Doaku Berbeda Dengan Doamu

Doaku Berbeda Dengan Doamu
Bab. 60


__ADS_3

BISMILAHIRAHMANIRAHIM💪


"Tok..tok..tok.." suara ketukan pintu membuat Ari terbangun dari tidurnya.


"Ya ampun. Apa saya ketiduran!" guman Ari dalam hati. Dia kembali mengingat kejadian yang terjadi tadi pagi.


"Ari buka pintunya!" teriak ibu Rita.


Ibu Rita adalah seorang jaksa yang terkenal di kota Makassar, begitu pula ayah Ari yang merupakan konglomerat terkenal.


Kesibukan kedua orang tuanya lah yang membuatnya menjadi anak yang mencari kesenangan di luar rumah.


"Ari bangun. Ini sudah jam berapa?" teriaknya kembali.


Ari beranjak dari tempat tidurnya dan masih dengan muka bantal dia segera membuka pintu kamarnya.


Baru saja pintu kamarnya terbuka tamparan yang begitu keras mendarat di wajahnya yang membuat Ari kaget seketika.


"Papah sudah dong!" ibu Rita menahan suaminya yang ingin kembali memukul Ari.


"Salah saya apa pah?" tanya Ari.


"Salah kamu apa! Kamu masih tidak sadar dengan kesalahan kamu. Semalam kami di mana dan kenapa kamu tidak pulang semalaman. Papah kan sudah bilang kamu boleh bebas ke mana pun asal kamu ingat pulang ke rumah saja." ucap Sultan papah dari Ari.


Ari tertawa seperti ada kelucuan dibalik perkataan papahnya.


Pak Sultan makin dibuat marah oleh Ari, dia ingin kembali memberikan tamparan untuk putranya namun buru-buru di tahan oleh ibu Rita.


"Sabar pah. Kita dengar penjelasan Ari dulu." ucapnya.


"Kamu di mana semalam?" tanya ibu Rita.


"Apa peduli kalian. Memangnya kalian peduli sama saya terus kalian sendiri ke mana?" ucap Ari dengan wajah yang marah.


"Kamu ya!" ucap pak Sultan yang makin marah dibuat oleh Ari.


"Terus kenapa mobil kamu bisa lecet?" tanya pak Sultan kembali.


Ari keget, dia tidak menyangka papahnya itu bisa mengetahui kondisi mobilnya.


"Itu pah....itu...saya tidak sengaja menabrak orang." ucap Ari terbata-bata.


Pak Sultan dan ibu Rita kaget mendengar penjelasan Ari. Mereka terlihat panik apalagi kalau Ari harus berurusan dengan polisi, reputasi baik yang selama ini mereka bangun bisa hancur seketika.


"Bagaimana ini pah, orang-orang akan tau kalau anak kita anak yang tidak baik." ucapan ibu Rita membuat Ari semakin hancur, mereka sama sekali tidak menanyakan keadaan Ari walau hanya sekedar basa basi.

__ADS_1


Ari segera menutup pintu kamarnya dengan begitu kencang, dia yakin kalau kedua orang tuanya tidak akan tinggal diam begitu saja ketika anaknya masuk penjara.


⭐⭐⭐


Andra tampaknya sudah tidak sabar ingin menemui Mitha, dia terlihat buru-buru membereskan beberapa berkas yang ada di atas meja kerjanya.


Dengan raut wajah senang Andra bergegas ke rumah Mitha namun apa yang didapatnya. Mitha tak berada di dalam kamarnya, pintu terkunci rapat bahkan teman-temannya pun tak ada yang tau ke mana perginya Mitha.


Andra semakin khawatir, di ambil hp di saku celananya dan alangkah kagetnya dia melihat pesan yang dikirimkan Mitha kepadanya.


Sebelum masuk ke ruang operasi Mitha sempat mengirim pesan untuk Andra. Dia ingat kalau hari ini dia janji akan memasakkan makan malam untuknya. Namun keadaan harus membuat Mitha kembali mengingkari janjinya.


"Mitha di rumah sakit. Dia sakit apa?" guman Andra dalam hati.


Karena kesibukan hari pertamanya bekerja, dia tidak sempat memainkan hpnya. Sebagai seorang pengacara muda dan baru dia masih harus belajar dengan kasus-kasus yang dipegangnya.


Andra melajukan mobilnya di saat jalanan macet. Dia takut kalau terjadi hal buruk menimpa Mitha. Dia menghentikan mobilnya tepat di depan rumah sakit yang tertulis dalam pesan yang dikirim Mitha.


"Bisa saya tanya, apa ada pasien yang naman Mitha?" tanya Andra kepada perawat yang ada di meja resepsionis.


"Maaf pak, tidak ada yang namanya Mitha." ucapnya sembari melihat kembali buku yang ada di depannya.


"Coba di cek lagi." pinta Andra.


"Benar pak, tidak ada yang namanya Mitha." jawabnya kembali.


Andra menghampiri Rial, dia yakin kalau apa yang menimpa Mitha pasti ada hubungannya dengan Rial.


"Kenapa kamu di sini?' tanya Andra.


Rial membalikkan wajahnya, dia kaget melihat Andra ada di sampingnya. Hanya sebentar, Rial kembali membalikkan wajahnya ke dalam ruangan yang membuat Andra penasaran dengan apa yang dilihat Rial.


"Mitha." Andra kaget melihat Mitha terbaring di dalam ruangan tak berdaya.


"Apa yang kamu lakukan kepada Mitha." ucap Andra mendorong Rial menjauh dari ruangan.


Rial yang tak berdaya, tubuhnya lemah karena tidak sedetik pun meninggalkan Mitha sendirian. Wajahnya pun terlihat lemah, matanya sendu.


"Prak." pukulan mendarat di wajah Rial hingga membuat tubuh Rial tersungkur jatuh ke lantai rumah sakit. Dengan ganasnya Andra mengangkat tubuh Rial dan kembali memukul bagian perut Rial.


Rial masih saja terdiam menerima pukulan dari Andra dan semakin tak berdaya Rial menerima pukulan yang bertubi -tubi hingga akhirnya ibu Nia berlari dan seorang satpam melerai.


Ibu Nia mengangkat tubuh Rial yang lesu tak berdaya.


"Bangun. Ayo bangun lawan saya!" teriak Andra yang tangannya dipegang oleh satpam rumah sakit.

__ADS_1


"Stop pak. Jangan buat keributan di sini." pintanya.


Andra tak memperdulikan apapun, dia masih saja ingin memukul Rial yang tak berdaya.


"Ayo bangun pengecut." ucap Andra.


Ibu Nia bangkit dan menampar Andra, dia tidak rela kalau anaknya dipukuli dengan kejam.


"Kamu diam. Kalau kamu tidak tau apa-apa lebih baik kamu diam saja." pinta ibu Nia.


Andra pun tidak terima ketika harus menerima tamparan dari ibu Nia, dia makin menjadi.


"Kalau begitu tolong ibu jelaskan kenapa Mitha bisa seperti itu. Ini pasti ada hubungannya dengan anak ibu itu yang pengecut." teriak Andra.


"Stop. Jaga mulut kamu."


"Kalau begitu jelaskan apa yang terjadi."


"Mitha menolong suami ibu dan membawanya ke rumah sakit terus dia mendonorkan darahnya untuk suami ibu. Hingga Mitha harus terbaring tak sadarkan diri." lanjutnya.


Andra melampiaskan kemarahannya dengan memukul tembok di sampingnya.


"Kalau begitu keluarga kalian pembawa sial untuk Mitha." ucap Andra.


"Maksud kamu apa?" tanya ibu Nia.


"Apa kalian sadar, setiap kali berurusan dengan keluarga kalian pasti terjadi sesuatu yang buruk dengan Mitha." ucapan Andra membuat Rial tertunduk.


"Jadi saya mohon tolong jauhi Mitha dan segera pergi dari sini utamanya kamu!" pinta Andra sembari menunjuk ke arah Rial.


Ibu Nia menatap putranya yang tak berdaya, dia yakin Rial kini pasti sedang terburuk memikirkan perkataan Andra yang begitu menyakitkan.


"Apa kalian tidak dengar. Pergi dari sini sekarang." teriakan Andra membuat orang-orang di sekitar kaget.


Ibu Nia menghampiri putranya, menggandeng hingga menatap wajah Rial dengan penuh haru.


"Kita pergi dari sini ya nak! pinta ibu Nia.


Rial melepaskan tangannya dari ibu Nia, dia tidak ingin berjauhan dari Mitha. Rial ingin berada di samping Mitha hingga Mitha sadar dan membuka matanya.


"Ibu pergi saja. Biar saya di sini saja, saya tidak ingin pergi dari sini!" pinta Rial lembut.


Wajah Andra memerah, matanya melotot. Dia begitu marah mendengar perkataan Rial hingga kembali maju ingin memukul Rial kembali.


Tangan Andra dia gempal kan dan kembali ingin menghujamkan ke wajah Rial namun kali ini Rial sigap menahan pukulan dari Andra.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2