
**BISMILAHIRAHMANIRAHIM
⭐⭐⭐**
Rial yang masih terlihat begitu sedih melihat kepergian ibunya. Kesedihan itu dia tidak tampaknya di depan anak buah dan rekannya di kantor.
Tiba-tiba seorang pria menghampirinya dan memberikan sebuah tas yang dia tampak kenali.
"Inikan tasnya Mitha." gumannya dalam hati.
"Maaf pak, ini tas salah satu yang ikut ketangkap tadi malam." ucapnya sembari memberikannya kepada atasannya itu.
Rial mengambil dan segera membawanya masuk ke dalam ruang kerjanya. Dia yang penasaran ingin membuka tas yang dia yakini kalau itu adalah tas Mitha.
"Buka ya. Kalau aku buka dan dia tau pasti dia akan marah besar. Tapi, saya kan bisa berbohong." ucap Rial tersenyum licik.
Tanpa berlama-lama dia segera membuka dan satu per satu barang dia keluarkan. Mulai dari dompet hingga hp yang berada di dalam tas.
Dimulai dari dompet berwarna hitam, di dalamnya terdapat beberapa lembar uang seratusan dan juga kartu ATM.
"Banyak juga uangnya!" ucapnya kembali.
Kini keinginannya tertuju pada handphone merek Samsung. Dia yang begitu penasaran dengan apa isi di dalam hp Mitha. Dia juga bisa mendapatkan kontak Mitha dan akun sosmed Mitha.
"Ada beberapa panggilan tak terjawab. Wah banyak juga yang menelponnya."
Tanpa sengaja dan juga karena penasaran yang begitu dalam dia membuka panggilan tak terjawab. Dia dibuat kaget karena ternyata dari sekian banyak hanya ada satu nomor panggilan dan itu Andra.
"Andra. Ada hubungan apa dengan dia dengan Andra." gumannya dalam hati. Dia kembali membuka setiap panggilan di hp Mitha dan hampir setiap hari Andra akan menelpon.
Dia lagi membuka akum sosmed Mitha dan dia yang masih saja oenasaran dengan hubungan apa yang dimiliki Mitha dan juga Rial.
Tapi, tak ada satupun foto kebersamaan Mitha dan juga Andra diakun sosmed Mitha. Hanya ada foto Mitha sendirian.
Hampir setiap hari juga Mitha mengunggah foto kegiatannya baik itu di rumah ataupun di kampus. Rial semakin bersemangat, dia yang kehilangan momen bersama Mitha berusaha mencari tau semuanya melalui akun sosmed Mitha.
Dia tersenyum sendiri. "Rajin update juga ini anak." ucapnya.
Tiba-tiba tampak dibalik layar seseorang sedang menelpon dan itu adalah Andra. Awalnya Rial kaget tapi karena rasa penasarannya dia akhir mengangkat panggilan dari Andra.
"Halo. Alhamdulillah kamu sudah bisa dihubungi. Kamu tidak kenapa-kenapa kan!" seru Andra di balik telepon.
Rial terdiam sejenak mengamati suara diujung telepon Mitha.
__ADS_1
"Halo." Andra yang mendengar suara pria yang sedang mengangkat telepon Mitha.
"Kamu siapa?" tanya Andra yang mulai terlihat emosi.
"Saya Rial." Mendengar nama Rial semakin memuncak lah kemarahan Andra. Seandainya mungkin dia berhadapan langsung dengan Rial. Andra tidak akan memberi ampunan kepada Rial.
"Rial, Saya peringatkan kamu jangan pernah menemui Mitha atau kalau kamu berani menganggu ataupun hadir kembali dalam kehidupan Mitha saya akan melakukan sesuatu yang akan membuat kamu menyesal." ucap Andra yang semakin tidak bisa lagi menahab amarahnya kepada Rial.
Rial hanya tersenyum, sebegitunya Andra mencintai Mitha dan dia juga tau tentang masa lalu saya dengan Mitha.
"Kamu siapa?" tanya Rial menantang.
"Mitha itu milik saya!" lanjutnya.
Di balik telepon Rial kembali tersenyum, dia tampaknya ingin membuat Andra semakin marah. Walaupun hanya berjumpa sesekali dan mendengar tentang Andra waktu mereka bersekolah di satu sekolah yang sama dulu. Dia tau betul Andra orang yang tempramental.
Dan Rial ingin membuat Andra marah sesaat dan itu berhasil.
Andra seperti harimau buas yang siap siaga menerkam musuhnya.
"Apa kamu yakin Mitha itu milik kamu. kalau saya sih tidak yakin!" ucap Rial memancing kemarahan Andra.
"Iya. Terus apa kamu berhak memiliki Mitha sekarang setelah apa yang kamu lakukan kepadanya. Apa kamu tau saya yang berada di sampingnya ketika kamu mengirim surat putus untuknya." ucap Andra dan kini Rial yang terpancing amarahnya.
"Hmmm. Saya tidak ingin berdebat dengan kamu lagi. Dan sekarang saya tau kenapa Mitha bisa menerima kamu." seru Rial.
"Maksud kamu apa?" tanya Andra yang dia juga tau apa maksud perkataan Rial sebenarnya.
Rial segera menutup telepon dan membuat Andra semakin murka. Dia sudah tidak sabar untuk segera kembali ke makassar.
Dengan senyum sinisnya Rial puas membuat Andra marah kepadanya. Dan sebenarnya inilah yang dia inginkan.
Pertemuannya kembali dengan Mitha membuatnya semakin menyadari kalau dia tidak bisa melepaskan Mitha begitu saja. Dia ingin berjuang sekali lagi untuk mendapatkan kembali hati Mitha untuknya.
Dan tampaknya itu berhasil, Mitha yang kini duduk terdiam memandang bintang dibalik jendela kamarnya. Wajah Rial membuatnya begitu gelisah, cinta yang begitu besar yang dia sudah kubur dihati terdalam timbul kembali ke permukaan hatinya menusuk jantung yang deg-degan setiap kali memandang Rial.
"Keluar yuk! ajak Ira.
"Keluar ke mana?" tanyanya.
"Ke supermarket depan. Persediaan cemilanku habis." ucap Ira setengah bercanda.
"Dari pada saya terus memikirkan Rial. Lebih baik saya ikut sama Ira saja." gumannya dalam hati.
__ADS_1
Mitha baru ingat kalau tasnya ketinggalan di kantor polisi.
"Tapi, saya sedang tidak pegang uang sekarang. Dompet saya kan ketinggalan di dalam tas." ucapnya.
"Ya sudah. Kamu pakai uang saya dulu." ucap Ira.
Hanya dengan berjalan kaki mereka berdua ke supermarket tak jauh dari tempat tinggal mereka.
Di dalam supermarket tampak juga ibu Nia yang sedang memilih beberapa bahan makanan.
Dengan canda tawa, Mitha dan Ira pun membeli cemilan kesukaannya masing-masing.
Salah satu pegawai supermarket terlihat sedang membawa beberapa dos bertumpuk dalam sebuah tempat penyimpanan barang.
"Awas." ibu Nia tidak menyadari kalau ada dos yang akan menimpanya.
Mitha segera berlari dan melindungi ibu Nia hingga tubuhnya lah yang tertimpa tumpukan dos.
Semua orang berlari segera menolong Mitha dan juga ibu Nia. Ira terlihat panik dan segera mengangkat tumpukan dos dibalik tubuh Mitha.
"Ibu tidak kenapa-kenapa?" tanya Mitha yang sedang menahan sakit dibadannya.
"Kami sendiri? Seharusnya ibu yang tany seperti itu." ucap ibu Nia.
"Tidak kenapa-kenapa kok Bu. Sakit sih tapi akan sakitnya pasti segera hilang." lanjutnya sembari tersenyum.
Pertemuan pertamanya dengan Mitha membuat ibu Nia terkesan. Jarang sekarang anak muda yang rela membantu orang yang tak dikenalnya.
"Benar kamu tidak kenapa-kenapa. Atau begini saja kita ke rumah sakit." seru ibu Nia khawatir.
"Tidak kenapa-kenapa kok Bu. Kalau begitu saya permisi dulu!" Mitha kembali ke belanjaannya yang dia taruh begitu saja.
"Kami sudah selesai belanjanya?" tanya Ira.
"Iya."
"Kalau begitu kita bayar lalu kita pulang." lanjut Ira.
Ibu Nia yang berada tepat di belakang Mitha yang sedang antri. Ibu Nia merasa kagum, "Anak ini kenapa wajahnya mirip dengan Rial ya! guman ibu Nia.
"Iya benar kalau diperhatikan lagi wajah mereka hampir mirip. Kata orang kalau mirip pasti jodoh. Kalau anak ini berjodoh dengan Rial saya pasti orang pertama yang akan setuju." guman ibu Nia ngelantur.
Dia juga tidak tau kenapa bisa berpikir seperti itu sedangkan ini pertama kalinya mereka bertemu.
__ADS_1
❤️👍❤️👍