnya kalau hari Senin kenapa, apa kalau kita mau olahraga harus ada hari-hari tertentu." ucapnya.
__ADS_1
"Iya tunggu di sini ya!"Mitha kembali berlari ke atas dan segera mengganti daster yang melekat ditubuhnya.
Dengan sabar dan tenang Rial menunggu wanita yang dicintainya, dan matanya tertuju pada Mitha yang datang ke arahnya dengan menggunakan pakaian olahraga yang begitu ketat menonjolkan lekuk tubuh indahnya.
"Indahnya ciptaan mu Tuhan!" pekik Rial dalam hati. Matanya pun tak lepas dari pandangan Mitha yang semakin mendekat kepadanya.
"Kamu lihat apa. Apa ada yang salah!" ucap Mitha.
Rial masih saja memandang Mitha dari atas hingga ke bawah, matanya naik turun melihat kecantikan alami Mitha.
"Prak..." dengan tepukan Mitha menyadarkan khayalan Rial yang sudah sampai ke langit ke tujuh.
"Aduh sakit." Rial meringis kesakitan.
"Hey, kamu lihat apa! Awas ya kalau kamu berpikiran aneh-aneh." ucap Mitha berlalu dan segera naik ke mobil Rial yang terparkir.
"Aneh-aneh! Kamu yang buat saya berpikiran aneh-aneh." ucap Rial sembari mengikuti Mitha ke dalam mobil.
"Maksudnya saya yang salah gitu!" Mitha tampak tidak terima dengan ucapan Rial kepadanya.
"Iya kamu yang salah. Kenapa sih kamu harus berpakaian seperti itu?" Rial masih saja membela dirinya yang membuat Mitha tersenyum tidak terima.
"Sudahlah! Kalau kamu tidak mau mengalah kita tidak usah olahraga saja dan saya turun sekarang." ucap Mitha sembari membuka pintu mobil namun belum sempat dia membuka pintu mobil Rial langsung buru-buru menancapkan gas mobilnya yang membuat Mitha kaget.
"Kamu mau bunuh saya!" Untung saja saya tidak jatuh." pekik Mitha kesal.
Setiap kata-kata yang keluar dari mulut Rial selalu saja membuat jantung Mitha berdetak begitu kencang.
"Dasar gombal." pekik Mitha.
"Saya serius. Makanya kamu harus jaga diri kamu dengan baik." Mitha kembali menoleh ke arah Rial yang berada di sampingnya, tak pernah terpikirkan olehnya kalau Rial bisa menjadi seserius ini.
Mitha terus mencari tau apa yang dipikirkan Rial saat ini, suasana yang penuh perdebatan diantara mereka berubah menjadi lebih tegang.
Tak jauh memang dari rumah Mitha terdapat lapangan yang menjadi favorit anak muda berolahraga.
"Ramai juga ya, saya kira cuma hari Minggu doang ramainya." celetuk Mitha yang sudah tidak sabar ingin berolahraga.
Tangan Rial menarik Mitha dan memeluk Mitha begitu hangat, Mitha kaget menerima serangan yang tiba-tiba begini.
"Saya serius dengan apa yang saya katakan tadi. Tolong jangan pernah terluka atau saya akan mati." ucap Rial memeluk hingga mengusap rambut hitam Mitha.
"Lepaskan." Mitha memberontak, dia sepertinya takut kalau ada yang memperhatikan mereka.
"Saya tidak akan lepaskan sebelum kamu janji sama saya." ucap Rial kembali.
Mitha yang masih tidak mengerti dengan yang dilakukan Rial kepadanya berusaha kembali melepaskan pelukan namun karena dekapan Rial yang begitu erat membuat Mitha tak mampu melepaskan tubuhnya.
__ADS_1
"Siapa juga yang mau menyakiti saya. Saya ini bukan siapa-siapa yang harus dikhawatirkan seperti ini. Justru kamu yang harus menjaga diri kamu sendiri."
Rial tau betul setelah semuanya muncul di kehidupannya pasti hidup Mitha tidak akan tenang. Erna dan ayahnya sewaktu-waktu bisa menyakiti Mitha.
"Apa susahnya sih berjanji." pinta Rial.
"Iya saya janji tapi kamu juga harus janji sama saya untuk baik-baik saja." Rial lalu melepaskan pelukannya yang membuat Mitha bisa bernapas.
Mitha melangkah keluar dan berjalan ke arah kerumunan orang-orang yang sedang berolahraga.
"Suit...suit..." beberapa orang tampak memandang Mitha yang sedang berlari lambat.
Rial lalu mendekati Mitha dan kembali memeluknya.
"Kamu ini kenapa suka sekali memeluk tiba-tiba." ucapnya
"Kamu diam saja. Lihat mereka dari tadi memperhatikan kamu." lanjut Rial.
"Terus memangnya kenapa?" tanya Mitha yang masih terlalu polos.
"Karena pakaian kamu itu membuat para lelaki berpikiran aneh-aneh." lanjut Rial yang masih tetap memberikan penjelasan kepada Mitha.
Mitha memandang pakaian yang melekat di badannya, menurutnya ini wajar saja tidak ada yang aneh.
"Aduh saya tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan." Mitha lalu berlari kembali disusul Rial dari belakang seperti sedang menjaga Mitha.
☀️☀️☀️
Matahari sudah mulai meninggi dan ini adalah hari pertama Andra masuk kerja. Dan begitu antusiasnya Andra menuju ke rumah Mitha, dia ingin Mitha menjadi orang pertama yang menyemangatinya dan melihatnya memakai baju dinas kebanggaannya.
Andra yang sudah tidak sabar harus dibuat tercengang melihat Mitha turun dari mobil Rial dengan senyum diwajahnya.
"Andra." Mitha lalu menghampiri Andra, dia tidak ingin terjadi keributan antara Andra dan juga Rial.
"Ini tidak seperti yang kamu lihat, saya hanya berolahraga sebentar tidak lebih." ucap Mitha.
Rial menghampiri Andra dan juga Mitha. Mitha makin ketakutan, buru-buru dia memegang tangan Andra berharap Andra akan lebih tenang dan bisa menahan emosinya.
"Kamu lihat kan! Saya yang selalu yang jadi pertama. Dari jam 05.00 saya sudah ada di sini dan saya menjadikan orang pertama yang dilihat Mitha. Sedangkan kamu selalu saja di belakang." ucap Rial.
Andra semakin tidak bisa menahan emosinya, seandainya saja Mitha tidak memegang tangannya mungkin pukulan yang mendarat di wajah Rial.
Mitha semakin erat memegang tangan Andra dan segera menarik Andra menjauh dari Rial.
Bersambung......
🌺⭐⭐⭐💪
__ADS_1