
Sekitar 2 menit mereka terdiam sesaat,Sepertinya tidak ada lagi topik yang ingin mereka bicarakan.
"Mitha."
"Iya."Rial memulai pembicaraan yang sempat terhenti.
"Kamu masih menyimpan nomor yang aku berikan."
"Iya.Memangnya kenapa?"Sambil mengeluarkan selembar kertas di kantong baju Mitha.
"Kamu membawanya terus menerus."
"Iya."
Tidak ada sehari pun Mitha tidak membawa nomor telepon yang diberikan Rial.Tapi Mitha tidak punya keberanian untuk menelpon Rial,ada rasa takut dihari Mitha,kalau Rial tidak menjawab telepon ataupun kalau Rial menjawab telepon Dia akan menolak perasaan yang pernah diungkapkan Mitha.
"Kamu membawa terus nomor telepon itu,tapi kenapa kamu tidak pernah menelpon aku."
Pertanyaan Rial membuyarkan lamunan Mitha tentang rasa takutnya ditolak oleh Rial.
"Saya takut Rial."
"Takut apa."
Kadang Mitha ingin menelpon Rial.Hampir setiap hari Mitha ke Wartel karena Mitha belum punya handphone saat itu.Setiap kali dia memencet nomor yang di berikan Rial padanya. Dia menjadi takut.
"Saya takut, kamu menolak atas apa yang pernah saya ungkapkan kepada kamu."
Padahal dari kota Makasaar,Rial setiap hari menunggu telepon dari Mitha karena ingin menyampaikan perasaanya.
__ADS_1
Setidaknya dengan tidak melihat wajah Mitha,Rial bisa bebas mengungkapkan perasaanya kepada Mitha tanpa rasa bersalah.Tapi Mitha tidak pernah menelpon sekalipun hingga mereka bertemu sampai sekarang ini.
"Mitha bagaimana kalau saya menjawab atas apa yang kamu ungkapkan waktu"
"Ha." Mitha kaget mendengar jawaban yang akan diberikan Rial.Jantungnya berdebar sangat kencang.
"Tidak usah jawab.Anggap saja itu angin lalu."
Dalam hati Mitha ingin jawaban tapi karena takut ditolak Mitha berusaha tidak ingin mendengar apapun.
Mitha sadar kalau selama ini perhatian Rial kepadanya adalah perhatian seorang sahabat bukan perhatian seorang laki-laki yang menyukai lawan jenisnya.Oleh sebab itu Mitha berusaha memberi Rial kesempatan untuk berpikir.Walaupun Mitha ingin sekali mendengar jawaban Rial.
Mitha yakin Rial dapat menyukainya sebagai seorang wanita bukan sebagai teman.
"Hay...Mitha kok melamun saja."
"Tapi saya ingin memberikan jawaban."
"Tidak usah Rial apalagi saya sudah mau ke kelas kamu juga kan sudah mau kembali ke kota.Anggap saja perkataan ku waktu itu sebagai angin lalu saja." Perkataan itu terus di ulang Mitha.
"Jadi maksudnya kamu hanya pura-pura." ucap Rial,mukanya terlihat kesal kepada Mitha.
"Bukan seperti itu,saya sangat menyukaimu sampai-sampai dadaku sesak setiap kali memikirkan mu.Tidak satu hari pun saya tidak memikirkan mu."
"Terus kenapa kamu tidak ingin mendengar jawabanku."
"Soalnya saya tau kamu pasti akan menolak."
"Haaaaaa...siapa bilang?"
__ADS_1
"Maksudnya." Bibir Mitha bergetar mendengar perkataan Rial.
"Maksudnya saya juga menyukaimu."
"Tolong jangan bohong.Saya tahu kok kalau Rial hanya menyukaiku sebagai teman saja."
"Bukan seperti itu,saya memang menyukaimu sebagai seorang laki-laki kepada seorang wanita."
Serasa tidak percaya Mitha melongo sambil memukul mukanya,rasanya seperti mimpi.
"Jangan bohong Rial."
"Tidak,saya tidak bohong."
"Tapi kenapa bisa,bukankah kamu pernah bilang saya punya tempat tersendiri di hatiku sebagai seorang teman."
"Iya awalnya memang seperti itu tapi entah kenapa hampir sebulan saya tidak ketemu kamu dadaku juga rasanya sesak sama seperti yang kamu rasakan."
Jadi sekarang kita pacaran dong seperti Rini dengan Andi." Mitha memang selalu iri akan kemesraan Rini dengan Andi.
"Iya Mitha."sambil tersenyum.
Mitha memang anak yang polos,di antara teman karibnya cuma dia yang belum merasakan yang namanya pacaran padahal untuk seumuran Mitha sudah waktunya untuk merasakan yang namanya pacaran dan itu wajar.
Rial memang mulai menyukai Mitha,selama sebulan berpisah Rial selalu memikirkan Mitha.
Bersambung...
Nantikan selanjutnya di eps 8
__ADS_1