Doaku Berbeda Dengan Doamu

Doaku Berbeda Dengan Doamu
Bab 50


__ADS_3

BISMILAHIRAHMANIRAHIM💪


Di sebuah rumah yang terletak di batas kota Makassar, rumah berwarna putih bersih dihuni Erna dan juga kedua orang tuanya.


Hari itu Erna bangun begitu pagi, dia yang sudah tidak sabar mendengar penjelasan dari Rial. Sejak menerima kiriman gambar oleh temannya Erna menjadi gelisah, matanya yang kantuk tidak bisa dia tutup.


Pikirannya melayang membayangkan Rial bersama dengan wanita lain.


Selama ini Erna seolah santai, dia yang begitu yakin kalau suatu saat Rial pasti akan menikahinya. Dibenaknya sekuat apapun Rial lari tapi ujungnya nanti dia tetap akan bersanding dengan Rial di pelaminan.


Namun foto yang begitu jelas membuat batin Erna terusik, rasa percaya diri sirna seketika.


"Kamu mau ke mana pagi-pagi begini?" tanya ibunya.


"Saya ada urusan sebentar." Erna berjalan begitu terburu-buru bahkan ayahnya pun dia tidak lihat.


Erna melakukan mobil mewahnya menyusuri dinginnya pagi kota Makassar. Begitu banyak orang berlalu lalang mencari sesuap nasi.


"Saya harus bertemu Rial sekarang, saya tidak terima diperlakukan seperti ini!" gumannya dalam hati.


Selang beberapa menit Erna akhirnya sampai di depan kantor polisi tempat Rial bekerja, dia sengaja memarkirkan mobilnya begitu jauh. Dia tau kalau Rial akan menghindar darinya lagi.


Kurang 30 menit Rial terlihat tiba, dia memarkirkan mobilnya di tempat yang biasa. Erna yang sudah menunggu lama langsung menacapkan gas dan menghalangi Rial yang sedang berjalan.


Langkah Rial terhenti, dia tidak menyadari kalau yang ada di mobil adalah Erna.


Erna segera turun dan menghampiri Rial yang tampak kaget.


"Kenapa, apa kamu kaget melihat saya?" tanyanya.


"Saya tidak punya urusan dengan kamu. Jadi minggir dari hadapan saya." pintanya. Rial melewati Erna begitu saja namun Erna tidak menyerah begitu saja.


Dari belakang dia terus mengikuti Rial, sesekali dia berteriak berharap Rial akan menoleh ke arahnya namun kembali usahanya sia-sia.


Erna tidak kehabisan ide, dia lalu berteriak kembali memanggil Rial di saat begitu banyak orang di sekitar mereka. Dan usahanya berhasil, dia berhasil mengalihkan pandangaj Rial.


Rial kembali ke belakang dan menarik Erna menjauh dari kerumunan orang.


"Mau kamu apa sih?" tanyanya.


Erna membuka tasnya, dia terlihat mengambil hpnya dan memperlihatkan kepada Rial. Mata Rial sampai terbelalak, dia tidak menyangka kalau Erna menemukan fotonya bersama dengan Mitha.


"Dia siapa?" tanya Erna.

__ADS_1


"Kamu dapat dari mana foto ini?" tanya balik Rial.


"Ini bukan urusan kamu di mana saya dapay foto ini. Kamu hanya perlu menjawab saja!" pinta Erna.


Rial tersenyum sinis dan kembali meninggalkan Erna.


"Tunggu." langkah kaki Rial terhenti, Erna kemudian menghampiri Rial yang tak jauh di depannya.


"Saya akan jawab di mana saya dapat foto ini. Tapi kamu juga harus jawab siapa perempuan yang ada di foto ini." lanjutnya.


Rial sebenarnya bisa menjawab pertanyaaan Erna namun dia hanya ingin memastikan kalau orang yang mengikutinya selama ini adalah orang suruhannya.


"Baiklah kalau begitu." ucap Rial.


"Saya dapatkan foto ini dari teman saya yang tak sengaja melihat kamu berada di taman. Lalu dia mengirimkan kepada saya."


Rial tampaknya masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Erna barusan. Dia kemudian mendekati Erna dan berputar mengelilinginya.


"Apa kamu tidak sedang memata-matai saya kan!"


"Buat apa saya memata-matai kamu. Kalau saya mau sudah sejak dulu saya melakukan itu." Erna tampak berusaha menjelaskan kepada Rial yang masih tidak percaya kepadanya.


"Kalau bukan Erna jadi siapa dia?" tanyanya dalam hati.


Erna memegang pundak Rial yang tampak melamun.


Rial yang tak punya niatan apapun menyembunyikan perasaannya kepada Mitha, dia juga tidak peduli bagaimana reaksi Erna nantinya.


"Itu adalah wanita yang cinta." jawabnya singkat.


Batin Erna memberontak, dia serasa tidak percaya dengan entengnya Rial mengatakan itu kepadanya tanpa ragu sedikit pun.


"Apa. Saya tidak percaya sama kamu." ucap Erna, hatinya mencoba mengingkari apa yang dia dengar.


Rial yang merasa tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi segera berlalu dari Erna. Namun baru saja dia melangkah Erna menahannya dan menarik tangan Rial.


Sontak Rial kaget, dia lalu melepaskan tangannya dengan begitu kasar.


"Apapun yang kamu katakan tadi saya akan berpura-pura tidak mendengarnya. Jadi saya ingin kamu memutuskan hubungan kamu dengan dia." ucap Erna.


Rial kembali hanya tersenyum, dia seolah tidak mengindahkan apa yang dikatakan Erna dan kembali berlalu.


Erna masih saja berusaha menahan langkah kaki Rial.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak memutuskannya, jangan salahkan saya kalau terjadi apa-apa dengan wanita itu." ancam Erna.


Dengan tatapan penuh kemarahan Rial mendekati Erna. "Awas kalau kamu berbuat macam-macam. Saya tidak akan tinggal diam begitu saja." Erna terdiam menahan Kesedihan yang menyiksanya dan segera meninggalkan Rial.


Rial mengamati mobil Erna yang semakin menjauh dari pandangannya. Dia yakin kalau semuanya akan semakin rumit ketika Erna terlibat.


⭐⭐⭐


Di tempat lain Mitha bersiap-siap untuk ke kampus, sudah beberapa hari dia berdiam diri di rumah karena sakitnya.


Karena kampusnya tidak begitu jauh, Mitha hanya berjalan kaki cuma harus menyebrang jalan raya.


Untungnya saja ada lampu merah yang tepat berada di depan kampus makanya Mitha tidak akan ketakukan setiap kali akan menyebrang jalan.


Padatnya jalan raya membuat nyalinya menciut.


Lampu merah yang ditunggunya pun terlihat, Mitha segera berjalan bersama dengan pejalan kaki yang lain.


Di sela itu tampak pak Arif dan juga ibu Nia di dalam mobil. Mereka sepertinya akan mengantar si bungsu ke sekolahnya.


Tanpa sengaja ibu Nia melihat Mitha yang sedang berjalan tepat di depan mobil mereka.


"Yah, apa kamu lihat gadis di depan?" tanya ibu Nia.


Pak Arif yang sedang asyik memainkan telepon genggamnya itu pun melihat ke depan.


"Memangnya dia siapa. Apa ibu kenal?" tanyanya penasaran.


"Iya itu gadis yang menolong ibu waktu itu." lanjutnya. Ibu Nia seolah ingin memperkenalkan Mitha kepada suaminya berharap kalau setelah melihat Mitha, hati suaminya akan luluh dengan kebaikan hati yang dimiliki Mitha.


"Oh jadi itu gadis yang ibu ceritakan."


Ibu Nia mengangguk dan tersenyum.


"Nanti kita ketemu sama dia ya terus kita ajak makan bersama." pinta ibu Nia.


Pak Arif yang tidak curiga apapun mengunakan permintaan istrinya itu.


Mitha terus berjalan tanpa sadar ada yang memperhatikannya.


Langkah kakinya terhenti tepat di depan kelas yang masih sepi. Tiba-tiba hpnya berdering dan dia kaget melihat isi pesan yang dia baca.


"Sayang saya sudah di bandara dan kita akan segera bertemu." itu pesan yang dia terima. Pesan dari Andra.

__ADS_1


Batinnya bergejolak antara harus bahagia atau senang. Dia betul-betul tidak bisa membaca batinnya sendiri.


Bersambung...❤️👍💪⭐


__ADS_2