
Dina yang masih kebingungan tentang isi surat yang diberikan kakaknya itu, dibenaknya begitu banyak pertanyaan. Namun, dia tidak berani untuk bertanya langsung kepada kakaknya.
Ditangannya kini terdapat surat yang harus dia berikan kepada Mitha. Ingin rasanya dia membukanya namun niatnya itu dia urungkan.
Di rumah Mitha
"Ke sekolah atau tidak ya!" Pekik Mitha yang masih asyik rebahan di tempat tidurnya. Rasanya dia tidak ingin ke sekolah, apalagi hari ini adalah pengumuman kelulusan Andra.
Dia yang masih bingung dengan perasaanya sendiri saat ini. Ditambah lagi saat ini hati dan pikirannya hanya tertuju kepada Rial yang masih tidak bisa dia hubungi sampai sekarang ini.
Tubuhnya masih saja berguling di atas kasur empuknya. "Kamu tidak ke sekolah nak?" Tanya ibu Mila yang tampak heran melihat putrinya masih santai dengan baju tidurnya.
"Eh mama. Malas ah ke sekolah lagipula hari ini pengumuman kelulusan kelas III." Ucap Mitha santai.
Entah kenapa ibu Mila teringat dengan Andra, anak yang membuat putrinya masuk rumah sakit. "Berarti Andra juga dong." Lanjutnya.
Mitha langsung beranjak dari kasurnya ketika ibunya menyebut nama Andra, dalam pikirannya bagaimana bisa dia mengingat Andra.
"Iya Mah." Jawabnya singkat.
"Kalau begitu kamu harus ke sekolah, siapa tau hari ini hari terakhir kamu ketemu dia." Ibu Mila seolah tau kalau Andra menyimpan rasa kepada putrinya. Firasatnya sebagai seorang ibu begitu yakin ditambah lagi dia melihat ketulusan Andra ketika menjaga Mitha di rumah sakit.
Mitha terdiam sesaat sambil memikirkan kata-kata ibunya itu, dia pasti akan kangen mengenang masa-masanya bersama Andra nantinya. Mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhirnya.
Ibu Mila tersenyum sembari mengusap rambut Mitha yang masih terdiam.
"Gimana?" Tanya kembali ibu Mila.
Mitha memandang ibunya itu, walaupun masih ada keraguan dihatinya. Tapi, dia harus tetap ke sekolah. Andra pasti menunggu jawaban darinya dan dia yakin kalau apapun nanti jawabannya Andra pasti akan menerimanya.
"Ya sudah, kamu siap-siap ya!" Ibu Mila beranjak dan meninggalkan Mitha yang masih saja terdiam seperti orang kebingungan.
⭐⭐⭐
Dina kini berada di sekolah Rial terdahulu, dia mengingat kembali ketika pertama kali dia mengantarkan sendiri Rial ke sekolah ini. Ditangannya dia memengan sepucuk surat untuk Mitha.
Dina memutuskan menunggu Mitha di pintu gerbang sekolah, walaupun dia sendiri tidak tau bagaimana wajah yang dicarinya. Satu persatu siswa mulai berdatangan, suasana yang semula hening kini berubah riuh. Dina masih saja berdiri di pintu gerbang berharap ada anak yang akan menyapanya.
Cukup lama Dina menunggu di luar dan tiba-tiba terdengar suara riuh di dalam sekolah.
"Ada acara apa di dalam?" Tanyanya dalam hati.
__ADS_1
Mitha yang memperhatikan Dina dari kejauhan merasa curiga dan segera menghampirinya.
"Tante cari siapa?" Sapa Mitha dengan sopan.
Hampir setengah jam Dina berdiri baru Mitha yang menyapanya. Anak-anak lain seolah tidak peduli dengan kehadirannya.
Dina memperhatikan anak di depannya dengan seksama, wajah yang cantik dan juga begitu sopan.
"Maaf. Tante bisa tanya." Ucap Tante Dina.
"Ada yang bisa saya bantu tante." Ucap Mitha dengan senyum manis di wajahnya.
"Kamu kenal dengan anak yang namanya Mitha, kalau Tante tidak salah dia anak kelas 1." Ucap Dina.
Kini Mitha yang berbalik memandang Dina, dia seolah pernah melihat sepintas. Tapi, Mitha tidak ingat di mana dan kapan.
"Kok diam nak." Lanjut Tante Dina sembari menepuk pundak Mitha.
"Saya Mitha Tante." Ucap Mitha.
"Jadi kamu Mitha." Kini Dina merasa tidak tega untuk memberi surat yang di genggam keoada Mitha. Dia tau kalau isi surat yang dia pegang pasti akan menyakiti hatinya.
"Ada apa Tante mencari saya." Mitha yang masih tidak tau maksud dan tujuan Tante Dina mencarinya dan bagaimana dia bisa mengenalnya. Pertanyaan itu muncul di benaknya.
"Saya Tante Dina dan saya ini tantenya Rial." Singkatnya memperkenalkan diri.
Mitha langsung mencium tangan Tante Dina, dia begitu bahagia bisa bertemu dengan salah satu keluarga Rial.
Dina makin tidak tega memberikan surat itu apalagi melihat Mitha yang baik dan sopan kepadanya. Alangkah beruntungnya kakaknya apabila dia bertemu dengan Mitha.
"Bagaimana keadaan Rial. Hampir seminggu ini saya tidak bisa menghubungi nomor yang dia berikan. Apa ada masalah dengan Rial?" Tanya Mitha antusias. Pertanyaan yang selama seminggu ini begitu menyiksa pikiran dan batinnya.
Dina mengusap wajah Mitha dan langsung memberikan surat itu langsung ditangannya, dia tidak sanggup melihat reaksi Mitha ketika membaca surat dari kakaknya.
Mitha yang masih kebingungan melihat Tante Dina buru-butu meninggalkannya, kini matanya tertuju pada surat ditangannya.
"Ini surat apa? Apa mungkin ini surat dari Rial." Gumannya dalam hati.
Dengan segera Mitha membuka dan membacanya dengan penuh keyakinan berharap surat itu dari Rial untuknya.
Namun harapannya pudar dan sirna ketika membaca kata per kata yang ditulis oleh pak Arif.
__ADS_1
Tanpa terasa air matanya jatuh menetes diwajahnya, dia berusaha mengigit bibir lembutnya menahan tangisan yang akan keluar dari mulutnya. Batinnya ingin berteriak namun dia sadar kalau sekarang berada di sekolah.
🌺🌺🌺
Andra yang dari tadi mencari keberadaan kita melihat wanita yang dicarinya sedang berdiri terpaku di depan pintu gerbang sekolah.
"Dia kenapa berdiri di sana?" Gumannya dalam hati.
Mitha segera menyadari keberadaan Andra, dia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya itu dan berusaha menahannya sendiri. Segera dia menghapus air matanya dan tersenyum lebar kepada Andra seolah tidak terjadi apa-apa.
"Selamat ya!" Mitha memberikan tangannya dan mengengam tangan Andra begitu erat yang membuat Andra merasa heran dengan sikap Mitha yang tidak seperti biasanya.
Mitha segera menarik tangan Andra dan menjauh dari sekolahan.
Dihadapannya kini hanya sawah dan empan yang terpampang. Andra yang melihat Mitha dari tadi hanya diam terpaku dan tidak berani memulai pembicaraan.
"Sebelum saya memberi jawaban, saya ingin bertanya sesuatu." Ucap Mitha yang membuat Andra kaget. Dia yang belum menyiapkan hatinya mendengar jawaban dari Mitha.
Kini mereka berdua saling berhadapan dengan tatapan penuh makna.
"Kamu ingin tanya apa?" Tanyanya.
Mitha terdiam sejenak. "Apa yang membuat kamu bisa menyukai saya, perempuan yang juh dari kata sempurna." Ucap Mitha singkat.
"Karena kamu tidak sempurna, itu yang membuat saya begitu menyukaimu." Andra tanpa ragu dan berpikir dulu langsung menjawab pertanyaan yang diberikan kepadanya yang membuat Mitha tercengan. Bagaimana mungkin tanpa berpikir dulu Andra langsung menjawabnya.
"Apa kamu tau, kalau jawabanmu itu akan mempengaruhi apa yang akan aku katakan." Ucap Mitha.
Andra hanya tersenyum dan pasrah, dia hanya ingin mendengar jawaban yang lama dia nantikan.
Mitha kembali diam dan menarik nafas begitu panjang. Dia memandang mata Andra begitu dalam, dia yakin kalau Andra begitu tulus kepandanya. Dengan penuh keraguan Mitha memegang tangan Andra yang makin membuat jantung Andra berdegup tak karuan.
Mitha mengangguk pelan di hadapan Andra.
"Jadi kamu." Ucap Andra terbata-bata.
"Iya." Singkatnya.
Andra seolah paham dengan maksud Mitha dan langsung ingin memeluknya namun dia urungkan yang membuat Mitha tersenyum
"Saya janji, kamu akan menjadi satu-satunya." Ucap Andra.
__ADS_1
Mitha hanya mengangguk saja, hatinya masih sakit membaca surat dari pak Arif.
Bersambung